
"Pak Damar kenapa penampilan beliau seperti itu...." Para pekerja melihat hal tidak biasa pada atasannya. Penampilan lusuh dengan dasi hanya mengantung tidak beraturan, dan kemeja tabrak warna, menjadikan Damar pusat perhatian. Mereka tertegun melihatnya seperti bukan Damar yang selalu tampil rapih dan modis. Rambutnya juga sangat berantakan seperti orang bangun tidur. Saking terburu buru sampai Damar lupa menyisir rambutnya.
"Iya tumbem banget pak Damar begitu. Dia juga terlambat satu jam lebih loh, biasanya dia selalu datang lebih awal dari kita. Tapi kenapa dia bisa terlambat ya?" Sambung salah seorang.
Tak berapa lama datang lagi seorang karyawan dengan membawa beberapa file perusahaan "Kalian sedang membicarakan siapa?" Tanya Pria tersebut sambil melihat ke arah pandangan mereka.
"Itu pak Damar masa iya datang ke kantor lusuh begitu mana rambutnya awut awutan, sungguh bukan pak Damar yang kita kenal biasanya" Jelas seseorang.
"Wajar saja dia habis bertunangan sama mbak Mariana, pemilih separuh perusahaan ini"
Seketika semua pandangan tertuju padanya "What? Tunangan? Bagaimana bisa mereka tunangan, bukankah pak Damar sudah menikah?" Hanya beberapa orang saja hadir dalam pertunangan megah tersebut, sebagain orang jadi tidak tau menahu. Wajar saja jika beberapa orang tidak mengrtahuinya. Sengaja Damar hanya memilih beberapa orang saja suoaya tidak terjadi kegaduhan sebab setatusnya sebagai suami sudah banyak di ketahui orang.
"Entahlah. Mungkin dia sudah bercarai dari istrinya" Sembari mengkerdikan bahu.
"Siapa bilang Damar sudah bercarai dari istrinya?" Semua orang mulai menatap pria yang baru saja datang. Ia adalah sahabat baik Damar di kantor. "Dia masih berstatus sebagai suami orang..."
Semua orang mulai berkasak kusut tentang seberapa buruk tabiat Damar "Astaga, pria macam apa dia itu bagaimana bisa bertunangan dengan perempuan lain sedangkan dia masih menjadi suami orang. Emang sakit tuh orang....." Celetuk salah seorang karyawan.
"Heh....kenapa kalian malah berkumpul di sini,cepat kerja sana" Tiba tiba saja Damar keluar ruangan lalu memarahi mereka semua termasuk teman dekatnya.
"Kamu juga ngapain ikut ngerumi sudah seperti emak emak saja" Sambil berjalan melintasi mereka.
__ADS_1
"Mulai kelihatan sombong"
Perkatakan itu membuat Damar menghentikan langkah. "Bicara apa kamu barusan, coba ulang sekali lagi..."
"Kenapa? Bukankah sekarang kamu adalah tunangan dari pemilik saham di kantor ini? Oh atau malah sudah jadi pemilik, uh takut" Dengan nada mengejek.
Brughhhh....
Bogem mentah menimpa wajah seorang pria tersebut.
"Jangan ikut campur urusan pribadi gue atau kamu dan kalian semua bisa lansung angkat kaki dari kantor ini" Bentak Damar sembari menatap tajam kepada mereka secara bergantian.
"Heh....memang gue takut sama pengecut macam elu" Bangkit seraya mengusap darah pada salah satu sudut bibir. Menunjuk tepat wajah Damar "Pria seperti elu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Tanpa elu minta gue sudah mengundurkan diri dari kantor ini. Dan asal elu tau suatu saat nanti ketika elu sudah menyadari kesalahan, pasti wanita yang elu sia siakan sudah bahagia bersama orang lain. Camkan itu" Dengan tatapan sama persis keduanya saling bersitegang. Maksudnya baik hanya mengingatkan sesama rekan kerja, tapi justru Damar tidak mau mendengarnya dan malah melewati batasan.
