Ketulusan Hati Syifabella

Ketulusan Hati Syifabella
Episode 10


__ADS_3

Pada malam hari setelah Damar pulang kerja, Syifa duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepala. "Mas....ada hal yang ingin aku bicarakan"


Damar tengah mengeringan rambur seketika menghentikan gerakan tangan "Katakan" Ucapnya dingin.


Syifa menceritakan kejadian pagi tadi hingga uang belanja habis di tangan ibu mertua. Semua kejadian terjadi karena ulah beliau tapi Syifa harus kena getahnya. Meski begitu Damar tidak menaruh simpati sedikit pun, justru terlihat acuh.


Dengan santai Damar berbalik badan menatap sang istri yang masih menunduk "Lalu? jangan bertele tele mau kamu apa?" Meraih dompet di atas meja lalu mendekati Syifa.


Dengan sedikit ragu Syifa berkata "Itu mas tadi aku pinjam uang sama bu Rt buaf bayar ganti rugi ke tukang sayur keliling jadi...."


"Makan itu...." Beberapa lembar uang di lempar tepat di wajah Syifa "Itukan yang kamu mau. Dasar istri tidak tau malu, sukanya ngabisin duit laki terus, bisa hemat dikit nggak sih. Di kira cari duit tuh gampang, asal minta aja bisanya" Meski Damar tau semua bukan salah Syifa melainkan salah ibunya, tetap saja salah dan benar Syifa akan di anggap salah.


"Astagfirullah mas kenapa kamu tega berkata begitu kepadaku? Kalau tidak karena mengganti rugi tukang sayur tadi pagi mungkin aku tidak sampai berhutang kesana sini, toh semua demi menutupi kesalah ibu" Berusaha memberi kejelasan tentang masalah tadi pagi.


"Jadi kamu menyelahkan ibuku?" Bekacak tangan sambil menatap sinis wajah snag istri "Ibuku tidak akan berbuat seperti itu kalau bukan gara gara mulut tetangga murahan itu. Atau kamu yang sudah menghasut mereka supaya membenci ibuku, ya?" Kalimat demi kalimat keluar dati mulut Damar bagaikan petir. Seorang suami tidak mampu menjaga lisan depan pasnaganya sama saja dengan membawa pisau tumpul berkarat.


Berusaha menahan air mata meski terlalu menyakitkan "Demi Allah dan Rusullulah tidak pernah sekali pun aku mengumbar suara di luar sana tentang aib keluarga kita, mas. Kenapa kamu selalu menyudutkan aku dalam segala masalah, apa salahku mas coba katakan"


Membuka paksa kerudung Syifa hingga rambutnya terurai "Jangan kamu tutupi semua dengan kerudungmu ini, karena aku yakin kamu bermulut lamis di luar sana. Mereka tidak akan mengusik keluarga kita jika bukan orang dalam yang memberitahukan pada mereka" Sekarang rambut Syifa menjadi sasaran kemaran Damar dengan menjambaknya.


"Sakit mas tolong lepaskan...." Berusaha melepaskan tangan sang suami tapi tidak semudah itu.


"Seharusnya kamu bersyukur aku mau menikahi kamu kalau bukan karena aku mungkin sekarang kamu masih jadi babu" Melepaskan rambut Syifa lalu mendorong badannya hingga terbentur bahu ranjang.


Syifa hanya bisa menangisi rumah tangganya, seakan di dalamnya tidak ada lagi keharmonisan. Setiap kali selalu bertengkar tidak jelas.

__ADS_1


"Sampai kapan mas kamu selalu menyalahkan aku dalam setiap sutuasi?" Lirih Syifa.


"Sampai kamu sadari sendiri apa kesalahan kamu. Lagi pula salah kamu sendiri pake sok mau ganti rugi, sayang amat duit di kasih gratis sama orang. Dasar sok kaya...."


"Kasihan mas penjual sayur itu untung tidak seberapa kalau tidak di ganti rugi sama saja kita membuat rejeki orang jadi seret."


