
Alana sudah mengabari keluarganya bahwa hari ini ia menginap di rumah sakit untuk menemani sahabatnya yang sedang berjuang di ruang ICU. Dia menjelaskan semuanya pada mereka agar mereka tidak khawatir dengannya. Dan untung saja mereka menyetujuinya terlebih Winda yang juga mengenali Septi sebagai sahabat dari Alana. Tentu saja dia langsung mengizinkannya sebab selama ini Alana tidak pernah mendapatkan sahabat lagi selain Septi.
“Kamu juga jangan lupa makan, ya. Disini kami juga mengkhawatirkanmu.” Ucap Winda yang saat ini duduk di ruang tamu bersama bi Inem. Winda mengarahkan ponselnya dengan lurus agar Alana bisa melihat kedua ibunya yang saat ini duduk bersama.
Alana mengangguk pelan, dia tidak banyak bicara karena masih khawatir dengan kondisi Septi di dalam yang masih ditangani oleh dokter.
“Kalau gitu Alana matikan dulu ya panggilannya. Sebentar lagi dokter akan keluar,” ujar Alana mengalihkan pembicaraannya.
Bi Inem sangat mengerti dengan perasaan Alana. Wajahnya yang pucat itu sudah menunjukkan bahwa putrinya benar benar takut kehilangan. Bi Inem hanya bisa mendoakan kesembuhan untuk sahabat Alana itu bagaimana pun dia adalah orang yang menemani putrinya dulu. Sampai akhirnya panggilan videonya terputus. Bi Inem menghela nafas dalam dalam. Dalam situasi seperti ini dia merasa tidak berguna sebagai seorang ibu.
Winda yang melihat kekhawatiran di wajah bi Inem langsung mengelus bahunya.
“Tenang saja, bu. Alana pasti akan baik baik. Dia sudah menjaga sahabatnya dengan baik. Kita tidak berbuat apa apa selain ikut mendoaka kesembuhan Septi,” ucap Winda sambil tersenyum tulus pada Septi.
Bi Inem menganggukkan kepala dan membalas senyumn itu.
“Terima kasih. Semoga saja tuhan masih memberikan kesempatan untuk Alana dan sahabatnya itu,” jawab Bi Inem.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Alana benar benar tidak tau harus melakukan apa lagi. Saat ini ia duduk di kursi tempat menunggu sambil menjaga Rafka yang kini tidur di pangkuannya. Dia berbohong ketika mengatakan dokter akan segera keluar. Nyatanya sudah dua jam mereka tidak keluar sama sekali. Malah semakin banyak dokter yang masuk ke ruangan Septi. Alana takut apa yang dikatakan Septi tadi adalah perkataan terakhirnya.
“Aku belum bisa menerima jika harus kehilangan Septi. Tuhan, berikanlah aku kesempatan untuk menemani Septi.” Ucap Alana di dalam hatinya. Wajahnya terlihat sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Bahkan Rafka yang menenangkannya juga ikut menangis ketika melihat Alana menangis. untung saja saat ini Rafka sudah tidur jadi Alana tidak sungkan lagi untuk menangis.
__ADS_1
.
.
Dikta baru saja memeriksa semua pasiennya dan memberikan obat. Dia kembali ke ruangannya lalu duduk di kursinya. Dia menyandar tubuhnya di kursinya sambil sesekali mengecek laporan medisnya dari beberapa perawat. Dikta akan mengambil kaca matanya untuk memeriksa laporan tersebut namun tangannya dihentikan oleh getaran ponselnya yang baru saja ia letakkan di meja.
Dikta mengernyitkan keningnya dan memilih mengambil ponselnya terlebih dulu. dia khawatir ada sesuatu yang darurat terjadi pada pasiennya jadi dia membuka pesannya.
Jack
Aku melihat Alana menangis di ruangan ICU. Apa kamu tau siapa yang dia tangisi?
Dikta yang tadinya santai jantungnya langsung berdetak dengan kencang ketika membaca pesan dari Jack. Dia teringat pada Septi. Pikirannya langsung mengarah kesana karena hanya Septi lah alana ada di rumah sakit.
“Aku yakin sesuatu terjadi pada Septi,” ucap Dikta.
