
"Syifa.....dia mau kemana bawa koper sebesar itu?" Kebetulan Azka melihat Syifa di tepi jalan tengah termangu sendirian. Menepikan mobil lalu menghampirinya.
"Hapus air mataku...." Sapu tangan putih ia sodorkan pada Mantan istrinya. Syifa mendongak dan menatap pria di hadapannya. Melihat sapu tangan putih itu dulunya ia hadiahkan sapu tangan tersebut kepada Azka sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka yang pertama kali. Nama mereka juga tertara pada salah satu sudut kain putih tersebut. Syifa menoleh sembari menyeka air mata menggunakan tangannya sendiri "Aku tidak butuh sapu tangan itu..." Berusaha bangkit namun Azka meraih pundaknya sembari menekan ke bawah "Sampai kapan kamu bersikap sedingin ini padaku? Meski kita sudah menjadi mantan tapi apakah tidak ada pelungan bagiku untuk menjadi temanmu?"
"Tidak akan ada kata teman dengan mantan suami. Lupakan saja tentang niatmu lebih baik mulai sekarang jangan ganggu aku lagi. Hiduplah sesuai keinginanmu dan jangan mengusik hidupku. Semoga aku beruntung tidak bertemu denganmu di lain hari" Beranjak pergi.
"Begitukah penilainmu terhadapku? Apa aku seburuk itu sampai tidak pantas menerima maaf darimu?"
Langkah Syifa terhenti sejenak, mengingat bagaimana dia berjuang melawan rasa sakit. Sakit tak berdarah mematikan rasa cinta dalam hati, tergantikan menjadi kekecewaan. Andai dulu Azka berterus terang mungkin kejadiannya tidak separah ini. Mungkin hidup mereka masih baik baik saja. Air mata syifa menetes ketika kembali mengingat kisah masa lampau. Azka adalah orang pertama yang mengajarinya tentang cinta. Mengenalkan dia pada rasa rindu juga mengajarinya arti kasih sayang.
"Seperti luka yang pernah kamu beri padaku. Sesukit itu juga aku memaafkan kamu. Demi Allah aku tidak lagi ingin mengungkit masa lalu kita, maka dari itu jangan pernah lagi menyapaku meski kita saling berhadapan sekali pun" Ucap Syifa sembari kembali melangkahkan kaki.
__ADS_1
Sekarang Azka hanya bisa menatap punggung mantan istrinya dengan ribuan rasa bersalah. Waktu menjadi teman penyesalan di masa lalu. "Wajar jika kamu tidak bisa menerima uluran tanganku. Semua memang pantas kudapatkan, aku terlalu banyak menyakitimu" Tanpa sadar air matanya membasahi pipi. Waktu tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah pergi, namun waktu bisa memberi pelajaran terbaik dalam hidup.
"Berbaliklah. Lihat aku di sini...." Lirih Azka berharap Syifa menoleh.
Semua terasa mustahil. Ketika seseorang telah memutuskan sebuah hubungan maka tidak akan ada lagi jalinan terhubung antara mereka. Ingat, manusia tidak akan mengenang kebaikan orang lain meski seribu kebaikan sekali pun. Namun, manusia hanya akan mengingat dalam seumur hidup mereks satu kesalahan saja.
"Maafkan aku terpaksa menyakiti hatimu,mas. Semua karena aku tidak mau memberimu harapan lagi. Antara kita tidak akan pernah ada ikatan apa pun. Ya Allah lapangkanlah hati hamba dalam menghadapi segala ujian-Mu." Pada akhirnya syifa memilih menjauh dari semua titik masalah, demi kebaikannya sendiri.
"Masak? Aku tidak bisa memasak. Lagi pula kan ada bibi kalau mau makan tinggal bilang saja sudah beres deh. Lagi pula ngapain repot asal kita punya duit semua jadi beres" Ucap Mariana.
Damar mulai tersenyum kecut. Setiap hari dirinya harus keluar duit banyak untuk biaya makan dan belum lagi perawatan wajah Mariana. Meski dia bertunangan dengan anak orang kaya tetap saja harus mengeluarkan uang banyak demi membahagiakan sang tunangan.
__ADS_1
"Tapi jika nanti kita menikah bolehlah kamu memasak untuk suamimu ini..." Masih berpura pura sok baik.
Mengibaskan beberapa helai rambut kemudian meraih segelas minuman yang tadi ia pesan "Nggak usah ribet deh tinggal beli aja gampang, atau minta tolong sama bibi. Aku tuh di takdirkan menjadi ratu bukan babu. Pokoknya kalau kita nikah nanti harus bawa bibiku dan satu lagi aku juga nggak mau kalau di suruh suruh buat masak di dapur, Titik"
Membelai rambut Mariana "Tapi kan sayang...."
Menepis dengan kasar "Apaan sih ngotot banget pengen aku jadi babu ya? Sampai mati aku nggak mau jadi budak orang lain"
Sekarang Damar mulai bisa meluhat sisi lain dari Mariana. Lemah lembut yang duku di tawarkan sekarang berubah seratus persen. Damar hanya bisa menerima meski sejujurnya dia tidak menyukai tingkah Mariana.
"Ya sudah aku tidak akan menuntutmu untuk apa pun. Asal kita bersama semua akan terasa indah(Meraih tangan Mariana lalu mengecup lembut). Oh iya kita pulang yuk sudah larut malam" Seolah tak berselera lagi setalah mendengar jawaban Mariana. Sejak dulu Damar begitu hemat dalam urusan pengeluaran. Sejak dulu Syifa tidak pernah mengeluhkan nafkah darinya, cukup tidak cukup berusaha menerima lapang dada.
__ADS_1