"Halah sok suci. Udah aku mau tidur jangan ganggu sampai pagi, ngerti" Menarik selimut lalu mematikan lampu kamar.


Syifa masih terdiam diri meratapi nasib buruk telah merenggut kehidupannya. Hidup pahir bersama mantan suami terdahulu tidak sepahit sekarang.


"Semoga Allah lekas membuka pintu hatimu, mas."


Beberapa hari kemudian.


"Mas Damar?" Saat itu Syifa naik ojek dan berhenti tepat di sebelah mobil Damar. Mereka sama sama berhenti di tengah jalan karena lampu lalu lintas berwarna merah. Tak lama kemudian lampu berubah warna menjadi hijau. Semua kendaraan mulai bergerak.


"Ikuti mobil itu, pak" Ucap Syifa pada tukang ojek .


"Oh iya sayang nanti malam di rumah ada acara keluarga, kamu datang ya. Oma dan Opa aku juga datang loh, mereka jauh jauh dari luar negeri cuma mau ketemu sama kamu. Katanya pengen lihat calon cucu menantunya" Mariana mulai membuat hati Damar kalang kabut. Dengan menghadirkan keluarga besar tentu akan ada hal besar terjadi, entah itu perkenalan biasa saja atau ada hal lain.


Wajah Damar menjadi tegang "Maksud kamu bertemu dengan keluarga besar kamu begitu?"


Mariana mengangguk sambil mencolek pipi kekasihnya tersebut "Kenapa malu ya? Nggak usah malu kali biasa saja, toh nanti kita akan menjadi pasangan selamanya.


Uhuk, uhuk....

__ADS_1


Tiba tiba saja Damar terbatuk. "Maksud kamu kedatangan mereka untuk menyatukan kita? Bagaimana mungkin aku masih sah suamu orang sayang. Mending kuta jalani saja masa romantis kita ini jangan gegabah"


Seketika raut wajah Mariana berubah menjadi masam "Oh jadi kamu tidak mau nikah sama aku, oke fine sekarang hentikan mobilnya aku mau turun"


Damar menyentuh tangan Mariana "Jangan langsung marah begitu sayang. Oke kita akan menikah tapi jangan sekarang tunggu setelah aku menjatuhkan talak pada istriku." Sejujurnya Damar masih ragu untuk menceraikan Syifa meski hati tidak lagi mencintai.


"Janji ya "Kembali menggelayut manja di lengan Damar.


Sembari fokus pada jalan raya "Iya aku janji"


Setelah beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah rumah Mariana. Dengan bergandeng tangan mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut.


Ternyata benar dugaanku selama ini, mas Damar selingkuh...


"Ayo pak antar saya pulang lagi" Syifa tidak langsung melabrak mereka justru memilih pulang dengan sejuta rasa sakit.


Baru setengah jalan tiba tiba saja ban motor kempes dan Syifa terpaksa harus turun di tengah jalan "Saya minta maaf ya mbak ban motornya bocor, lebih baik mbak cari ojek lain saja. Sekitar sini tidak ada bengkel jadi saya harus mencari bekel lebih dulu, pasti akan memakan waktu"


Syifa memutuskan mencari ojek sambil berjalan kaki. Setiap saat selalu tebayang wajah suaminya bersama wanita lain. Hati setipis tisu ketika tersirah air mata pasti akan robek, begitu pun cinta Syifa. "Sampai kapan kamu menorehkan luka dalam hidup ini, mas. Kalau pada akhirnya kamu akan mencari wanita lain lalu kenapa dulu kamu melamarku. Jika memang tidak sudah tidak cinta lagi jalannya bukan seperti ini...."


"Loh itu kan Syifa, kenapa dia jalan kaki siang bolong begini" Mantan suami Syifa kebetukan saja melintas lalu menghampiri Syifa. Ketika baru handak turun tiba tiba ia melihat Syifa jatuh pingsan.


"Syifa...." Berlari ke arah Syifa lalu memapahnya masuk ke dalam mobil.


"Astaga, sepertinya dia demam tinggi" Segera ia membawanya menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2