Ketulusan Hati Syifabella

Ketulusan Hati Syifabella
Episode 17


__ADS_3

"Aku lihat sedari tadi kamu tampak murung sekali, sebenarnya ada apa denganmu, Syifa" Tanya Alin. Sejak mereka pergi dari acara pertunangan tadi Syifa hanya diam seribu bahasa.


Syifa terus menatap ke luar kaca mobil di mana mata dan pikiran tidak sejalan. Tatapan terasa kosong hati serasa remuk redam.


"Syifa...(Menghuyung lengan Syifa) kamu kenapa katakan jangan diam saja" Ucap Alin.


Berusaha tersenyum meski tanpa di sadari air matanya jatuh "Aku baik baik saja"


Alin melihat ada hal janggal yang berusaha di sembunyikan Syifa darinya, sehingga ia memutuskan menepi sejenak. Mobil berwarna merah terparkir pada bahu jalan "Jangan berusaha membohongi aku. Kita sudah lama bersahabat aku tau jika kamu sedang menutupi sesuatu dariku. Katakan ada apa...." Menatap dalam netra sahabatnya, jelas terlihat tumpukan luka terpendam di balik layar. "Apa kamu tersinggung dengan ucapan pria itu? Dia memang suka berlebihan kalau bicara, tapi aslinya dia sangat baik kok"


"Dia.....dia adalah suamiku" dengan nada bergetar Syifa mengungkap kebusukan Damar.


Jederrrr.....


Bagaikan petir di siang bolong. Lolongan kesedihan begitu jelas terlihat membumbung di netra Syifa. Sebagai seorang sahabat dekat jelas Alin merasa hancur. "Tunggu, yang kamu maksud suami adalah....." Mengerjap mata beberapa kali mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Berharap semua hanya mimpi, namun pada kenyataan semua adalah nyata.


"Benar, tunangan ponakan kamu adalah suamiku" Ucap Syifa berterus terang. Perlahan butiran air mata mulai membasahi pipi.

__ADS_1


Seketika Alin terkejut dengan mata membuka lebar juga mulut mengangga "Jadi dia adalah suamimu. Barani sekali dia bertunangan dengan saudariku. Pria brengsung itu harus di kasih pelajaran biar jera. Kalau begitu ayo kita kembali ke sana biar aku bantu kamu memberi pria terkutuk itu pelajaran. Saudariku juga jadi korban dari pria sialan itu, aku tidak terima" Kembali memegang stir kemudi.


Meraih tangan Alin sembari menggeleng kepala "Jangan. Sebenarnya perempuan itu juga tau bahwa Mas Damar sudah menikah, hanya saja dia belum pernah melihat wajahku"


"Astaga....Mereka sangat keterlaluan sekali. Kalau begitu tunggu apa lagi kita harus mencari cara untuk memisahkan mereka. Aku minta maaf karena tidak tau jika Damar adalah suamimu" Menatap Syifa penuh rasa kasihan.


"Itu tidak perlu, karena aku sudah lelah. Aku menyerah. Sudah cukup banyak derita yang kutanggung selama ini. Insya Allah aku akan mundur dari kehidupan mas Damar. Semoga dengan begitu dia bisa bahagia" Lirih Syifa.


Seketika Alin memeluk Syifa. Melihat sang sahabat harus memikul begitu berat beban kehidupan "Sekarang apa yang bisa aku bantu...."


"Kalau begitu mulai sekarang mu tinggal di rumahku" Mereka lantas menuju rumah Alin.


Di sisi lain acara pertunangan telah selesai. Semua tamu mulai berguguran pergi begitu pula dengan kerabat dekat. Setelah acara selesai Damar beserta sang ibu pamit pulang.


"Apa yang harus aku jelaskan pada Syifa, bu? Kenapa dia bisa menghadiri pertunangan kami" Damar mulai gelisah mengingat sang istri mengetahui perselingkuhannya.


Dengan santai ibu Rosidah berkata "Biarkan saja, biar dia tau posisi dia di hidupmu. Dia itu cuma janda yang kamu pungut dari jalanan terus numpang hidup sama kita, harusnya dia tidak keberatan dong dengan pertunangan kalian. Kalau pun di keberatan kamu tinggal ceraikan saja dia udah kan beres"

__ADS_1


Sebagai seorang wanita, beliau tidak bisa mengerti bagaimana penderitaan wanita lain. Jika semua di balik arahkan padanya mungkin tidak akan bisa sekuat Syifa. Seharusnya sesama wanita bisa saling memahami perasaan satu sama lain, sebab hati wanita di ciptakan selembut kain sutra dan setipis tisu, sedikit saja terluka maka hatinya akan hancur.


"Tapi buk...."


"Sudahlah, jangan pikirkan dia lagi lagi. Bicara soal dia bikin mood jafi jelak. Sekarang lebih baik kamu fokus sama pertunangan kamu. Mariana itu tidak hanya cantik tapi juga anak orang kaya, cocok sama kita. Bukan si janda gembel itu. Orang tuanya miskin matre pula." Ucap Ibu Rosidah.


Damar hnaya bisa terdiam kemudian mulai melajukan kendaraan.


Sesampainya di rumah, Damar langsung mencari keberadaan Syifa "Syifa.....siapkan air hangat untukku" Sambil menghempaskan badan di atas ranjang. Setelah tidak ada sahutan sama sekali ia pun lantas mencari di luar kamar.


"Syifa...." Lantang Damar. Tak berapa lama sang ibu keluar kamar "Ada apa mencari Syifa? Memang dia di mana?" Sambil menggulung rambut.


"Aku tidak tau dia kemana buk tapi di kamar tidak ada di dapur pun juga tidak ada. Apa mungkin dia...." Segera kembali ke kamar berlarian kecil menghampiri sebuah lemari "Lho, semua pakaian masih ada kalau begitu dia kemana?"


Sang ibu bersandar pada tepi pintu "Paliang tuh anak kabur ke rumah orang tuanya. Sudah biarkan saja besok juga palsti pulang. Nggak usah terlalu di pikirkan, biarkan saja" Bergegas pergi.


Damar merasa tidak tenang sehingga langsung menghubungi pihak keluarga Syifa. "Oh begiti ya buk jadi Syifa tidak ke sana...." Segera mematikan telepon kemudian duduk di tepi ranjang. "Dia tidak mungkin berani kebur dari rumah ini, kalau pun kabar dia mau kemana. Selain rumahku tidak ada tempat lain untuknya" Masa bodoh dengan keadaan Syifa sekarang. Damar pun menghenpaskan badan sampai tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2