Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
PENJELASAN UNTUK RAKA


__ADS_3

KEDIAMAN MAXSIM


Maxsim menunggu kepulangan Raka. Dia menunggu Raka di Ruang tamu keluarga. Setelah kejadian tadi di lansung pulang ke rumah.


Tak lama kemudian Raka pulang. Raka berjalan memasuki rumah namun dia tidak mengucapkan sepatah apapun.


Raka berjalan menuju lantai atas. Namun langkah nya terhenti karna mendengar suara seseorang.


"Raka!"


"Bisakah kau berperilaku sopan? Bila masuk rumah tolong ucapkan salam." Ucapa Max.


Raka berjalan menuju kesumber suara. "Apa aku selama ini tidak sopan?" tanya Raka ketika sudah sampai di depan Max.


Max menyuruh Raka untuk ikut duduk terlebih dahulu dengan dia di sofa ruang tamu. Raka menuruti perkataan Max.


"Nak! Kamu sudah besar kamu bukan anak kecil lagi." ucap Max.


"Iya aku tau itu." ketus Raka.


"Kenapa om datang kesini? Bukankah urusan om lebih penting dari aku?" tanya Raka. Beberapa bulan ini Max kurang memberikan perhatian kepada keponakannya itu.


"Sayang. Nak, dengarkan om baik-baik," menatap sorot mata Raka.


"Bukan om tidak memperdulikan mu, tapi om juga punya kewajiban lain yang harus om lakukan. Dan itu tidak bisa di tunda." ucap Max berusaha menjelaskan kepada Raka secara berlahan-lahan.


"Kewajiban apa om? Mama sedang di Rumah Sakit sedangkan Bunda ada di luar negri,"


"Om mau bilang ini urusan kantor? Itu semua tidak masuk akal om." ucap Raka kesal.


"Atau jagan-jagan Om berniat ingin menduakan mama dengan wanita mur*han di luar sana? Di saat mama ada di rumah sakit?" tanya Raka. Dia membuat Max terpancing emosi.


Namun dia berusaha menahannya. Karna dia tau apa yang sedang di rasakan oleh Raka yaitu Kesepian.


"Om ingin mengajak mu tinggal di Apartemen om terlebih dahulu,"


"Untuk sementara kita tinggalkan rumah ini." ucap Max dengan nada datar.


"Apa maksud Om? setelah Bunda dan Mama tidak ada, Om juga menghakimi ku dengan sepihak!"


"Dengan keputusan konyol om itu." ucap Raka dia berusaha menahan air matanya.


Karna Raka tau kalau om nya lah yang sudah mengirim Bunda nya untuk kembali ke Rumah mereka yang ada di Luar Negri.


Namun Raka di tahan oleh Max, karna dengan bantuan Raka, Max yakin dia bisa menemukan keluarga mereka kembali.


"Berhentilah berpikiran sekotor itu nak! Om kesini ingin menyampaikan sesuatu kepadamu,"

__ADS_1


"Jika kau sayang dengan Om, Mama dan Bunda maka ikutilah perintah om." Ucap Max dengan nada lembut.


"Raka akan ikuti semua kemauan Om. Tapi tolong jelaskan semua nya."


"Kenapa aku harus ikut dengan Om?" Tanya Raka.


"Apakah Bunda mu sudah menceritakan kejadian di masa lalu itu?" Tanya Max, Raka mengangguk karna Laresti sudah menceritakannya. Termasuk saat dia kehilangan Ayah.


"Apa ini semua ada hubungannya dengan Ayah, Kakak dan Adikku yang hilang selama ini." Ucap Raka, Max mengangguk pelan pertanda iya.


"Apa yang terjadi? Apa om sudah menemukan keberadaan mereka?" tanya Raka, Max terdiam sesaat.


Dia memang sudah menemukan keberadaan mereka, tapi dia belum yakin seutuh nya. Karna dia belum menemukan bukti yang terkuat.


Max merasa kalau dia gegabah mempersatukan keluarga nya kembali, maka semua orang akan terluka kembali.


Jika dalang di balik semua itu belum bisa terungkap dengan jelas. Max berusaha melindungi semua anggota keluarga yang tersisa.


"Om kenapa diam?" Tanya Raka, seketika lamunan Max terhenti.


"Nak, jahui gadis kecil yang pernah kau temui di Rumah sakit itu." Ucap Max tiba-tiba.


"Maksud Om apa?" tanya Raka. Dia sedikit bingung.


"Jangan berpura-pura bodoh nak. Om tau apa niat mu mendekati gadis itu." Jawab Max.


Raka terdiam. Memang benar dia mendekati Aqila hanya untuk meyakiti dia, karna di suruh oleh keaksihnya.


"Nak jangan membuat keributan di luar kendalimu. Jika kau melukai gadis itu. Apa beda nya dirimu dengan laki-laki di luar sana."


