Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 11 Ziarah


__ADS_3

”Maksud kamu bi Inem yang tadi peluk mama?” tanya Alana sambil melihat ke arah Rafka yang kini duduk di pangkuannya.


“Iya, mama. Dia nenek,” jawab Rafka lagi.


Alana tersenyum lalu mengelus rambut Rafka dengan penuh kasih sayang. Dia mengerti bagaimana perasaan Rafka. Mungkin karena Rafka terlalu merindukan neneknya sehingga dia bisa mengatakan hal seperti itu. Apa lagi sekarang Alana juga jarang mengunjungi rumah ibu mertuanya.


“Sayang, itu bukan nenek kamu. Kamu mengatakannya seperti itu mungkin karena kamu merindukan nenek Lili. Lain kali kita pergi ke rumah nenek ya,” lanjut Alana lagi.


Rafka hanya bisa mengangguk patuh. Dia kembali bermain mobil mobilannya dan melupakan apa yang baru saja dikatakannya pada ibunya. Sedangkan Alana dia hanya menyandarkan tubuhnya di mobil itu. Ingatannya kembali pada pertengkarannya dengan kedua orang tuanya itu.


Sampai sekarang mereka bahkan tak menghubungi sama sekali. Entah mereka sungguh memutuskan hubungan dengannya atau hanya sekedar bicara. Alana ingin sekali pulang dan memeluk mereka sama seperti dulu ketika ia ada masalah. Karena hanya pelukan mereka lah yang membuatnya tenang.


Tiba tiba saja ponsel Alana berbunyi. Alana yang tadinya melamun langsung tersadar dan mengambil ponselnya untuk mengeceknya.


083177813XxX


Kabari aku jika kamu sudah sampai di rumahmu.


-Dikta


Alana tersenyum tipis lalu segera membalas pesan itu.


“Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku sama Rafka mau ziarah ke makan suamiku dulu. Kamu gak usah khawatir. Semuanya akan baik baik saja,” balas Alana lalu menyimpan ponselnya kembali. Semalam Dikta memang sempat meminta kontaknya dan Alana langsung memberikannya. Ia pikir tidak ada salahnya jika harus memberi nomornya pada Dikta. Lagi pula mantan kekasihnya itu tidak mungkin memiliki niat yang buruk padanya.


Beberapa menit kemudian, taksi yang ditumpanginya berhenti di sebuah pemakaman umum yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Alana turun bersama Rafka lalu membayar taksinya.


“Terima kasih, pak.” ucap Alana.

__ADS_1


“Sama sama mbak,”  balas sang supir.


Setelahnya mobil taksi itu kembali melaju meninggalkan area pemakaman itu.


Alana melihat ke depan. Terpampang sebuah tulisan yang besar yaitu Pemakaman umum jalan jambu. Sudah lama rasanya ia tidak datang ke tempat itu. Terakhir ia ziarah adalah satu bulan yang lalu di mana orang tuanya masih belum menjodohkannya dengan lagi lagi itu.


Alana tidak bisa bercerita pada siapapun tentang masalahnya. Itulah sebabnya dia memutuskan ziarah. Siapa tahu bebannya akan berkurang ketika berziarah pada makam suaminya itu. Semalam Alana bermimpi tentang suaminya yang begitu sedih. Entah apa maksudnya, Alana juga tidak mengerti.


“Sayang. Sekarang temani mama ketemu papa yuk,” ucap Alana sambil menunduk ke bawah dan menatap Rafka yang kini berdiri di sampingnya.


“Papa? Rafka mau ma. Rafka juga kangen sama papa,” jawab Rafka dengan wajah yang berseri seri.


Alana tertawa kecil melihat ekspresi lucu putranya itu. Lalu tangannya menggandeng tangan mungil Rafka lalu masuk  ke dalam pemakaman itu. Alana berjalan dengan langkah yang pelan berusaha mengimbangi langkah Rafka yang kecil. Sebenarnya dia bisa saja menggendongnya namun Alana tidak ingin membiasakan Rafka untuk terus digendong. Bagaimana pun Rafka sudah berumur tujuh tahun. Sudah seharusnya Rafka berjalan sendiri.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di satu buah nisan yang bertuliskan Aldiano bin Maxime. Itu adalah nama suaminya yang kini sudah terbaring di dalam tanah. Alana mengambil posisi dan berjongkok di depan nisan itu. Dia mencabuti beberapa rumput liar yang banyak tumbuh di samping tanahnya.