"Jangan ikut campur urusan gue" Mendekatkan wajah sampai jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti saja. Tatapan mereka saling bertarung.
"Apa apaan kalian ini..." Datanglah Mariana dengan salah seorang "Kalian kenapa baku hantam? Sudah merasa jagoan atau bagaimana?" Menarik lengan Damar lalu menatap tajam mata teman dekat Damar "Kamu jangan berani menyentuh tunanganku"
Tersenyum sinis "Astaga mbak jangan khawatir, saya tidak akan lagi sudi menyentuhnya meski sedikit saja. Sungguh saya menyesal pernah dekat dengannya. Satu lagi mbak katakan sama tunangan mbak ini kalau Karma Itu masih berlaku" sambari memundurkan langkah lalu bergegas pergi.
"Ikut aku" Mariana menarik Damar sampai ke ruang kerja "Kamu kenapa sih hari ini bisa telat, kamu tau kan hari ini itu kita ada meeting penting. Harusnya kamu konsisten dong jangan mentang mentang kita sudah tunangan jadi kamu mulai tidak profesional. Aku nggak suka ya kamu begitu...." Emosi Mariana meledak ledak dengan satu kesalahan saja.
__ADS_1
Pertama kali Damar menerima makian dari seorang perempuan. Meski harga dirinya sedikit terluka tetapi berusaha lapang dada. Senyumnya berusaha melebar semanis mungkin demi perempuan cantik di depan matanya "Sayang, bukan aku tidak profesional. Kamu tau sendiri pertunangan kita banyak memakan waktu jadi wajar jika aku kesingan hari ini. Please, jangan marah lagi ya nanti cantiknya berkurang...." Sembari menyentuh dagu wanita cantik yang tidak lain adalah tunangannya sendiri.
Mendapat pujian tentu semua perempuan pasti senang. Meski hanya sekedar kata kata tapi mempu membuat kaum hawa tersipu malu.
"Kali ini aku maafin kamu, tapi lain waktu jangan sampai telat lagi" Seketika Mariana menggelendot manja sambil mengelus elus lengan sang pujaan hati. Merasa bangga bisa mendapatkan kembali hak sebagai wanita di hati mantan kwkasihnya beberapa tahun silam. Setelah melewati nalan berliku nan terjal akhirnya mereka bisa kembali bersama.
Menyingkap beberapa helai rambut menyelipkan di belakang telinga "Maaf ya sudah membuat keributan tadi di luar, soalnya tuh anak bikin emosi. Nggak di runah nggak di kantir adasaja masalah menimpaku, hari ini memang sial sekali"
Menatap wajah Damar "Memang di rumah kamu ada masalah apa? Pasti karena istrimu iti, iya kan? Katanya kamu mau menceraikan dia lalu kenapa sampai sekarang belum bercarai juga?"
"Perceraian itu pasti segara terjadi, kamu tenang saja. Dalam dunia ini hanya kamu satu satunya cinta di atas cinta" mencium lembut langan Mariana.
Memamerkan keromantisan sudah hal biasa bagi Damar di mana pun mereka berada.Kantor juga tempat paking sering mereka gunakan untuk mamadu kasih.
Meraba dada bidang Damar "Tapi kamu harus janji ya dalam waktu dekat kamu harus segara bercarai, kalau tidak pernikahan kita tidak akan pernah terjadi"
Bermain rambut bergelombang Mariana sembari manatap penuh keyakinan "Sejak dulu aku tidak pernah mengingkari janjiku padamu, sayang."
Mereka mulai di luar nalar. Mariana duduk di pangkuan Danar sedangkan Damar berusaha fokus pada sebuah laptop di atas meja. Mereka mulai bekerja dengan cara menjijikkan. Dari luar terlihat jelas tingkah kedua manusia tak beradab itu, sehingga banyak orang merasa risih.
"Astaga, mereka itu tidak tau tempat dan waktu. Bermesraan kok di kantor memang nggak ada temlat lain apa..." Ketus salah seorang karyawan.
__ADS_1