
Kepergianmu, serta kenanganmu tak kan pernah kami lupa sampai kapanpun :)
•DAJ•
Mood lagi baik okey :)
Happy reading :)
Sudah satu minggu berlalu atas kematikan Faiz, Kinan mengurung diri didalam kamar. Tidak mau membukakan kamar untuk siapapun termasuk keluarganya.
Tok...tok..
Ketukan pintu selalu kinan abaikan.
"Kinan, ayo nak turun. Dibawah ada temen temen kamu" suruh tata. Namun tak ada balasan dari kinan.
"Sayang. Papa mohon jangan menyiksa dirimu atas kematian faiz." Nando mulai bicara.
"Ikhlaskan dia nak. Dia pasti bahagia. Dan dia gak mau kalau liat kamu seperti ini. Papa mohon kinan" lanjutnya. Sampai mely Juna Damar feby dan lainnya naik menghampiri Nando dan mely.
"Masih belum dibuka om?" tanya Juna. Nando menggeleng.
Mely berdiri disamping Tata "Coba mely sama yang lain,yang bujuk kinan Mah" Tata mengangguk dan membiarkan mely.
"Kinan... Buka pintu dong. Udah seminggu lo gak sekolah" mely sambil mengetuk pintu. Tidak ada balasan kinan menyauti omongan mely.
"Kinan lo jangan nyakitin diri lo kayagini kinan" lanjut feby.
"Gimana nih. Kinan gak mau bukain pintu. gue takut kalo kinan kenapa kenapa" sambung pita sambil menggigit jari
"Apa kita dobrak aja ya?" usul Damar.
"Gimana om? Boleh kalo kami dobrak?" izin Juna pada nando.
"Silahkan. Om juga khawatir sama keadaan kinan." balas nando.
Juna dan damar menjauh sedikit dari pintu begitu juga semuanya. Juna dan damar berlari dan menabrak pintu kinan. dorongan pertama belum terbuka. dorongan kedua belum terbuka dan dorongan ketiga betapa terkejutnya orang yang berada di sana.
"KINAN!" Teriak semuanya.
* *
Baru obat dimana mana serta ruangan putih yang khas Rumah sakit.
Tata menangis dalam pelukan nando. begitupula sahabatnya.
Flashback on
semua menghampiri kinan yang tergeletak dilantai dengan tangan menggenggam pecahan kaca.
"sayang.. " tangis tata
Nando langsung membawa kinan turun
"Juna tolong buka pintu mobil om. kamu yang menyetir" suruh nando dibalas anggukan juna.
mereka melajukan mobilnya kerumah sakit.
Flashback off
Seorang dokter keluar dari ruangan kinan, langsung diserbu pertanyaan.
"Dok gimana keadaan anak saya?" tanya nando.
"Dok gimana?" sambung tata.
"keadaan pasien kurang baik. Dia terlalu syok. Biarkan pasien beristirahat." ucapnya dan langsung pergi.
Mereka masuk menemui kinan, Tata tak kuat melihat anaknya berbaring lemah dengan alat bantu pernafasan langsung memegang tangan nando kuat. lalu duduk disamping kinan.
"Sayang... Kamu harus baik ya sayang. jangan buat mama papa dan temanmu khawatir" ucap tata kemudian mencium kening kinan lama.
__ADS_1
Mereka semua diam dan menunggu kinan sadar.
sampai kinan menggerakan beberapa jarinya dan mulai membuat mata perlahan.
"Maah..." lemah kinan. Tata bangkit
"Iya sayang mama disini" balas tataa.
"Kinan dimana mah?" lirih kinan.
"Kamu dirumah sakit nak" balas tata.
"Kinan repotin kalian ya?" kinan menatap satu persatu sahabatnya yang masih terlihat sehabis menangis.
"Iya! lo repotin gue. makanya lo jangan gini dong" suara mely namun tidak dengan sungguh sungguh mengatakan itu.
"Maaf" lirih kinan.
"Kita mohon. kamu jangan bersikap seolah kamu sakit sendiri. disini ada kami. kamu boleh mengutarakan pada kami semua kinan" juna yang mulai bicara. Kinan tersenyum.
Makasih. Telah memberiku banyak sahabat yang sangat sayang padaku. Aku tak akan menyiakan ini. Makasih tuhan.
sampai kinan mulai bisa tertawa akibat lelucon damar yang receh.
"Kamu sudah boleh pulang sayang." Kinan tersenyum mendengar hal itu. karena satu hal yang paling kinan benci yaitu rumah sakit.
"Yeay! Kinan pulang" suara cempreng pita.
Tata dan Nando sudah membereskan barang barang kinan. Kinan berjalan dipapah oleh juna dan Feby.
Setelah sampai dirumah, Semua sahabat kinan pulang karena kinan juga butuh istirahat.
"Kita pulang dulu ya" pamit mely.
"Iya hati hati ya" balas kinan. mereka keluar dari rumah kinan. Dan hendak pulang. Namun
Brug!
Olif hampir saja terjatuh kalau saja tidak ada yang menyangga.
"So-sorry"
"thanks"
Ucap mereka bersama. Mereka berjalan dan memasuki mobil. Mobil mely berada didepan sedangkan mobil damar dibelakang mengikuti mobil mely dan mengantar semuanya. sampai terakhir damar dan juna mengantar mely.
"Mmm.. Makasih ya"
"Oke. Kita duluan ya" pamit damar dan juna. dibalas anggukan mely.
.
.
.
Hari senin, kinan sudah mulai berangkat sekolah. setelah seminggu tidak ada keterangan apa apa.
