
"Astaga...bukankah dia istrinya Damar? Kenapa bisa bersama pria lain" Seseorang kebetulan melintas sekitar jalan di mana Syifa dan Azka berada. Mereka terlihat sedang adu mulut hingga Syifa jatuh dalam pelukan sang pria di karenakan hendak terjatuh ketika secara tidak sengaja menginjak kulit pisang. Keduanya nampak saling bertatap muka untuk waktu lama. Seorang tadi lantas mengambil potret mereka lalu mengirimnya pada Damar.
Brak....
Damar memukul meja di depannya sehingga segelas air tumpah membasahi beberapa dokumen. "Sialan....jadi dia berani selingkuh di belakangku" Mengeratkan rahang menatap potret sang istri bersama pria lain. Meski dalam foto tidak terlihat jelas wajah sang pria, tetap saja hatinya mulai memanas. "Jadi kamu mulai berani macam macam denganku, lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan padamu"
"Sayang, kamu kenapa terlihat marah begitu" Tiba tiba saja Mariana menghampiri sang kekasih yang tengah terbakar api kemarahan.
"Kita bicara nanti ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang juga" Damar pun mengabaikan Mariana untuk pertama kali selama mereka menjalin kasih. Meski sebesar apa cinta deorang suami pada selingkuhannya, pasti dia tidak akan rela jika sang istri bersama pria lain. Begitulah kebanyakan para pria. Hanya memintingkan perasaan pribadi tanpa memikirkan bagaimana jika perbuatan berbalik padanya. Kebanyakan ketika seorang wanita berselingkuh dia hanya membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Namun, jika seorang pria berselingkuh maka bukan lagi tentang cinta melainkan tentang nafsu belaka.
Meski begitu perselingkuhan tetaplah kesalahan, jika tidak ingin di hancurkan maka jangan coba coba. Air laut akan tetap terlihat seperti air meski dalam wadah berbeda, yang membedakan hanya tempatnya saja. Satu air laut dalam akuarium akan terlihat cantik dan jauh lebih berharga, dari pada di taruh dalam sebuah kaleng bekas yabg usang maka tidak akan terlihat menarik meski di dalamnya sama sama berisikan air.
"Sayang tunggu dulu kamu mau kemana?" Berusaha mengejar Damar namun tidak di hiraukan sama sekali.
"Lepas...." Ucap Syifa berusaha melepaskan diri dari dekapan mantan suaminya. Setelah menikah dengan orang lain tutur kata Syifa menjadi sedingin batu es. Wajar saja ia masih mengira bahwa perceraian mereka akibat orang ketiga padahal tidak seperti itu.
Andai kamu tau alasanku menceraikan kamu mungkin sikapmu tidak sedingin ini. Maafkan aku telah meninggalkanmu....
"Aku tidak bermaksud begitu hanya reflek saja melihat kamu hampir terjatuh. Lain kali lebih hati hati...." Berbalik badan lalu bergegas pergi.
"Hati hati dalam hal apa? Dalam hal berselingkuh maksud kamu?"
Seketika langkah Azka terhenti "Maksud kamu?" berbalik badan kembali menatap wajah Syifa. Sejauh mereka berpisah rasa sakit itu terus menancap dalam hati Syifa sampai terasa menyakitkan.
__ADS_1
"Tidak ada" Bergegas pergi, namun Azka lebih dulu meraih tangannya "Tanyakan pada hati kecilku apakah benar aku bisa berselingkuh darimu pada waktu itu?"
Deg....
Ucapan Azka membuat Syifa terdiam sesaat. Entah kenapa air matanya menetes begitu saja. "Kenapa kamu tanyakan padaku, kamu yang menjalani jelas kamu lebih tau"
Menarik perlahan tangan Syifa sampai mereka kembali saling menatap satu sama lain "Jika aku mengatakan semua ucapanku dulu adalah bohong apakah kamu percaya?"
