Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
SIAPA DIA?


__ADS_3

Mbak lala melihat ada yang aneh dengan sosok Raka,dia selalu saja menyalahkan Aqila di depan semua orang.


Tak lama kemudian mbak lala merai ponsel nya kemudian mengetik sesuatu lalu di kirim kedapa seseorang.


"Kalian harus cari tau tentang anak yang ber nama Raka di sekolah Aqila!" perintah isi pesan yang di kirim.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia datang-datang malah bikin ribut.


Mendengar jawaban dari Raka,Vino malah semakin kesal,Raka dari tadi selalu saja menyalahkan Aqila,padahal Vino sudah tau semua nya tentang apa yang telah terjadi.


"Gue sudah lama mengenal dia,mana mungkin dia menangis tampa sebab,lo pikir gue ini bodoh?" berdecak kesal.


"Kenapa sekarang lo malah menyalahkan dia?" tanya Vino melihat Raka dengan tatapan tajam,namun Raka tidak menjawab setiap pertanyaan Vino


Yang lain merasa takut dengan tatapan tajam Vino yang tidak biasa nya,mereka rasa kalau Vino sedang menahan amarah yang cukup besar.


"Raka! Mending kamu keluar sekarang ya Raka." ucap Farah sambil memohan kepada Raka.


"Saat ini lo datang di waktu yang tidak tepat,jadi pergi lah!" perintah Dita.


Dita takut kalau Vino berbuat yang aneh karna sudah tidak bisa menahan amarah nya lagi,mengingat sekarang mereka ada di rumah sakit,takut pasien sebelah terganggu.


"Apa perlu kita seret lo keluar?" ancam Arya dan yang lainnya penuh dengan nada menekan.


Raka akhir nya mengalah,di keluar meninggalkan ruangan Aqila dengan tatapan yang lesu.


"Aqila tenangkan diri mu! kita semua ada di sini." ucap Vino dengan lembut,kini dia duduk di pinggir tampat tidur ku.


Aku menenggelamkan wajahku yang sebab ke dalam dada Vino,mungkin saja baju Vino basah oleh air mata ku.


"Iya Aqila kita semua ada di sini." ucap Dita,dia ingin mendekat ke arah ku namun dia mengurungkan niat nya,karna aku tidak mau melepaskan pelukan dari Vino.


Arya dan Farah melihat kalau Aqila seperti merasakan sesuatu setelah kepergian Omm nya lagi,tepat seperti satu minggu dia mengurung diri di dalam kamar bahkan dia tidak menghiraukan siapa pun yang datang.


Arya dan Farah saling menatap satu sama lain,kalau mereka mengerti apa yang di rasakan Aqila.


Farah berjalan ke luar ruangan ingin menemui dokter,takut sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi lagi.


"Gusy! gue cari kak Nara dulu ya,seperti nya Aqila kurang baik saat ini." ucap Farah berpamitan kepada mereka semua,yang lain hanya mengangguk.


"Hmmm." sahut Vino yang menatap ke pergian Farah.


"Aqila jangan menagis lagi."


"Kita berjanji akan menjaga kamu dari dia,dan kita juga akan pastikan dia tidak akan mendekatimu lagi." ucap Arya berusaha meyakinkan dan menenangkan diriku.

__ADS_1


Aku tidak memperdulikan ucapan Arya atau dengan yang lainnya,aku masih dalam pendirian ku,aku tidak mau melihat mereka semua,aku hanya mau melihat Vino saja.


Di dalam pelukan Vino aku merasa sangat nyaman,dia memeluk ku dengan begitu erat sambil mengelus rambutku,dia juga terus berusaha membuat aku agar tenang.


Selama perjalanan menuju parkiran Raka terlihat begitu kesal,dia di usur keluar begitu saja.


"Sial! Kenapa semua jadi begini? Mana mungkin aku bisa menaklukan dia." berguman sendiri sambil berjalan di lorong rumah sakit.


"Dia memang gadis yang berbeda dari gadis yang pernah aku temui,dia selalu kasar kepada orang lain namun tidak untuk orang yang dekat dengan dia,"


"Apa aku akan berhasil menjalankan rencana ini? Agrah...!! Situasi macam apa yang harus aku hadapi ini? Jika aku ingin mendapatkan dia,aku harus berjuang melewati tujuh orang laki-laki itu terlebih dulu!" berdecak kesal.


"Dia benar-benar di jaga dengan baik oleh orang di sekitarnya." gerutunnya ringan.


Farah terus berlajan ke sana ke mari untuk mencari ruangan kak Nara,selama di perjalanan dia selalu bertanya pada suster yang lewat,hingga akhirnya dia menemukan ruangan kak Nara atau dr.Nara.


