
"Awas kamu...." Damar mendorong Azka ketika hendak menolong Syifa. Kedua pria tersebut saling bertikai hanya demi satu wanita. Dengan kondisi Ayofa sekarang jelas Azka merasa cemas. Di tambah lagi dia mulai mengenal watak keras suami Syifa tersebut.
"Lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit, tadi dokter bilang bahwa dia harus rawat inap tapi dia ngotot pengen pulang. Kondisinya sangat lemah kita harus bawa dia kembali atau kondisinya akan memburuk" Ucap Azka panik.
Dengan santai Damar menjawab "Halah....dia pasti cuma pura pura sakit biar dapet perhatian dari kamu. Gue tau emang dia itu caper, tidak usah di bawa ke rumah sakit buang buang duit" Dembari menepuk nepuk kedua pipi sang istri. Meski begitu keras tetap saja Syifa tidak membuka mata.
Mengepalkan kedua tangan "Kamu gila ya istri lagi sakit masih saja mentingin ego, emang dasar sakit jiwa. Kalau kamu tidak mau membiayai dia biar aku saja" Mengambil alih diri Syifa, namun Damar mendorongnya menjauh dari sang istri.
"Minggir kamu jangan sok perduli. Kalian sudah jadi mantan kalau dia sepenting itu di hidupmu kenapa dulu kamu mencaraikan dia? Nggak sok baik deh" Maki Damar lagi.
"Jangan ikit campur masa lalu kami kalau kamu tidak tau jalan ceritanya. Lebih baik sekarang bawa istrimu ke rumah sakit" Azka masih memikirkan kondisi Syifa.
"Apa urusannya sama kamu? Mau gue bawa kemana nih orang terserah gue. Hak gue dong bini bini gue ngapain kamu ikut campur" Dengan nada keras, tak berapa lama ia memapah Syifa masuk ke dalam mobil.
Azka tidak bisa berbuat banyak sebab tidak punya hak atas Syifa lagi. Sebuah hubungan terpaksa berakhir oleh emosi sesaat.
__ADS_1
"Suami macam apa dia...."Kesal Azka.
Kebetulan dalam mobil ada sebotol air mineral lalu Damar menyiramnya "Bangun...."
Syifa pun terkejut dan langsung membuka mata. Sebagian bajunya basah "Mas Damar, kenapa kamu menyiramku?"
Sembari fokus menyetir "Udah cukup aktingnya, mungkin mantan suamimu bisa terkecoh tapi tidak mempan sama gue"
"Astagfirullah siapa yang akting mas? Kepalaku benar benar pusing sekali. Sumpah demi Allah aku tidak sedang berbohong, aku sakit mas" Sambil menatap Damar.
Syifa memilih diam karena ketika Damar telah murka alasan seperti apa pun tidak akan mempan. "Percuma saja membela diri karena sampai mati pun dia tidak akan pernah mempercayaiku" Lirih Syifa sembari menyeka air mata.
Beberapa saat kemudian.
"Sekarang kamu harus mengakui bahwa dia selingkuhanmu" Sesampinya di rumah, Damar menyeret Syifa secara tidak manusiawi. Dengan emosi Damar juga melepas jilbab yang di kenakan oleh sang istri. "Percuma saja kepalamu terbungkus kerudung jika kelakuanmu sangat kotor" Tidak hanya sampai di situ saja, Damar juga merobek pakaian yang di kenakan Syifa secara paksa.
__ADS_1
"Mas, ampun jangan lakukan itu. Demi Allah kami tidak ada hubungan sama sekali....." Berusaha menghentikan siksaan suaminya, namun semua tangis iba terasa sia sia.
"Hey....ada apa ini?" Sang ibu mertua tiba tiba membuka pintu kamar dan menyaksikan kejadian penganiayaan tersebut.
"Lihat bu dia selingkuh dengan mantan suaminya, apa dia masih pantas memakai pakaian tertutup? Harusnya dia tidak pakai sehelai pakaian harena harga dirinya sudah tidak ada lagi." Maki Damar sambil terus menatap penuh rasa emosi. Darah seolah mendidih seketika tanpa tau kebenarannya seperti apa.
Melipat kedua tangan sambil menatap senang "Menjijikkan sekali, mantan suami jadi pelarian emang dasar istrimu itu lon*e" Sambung sang mertua. Nasib Syifa benar benar tragis lebih mengerikan hidup bersama mereka darin pada hidup di sel tahanan. Setiap hari siksaan lahir dan batin tertubi tubi silih berganti, seolah tidak bisa bernafas dengan tenang.
"Demi Allah, aku tidak berselingkuh. Kami bertemu secara tidak sengaja dan dia membawaku ke rumah sakit hanya itu saja tidak ada hal lain. Memang apa salahnya seorang manusia menolong yang lainnya ketika sedang membutuhkan bantuan?" Sambil meringkuk menutupi sebagian tubuh.
"Cih....alasan macam apa itu" Sang mertua membumbui pertengkaran mereka sampai emosi Damar semakin meluap, seperti kobaran api yang di siram bensin.
Damar lalu menyeret Syifa ke dalam kamar mandi. Dari luar terdengar Syifa memohon ampun dan kemarahan Damar telah membabi buta.
"Rasain tuh dasar menantu tidak tau di untung. Masih mendong Danar mau nikahi dia kalau tidak siapa yang mau nikah sama janda seperti dia" Ucap Ibu Rosidah sembari melenggang keluar kamar.
__ADS_1