
"Kalian lihat tidak kemarin waktu kita habis dari pasar, tidak sengaja saya lihat mas Damar sedang berada di mobil dengan seorang perempuan, mena kelihatan mesra benget. Terus si perempuan menggelendot mesra di lengan mas damar sampai saya syok melihatnya" Para ibu ibu kebetulan sedang belanja sayur jadi mereka kumpul bersama di satu gang. Perilaku Damar sudah menjadi buah bibir di masyarakat sekitar.
"Oh yang kemarin itu saya juga lihat jeng. Jaman sekarang emang jamannya laki cari selingkuhan yang mapan biar bisa numpang hidup" Sambung salah seorang lagi.
Mencebirkan bibir "Ih....sekali suami suka selingkuh selamanya tetap begitu kalau ada kesempatan."
Penghianatan adalah satu petaka dalam rumah tangga, hanya ada beberapa saja mampu berubah selebihkan akan kembali melakukan hal serupa jika ada kesempatan. Ketika seorang suami berselingkuh istri akan berusaha mempertahankan, akan tetapi jika sebeliknya di pastikan seketika rumah tangga akan hancur. Maka dari itu jangan pernah berlain hati sebelum penyesalan membunuhmu secara perlahan.
"Saya juga pernah melihat entah itu hanya salah lihat atau bagaimana saya tidak tau tapi wajah dan suara mirip sekali dengan mas Damar. Pada waktu itu saya dan suami tengah belanja terus tiba tiba saja kami melihat sosok mas Damar bersama wanita lain sedang asik belanja. Memang sih wanita itu cantik, putih, sepertinya anak orang kaya. Tapi, tetap saja kalah sama mbak Syifa dalam hal kesabaran. Singkat cerita saya memutuskan menguping pembicaraan mereka dan parahnya lagi si perempuan bicara pasal perceraian Mas Damar dengan mbak Syifa" Salah satu warga mengetahui perselingkuhan Damar sejak jauh jauh hari. Semua warga menaruh iba kepada Syifa, selama ini harus menerima perlakuan buruk dari suami dan mertuanya, dengan tujuan mempertahankan fitrah seorang istri.
Para tetangga begitu yakin sekali bahwa memang Damar bukan pria baik baik.
"Eh, jangan keras keras nenek lampir datang" Ucap salah seirang warga yang melihat Tirani dan ibu mertuanya berjalan ke arah mereka.
Pak tukang sayur hanya bisa geleng kepala melihat para pelanggan sedang asik ghibah "Astagrifulla...Manusia kok di bilang nenek lampir"Lirihnya sambil mengelus dada.
"Eh ibu Rosidah mau belanja bu....?"Sapa penjual sayur dengan nada sopan.
Ibu Rosidah atau lebih di kenal ssbagai ibu Ros justru mengabaikan sapaan tersebut dan jutru langsung memilih sayur mayur "Jelas saya mau belanja masa mau ngegosib. Sorry, saya nggak hobi ngegosib seperti mereka" Melempar tatapan sinis pada beberapa warga yang ada di sana.
"Tentu saja tidak suka ngegosib orang situ biangnya gosib...." Celetuk salah seorang warga. Bukan rahasia umum lagi jikaibu mertua Syifa terkrnal suka menggosibkan aib seseorang, bahkan suka menfitnah.
__ADS_1
Mendengar kalimat itu jelas membuat telinga panas, seikat kangkung di lempar tepat mengenai wajah ibu pembeli sayur "Heh...jaga mulut kamu, emang hidup situ udah paling oke? Anaknya jadi janja aja sok blagu suka ngomongin rumah tangga anak orang, nggaca dong anaknya itu di ajari yang bener biar cepet dapet jodoh. Upsss.....mana ada sih yang mau sama janda apa lagi janda anak satu" Sambil melirik ke arah Syifa. Beliau sengaja menyindir menantunya sebab latar belakang Syifa dulu adalah seorang janda. Setiap kali ada kesempatakan pasti ada saja cara menjatuhkan harga diri Syifa depan orang banyak.
"Dasar nenek lampir rasakan ini" Ibu Ani tidak terima putrinya di kata katai tidak baik, sampai beliau murka. Sebungkus tomat matang di lempat tempat mengenai wajah Ibu Rosidah.