Di dalam ruangan Aqila,Vino merasakan pelukan dari Aqila terasa lunyai,Vino memanggil nama Aqila tapi tidak ada jawabannya.


Vino menganggkat wajah Aqila pelan-pelen lalu melihat ke arah Aqila.


"Ah..dasar anak! malah asik tidur di pelukan ku." ucap Vino pelan,kemudian dia membaringkan aku berlahan-lahan.


Kemudian Vino melihat ku dengan lekat,dia menepuk-nepuk pipi ku pelan agar terbagun tapi tidak ada jawaban dari diriku,rasa nya mata dan bibirku sangat berat untuk melihat dan berbicara.


"Apa dia pingsan lagi?" tanya Verel,namun tidak ada jawaban dari Vino.


"Mbak lala? Cepat bantu Farah menemukan kak Nara sekarang juga." perinah Vino dia mulai merasa panik.


Ketika mbak lala hendak keluar,tiba-tiba Farah datang bersama kak.Nara,dia melihat Aqila terbaring tapi dia malah tersenyum.


Bukan kepada Aqila tapi kepada mereka semua yang terlihat sangat panik.


"Kenapa dr.Nara malah tersenyum?" tanya Leo dan Brayen.


"Apa dia cuma tidur?" tanya Alex.


"Mana mungkin dia tidur,dari tadi Vino memanggil dia tapi dia nya tidak menyahut sedikitpun." ucap Dita,mendengar ucapan dan pertanyaan mereka semua dr.Nara malah di buat semakin tersenyum.


Beruntung sekali Aqila di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanggi dia.


"Iya dia hanya ketiduran,Aqila tidak menyahut mungkin karna efek cairan obat yang sudah kakak berikan " tutur Nara sambil melihat mereka satu persatu.


Mendengus "Menyebalkan!"


"Kenapa kau suka sekali membuat ku khawatir,kau tau jantungku hampir copot karna ulah mu?" ocehan Vino mulai keluar.

__ADS_1


"Dasar tukang Tidur." berdecak Kesal.


Yang lain di buat terkekeh oleh tingkah laku Vino.


"Pantas saja,Aqila lebih memilih Vino,jadi ini kelakuan mereka yang sebenarnya kalau sudah berdua?" ucap Arya tertawa.


"Sama Vino saja lembut mintak ampun,lah sama kita kek singa betina marah terus." guman Arya yang lain malah kikutan tertawa mendengan curhantan isi hati Arya.


Vino tidak menghirahkan apa kata mereka,dia masih melihat wajahku dengan tatapan kesal dan senang,dia kesal karna aku sudah membuat dia khawatir dan dia senang karna Aku baik-baik saja.


"Sudah lah,lebih baik kalian semua keluar dulu,biarkan saja Aqila istrahat dulu." ucap dr.Nara.


"Nanti kalau dia sudah sadar,kalian baru masuk lagi." lanjut dr.Nara.


Karna mereka semua mengerti apa kata dr.Nara mereka hanya menurut saja.


"Kalau begitu kak pamit dulu,kak harus mengecek pasien di sebelah." ucap dr.Nara kemudian berjalan keluar ruangan.


"Vino,kalau terjadi apa-apa cepat hubungi kaka ya?" perintah dr.Nara,Vino hanya mengangguk.


"Vin kita juga pamit dulu ya,kamu tidak apakan?" ucap Dita.


"Tidak Apa-apa dit,biar aku saja yang jaga Aqila." ucap Vino.


"Kita semua juga pamit Vin,besok pagi-pagi kami akan ke sini lagi." ucap Arya.


"Iya Vin,kita juga pamit." ucap mereka yang lain.


Vino menatap kepergian mereka satu persatu keluar dari ruangan Aqila.


"Kalian semua Hati-hati!" teriak Vino,mereka cuma mengangguk mendengar ucapan Vino.


Kini yang tinggal di dalam ruangan itu cuam mbak lala,Vino dan Aqila.


"Mbak Lala? Vino boleh mintak tolong?" tanya Vino sambil melihat ke arah Mbak lala.


"Iya tuan,mintak tolong apa?" tanya mbak lala.


"Mbak lala,harus pulang sebentar,tolong ambilkan boneka Teddy Bear Aqila yang berwarna coklat di atas karusnya,mbak lala tinggal tanya sama bibi iyem di mana kamar Aqila berada." ucap Vino sambil menceritakan apa yang harus di lakukan mbak lala.


"Baiklah tuan." ucap Mbak lala kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.


"Terimksih Mbak." ucap Vino dengan seulas senyuman.


Kini tinggal Vino dan Aqila di dalam ruangan itu,Vino menggenggam tangan Aqila dan dia selalu menatap wajah cantik Aqila yang begitu polos.

__ADS_1


__ADS_2