"Jika Bunda dan Mama mu tau mereka pasti akan merasa kecewa. Cobo kamu bayangkan jika orang yang kamu lukai itu adalah adikmu sendiri." Lanjut Max berusaha menjelaskan sebaik mungkin.


"Alasan Om jarang menemui mu, itu adalah Mama." ucap Max. Mata Raka melotot ketika mendengar kata Mama.


"Ada apa sebenarnya dengan Mama om?" Tanya Raka, dia mulai merasa khawatir.


"Tenangkan dirimu. Sekarang mama baik-baik saja." Jawab Max.


"Om memindahkan Mama ke rumah sakit lain. Dan dia di rawat oleh Suster dan Dokter pribadi yang Om cari selama ini."


"Melihat perawatan mama, Om merasa mereka bisa menyembuhkan mama mu." Lanjut Max.


"Tunggu dulu!"


"Kenapa Om memindahkan Mama? Apa orang itu ada di kota ini" tanya Raka.


"Entah lah nak. Om juga tidak tau jelas ada atau tidak."

__ADS_1


"Om sengaja menyuruh Bunda mu kembali, Agar kamu bisa jaga Mama dan Om bisa mencari keberadaan Ayah, Kakak dan Adikmu." ucap Max.


"Beberapa hari yang lewat, ada orang yang ingin mencelakai mama mu saat dia kabur dari rumah sakit."


"Untung lah dia di selamatkan oleh seseorang anak laki-laki yang seumuran dengan dirimu." ucap Max sambil memeluk keponakannya itu.


"Laki-laki seusia aku. Siapa nama anak itu om? Aku ingin berterimakasih kepada dia." Tanya Raka.


"Kalau om tidak salah nama anak itu adalah Vino, dan orang yang dekat dengan gadis yang ingin kamu lukai itu nak."


"Karna itu lah, Om melarang mu untuk mendekati gadis itu." Raka mengangkat wajah nya lalu menoleh ke atas.


Ada rasa percaya dan rasa tidak percaya. Saat mendengar semua penjelasan dari Max. Raka berusaha mencerna kata demi kata yang di ucaplan oleh Max.


"Tapi. Apakah mama saat ini masih benar-benar aman om?" Tanya Raka dan dia melepaskan pelukan Max.


"Om juga belum tau, tapi om akan melakukan yang terbaik untuk kalian jadi tenang lah." Jawab Max.


"Baiklah om, Raka akan ikut bersama Om, agar Raka juga bisa menjaga mama saat Raka tidak berada di sekolah." Ucap Raka sembari memberi seulas Senyuman.


"Terimakasih nak. Kamu sudah mengerti keadaan kita." Ucap Max sambil membalas senyuman Raka.


"Seharus nya Raka yang berterimakasih. OM sudah merawat aku dan bunda begitu juga kakak."


"Padahal bunda bukan adik om, melainkan cuma adik Mama." Ucap Raka terharu. Mata sudah mulai berkaca kaca.


"Sudah jangan menangis!"


"Masa anak laki-laki cengeng." Ledek Max sambil tertawa geli.


Melihat Max tertawa Raka juga ikut tertawa. Raka meresa kalau Max sudah seperti Ayah kandungnya sendiri. Dia begitu hebat bisa menjaga 3 orang wanita sekali gus. Yaitu Lalas, Laresti dan Larlina (Kakak Raka).


LUAR NEGRI.


Laresti dan Larlina sedang berada di retoran milik mereka. Mereka sedang duduk di sofa yang ada di dalam Restoran mewah dan megah itu.


Begitu banyak hidangan makanan yang ada di meja makan yang mereka tempati. Berbagai macam makanan khusus yang berasal dari negara-negara lain.


"Sayang apa kamu yakin dengan semua ini?" Tanya Laresti. Dia merasa tidak yakin dengan ke inginan putrinya.


"Bunda, yakin atau tidak yakin itu masalah Lina bun,"


"Lina hanya ingin mendapat restu dari bunda, itu saja bun yang Lina inginkan." Jawab Lina sambil menggengam tangan Laresti dengan erat.


"Apa pun keputusanmu sayang, jika itu yang terbaik untukmu, bunda selalu memberi restu."


"Tapi bagaimana dengan Om mu?" tanya Laresti, dia yakin kalau Max tidak akan mengizinkan putrinya nya itu.

__ADS_1


"Bunda tenang saja, masalah om biar Lina yang hadapi." Jawab Lina, dia besusaha untuk meyakinkan Laresti kalau dia bisa melakukan itu semua. Larseti mengangguk.


Lina tersenyum. Satu demi persatu tujuan yang akan di ambil dan keputusan yang bereziko tinggi sudah ada di depan matanya.


__ADS_2