“Mama. Kenapa papa harus ada di dalam tanah?” tanya Rafka dengan wajah polosnya itu.


Alana tidak kaget lagi mendengar pertanyaan putranya itu. dia sudah terbiasa dengannya.


“Sayang, semua manusia kelak pasti akan kembali ke tanah. Mereka dipanggil Allah karena sayang pada umatnya. Begitu pula dengan papa. Allah mengambil papa karena Allah sayang sama papa.” Jawab Alana.


“Papa ada di surga ma?” tanya Rafka lagi masih dengan pertanyaan randomnya.


Alana tersenyum tipis lalu mengangguk. “Kita doakan saja ya. Semoga papa ada di surganya Allah.”


Setelah itu Alana kembali fokus pada nisan di depannya itu. Matanya hanya terpaku pada nama suaminya itu. Baru beberapa bulan dia ditinggal suaminya tapi Alana masih belum bisa mengikhlasannya. Hatinya masih berharap jika semua itu adalah mimpi.

__ADS_1


Alana masih mengingat dengan jelas, sebelum kecelakaan itu suaminya itu masih tertawa bahagia bersamanya. Bahkan selalu mengucapkan kata cinta berulang kali padanya. Alana selalu mengatakannya lebai setiap kali suaminya mengatakan hal itu. meskipun dia hanya bercanda akan tetapi sekarang Alana menyesal. Karena kata kata itu adalah ungkapan terakhir dari suaminya sebelum mengalami kecelakaan itu.


“Mas, aku datang lagi. Maaf karena aku baru datang,” ujar Alana dengan lirih.


Alana mengusap papan nisan itu dengan tangannya. Kali ini dia tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya langsung meluruh begitu saja.


“Sejak kepergian kamu hidupku dipenuhi masalah, mas. Aku tidak tau harus cerita sama siapa lagi jika bukan padamu. Kamu tau gak mas? Orang tuaku kembali menjodokan seperti yang dilakukan mereka pada kita dulu. Dan aku menolaknya karena sampai saat ini aku tidak berpikir untuk menikah lagi mas. Aku masih sangat mencintaimu.” lanjut Alana lagi.


Rafka yang melihat Alana menangis dengan sesenggukan langsung berdiri dan memeluk Alana dengan erat sambil berkata,


“Mama jangan menangis. kan masih ada Rafka disini. Rafka janji tidak akan jadi anak nakal.”


Alana hanya memegang tangan Rafka yang memeluknya. Ia masih tidak bisa menghentikan tangisnya.


 Alana menoleh pada Rafka yang kini berdiri di sampingnya. Ditatapnya wajah putranya sekilas lalu kembali memandangi batu nisan itu. “Lihatlah mas, putra kita bahkan semakin dewasa. Dia selalu bertanya padaku kenapa kamu pergi lebih dulu dan meninggalkannya. Bagaimana aku harus menjelaskannya mas ketika Rafka selalu sedih ketika melihat teman temannya bersama dengan ayahnya.”


“Papa...Rafka kangen sama papa. Papa bilang jagoan itu tidak akan membuat seorang wanita menangis. Kenapa papa membuat mama menangis seperti ini?” akhirnya Rafka juga ikut menangis bersama Alana. Anak keil itu terpengaruh oleh tangisan Alana sehingga ikut menangis bersamanya.


“Aku merindukanmu, mas. Hadirmu dalam mimpiku semalam membuatku semakin merindukanmu,” gumam Alana dengan lelehan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Rafka dan Alana saling berpelukan satu sama lain. Ibu dan anak itu sama sama menangis meski dengan cara yang berbeda. Rafka menangis sama seperti anak kecil pada umumnya. Sedangkan Alana hanya menangis dalam diam dan sesenggukan kecil.


 


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2