
Setelah selesai makan tadi, Dikta memilih untuk santai dan menonton televisi di ruang tengahnya. Dia duduk dengan tenang sambil melihat layar televisinya yang saat ini sedang menayangkan film kartun kesukaaannya. Meski begitu dia tetap saja masih bisa memikirkan Alana. Dikta khawatir terjadi sesuatu pada Alana. Namun ketika ponselnya berbunyi, Dikta langsung mengecek dan mengambilnya.
Alana
Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku sama Rafka mau ziarah ke makan suamiku dulu. Kamu gak usah khawatir. Semuanya akan baik baik saja
Dikta sedikit lega ketika membaca pesan itu. Namun ada juga rasa getir di dalam hatinya ketika melihat ada kata suamiku di dalam pesan itu. Entah kenapa dia merasa tidak suka melihatnya. Selang beberapa menit Dikta menggelengkan kepalanya. dia sangat kesal dengan perasaan konyolnya itu. seolah olah tidak rela Alana menyebut kata suami di hadapannya.
“Benar kata orang, perasaan itu bisa menjadi gila jika kita tidak bisa mengontrol dan menahannya,” gumam Dikta dengan matanya yang fokus pada film kartunnya itu.
Saat lagi fokus menonton, Dikta melihat bi Inem yang keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Dikta yang melihatnya hanya bisa mengernyitkan keningnya karena tak biasanya bi Inem akan berpakaian rapi seperti itu kecuali ketika mau bepergian. Lalu yang ia lihat sekarang bi Inem menghampirinya.
“Bibi, mau kemana? Sepertinya rapi banget,” tanya Dikta sambil memperbaiki posisi duduknya dan menatap wajah bi Inem.
Bi Inem tampak gugup saat ada di hadapan Dikta. Sebenarnya ia tidak ingin menyembunyikan hal itu dari Dikta. Bagaimana pun Dikta sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Namun dia takut dengan reaksi tuan mudanya itu jika dia memberitahunya.
Dikta yang menyadari kegugupan dari bi Inem langsung turun dari sofanya lalu menuntun bi Inem untuk duduk.
“Bi, ada apa? bibi ada masalah? Katakan saja pada Dikta jangan sungkan.” ujar Dikta sambil berlutut di hadapan bi Inem.
Bi Inem menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Wanita yang sudah cukup berumur itu hanya bisa menatap bangga pada Dikta. Dia sangat senang mendapat perhatian dari dikta yang sudah ia anggap seperti putranya ini selama disini. Pada akhirnya bi Inem memilih untuk memberitahu Dikta soal urusannya itu.
“Bibi, mau ke rumah sakit den.” Jawab Bi Inem pada akhirnya.
Mendengar kata rumah sakit dari bi Inem, Dikta semakin tidak mengerti. Kenapa bibinya itu harus ke rumah sakit sementara yang ia lihat bi Inem sehat sehat saja dan tidak memiliki satu riwayat penyakit pun.
“Sebenarnya ada ini, bi. Kalau bibi tidak keberatan bibi bisa ceritakan semuanya padaku. Jujur saja aku belum mengerti kenapa bibi harus pergi ke rumah sakit,” ujar Dikta lagi.
__ADS_1
Bi Inem menghela nafasnya, kedua tangannya langsung merengkuh bahu Dikta agar duduk di sampingnya. Ia merasa tidak jika melihat tuan mudanya harus bersimpuh di hadapannya. Bagaimana pun hubungan mereka berdua hanya sebatas pembantu dan majikan.
Setelah Dikta duduk di sampingnya, bi Inem langsung menceritakan semuanya pada Dikta. Mulai dari ketika Dikta membawa Alana ke rumah ini sampai dia melihat tanda hitam di leher Alana yang sama persis dengan putrinya yang hilang dulu. Bi Inem menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewati sedikit pun. Dikta juga mendengarkannya dengan baik. Dia tidak menyela sedikit pun pembicaraan bi Inem meskipun terkejut dengan apa yang disampaikannya itu.
