
"Apa? Jadi kedatangan kamu kesini mau utang duit?" Seorang wanita paruh baya beranjak dari kursi ketika mendengar Syifa hendak meminjam sedikit uang. Beliau adalah selaku ibu kandung Syifabella. Dengan lantangnya beliau menolak permintaan hutang dari putri kandung mereka.
"Kamu tidak salah mau ngutang sama ibu? Duit dari mana, ha? Punya anak satu saja tidak pernah kasih duit malah mau minta duit" Sambil memutar bola mata. Sedari dulu ibu Syifa selalu memperlakukan dengan cara tidak baik, meski beliau tau bahwa Syifa adalah darah dagingnya sendiri.
"Syifa minta maaf bu tapi kali ini Syifa benar benar butuh sekali"
"Enak saja kamu datang datang bukannya bawa duit buat bapak sama ibu malah mau ngutang dasar anak tidak tau malu" Hardik sang ayah.
Syifa hanya bisa terdiam saja sambil mengesampingkan rasa sakit. Ketika seorang anak datang pada orang tuanya atas kesusahan dalam ekonomi, lalu dengan tegas mereka menolak bahkan sampai menghina, pasti itu sangat menyakitkan. Anak tidak akan datang meminta bantuan kepada kedua orang tuanya jika memang tidak sedang benar benar membutuhkan bantuan. Bagi seorang anak kerua orang tua adalah tempat kembali, tempat berkeluh kesah, tempat bersandar. Namun, tidak dengan orang tua Syifa. Mereka hanya suka menekan putrinya tanpa mau tau bagaimana keadaan sekarang. Jika bukan pada mereka siapa lagi yang kita mintai tolong.
Melipat kedua tangan sambil menatap wajah Syifa "Begini yang di bilang anak berbakti sama orang tua?" Celetuk sang ibu.
Semua ucapan mereka hanya menambah luka di hati Syifa, seandainya saja waktu bisadi putar kembali, maka dia akan memutar waktu untuk tidak datang ke rumah orang tuanya. Seharusnya sejak tadi Syifa tidak memutuskan pukang karena mereka pasti akan berbuat demikian, namun bagi seorang anak tempat mengeluh ada pada bahu kedua orang tua.
Terkadang orang terdekat kita justru banyak menggores luka entah sengaja atau tidak. Jangan pernah bergantung pada seseorang karena ketika tidak sesuai harapan maka itu akan menyakiti hati kita.
Syifa merasa sangat malu telah datang pada mereka "Jika bapak dan ibu tidak bisa meminjamkan uang tidak apa apa, tapi Syifa mohon jangan bicara seperti itu. Dulu ibu dan bapak memaksaku menikah lagi sedangkan pada waktu itu Syifa baru saja bekerja bebera bulan, hingga harus memutuskan berhenti kerja"
Brak....
Sang ayah emosi sampai menggebrak meja "Oh jadi kamu menyalahkan kami? Lagi pula kami sangat kebaratan jika terus menampung kamu di rumah ini, kita bukan orang mampu yang siap menampung anak kami seumur hidup. Kamu di lahirkan untuk suamimu bukan untuk kami...."
"Benar apa kata bapakmu, kita orang miskin mau makan saja susah apa salah kami untuk menikahkan kamu lagi? Kami pikir dengan kamu menikahi orang kaya itu, hidup kita bisa berubah, tapi nyatanya tidak sama sekali. Bukannya menagngkat derajat orang tua malah mau ngutang.," Sambung sang ibu dengan nada tidak mengenakkan.
Syifa bangkit dengan wajah tertunduk "Kalau Syifa tidak minta tolong sama bapak dan ibu mau sama siapa lagi? Syifa hanya pinjam sampai besok mas Damar pulang, tapi kalau kalian tidak punya ya sudah tidak apa apa."
Sang ayah berkacak tangan sambil berkata kasar "Seharusnya jadi istri harus bisa menghemat uang biar bisa punya tabungan sendiri, jangan cuma suka ngutang. Datang ke rumah bukan membawa kabar bahagia malah kabar duka. Sekarang kamu pulang sana minta uang sama suamimu, ibu sama bapakmu juga butuh duit buat makan. Kasih tau sama dia suruh kirim duit secepatnya" Jari telunjuk menunjuk telat ke arah Syifa.