Mendorong dengan keras "Pertanyaan macam apa ini? Sudah jangan bahas masa lalu hanya membuatku muak dengamu"
"Pada kenyataannya isu perselingkuhan itu tidak benar. Aku hanya mengiyakan lantara kedua orang tuamu terus mendorongku dalam jurang kehancuran. Selama kita bersama kedua orang tuamu kerap kali menghinaku seolah aku pria termiskin di dunia. Dan apakah kamu tau wanita yang kalian anggap sebagai selingkuhanku itu adalah anak bosku. Sengaja aku pinjam uang dengan jumlah banyak dari kantor untuk membiayai pengobatan orang tuaku. Tapi kamu justru menanyakan kesetiaanku dan meragukan kejujuranku, oleh sebab itu aku terpaksa mengakui apa yang tidak aku lakukan. Semua hanya demi memuaskan ego kedua orang tuamu saja. Akan tetapi....sekarang aku baru sadar semua hanya menyakitiku saja"
Syifa sangat terpukul dengan semua pengakuan mantan suaminya. Setelah sekian lama ia baru tau bahwa semua tuduhannya tidaklah benar.
"Tidak mungkin kamu pasti berbohong. Kamu bohong supaya aku percaya padamu lagi, kan? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah percaya dengami lagi" Sambil menatap tajam penuh rasa sakit.
Memundurkan langkah sambil terisak menutup mulut "Tidak, semua tidak mungkin" Lirihnya dalam hati.
"Asal kamu tau selama ini aku tersiksa dengan kebohonganku sendiri. Semua salahku karena begitu membenci kedua orang tuamu sehingga hubungan kita menjadi korban atas segalanya" Andai saja waktu masih memihak pada hubungan mereka, harapan terbesar Azka hanyalah kembali bersama Syifa dan hidup bahagia.
Tak berapa lama sampailah Damar di lokasi tersebut. Ketika melihat Syifa bersama pria lain emosinya mulai memuncak. "Bagus, bagus sekali" ucap Damar sembari bertepuk tangan.
Seketika kedua orang tersebut menoleh "Mas Damar...." lirih Syifa.
__ADS_1
"Waw....istriku tersayang sangat hebat sekali, patut di acungi jempol" Dengan nada menyindir.
Menghampiri Sang suami berusaha menjelaskan kesalah pahaman antara mereka. Meski begitu semua tidak semudah membalikan lembaran kosong pada sebuah buku. Ketika hati seseorang telah di penuhi amarah dan rasa curiga kebenaran hanya sebuah ilusi belaka.
"Oh, jadi selama ini istriku selingkuh dengan mantan suaminya sendiri. Hebat benar benar hebat....." Menggeleng kepala sambil sesekali tertawa luka.
Meraih tangan Damar meski berulang kali kerap di tepis "Mas, dengarkan aku dulu semua tidak seperti tuduhanmu "
Pertama kali melihat wajah asli suami dari mantang istrinya, tentu Azka bisa menilai bahwa pria di hadapannya bukan orang baik baik. Tatapan mata itu menggambarkan kebengisan. Guratan kasar memperlihatkan emosionalisme yang tinggi.
"Benar, aku adalah mantan suami Syifa" ucap Azka tanpa ragu. Bahkan jika dia harus berbohong demi mendapatkan kembali Syifa semua akan ia lakukan, tapi semua tidak bisa merubah hati seseorang. Raga mungkin bisa di miliki tapi hati tak mungkin bisa di kuasai. Percuma saja hidup dengan seseorang yangbhatinya tidak bersama kita.
"Beraninya kalian...."Seketika Damar memukul wajah Azka hingga terpelanting ke tanah. "Apa apaan ini...." Sambil mengusap darah padasalah satu sudut bibir.
Meraih lengan suaminya "Mas, sudah jangan berkelahi malu di lihat orang"
"Diam kamu" Bentak Damar sembari mendorong Syifa hingga terjatuh.
Azka geram "Hey.....jangan pernah kasar sama perempuan atau kamu akan berhadapan dengan hukum"
"Memang kamu siapa berani menantangku? Siapa kamu mau menuntutku?" Ucap Damar seolah menantang.
"Aku tidak perduli setatus kalian sekarang, yanh jelas aku tidak terima jika Syifa terus tersakiti. Asal kamu tau dia baru saja keluar rumah sakit dan semua karena siapa? Karena kamu" Dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Azka cukup jangan teruskan lagi" berusaha bangkit meski kepala terasa sakit dan tiba tiba Syifa jatuh pingsan.
"Syifa..." Sigap Azka menolongnya.