“Jadi bibi mau melakukan tes DNA untuk membuktikannya?” tanya Dikta setelah berhasil menyimpulkannya.
Bi Inem mengangguk dengan cepat. Dia sudah cukup lega setelah menceritakannya pada Dikta.
“Kalau gitu aku bisa membantu, bibi. Aku punya kenalan yang akan menangani masalah seperti ini,” ucap Dikta sambil memandang bi Inem.
Dari awal Dikta memang tahu jika orang tua yang merawat Alana itu bukan orang tua kandungnya. Dikta juga mengetahui jika Alana hanyalah anak adopsi dari sebuah panti asuhan. Sejak awal dia bersama Alana, Alana sudah banyak menceritakan banyak hal padanya. Tidak ada yang ditutup tutupi Alana ketika bersamanya dulu. itulah sebabnya Dikta tau semuanya.
Mata Dikta hanya tertuju pada bi Inem yang saat ini tengah menunduk entah memikirkan apa.
“Aku juga penasaran dengan hasilnya nanti,” batinnya.
.
.
Jack hanya menatap Dikta lalu menepuk bahunya dengan tersenyum tipis.
“Paling cepat minggu depan. Kamu tenang saja, Dikta. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat jika bisa. Namun aku tidak bisa memastikannya. Karena umumnya melakukan tes DNA itu hasilnya tidak bisa cepat,’ jawab Jack.
Dikta mengangguk kecil.
“Aku pasrahkan semuanya padamu. Kalau gitu aku akan kembali pulang. Kembalilah bekerja dengan baik,” ucap Dikta lagi sambil terkekeh pelan.
Jack hanya membalasnya dengan tawa.
__ADS_1
“Baiklah, dokter Dikta.” Ledek Jack.
Jack dan Dikta adalah sepasang sahabat dari jaman kuliah dulu. Dikta mengenal Jack setelah ia putus dengan Alana. Itulah sebabnya dia sangat akrab dengannya meski umurnya selisih beberapa tahun akan tetapi tidak membuat mereka mempermasalahkannya. Justru mereka sudah seperti saudara pada umumnya karena dulu sewaktu Dikta merasa galau dan hancur karena ditinggal Alana..
Jack lah orang pertama yang memberinya dukungan padanya. Jack bahkan selalu ada ketika Dikta membutuhkannya. Dan dia juga orang pertama yang melihat bagaimana hancurnya perasaan Dikta ketika dia memergokinya di club dan melihat Dikta minum minuman keras.
Sejak Saat itu, Jack terus menemani Dikta dan menjaganya agar tidak melakukan hal bod*h seperti itu. Bagaimana pun Dikta tetaplah calon dokter. Dia harus bisa menjaga kesehatannya sendiri sebelum membantu kesehatan orang lain.
Jack menatap punggung Dikta yang semakin jauh dengannya. Dia bersyukur ketika melihat sahabatnya itu berhasil seperti sekarang. Lalu pandangan Jack tertuju pada rambut yang kini ada di tangannya itu.
“Setelahnya apa yang dilakukan gadis itu padanya. Dikta masih saja berbaik hati padanya,” gumam Jack lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.
.
.
Keluar dari rumah sakit Dikta tidak langsung pulang. Dia melangkahkan kakinya ke taman rumah sakit yang saat itu sedang ramai dengan pasien yang duduk di atas kursi roda sambil menghirup udara segar. Dikta memutuskan untuk duduk di bangku kosong yang ada disana. Lalu ia duduk dan mengambil ponselnya.
Dikta mengambil foto beberapa di antara mereka yang sedang tertawa bahagia bersama keluarganya meskipun kondisi mereka sedang sakit. Dikta menyimpan foto itu di ponselnya. Ia hanya ingin menyimpannya saja tidak untuk di posting di media sosialnya.
Selama lima menit dia duduk disitu sambil bermain ponselnya, tiba tiba seseorang duduk di sampingnya.
“Sepertinya kita bertemu lagi, Dokter.”
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar
__ADS_1