Langkah kakinya yang besar membuat Dikta lebih cepat sampai di ruangan ICU itu. hal yang pertama kali ia lihat disana adalah Alana yang tertidur dengan Rafka yang ada di pangkuannya. Dikta menghampiri Alana dan duduk di sampingnya. Dia tertegun sebentar ketika melihat wajah Alana. Ia bisa melihat bekas air mata di pipi Alana. Ingin rasanya Dikta menghapus air mata itu dengan tangannya. akan tetapi dia khawatir Alana akan terbangun.
“Jangan menangis lagi. Aku tidak tega melihatmu menangis,” ucap Dikta dengan begitu lirih.
Dikta mengangkat tangannya untuk merapikan rambut Alana yang menganggu wajahnya. Tangannya menyingkirkan helaian rambut itu dengan pelan sekali. Tanpa sadar Dikta juga mengelus pipi Alana dengan begitu lembut. Perasaan Dikta benar benar kembali lagi. Dia sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya pada mantan kekasihnya ini. Merasakan lembutnya pipi Alana di tangannya ingin rasanya Dikta mencium pipi bulat itu.
“Sekali aja, Al.” Ucapnya dengan hati hati.
Dikta melirik ke sekitarnya yang lumayan Sepi. Meskipun ada akan tetapi tatapan mereka tidak mengarah padanya. Dikta memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah Alana. Dia menempelkan bibirnya di pipi Alana selama beberapa detik. Lalu dia memundurkan wajahnya kembali. katakan saja dia lancang karena sudah mencium Alana. Namun bagaimana lagi, Dikta tidak bisa menahannya. Seandainya bisa dia ingin segera kembali memiliki Alana. Tidak peduli meski Alana seorang j4nda dengan anak satu.
__ADS_1
Dikta tersenyum tipis ketika melihat Alana yang masih tidur dengan tenang meskipun diciumnya. Lalu matanya mengarah pada Rafka yang tidur lurus di kursi itu dengan paha Alana yang dijadikan bantal. Dikta akan memindahkannya tapi pintu ruangan ICU itu terbuka dengan lebar. Alhasil Dikta langsung menolehkan kepalanya dan melihat beberapa Dokter yang saat ini berdiri di depan pintu sambil menatap ke arahnya.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Dikta langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
Beberapa dokter itu saling berpandangan satu sama lain lalu mengangguk kepalanya secara bersamaan.
“Dokter Dikta tenang saja. Saat ini kondisi pasien sudah kembali stabil. Akan tetapi dia mungkin tidak akan sadar selama 24 jam ini. Kanker itu sudah menyebar di seluruh tubuhnya itulah sebabnya dia merasa kesakitan tadi. Tubuhnya sudah tidak kuat menahannya,” ujar salah satu Dokter yang dikhususkan untuk menangani Septi.
Dikta menoleh ke ruangan Septi sebentar lalu fokus pada mereka lagi. Dia mengenali semua dokter itu. Mereka adalah dokter terbaik yang selaliu direkomendasikan rumah sakit ini untuk menangani penyak*t seperti yang dialami Septi.
“Apa benar benar tidak ada harapan lagi?” tanya Dikta dengan perasaan yang cukup tertekan. Sebagai seorang Dokter dia juga tidak tega ketika melihat kondisi pasiennya.
Dokter itu menggeleng sambil tersenyum sendu.
“Jika kami mempunyai cara untuk menyembuhkannya pasti akan dilakukan. Tapi ini sudah stadium akhir. Tidak ada cara untuk menyembuhkannya kecuali dengan mukjizat dari tuhan.” Jawab Dokter itu lagi.
Setelah mengatakan itu beberapa dokter itu berpamitan pada Dikta lalu segera pergi dari sana. Dikta membuka pintu ruangan ICU itu. Dia bisa melihat banyak selang dan infus yang kembali terpasang di tubuhnya. Rambutnya yang sudah tidak ada dan wajah yang begitu pucat membuat Septi terlihat menyedihkan.
Dikta menghela nafasnya lalu kembali menutup pintunya. Dia melirik pada Alana yang masih belum bangun itu.
“Alana pasti akan sedih jika dia tahu hal ini.” Gumam Dikta.
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like+komentar