Ketulusan Hati Syifabella

Ketulusan Hati Syifabella
Episode 15


__ADS_3

"Sekarang kita hanya berdua katakan saja siapa yang membuatmu sampai seperti ini?" Alin menatap penuh rasa iba. Sejauh mereka berteman Syifa tidak pernah bertindak di luar batas, jadi tidak mungkin Syifa mendapatkan lebam atas perbuatannya. Dari ujung wajah hingga ujung kaki begitu banyak luka lebam sampai memerah kebiruan. Untung Syifa berpakaian serba tertutup sehingga tidak banyak orang tau tentang penderitaannya.


"Katakan saja jangan takut...." Memegang erat kedua tangan Syifa berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


Meski pada awalnya Syifa enggan menceritakan aib suaminya, atas dasar desakan Alin ia berhasil membuka mulut. Betapa menderita kehidupan rumah tangga Syifa dengan suami keduanya. Setiap orang punya cerita tersendiri dengan rumah tangga masing masing, pasti akan ada cerita pahit dan manisa di dalamnya. Akan tetapi bagaimana dengan Syifa? Sejak pertama menikah hingga sekarang selalu mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari suami dan mertuanya. Sebagai seorang istri ia hanya bisa menangis dan terus bersabar. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


"Lalu kenapa kamu masih bertahan dengan rumah tangga kalian? Untuk apa lagi kamu mempertahankan suami dengan gangguan jiwa. Kamu itu pada dasarnya cantik hanya saja tidak di modali, sedikit saja kamu bermake up pasti pelakor di luar sana jadi ciut nyalinya. Jadi istri jangan mau di tindas. Wanita kalau sudah menikah berarti sang pria mampu meratukan bukan malam di jadikan babu, jadi jangan mau di perlakukan seperti itu. Enak saja orang tua kita yang besarin, banyak keluar biaya, susah payah brojolin kita, eh giliran udah besar main di jadiin babu aja. Dih jangan sudi." Ucap Alin ikut kesal setelah mendengar semua keluh kesah Syifa. Pertama kali baginya membongkar aib keluarga atas dasar paksaan. Lagi pula terlalu banyak luka terpendam sehingga raga terlalu lelah menanggungnya sendirian.


Air mata Syifa jatuh juga "Jujur, aku tidak ingin di ratukan sama sekali. Hanya saja aku ingin hidup seperti orang pada umumnya, hidup normal tanpa penindasan. Di tambah lagi suamiku ketap melempar tuduhan palsu tentang perselingkuhan padahal dia sendiri yang berselingkuh" Ucap Syifa dengan terisak isak. Seribu satu luka menjadi satu sehingga membuatnya begitu sakit tiada kira.


"Nah....dengan dia berselingkuh jelas kalau suamimu bukan pria baik baik. Lebih baik kamu tinggalkan dia. Tidak ku sangka suami keduamu lebih jahamam dari pada suamimu dulu. Kebanyakan para suami tidak mau bersyukur dengan satu istri saja, masih saja mencari simpanan" berdecak kesal karena Alin juga pernah merasakan sakitnya di selingkuhi. Meski perselingkuhan hanya sebatas pacar tetap saja sakitnya tembus hingga ke sumsum tulang belakang.


Pubertas kedua seorang yang telah menikah jauh lebih mengerikan di banding pubertas pertama semasa pacaran. Ketika seorang itu jatuh hati setelah menikah dengan lawan jenisnya maka cinta mereka di bumbui hawa nafsu yang tinggi, sehingga terjadilah dosa besar. Patah hati terbesar seorang istri bukan ketika suaminya tidak memberi nafkah tapi ketika melihat suaminya berlain lain.


Seketika Syifa merasa sangat berdosa karena dulu sempat meragukan kesetiaan Azka, meski dal hati kecilnya tidak percaya. Namun, semua telah terjadi dan tidak akan pernah terulang lagi.


"Mas Azka tidak pernah berselingkuh, dia itu...."

__ADS_1


Alin tersentak mendengar ucapan Syifa "What? Are you sure?"


Syifa menganguk lalu menceritakan semua kesalah pahaman antara mereka pada masa dulu. "Astaga, kenapa kamu sebodoh itu Syifa. Main percaya gosib tanpa tau yang sesungguhnya itu sangat menyakitkan sekali. Kasihan suamimu pasti dia sangat terluka"


"Bukan suami tapi mantan suami" Tegas Syifa.


Alin tersenyum dengan dua jari membentuk huruf V "Sorry deh maksud aku mantan suami"


"Eh udah sore aja kita pukang yuk takut mertua ngomel lagi"


Alin memaklumi kondisi Syifa sekarang ini, jadi dia pun mengiyakan saja tanpa protes sedikit pun.


Bruk....


"Maaf, maaf, aku tidak senga.....ja" Betapa terkejutnya Azka ketika melihat sosok perempuan yang kini terjatuh tepat di depan matanya "Syifa....sini biar ku bantu" Mengulurkan tangan meski tidak mendapatkan respon.


"Kalau jalan tuh jangan cuma pake kaki tapi mata juga di pakek dong mas, anak orang main di tabrak aja untung tidak patah tulang. Kalau sampai sahabatku kenapa napa kamu harus tanggung jawab" Protes Alin.

__ADS_1


Syifa bangkit "Sudahlah, jangan di perpanjang. Aku tidak apa apa kok, lebih baik kita pukang saja hari sudah menjalang magrib, tidak baik perempuan seperti kita masih berad di luar rumah." Menggendeng paks lengan Alin mengajaknya pergi.


"Eh tunggu sebentar kayanya muka tuh cowok mirip sama mantan suami kamu deh" Berusaha mengingat ingat kembali tentang foto pernikahan Syifa beberapa tahun silam. "Nah iya benar dia mantan suamimu, aku masih ingat jelas wajahnya meski sekarang kelihatan lebih maco dan putih" Sambil menatap Azka dari ujung kepala hingvmga ujung kaki.


"Benar dia adalah mentan istriku...." Sambung Azka memperjelas setatus mereka berdua.


Syifa menarik paksa lengan sahabatnta "Tidak penting siapa dia karena hanya sebagian kecil dari masa laluku"


"Sebagain kecil dari masa lalunya. Itu berarti aku tidak sepenting itu untuknya..." Membuang muka sembari melempar senyum kecewa "Aku terlalu berharap banyak selama ini darinya" Perlahan Azka pun melenggang pergi.


Setelah lumayan jauh Syifa menoleh dan melihat punggung mantan suaminya tersebut. Rasa hati seolah teriris pisau tajam nan runcing begitu menyakitkan sehingga dada ikut bergejolak.


"Kenapa masih perduli sama dia?"


Syifa menghentikan langkah "Apaan sih Lin nggak lucu deh. Antara kami sudah tidak ada lagi rasa semacam itu yang tertinggal hanya...."


"Hanya penyesalan, iya kan?"

__ADS_1


"Alin.....sudah jangan bicarakan itu lagi lebih baik kamu antar aku pulang"


__ADS_2