"Gini dong kin. Lo cantik kalo senyum" puji feby tulus. kinan tersenyum
"Udah cantik senyum lo indah. waduh bikin gue diabets tau gak" cletuk dodi satu kelas kinan sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya menatap kinan "Biasa aja kali liatnya. noh iler keluar" cletuk pita. dodi langsung mengelap sudut bibirnya. "gue kagak ileran,pinter" sambung dodi tidak terima. kinan hanya tertawa kecil mendengar ocehan teman temannya.
Mereka yang tadinya bergerombol kembali ketempat masing masing karena ada gurunya.
sesekali kinan ditanyai oleh gurunya masalah ketidakhadirannya selama ini.
Rooftop
Juna almer dan damar sedang berada di rooftop. seperti biasa.
"Lo berdua kenapa pada diem? gak biasanya kalian gini" almer memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Oh iya. Faiz kemana?"
jleb! pikiran yang mengenang di diri juna dan damar. mereka saling tatap membuat almer penasaran.
"Woy!" bentak almer membuat juna dan damar menoleh kearah almer lalu menunduk.
"Kenapa!" almer mulai emosi
"Mmm... Fa-faiz... " gagu damar.
"Ngomong yang jelas anjing! jangan bikin gue takut!" bentaknya lagi
"So-sorry sebelumnya mer, Gue gak beritahu lo sebelumnya. Faiz udah gak ada"
DEG! Dunia seakan runtuh.
"Lo bercanda kan jun!" Juna diam.
"Juna! lo bercanda kan! Ngomong kalo lo cuman bercanda anjing!" almer menarik kerah baju juna sampai juna terbangun dari duduknya.
"Lo jangan main main sama gue juna!"
"yang diomongin juna bener Al, faiz udah gak ada. tepat seminggu sebelum lo pulang" Almer melepas cengkraman dikerah juna dan mulai mundur sampai menabrak tembok dan luluh kelantai.
"Gak mungkin" lirih almer. air matanya mulai menetes.
"Gue juga gak nyangka faiz bakal cepet banget ninggalin kita" damar yang mulai berkaca kaca menahan air matanya jatuh.
Almer mendongkak kan wajahnya,menatap juna dan damar tajam.
"Lalu kenapa lo gak kabarin gue waktu itu, *******!" almer bangun dan memukul tembok dengan tangan kanannya.
Juna dan damar tidak bisan menahan air matanya. dan menahan almer yang hendak memukul tembok. padahal tangannya sudah memerah.
"Al. lo tenangin diri lo!" suruh damar.
"Lo bilang gue harus tenang! ya lo bilang! Lo bayangin disaat sahabat gue lagi nahan sakit! gue ada gak? gak ada kan??! Dan lo bilang gue harus tenang!" almer berdiri didepan damar
"Al. udah! kita juga terpuruk al! bukan lo aja yang rasain sakit! tapi kita juga!" bentak juna.
"KENAPA LO GAK BERITAU GUE SEBELUMNYA KALO FAIZ UDAH GAK ADA ANJING!" Almer yang sudah tak bisa mengontrol emosinya
"Karna gue gak mau lo makin terpuruk setelah kematian nenek lo!" balas juna. Almer masih tidak percaya.
"AAAARGGG!" teriak almer. Almer menghapus kasar airmatanya dan berlari turun. "Lo mau kemana al!" teriak juna diabaikan oleh almer
Almer terus berlari kencang menuju tempat parkir diikuti juna dan damar. Almer mengambil motornya dan melaju keluar sekolah. Almer bebas? sekolah juga punya orangtuanya toh.
Juna dan damar mengambil motor masing masing dan mengejar almer. tak ada yang bisa mengejar seorang joki almer. Kemampuan balapan yang tak terkalahkan.
"Shit! itu anak kalo ngebut gak kira kira!" sewot damar menambah kecepatan motornya.
Dan almer berhenti dipemakaman. Mencari gundukan tanah dengan bertulis nama Faiz Alfarizi.
Almer menjatuhkan kakinya dan menunduk menatap gundukan tanah makam. almer menangis? tentu.
"Gue minta maaf iz" isak almer. Faiz,sahabat pertama almer saat memasuki sekolah menengah. orang dengan keberanian berkelahi dan omongannya.
"Gue minta maaf karena gue gak ada saat lo butuh iz. gue egois iz" lanjutnya sambil meremas tanah merah.
"Gue gak nyangka lo secepet ini ninggalin gue. ninggalin persahabatan kita yang udah lama kita bentuk iz." oceh almer. menunduk dan merasa bersalah.
Juna menepuk pundak almer. "Faiz bakal bahagia kalo kita masih tetep bersahabat"
"Tapi gue egois jun. gue gak ada waktu faiz sakit" air mata almer yang sudah berhenti
"Gak ada yang bersalah disini. gak ada yang egois. Ini semua takdir. mungkin tuhan lebih sayang sama faiz makanya dia milih ambil faiz dulu sebelum kita." lanjut damar.
"Gue minta maaf hampir mukul lo jun" almer menatap juna.
"Gue ngerti" juna tersenyum
__ADS_1
Damar memajukan telapak tangannya. "Sahabat?" lanjutnya. almer dan juna tersenyum lalu membalas menggenggam tangan damar "Sahabat" lanjut almer dan juna.
Sahabat? Dia yang mampu mengerti posisi kita. Mampu mengerti kita. Memberi senderan untuk kita. Tanpa melihat sisi buruk dari kita. dan menerima apa adanya tanpa ada alasan dan tujuan lainnya~