"Oh berani kamu ya" Kedua emak emak tersebut saling melempar sayur mayur hingga tak bersisa sedikit pun. Semua orang bukan memisahkan justru mereka bersorak membela salah satu dari mereka "Ayo bu Ani lempar sekalian pake ikan asin biar mukanya di gerogoti sama tikut got, orang seperti itu jangandi kasih ampun" Beberapa orang semakin memanasi kedua emak emak yang tengaj bersiteru.
"Astaga, udah ibu ibu bisa rugi saya nanti. Aduh bagaimana ini...." Tukang sayur meratapi dadangannya yang berserakan di jalan akibat ulah kedua wanita paruh batmya tersebut.
"Ibu sudah berhenti jangan buat keributan di sini, malu bu di lihat orang" Syifa berusaha memisahkan keduanya agar tidak saling berdebat.
"Eh mbak Syifa jangan mau belain mertua kaya begitu, dia bukan manusia tapi iblis. Mending mbak pergi aja jangan mau hidup dalam satu rumah bersama nenek lampir satu itu, lagi pula suami mbak juga seling....." Seketika seseorang membungkam mulut ibu Ani agar tidak kelepasan bicara.
Jauh sebelum mereka tau Syifa sudah mengetahui perselingkuhan suaminya lebih dulu. "Ayo bu kita pulang" Meraih lengan mertuanya berusaha melerai pertengkaran meresa.
Tukang sayur langsung meraih tangan ibu Ros "Jangan pergi dulu buk anda harus bertanggung jawab dengan dagangan saya. Lihat itu semua jadi hancur karena kalian. Pokoknya saya tmau minta ganti rugi"
"Enak saja minta sana sama dia" menunjuk ibu Ani.
Tentu Ibu Ani kembali tersulut emosi, beliau melepas sandal lalu melemparnya hingga mengenai wajah ibu Ros. "Makan tuh sandal biar kenyang. Punya mulut tuh di jaga jangan suka nyerocos terus udah kaya pantat ayam"
Ibu Ros tidak tinggal diam ia juga melempar balik sandalnya tapi ibu Ani bisa menghindar "Awas kamu ya...." Tiba tiba saja Syifa menghalangi sang mertua, namun justru terkena cakaran tangan beliau.
__ADS_1
"Aw....sudah bu tolong hentikan kita pulang saja"
"Tidak bisa begiti dong mbak ini bagaimana sama dagangan saya?"
Membuka dompet lalu mengambil uang dua ratus ribu "Saya hanya punya segitu pak besok saya akan lunasi semua kerugian bapak"
Seketika Ibu Ros menjarah uang Syifa "Enak saja kamu ngasih uang hasil keringat anakku padanya...."
"Astagfirullah....ada ya manusia macam ibu Ros, yang salah itu anda tapi kenapa anda tidak mau tenggung jawab"
Sekali lagi syifa harus menahan malu atas perbuatan sang mertua. Biar bagaimana pun ia berusaha tetap menjaga kesabaran sebaik mungkin "Maafkan ibu mertua saya, pak.Nanti sore saya datang ke rumah bapak untuk ganti rugi semuanya tapi sekarang saya harus pulang dulu"
"Baik mbak saya akan tunggu pertenggung jawaban mbak Syifa" Beliau memberi sedikit waktu.
"Kenapa ada mertua sejahat itu di dunia ini. Kalau aku jadi mbak Syifa sudah tak biarin aja biar tuh nenek lampir tau rasa"
Sesampainya di rumah Syifa langsung mengetuk pintu kamar sang ibu mertua "Bu tolong kembalikan uangnya biar bisa ganti rugi tukang sayur tadi, kasihan bu dia cari makan buat keluarganya. Aku mohon kembalikan uang itu...." Mengetuk pintu beberapa kali berharap sang mertua mau mendengarnya. Namun, semua sia sia beliau tidak perduli
"Dari pada uang dua ratus ribu buat orang mending tak buat belanja online" Sambil mencium uang dua ratis ribu milik Syifa.
Uang itu adalah uang brlanja dari Damar. Setiap bulan Syifa hanya menerima lima ratus ribu saja, selebihnya uang di ambil oleh ibu mertua. Dua ratus ribu masih tersisa untuk dua minggu lagi, tapi harus lenyap begitu saja di tangan ibu mertua.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana? Sedangkan semua uang belanja sudah habis tinggal itu satu satunya yang ku miliki. Apa yang harus aku lakukan....?" lirih Syifa.