
Semenjak malam pesta ulang tahun itu, Damar menjadi lebih dekat dengan keluarga Mariana. Setiap hari Damar mengantar Mariana pulang dan ngobrol hingga larut malam dengan anggota keluarga. Selama mereka bersama rasa cinta antara mereka mulai muncul kembali. Tidak perduli apakah dosa atau tidak yang jelas mereka akan selalu bersama.
"Makasih banyak sudah meluangan waktu bersama keluaragaku malam ini" Sambil memegang lengan Damar, Mariana mengantarnya sampai teras rumah. Sekarang mereka begitu dekat sekali seolah tidak ada lagi jarak. Sebuah ikatan tidak mempengaruhi mereka dalam menjalin kisah asmara.
"Tidak masalah. Justru aku senang sekali bisa ngobrol bareng kalian lagi..." Menyentuh pipi Mariana dengan lembut "Wanitaku prioritas utama bagiku"
"Emmmt....kamu tidak pernah berubah masih saja romantis seperti dulu"Meraih tangan Damar lalu menciumi telapak tangannya beberapa kali. Rasa cibta kerap membuat seseorang hilang akal. Yang haram di halalkan yang halal di haramkan. Sungguh mereka akan menyesal di kemudian hari.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Cepat masuk lalu istirahan. Jangan suka terjaga hingga larut malam itu tidak baik untuk kesehatan. Satu lagi, jangan lupa minum vitamin dulu sebelum tidur jangan sampe darahnya drop lagi" Sejak dulu Mariana mengidap anemia atau tekanan darah rendah, sehingga harus mengkonsumsi vitamin tertantu untuk menjaga kesehatan fisik. Sedikit stres saja bisa membuatnya mudah lemah, pucat, dan bisa jatuh pingsan. Maka dari itu Mariana harus mengkonsumsi vitamin demi menjaga tekanan darahnya.
"Iya bawel" Ucap Mariana setengah manja.
Mencubit hidung Mariana "Begitu dong nurut sama pacar, kan enak jadinya"
"Ya sudah kamu juga hati hati di jalan ya, kalau sudah sampe rumah jangan lupa kabari aku. See you" Melambaikan tangan mengiringi kepergian Damar.
Tak berapa lama Damar pun pulang. Semenjal Mariana kembali hadar dalam kehidupannya, seolah dunia begitu indah. Rasa cinta semakin bertambah menggebu seakan dunia milik berdua yang lain ngontrak.
"Mariana begitu sempurna. Tidak hanya cantik tapi dia juga menarik. Kenapa dulu gue tidak menikah sama dia saja, kenapa harus sama cewek kampungan itu....." Setiap kali mengingat wajah sang istri rasa kesal terus membebani hati. Begitulah pria ketika hasrat cinta telah berkurang, mencari pengganti adalah pilihan.
Perselingkuhan adalah kesenangan sesaat. Tidak akan ada akhir bahagia untuk mereka penikmat dunia. Kalak ada satu ganjaran bagi para pendosa sesuai dengan perbuatan mereka.
"Mas Damar mana sih kenapa belum pulang juga, ini sudah larut malam...." Seperti biasa Syifa menunggu suaminya pulang meski harus smapai larut malam. Sering kali ia menahan lapar demi menunggu Damar pulang.
"Kasihan ya mbak Syifa setiap malam menunggu mas Damar pulang kerja. Bahkan sampai larut malam begini masih saja mau menunggu di luar, padahal suaminya itu begitu angkuh, arogan, selalu bersikap dingin, tapi masih saja mbak Syifa bertahan sama pria seperti itu" Beberapa orang tetangga lewat depan rumah melihat ke arah Syifa. Mereka kerap malihatnya mondar mandir depan rumah menunggu kepulangan sang suami.
Salah seorang warga menjawab "Kalau aku jadi mbak Syifa sudah sejak dulu kabur dari rumah jahanam itu. Ibu ibu tau tidak setiap malam saya selalu mendengar teriakan mertunya itu, kata kata kasar bahkan sampai tidak pantas di dengar sekali pun keluar dari mulut mertuanya. Sebagai tetangga samping rumah saja aku sampai tidak tega...." Mengingat hampir setiap hari semua tetangga mendengar teriakan ibu mertua Syifa. Setiap hal di lakukan selalu salah di mata mertaunya. Tidak satu pun pujian terlontar sejak kedatangan Syifa ke dalam rumah itu.
"Emang si nenek lampir itu tidak punya hati nurani. Punya menantu cantik, penurut, baik hati, masih saja di sia siakan. Suatu saat nanti ketika mbak Syifa tersadar lalu pergi, mereka akan menyesal seumur hidup mereka. Kita lihat saja nanti hidup mereka akan hancur setelah di tinggal mbak Syifa...." Sambung seorang lagi.
