Ketulusan Hati Syifabella

Ketulusan Hati Syifabella
Episode 20


__ADS_3

"Ngapain kamu datang ke rumah ini lagi? Sekarang pintu rumah putraku tertutup untuk kamu. Dasar menantu tidak tau diri, masih untung Damar mau nikahin kamu coba kalau tidak mungkin sekarang kamu masih menjanda" baru saja sampai rumah sang mertua sudah memberinya cacian dan hinaan. Semua tidak setara dengan aoa yang telah Syifa berikan pada keluarga suaminya. Sebagai seorang istri dan menantu ia sudah menjalankan tanggung jawab dengan sebaik mungkin. Tidak ada satu tanggung jawab lalai dari pendangannya.


Syifa terus menundukkan pandangan sembari meremas pelan sisi pakaian panjangnya. "Kedatanganku kesini bukan semata untuk kembali, melainkan ingin mengemasi semua pakaian. Jika rumah ini tidak lagi menerimaku maka baiklah mulai sekarang aku akan angkat kaki dari rumah ibu. Sebelum itu tolong maafkan jika selama tinggal di rumah ini banyak merepotkan ibu dan mas Damar. Maaf juga jika selama ini tanggung jawabku sebagai menantu dan istri kurang berkenan di hati kalian berdua. Sekali lagi mohon maaf" membungkukkan badan.


"Halah, nggak usah drama. Mau ambil baju ambil saja, lagi pula pakaian lusuh seperti itu oantasnya buat keset bukan di pakai. Tapi ingat jangan bawa barang anakku sedikit pun" Ucap Ibu Rosidah.


Berusaha menerima hinaan meski hati terasa sakit "Tidak akan sedikit pun aku mengambil barang milik mas Damar, jika ibu tidak percaya mari ikuti aku supaya ibu tau barang apa saja yang aku ambil"


Ibu Rosidah pun berjalan lebih dulu membuka pintu kamar "Ayo cepat jangan pake lama, saya tidak suka melihat kamu berlama lamadi kamar ini. Bikin gerah seisi rumah"

__ADS_1


Syifa tidak lagi 1enanggapi perkataan sang mertua, baginya tidak lagi penting mendengarkan segala hinaan. Untuk terakhir kalinya Sfiya menginjakkan kaki di runah itu.


Selesai berkemas Syifa pun mengapuri sang mertua "Tolong betikan cincin kawin ini pada mas Damar. Dan di dalam kotak ini ada perhiasan mahar pemberian dari mas Damar dulu. Semua akan aku kembalikan padanya"


"Sini biar saya lihat apa saja isi kotak ini nanti kamu ganti pake emas palsu lagi...." Merebut paksa satu kotak kecil dari tangan Syifa. Melihat isi masih utuh sama persis dengan surat emas.


Syifa hanya mampu tersenyum dengan bebarapa derai air mata "Syukurlah kalau begitu. Sekarang ibu bisa menemukan menantu sesuai keinginan ibu. Sekarang Syifa pamit bu sampaikan salam terakhir pada mas Damar. Untuk masalah perceraian tidak perlu buang tenaga dan uang, semua sudah Syifa urus"


Sang mertua duduk sambil menaikkan kedua kaki ke atas meja dengan sesekali menghoyangkan kaki "Baguslah kalau begitu. Sekarang tunggu apa lagi? Kalau pergi jangan pernah kembali, oke?"

__ADS_1


Syifa harus kembali menelan kesakitan tali janji semua ini terakhir kalinya.


"Syifa pamit buk..." Hendak meminta ukuran tangan sang mertua sebagai wujud perpisahan terakhir baginya. Namun, sang meetua tidak sudi memberikan tangannya.


"Nggak usah sok cium tangan segala, sudah sana pergi lama lama lihat muka kamu bikin muak" Sambil mengipatkan tangan mengusir kasar.


Pada akhirnya Syifa keluar dari rumah suaminya. Keputusan terbaik adalah melawan diri sendiri demi masa depan cerah. Meski berat harus menjanja untuk kedua kalinya tapi Syifa percaya masalah datangnya dari Allah, begitupun bertolongan datangnya juga dari Allah.


"Dulu aku masuk ke rumah ini penuh senyum bahagia, sekarang aku keluar dari rumah ini berderai air mata. Dulu bismillah menjadi awal perjalan baruku sekarang semua telah usai tidak ada lagi yang bisa di pertahankan. Dengan kalimat Bismillah aku tinggalkan runah serta suamiku. Sudah saatnya memulai hidup baruku...."Lirih Syifa sembari perlahan melangkahkan kaki keluar.

__ADS_1


__ADS_2