
Sedari tadi Syifa belum sadarkan diri, sekarang dia tengah berada di rumah sakit. Azka selaku mantan suami mencoba menghubungi anggota keluarga namun tidak ada yang dapat di hubungi. Syifa juga tidak kedapatan membawa ponsel. Di tambah lagi Azka tidak mengenal suami baru Syifa, jadi tidak bisa menghubunginya.
Berulang kali mencoba menghubung pihak keluarga Syifa, tetapi tidak ada hasil sama sekali "Sudah lama sekali aku tidak berkomunikasi dengan mereka, apakah mungkin sudah ganti nomer?" melihat mantang istrinya terbaring lemah membuat hati seolah teriris. Jujur Azka masih menyimpan perasaan pada mantan istrinya tersebut. Perpisahan mereka begitu menyakitkan. Bukan keinginan pribadi Azka melainkan semua karena kedua orang tua Syifa. Beberapa tahun silam ketika mereka masih hidup bersama, kerap kali sang mertua menghina karena Azka orang tidak punya. Dulu Azka hanya seorang pegawai biasa yang setiap bulannya hanya mempunyai gaji sedikit. Sang mertua selalu merampas seluruh hasil jerih payahnya selama satu bulan dan itu berlangsung sudah bertahun tahun. Hingga pada suatu ketika orang tua Azka mengalami sakit keras dan membutuhkan uang banyak untuk biaya rumah sakit, singkat cerita ia meminjam uang pada atasanya seorang perempuan anak dari bos besar. Ketika itu muncul isu besar di mana salah seorang pegawai memberi kabar bahwa Azka berselingkuh dengan anak bos besar, dari kejadian itulah isu perselingkuhan mulai tersebar luas. Pada saat iti Syifa termakan gosib lalu antara mereka berdua saling adu mulut. Pertengkaran mereka di bumbui adanya penemuan sejumlah uang dalam tas kerja Azka. Sang ibu mertua lantas menuduh Azka telah di beri sejumlah uang secara percuma oleh selingkuhannya, meski pada dasarnya tidak seperti itu. Saking emosi akhirnya Azka menjatuhkan talak dan berbohong bahwa memang benar dia berselingkuh. Semua pengakuan palsunya semata untuk membungkam mulut sang mertua. Azka juga sudah lelah harus selalu mengalah dan harga dirinya selalu di injak injak bagikan sampah jalanan.
Kesabaran seseorang sangat terbatas, setetes tinta bisa merubah segelas susu. Seribu kebaikan kalah dengan satu kesalahan. Ketika kebaikan ribuan kebaikan di abaikan hanya karena satu kesalan maka begitulah manusia, yang di ingat hanya kesalahan saja tanpa mengingat seberapa besar kebaikannya selama ini.
"Jika tidak karena kedua orang tuamu mungkin kita masih tetap bersama. Melepaskan kamu adalah hal besar yang paling ku sesali seumur hidup." Hendak menggapai wajah Syifa namun seketika di kejutkan oleh seorang perawat.
Ya, perceraian mereka sebenarnya bukan karena orang ketiga tapi perasaan seorang menantu yang terus tertindas. Selama hidup bersama Syifa kedua mertuanya kerap kali meminta jatah sejumlah uang dan terus menerus menyinggung harga dirinya.
Tak berapa lama kemudian Syifa mulai sadarkan diri "Kamu? Kenapa aku bisa di sini" Melihat sekeliling ruangan nampak begitu bersih dan aroma khas rumah sakit pada umumnya. Jarum infus masih menancap sampai.
"Hey....apa yang kamu lakukan" Azja berusaha mengjentikan Syifa ketika berusaha mencabut paksa jarum infus. "Kamu sudah hioang akal atau bagaimana? Jangan keras kepala kamu itu lemah jadi jangan sok kuat, mengerti?!"
Sejak dulu Syifa selalu bersikap sok kuat meski sebenarnya raga begitu lemah.
Menepis tangan mantan suaminya "Tolong jangan sentuh aku lagi, kita bukan muhrim"
"Baiklah....tapi kamu harus janji jangan lepas infus itu"
Dokter menjelaskan bahwa kondisi Syifa tidak baik baik saja, diaknosa dokter menyatakan bahwa dia menderita asam lambung kronis juga ada masalah dalam pencernaan. Oleh sebab itu Dokter menyarankan untuk di rawat inap. Namun, Syifa menolak keras.
"Sekarang juga aku mau pulang"
__ADS_1
Azka tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya dia meminta ijin pada pihak medis untuk Syifa tidak di rawat inap. Pihak rumah sakit awalnya tidak mengijinkan, akan tetapi mereka tidak bisa menahan keinginan pasien. "Jika memang itu yang anda inginkan kami tidak dapat memaksa, namun segala konsekuensi harus anda tanggung sendiri"
Setelah beberapa saat kemudian Syifa berhasil keluar dari rumah sakit. Meski dengan kondisinya sekarang tetap saja berusaha baik baik saja depan semua orang, termasuk mantan suaminya itu.