__ADS_1
"Dasar keluarga aneh di kasih istri sama menantu cantik, baik, sholehah, masih saja kurang, maunya yang kaya gimana sih." Mereka sampai geleng kepala atas sikap buruk yang di terima Syifa selama ini.
Para tetangga selalu membicarakan penderitaan Syifa selama hidup bersama keluarga barunya. Syifa sendiri terbilang ramah kepada setiap warga. Dia juga ahli ibadah, setiap ada warga tertimpa musibah Syifa selalu ikut serta dalam bermasyarata. Lain dengan ibu mertaunya, meski asli penduduk sana tapi wataknya begitu angkuh, tidak suka bergaul sesama tetangga. Mulutnya seperti ember bocor, selalu bicara sesuka hari tanpa merasa perkataannya menyakiti atau tidak.
"Merekapada ngapain depan rumah gue...." Dari kejauhan Damar melihat beberapa tetangganya sedang asik bergibab depan rumah sambil menatap ke arah Syifa. "Tetangga kepo pada mau ngapaih sih...."
Tin....tin.....
Sontak saja mereka terkejut menddngar suara klakson secara tiba tiba "Astaga....bikin jantuangan saja"
"Minggir, minggir, merusak pemandangan saja" Cetus Damar.
"Ih....dasar blagu baru bawa mobil gitu aja udah sombong, kecelakaan sekalian tau rasa deh lu" cibir salah seorang.
"Heh....jaga tuh mulut atau mau gue sobek sekalian" handak keluar tapi para tetangga tadi langsung melarikan diri.
"Mas Damar...." Melihat sang suami datang tentu Syifa begitu gembira.
"Mas....." Ketika Damar baru saja turun dari mobil, seperti biasa Syifa akan mengulurkan tangan.
Memutar bola mata "Aku capek mau langsung istirahat" Mengabaikan uljran tangan sang istri.
Sudah biasa seperti itu, namun Syifa berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik.
"Pasti selalu begitu...." desis Syifa kembali menafik tangan. Di kecewakan sudah biasa, tersakiti, di sisihkan makanan sehari hari.Saking terbiasa ia tidak lagi bersedih.
"Mas mau di buatkan teh atau kopi, atau mau susu? Atau kalau tidak makan dulu saja tadi aku sudah masak makanan kesukaan maa Damar" Bersikap selayaknya seorang istri ternyata berat, harus berpura pura kuat meski hati sedang tidak baik. Sikap Damar kerap menghakiminya tetapi sebagai istri akan melakukan hal terbaik.
"Stop! Bisa nggak sih kalau suami baru pulang kerja jangan cerewet, bikin kepala pusing tau" Kecam Damar sembari memelototi Syifa.
__ADS_1
Menundukkan wajah sembari meremas tangan sendiri "Maaf, mas. Tapi aku hanya....."
"Sudah keluar sana jangan ganggu aku"
Brak....
Menutup pintu dengan kasar tepat depan wajah Syifa. Hati siapa tidak terluka mendapat perlakuan sekejam itu. Sebagai suami harusnya menjadi pelingdung bagi istrinya, bukan menjadi momok paling mengerikan dalam sejarah rumah tangga.
"Hati ku mohon kita sabar menghadapi semua derita ini" berbalik badan memutuskan menjauhi pintu kamar.
"Tau rasa dia...." Ibu mertua mengintip dari balik pintu kamarnya atas semua kejadian.
"Lagi lahi dia membuatku kesal" Melepas sepatu kemudian melemparnya sembarangan.
Beberapa saat kemudian "Lebih baik aku mandi dulu biar pikiran tenang" Kembali keluar hendak mandi. Melihat sang istri terbaring di atas sofa dengan posisi meringkuk. Entah kenapa hasrat dalam dirinya seketika menggebu. Menelan saliva nelihat lekuk tubuh sang istri. Sudah lama mereka tidak melakukan hubungan suami istri.
"Tidur di kamar" Ucap Damar.
Suara itu mengejutkan Syifa "Aku boleh tidur di kamar, mas?"
"Jangan banylk tanya masuk sekarang"
Syifa merasa aneh kenapa suaminya bisa melunak dalam waktu singkat.
Damar pun mengikuti Syifa lalu setelah mereka masuk kamar seketika Damar memeluk Syifq "Penuhi kewajibanmu...." melapas kerudung sang istri lalu menciumi leher jenjangnya.
"Tidak, jangan sekarang, mas. Aku lagi dapet...." Ucap Syifa menghentikan gerakan Damar.
"Apa?" mendorong Syifa hingga telungkup di atas ranjang. Dengan posisi Syifa sekarang justru membuat hasratnya semakin tinggi.
__ADS_1
"Mas.....jangan, dalam islam tidak di perbolehkan. Lepaskan aku jangan lakukan sekarang...." Berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun, iblis telah merasuki diri Damar.
Dengan keadaan haid Syifa terpaksa melayani nafsu suaminya. Meski ia tau semua tidak di perbolehkan.