
Beberapa bulan kemudian Alin mengajak Syifa menghadiri sebuah pesta pertunangan saudaranya. Tempat acara terselenggara begitu mewah terlihat sejak kaki baru memasuki gedung. Begitu banyak orang orang penting ikut menghadiri acara megah tersebut.
"Kita duduk depan jangan di sini...." Syifa duduk di bangku paling depan bersama Alin dan menjadi tamu kehormatan. Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita bergaun indah dengan senyum menawan. Syifa tersentak ketika melihat wanita tersebut "Dia?" Pekik Syifa.
"Apakah kamu mengenalnya? Dia adalah....."
"Mariana" Sambung Syifa.
Alin terkejut "Loh, kamu menganalnya?"
Syifa hanya terdia sembari bertanya dalam hati siapa gerangan pria yang hendak bertunangan dengan selingkuhan Damar. Pikiran Syifa menjadi tidak karuan. Sehingga beberapa saat kemudian datanglah seorang pria memakai batu batik senada dengan Mariana. Melihat suaminya berjalan di atas matras merah sembari di iringi oleh sang mertua, membuat pondasi hati hancur. Damar dan sang ibu mertua turut hadir dalam acara tersebut, namun pakaian mereka senada dengan pakaian pihak keluarga perempuan. Sekarang sudah jelas bahwa memang Damar adalah pihak laki lakinya. Air mata luruh membasahi pipi, mulut teras terkunci rapat. Berusaha tidak percaya tapi semua nyata.
"Kita sambut pasangan berbahagia pada siang hari ini, Ananda Mariana dengan Damar Sasongko....." Kata sambutan begitu meriah sampai tepuk tangan semua orang mengiringi langkah demi langkah. Damar terlihat begitu bahagia sehingga senyumnya kerap terus melebar dengan sesekali menatap Mariana. Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya membuat para tamu undangan iri "So sweet.....mereka cocok banget serasi wajah mereka juga ganteng dan cantik bikin iri saja. Terus dari tadi cowoknya terus tersenyum sambil melihat ke arah Mariana, sweet banget" Beberapa sahabat Mariana yang duduk tepat di belakang Syifa mulai berceloteh sesuka mereka.
Alin pun turut mengagumi kecantikan dan ketampanan kedua belah pihak. Ia tidak tau jika pria tersebut adalah suami sahabatnya sendiri. "Mereka serasi banget ya...." Ketika menatap Syifa, ia terkejut melihat air mata berderai di wajah sahabatnya tersebut "Loh kamu kenapa Syifa?"
Syifa menyeka air mata lalu tersenyum getir "Tidak apa apa, aku hanya terharu saja meluhat mereka begitu serasi"
__ADS_1
Alin pun menggandeng lengan Syifa "Aku tau bagaimana perasan kamu. Pasti kamu iri melihat pria itu begitu romantis sedangkan suamimu suka selingkuh. Kamu yang sabar ya suatu saat pria brengs*k itu pasti dapat karmanya" Tanpa sadar Alin menyumpahi Damar yang tidak lain adalah tunangan saudarinya.
"Aku ke toilet sebentar ya" Syifa tidak kuasa melihat hari bahagia suaminya dengan wanita lain, sehingga memutuskan untuk menghindar sejenak.
"Begitu tega kamu menyakitiku, mas" Air matanya luruh. Dari kejauhan ia melihat suaminya bertukar cincin sungguh itu sangat menyakitkan.
Tak berapa lama kemudian Alin mencari Syifa untuk mengajaknya memberi selamat, namun dia tidak kunjung datang. Lantas Alin mengucapkan selamat pada mereka tanpa di temani Syifa "Selamat ya semoga cepat menuju pemaminan" Ucap Alin sembari menjabat tangan Mariana lalu cipika cipiki.
"Doain saja cepat terlaksana. Makasih ya sudah datang. Oh iya kamu sendirian?" Tanya Mariana.
"Syifa...." Damar begitu terkejut melihat sang istri menghdiri acara pertunangannya.
Mariana memang tau bahwa Damar sudah menikah tapi belum tau jika Syifa adalah istri dati tunangannya. "Sayang, kamu kenal sama dia?"
Berusaha sekuat mungkin bersikap baik baik saja sembari melebarkan senyum kepalsuan "Jelas kami saling mengenal karena kami...." Tiba tiba saja ucapan Syifa terhenti.
"Sebenarnya dia...."
__ADS_1
Syifa keburu menjabat tangan Mariana "Kami pernah beberapa kali bertemu bukankah begitu mas?" Melempar pandang ke arah suaminya.
Damar pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya memilih diam seribu bahasa.
"Semoga hubungan kalian langgeng sampai pelaminan, dan semoga tidak ada arang melintang dalam hubungan kalian. Bahagia selalu pasangan baru" Di san Syifa masih berpura pura kuat dengan memperlihatkan senyum palsu.
"Terima kasih semoga kamu juga cepat berjodoh" Ucap Mariana.
Seketika Syifa menatap Damar. "Maaf, tapi aku sudah menikah. Rumah tangga kami begitu harmonis. Suamiku begitu mencintaiku meski sekarang suamiku sedang...." Seketika Syifa menundukkan kepala menyeka air mata.
"Kenapa kamu bersedih? Mamang suamimu kemana?" Tanpa Mariana tanpa rasa curiga.
"Sudahlah sayang untuk apa kita mengusik kehidupan pribadi orang lain, biarkan dia pergi toh maaoh banyak yang ingin mengucapkan selamat pada kita" Damar pun berusaha mengusir Syofa secara tetang terangan karena takut jika Syifa buka mulut maka pertunangan mereka bisa berantakan.
Syifa tersenyum "Tenang saja mas aku tidak akan mengganggu terlalu lama, tidak usah risau. Kalau begitu kami pergi dulu ya jangan lupa bahagia, selalu tersenyum, dan semoga langgeng" Beranjak pergi.
Sialan, kenapa dia bisa menghadiri pertunangaku. Bagaimana jika dia berbuat ulah....
__ADS_1