
Kring.......
Suara denting alarm terus berbunyi, namun Damar tidak kunjung bangun juga. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tapi dia masih terbawa mimpi indah. "Berisikkk....."Suara denting alarm tidak lagi berbunyi ketika tanpa sengaja tangan panjang pria tersebut menjatuhkan jam di atas meja. Semalam menjadi hari terindah dalam sejarah, namun pagi menjadi momok baginya, sebab tidak ada lagi yang membangunkan tepat waktu.
Tak lama kemudian ponsel di saku celana terasa bergetar sehingga dapat membangunkan Damar "Siapa sih ganggu saja masih pagi buta begini" Sembari merogoh ponsel dalam saku celana.
"Hem.....ada apa?" dengan mata masih tertutup.
"Kenapa kamu belum datang juga ini sudah jam delapan lebih lho, kita ada meeting jam sembilan" Mariana terus menatap jam tangan. Pertama kalinya Damar terlambat masuk kantor.
Seketika mata melebar "Astaga, benarkah?" Tatapan tertuju pada jam dinding "Oh tidak ini sudah jam delapan lebih" segera menyingkap selimut kemudian turun dari atas ranjang "Kalau begitu aku siap siap dulu sayang. Sammpai bertemu di kantor, Emuah" Secepat kilat menuju kamar mandi. Tak lama kemudian keluar lagi karena Damar tidak mandi dan hanya mencuci wajah saja.
"Syifa, baju kerjaku di mana...." Lantang Damar. Merasaada yang salah karena sang istri tak kunjung datang "Syifa....." Damar pun kembali berteriak.
"Apa anak itu lupa kalau si janda itu sudah minggat dari rumah?" Sang ibu yang juga baru saja bangun langsung menghampiri kamar sang putra.
"Eh Syifa apa kamu tuli?" Mendengar suara langkah kaki ia mengira bahwa itu adalah Syifa.
Sambil melipat kedua tangan "Apa kamu sudah lupa kalau istrimu itu minggat dari rumah?"
__ADS_1
Seketika Damar teringat bahwa Syifa sudah pergi dari semalam. "Sial, kenapa aku bisa lupa kalau dia sudah pergi....." Sembari mengacak acak lemari mencari baju yang kerjanya "Di mana dia meletakkan kemejaku?" Setelah beberapa saat kemudian Damar tidak dapat menemukan kemaja tersebut sehingga dia harus pakai kemeja lain.
Sang ibu masih melihat putranya kesulitan menyiapkan baju kerja. Selama ini Syifa selalu menyiapkan segela kebutuhan Damar, dari pakaian, sampai makanan semua dia yang atur. Ketika Syifa tiada tanpa ia sadari semua menjadi kacau tidak terkendali.
"Kenapa terburu buru, bukankah sekarang kamu sudah tau bahwa Mariana juga pemilik saham terbrsar di kantormu itu?" Tanya sang ibu.
Dengan tergesa gesa memakai jam tangan hingga dasi tak sempat di pakai, hanya di kalungkan di leher saja "Biar bagaimana hari ini ada rapat penting buk. Kalau begitu Damar pamit dulu ya..." Sembari berlarian kecil.
Ketika baru saja keluar tiba tiba langkahnya terhenti "Astaga....kenapa aku sampai lupa dokumen presentasi di atas meja" Berbalik badan kemudian mengambil dokumen yang tertinggal.
Sang ibu hanya melihat bagaimana tingkah sang putra "Hey... Jangan berlarian begitu"
Lutut Damar terbrntur bibir meja ketika hendak meraih dokumen "Sial, sial, pake kebentur segala...." Dengan kaki berjingkrak ia berusaha berjalan secepat mungkin.
Di depan pintu masuk sudah ada seorang wanita cantik menunggu kedatangan Damar. Swdari tadi terlihat panik mondar mandir kesana kemari. Beberapa kali melihat jam "Kenapa belum datanbg juga padahal tinggal lima menit lagi" Mencoba menghubungi tapi tidak ada jawaban. Membuat Mariana kesal "Ih....kenapa tidak di jawab" Tidak mau ambil resiko besar pada akhirnya Mariana memerintantahkan salah satu tenaga kerja untuk ikut dengannya menghadiri meeting.
Perjalanan teras panjang ketika tengah terburu buru "Pake macet segala...." memukul stir kemudi saat terjebak kemacetan. Hendak keluar tapi kiei kanan padat merayap.
"Semua gara gara Syifa, kenap dia harus pergi segala sih" Kesalnya sambil memijat kening.
__ADS_1
"Aw....." Syifa meringis kesakitan ketika tanpa sengaja bibir bawahnya tergigit olehnya sendiri.
"Hey, kamu kenapa?"Tanya Alin.
Meraih segelas air "Bibirku kegigit..." lalu menenggak segelas air meneral.
Saat ini mereka sedang sarapan. Tiba tiba saja Alin terkekeh "Itu pasti ulah suamimu, sekarang ini dia pasti sedang mengeluh tentangmu" Sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi dan lauk.
Apakah mas Damar bisa bangun pagi tanpa aku, lalu apakah dia sudah sarapan atau belum, ya? Dan bagaimana dia menyiapkan baju kerjanya....
Syifa terdiam memikirkan bagaimana suaminya bisa tanpa dirinya. Sejak dulu Syifa selalu menyiapkan segala sesuatu tentang kebutuhan sang suami. Meski dalam kondisi luka hati tetapi ia masih memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Namun, ketika kembali mengingat bagaimana Damar melukai jiwa raganya semua luka seolah menggumpal menjadi satu.
"Kalau boleh tau langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya?" Pembicaraan mereka mulai serius membuat suasana menjadi sedikit tegang. Memikirkan kehidupan pernikahan mereka jelas membuat Syifa bimbang. Sekarang dia di hadapkan dengan dua pilihan sulit, pergi sulit bertahan sakit. Tidak mudah bergelar janda untuk kedua kali.
"Entahlah...." Jawab Syifa memberatkan.
Mengusap lengan Syifa "Untuk apa mempertahankan suami model seperti dia, lebih baik kamu mulai memikirkan masa depanmu. Sudah saatnya kamu membebaskan diri dari belenggu pria brengsek itu. Kalau kamu mau aku bisa membantumu untuk kerja di kantor ayahku. Pikirkan dengan baik jika kamu mau besok kita lansung berangkat ke luar kota. Kesempatan untukmu memulai hidup baru tanpa bayang bayang pria itu" Alin siap membantu Syifa dari segi finansial. Uang baginya bukan masalah besar. Terlahir dari kalangan berada memudahkan dia dalam urusan keuangan.
Syifa bangkit lalu berjalan beberapa langkah "Aku butuh waktu... "
__ADS_1