__ADS_1
Air mata syifa akhirnya tumpah juga "Kalau begitu Syifa pulang dulu pak, buk. Lain kali Syifa tidak akan minta bantuan kalian lagi. Maaf jika sudah banyak merepotkan kalian selama ini" Ketika mengulurkan tangan pada kedua orang tuanya, justru hal pahit yang ia dapat. Sang ibu tidak mau meraih tangan anaknya, justru malah melengos.
Meraih lengan Syifa dengan kasar "Kalau udah tau begitu kapan kamu akan membals budi kami? Membesarkan kamu tidak gampang banyak duit kami keluar sia sia, tau"
Tanpa perasaan sang ayah mengulik biaya selama membesarkan sang anak. Ketika seorang anak terlahir ke dunia sudah menjadi tugas orang tua untuk menjamin kehidupan mereka bukan memperhitungkan seberapa banyak biaya yang harus keluar. Sejujurnya tanggung jawab orang tua ada tiga hal, sandang, pangan dan papan. Sandang memberikan pakaian layak untuk buah hati mereka. Pangan memenuhi kebutuhan makan dan nutrisi dengan baik. Papan, menjadi tempat berlindung paling nyaman bagi anak anak. Kedua orang tua adalah rumah bagi semua anak, menjadi tempat berlindung, bersandar, bersuka cita dan masih banyak lagi.
"Udah pergi sana kami mau tidur siang" Seorang ibu begitu tega mengabaikan uluran tangan seorang anak. Dalam suka dan duka seorang ibu seharusnya menjadi seorang peri, bukan malah menjadi monster.
Dengan hati terluka Syifa terpaksa kembali pulang tangan kosong.
"Sekarang di mana aku bisa mendapatkan uang itu?" Seoanjang jalan air matanya tak berhrnti menetes. Begitu kejam orang tua menghardik darah daging sendiri. Seekor singa sekali pun akan bertaruh nyawa demi anaknya, kenapa manusia yang di bekali akal pikiran oleh Sang Pencipta justru berperilaku seperti iblis.
Tok, tok, tok....
"Assalamualaikum...." Ucap Syifa ketika sampai di depan rumah seseorang.
Syifa pun masuk ke dalam rumah besar itu sambil menundukkan kepala. "Itu bu Rt saya mau minta tolong"
"Minta tolong apa mbak Syifa? Kalau saya bisa bantu pasti saya akan bantu" Menyentuh lengan Syifa. Beliau sangat tau bagaimana kondisi Syifa sekarang. Dengar dari tetangga bahwa ibu mertuanya telah menghancurkan dagangan tukang sayur dan ketika hendak mengganti kerugian tiba tiba saja sang mertua merampas uangnya lalu dia harus bertanggung jawab atas semua kerugian. Ibu Rt pura pura tidak tau akar masalah mereka, biarkan Syifa menjelaskan sendiri bantuan seperti apa yang ia butuhkan. Melihat Syifa terus tersiksa oleh keadaan membuat siapa saja merasa iba.
Terlihat ragu namun tetap berusaha tenang "Em anu bu saya mau pinjam uang" Dengan malu ia harus meminjam uang demi membayar ganti rugi yang telah di perbuat sang mertua. Sudah sekian kalinya Syifa meminjam uang pada beliau.
"Berapa mbak, insya Allah saya bisa bantu" Dengan senang hati beliau mau membantu Syifa yang sedang dalam kesusahan. Beliau pernah menyarankan sesuatu supaya dia bekerja, tapi Syifa menolak dengan dalih suaminya tidak setuju. Bagi Damar ketika seorang istri tidak lagi mau bergantung pada keringat suami, maka dsri saat itulah harga diri seorang suami terasa di pijak.