"Ayo masuk, kenapa diam di sana seperti patung?" Ucap Azka ketika Syifa tak kunjung naik mobilnya. Sekarang kehidupan Azka jauh lebih baik dari sebelum mereks berpisah. Mempunyai rumah dan mobil sendiri meski maaih nyicil per bulan.
"Aku mau cari ojek saja kamu pulang saja dulu" luka hati Syifa ma0ih mengantal sampai bila, entah kapan akan berakhir yang jelas dia tidak tau pasti.
Azka kembali turun dari mobil "Kenapa sih kamu keras kepala begitu, aku tidak akan bebuat buruk terhadapmu. Aku juga tau batadan antara kita. Lebih baik kamu naik sekarang juga atau terpaksa aku kembalikan kamu masuk ke dalam sana, biar kamu merasakan bagaimana sakitnya jarum suntik lagi" Ancam Azka.
Sambil membuang muka "Terserah aku tidak perduli"
Melihat semua itu jelas Azka tidak tinggal diam, ia memaksa Syifa masuk ke dalam mobil "Apaan sih lepaskan aku mau turun" Berusaha kabur namun Azka lebih dulu mengunci pintu.
Dengan sangat terpaksa mereka duduk semobil berdua. "Pakai sabuk pengamannya atau kita bisa di tilang polisi"
Tiba tiba saja Azka mencongdobgkan badan ke arah Syifa hendak memakaikan sabuk pengaman. Mereka berdua saling bertatap muka untuk beberapa waktu, sebelum Syifa mendorong tubuh mantan suaminya tersebut "Aku bisa sendiri...." Keduanya merasa sangat cangung sekali setelah sekian lama terpisah.
Hampir setengah jam lebih mereka duduk terdiam. Namun, Azka berusaha mencairkan suasan dingin "Apakah kamu belum makan?"
Syifa tetap tidak bergeming, memilih fokus melihat keluar kaca mobil. Ketika mereka bersama kembali rasaskait itu terasa mengusik kalbu.
"Ehem.....Kalau boleh aku tau di mana rumah suamimu biar ku antar sampai rumah"
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku sungguh tidak membutuhkan bantuan darimu sedikit pun"
Menghela nafas "Sampai kapan kamu berdikap dingin kepadaku? Iya, aku akui duku aku banyak salah, tapi apakah pendosa ini tidak pantas di maafkan? Setidaknya bebaskan aku dari penderitaan ini. Jujur setelah berpisah selama itu hidupku terasa kosong"
"Jangan ungkit masa lalu. Hidupku sekarang kamu tidak perlu rau dan hidupmu aku tidak mau tau. Jadi urus saja kehidupan masing masing tanpa harus menggali masa lalu" Ketus Syifa.
Andai kamu tau siapa dalang di balik perpisahan kita, apakah kamu masih akan terus menyalahkan aku? Kita sengaja di pertemukan takdir karena masih ada hal yang belum terselesaikan. Aku harap suatu saat nanti kamu bisa mengerti....
"Turunkan aku di depan sana, kamu tidak perlu mengantarku sampai rumah"
Azka tidak ingin bertengar lagi sebab terlalu banyak masalah antara mereka. "Kamu yakin turun di tempat seperti ini" melihat sekeliling ada beberapa orang berprnampilan seram tengah duduk bersama kawan sambil bermain kartu. Mereka nampak buka orang baik baik.
"Aku lebih takut satu mobil dengan mantan suami dari pada sama preman seperti mereka" ucapan Syifa sangat melukai hati Azka. Meski mereka sudah berpisah tapi antara mereka dulu pernah ada cinta. Tidak sepentasnya berkata buruk ketika tidak lagi bersama.
Syifa pun turun dati mobil laku berjalan menyusuri jalan. Jarak menunu rumah masih sangat jauh tetapi ia memilih jalan kaki.
Benar saja belum beberapa lama beberapa preman terlihat menggoda Syifa. Dari kejauhan Azka memantau lalu berlari menyelamatkan Syifa.
"Jangan pernah sentuh wanita itu atau kalian akan merasakan akibatnya" Dengan gagah berani Azka yang seorang diri berani melindungi Syifa meski lawannya begitu besar dan kuat.
"Sialan....dasar tengik" Beberapa orang langsung mengetoyork Azka hingga babak belur, namun tiba tiba saja Azka bangkit lalu membaut mereka semua kesalitan. "Jangan pernah sentuh dia atau tukang belulang kalian akan hancur"
Melihat lawan main begitu kuat mereka lari terbirit birit "Kamu baik baik saja kan?" Tanya Azka.
__ADS_1
"Jangan sok perduli. Kenapa kamu harus menolongku dari mereka, biarkan saja mereka menyakitiku toh kamu tidak punya hak atas diriku lagi"
"Meski begitu aku masih punya hati nurani, siapa pun setatus kamu sekarang, tapi aku tidak akan pernah membiarkan kamu terluka. Jika bukan untukku tapi setidaknya jaga dirimu untuk suami barumu itu" Dengan penuh kecewa ia meninggalkan syifa di tepi jalan. Hati terasa sakit setiap kali kebaikan di balas ucapan pedas. Begitu menyakitkan.