"Tapi saya malu bu hutang kemarin saja belum lunas sudah mau utang lagi...." Seorang wanita harus rela menunduk malu di depan orang lain hanya demi mencukupi kebutuhan. Kerap kali wanuta harus pontang panting mencari pinjanman kesana kemari hanya untuk menutupi kekurangaj suami. Namun, terkadang pada suami masih menyalahkan istri dengan tuduhan boros. Hey, para suami coba kalian hitung berapa rupiah yang kalian keluarkan setiap hari dari membeli rokok, beli kopi, dan beli bensin. Jika di global dalam sehari para suami mengeluarkan uang sekitar lima puluh ribu lebih, sedangkan para istri hanya memberi uang nafkah sebesar lima ratus ribu dalam satu bulan. Bukan maksud tidak bersyukur tapi tolong saling mengerti satu sama lain. Ketika kebutuhan dapur tinggi itu semua demi menghidupi satu keluarga, tapi ketika suami membeli rokok untuk dirinya sendiri apakah satu keluarga akan kenyang? Tentu tidak. Sebagian besar harta suami terdapat hak istri dan anak anak mereka di dalamnya. Di bahu suami pula mereka berserah akan seperti apa kehidupan selanjutnya, makmur atau sebaliknya tergantung dengan suami. Meski begitu para wanita harus bisa mandiri bisa menghasilkan jauh lebih baik dari pada menengadahkan tangan. Ingat, nyawa saja bisa di ambil sewaktu waktu, apa lagi suami yang hanya titipan. Kalau tidak di ambil Tuhan ya di Ambil setan. Sekarang setan suka mengambil suami orang jadi persiapkan diri untuk hal terburuk. Jangan suka menunduk tapi coba tatap masa depan, tetap berjuang meski sudah berkeluarga.
"Saya tidak masalah, karena kamu butuh jadi saya pasti akan membantu" Di balik segala penderitaan Syifa masih ada orang orang baik yang selalu membantunya. Semua orang tau bagaimana perlakuan ibu mertua dan suami Syifa selama ini, hampir semua orang iba melihat ketulusan hati Syifabella. Sekuat hati berusaha tegar dalam situasi menyakitkan sekali pun.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Syifa berhasil membayar biaya ganti rugi pada tukang sayur keliling. Di perjalanan pulang Syifa terus memikirkan bagaimana cara membayar hutang hutangnya "Bagaimana aku bisa membayar semua hutangku pada bu Rt, sedangkan aku tidak punya penghasilan. Dari mana aku bisa dapatkan uang? Atau minta mas Damar munasinya saja, toh dia suamiku"
Tinnnnn......
Syifa terkrjut ketika ada sepeda motor hampir menabraknya "Astagfirullah....."
Pengendara sepeda motor itu langsung memarkirkan motornya "Kalau jalan pake mata bukan cuma menggunakan kedua kaki saja"
Suara itu jelas Syifa mengenalnya "Mas Azka...." Berbalik badan melihat seseorang yang tidak asing baginya. Azka Aditama Rahendra, mantan suami Syifabella. Sejak bercerai mereka tidak lagi saling bertemu atau bahkan berkomunikasi. Mereka saling menjauh satu sama lain.
"Syifa? Ada apa dengamu, bagaimana kalau kamu tadi tertabrak? Bisa bisa semua orang menyalahkan aku lagi" Melihat penampilan Tirani jauh dari kata layak, membuat Azka berpikir keras. Bagaimana bisa mantan istrinya berpenampilan lusuh sedangkan menurut cerita suaminya orang kaya lalu kenapa hidup Syifa terlihat biasa saja.
"Maaf aku hanya kurang fokus saja" Bergegas pergi namun Azka menarik tangan Syifa "Apakah pernikahan kamu baik baik saja?"
Mengerjapkan mata beberapa kali lalu berbalik badan "Lepaskan tanganku....Seperti apa pun rumah tanggaku kamu tidak berhak menguliknya"
"Bukan maksudku untuk ingin tau tapi...."
"Cukup! Jangan perdulikan urusanku labih baik kamu urus saja kehidupanmu sendiri" Syifa memutuskan untuk meninggalkan Azka, ia berlarian kecil sambil menghapus air matanya.
Menatap punggung Syifa "Dulu aku begitu bodoh karena telah menyia nyiakan kamu, tapi setalah perpisahan kita aku menyadari sesuatu bahwa hanya kamu wanita yang sangat aki cintai" Penyesalan akan datang di akhir kisah seelah sebuah drama telah di lalui. Namun, apakah arti penyesalan ketika semua tidak bis di kembalikan.
"Kenapa dulu aku bisa sebodoh itu" Mengacak rambut lalu kembali berkendara.
"Di mana menantu tidak tau diri itu? Sejak tadi tidak nampak batang hidungnya?" Ibu Rosidah mencari keberadaan Syifa, di berbagai tempat.
Tak lama setelah itu Syifa datang "Dari mana saja kamu bukannya selesaikan setrikaan, malah kelayapan. Tugas kamu mengjrus rumah tangga bukan malah keluyuran tidak jelas" Baru saja sampai rumah Syifa kembali mendengar ocehan ibu mertuanya.
__ADS_1