Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
MEMBUJUK DIA KEMBALI


__ADS_3

Satu jam kemudian. Setelah Aqila membawa Wanita itu jalan-jalan, Aqila menuntun wanita itu untuk kembali ke Rumah Sakit.


Sahabat Aqila dan teman Vino hari ini tidak jadi pergi ke rumah Sakit, karna Nara sudah menghubungi mereka kalau Aqila sudah keluar dari Rumah Sakit tadi malam.


Selama di perjalanan dia selalu memeluk Aqila sambil berjalan. Sekian bahagia nya, dia sudah tidak sadar kalau Aqila sudah membawa dia masuk ke dalam Rumah Sakit.


Ketika Aqila dan Dia berjalan di lorong Rumah Sakit, Dokter dan para Suster yang mencari keberadaan wanita itu malah terkejut.


"Dokter, Itu kan Nyonya Maxsi." ucap Suster sambil menunjuk ke arah Aqila.


"Iya kalian benar. Ayo kita kesana." ajak Dokter.


Aqila masih setia memeluk Boneka yang di berikan oleh Wanita itu, entah kenapa Aqila merasa sangat bahagia memeluk dan memengang boneka milik wanita itu.


Para Suster dan Dokter berjalan menghampiri mereka berdua. Dan pada saat itu lah wanita itu baru sadar kalau dia sudah ada di dalam Rumah Sakit lagi.


"Kenapa kamu membawa aku kembali kesini?" Tanya Tante sambil melepaskan pelukannya dari aku.


"Kau mau menjebak Aku!" teriak Dia sambil melihat aku dengan tatapan tajam, Aku sempat kaget dengan teriakannya di tambah lagi dengan tatapan dia.


Dokter dan para Suster di sana juga sempat kaget, Mereka takut kalau Wanita itu akan melukai anak itu jika dia tidak mau menuruti ke inginan dia.


Aqila cuma diam saja, Dia juga mulai merasa takut dengan Dia. "Kenapa diam saja? Kenapa kamu mengajak aku kembali? Kau tau kalau aku sudah susah payah keluar dari tempat ini." Bentak Tante, Aku mudur karna aku sangat takut.


Mungkin ini lah yang di maksud Kakak Nara, kenapa dia melarang aku untuk mendekati pasien yang ada di sini.


Aku terus mundur. Hingga akhir nya tubuh ku bentok ke dinding, Sedangkan wanita itu terus berjalan mendekati aku.


Kini tanpa Aku sadari air mata ku sudah mengalir membasahi pipi ku, "Maafkan a-ku! Aaa-ku mintaak maaf." lirih Aku sedikit gugub sambil menangis.


Dia terus mendekat, "Jangan dekati aku. Kamu bukan mama ku!" Teriak Aku dengan suara isak tangis.


"Sayang Apa maksud mu?" tanya Tante sambil menghentikan langkah nya.


Aku terus menagis dan Aku juga melepaskan pelukan tangan ku terhadap Boneka yang dia berikan. Berlahan-lahan aku meletakan Boneka dia di atas lantai.

__ADS_1


"Dokter bagaimana ini?" tanya Suster panik.


"Anak itu sudah menangis dan dia juga sangat ketakutan." Ucap Suster sambil melihat ke arah Aqila.


"Kalian tenang dulu. Kita lihat saja Apa yang akan di lakukan dia kepada anak itu." ucap Dokter, dia juga sedang berusaha menenangkan para Suster agar tidak terlalu panik.


Dia tidak mendengar jawaban dari Aqila lagi dan Dia kembali berjalan mendekati Aqila, "Aku mohonnn, Jangan sentuh aku lagi." ucap Aku sambil menyeka butiran air mata ku.


"Sayang maafin mama. Mama sudah membuat kamu takut." ucap Tante dengan suara lembut.


"Mama tidak akan melukai kamu,"


"Sayang.... jangan menjahui mama,"


"Mama hanya tidak ingin berpisah lagi dengan kamu nak, Aku sangat menyayangi dirimu." ucap Tante lagi.


"Aku bukan putri mu, jadi menjauh lah! Aku juga tidak tau siapa kamu?" ucap Aku sambil bertanya kepada dia, air mata ku masih terus mengalir membasahi pipiku.


"Sayang ini Mama nak,"


Entah kenapa, mendengar ucapan dia yang lembut membuat aku tidak merasa takut lagi.


"Jangan Menagis lagi nak," ucap Laras sambil memeluk tubuh aku dan mengelus kepala ku.


Aku membalas pelukan dia. Aku menyembunyikan wajah ku di depan dada nya, aku terus menangis, entah kenapa pelukan dia sangat membuat aku nyaman.


"Sudalah! Jangan menangis nak, Mama tidak akan melukaimu seperti mama melukai mereka." ucap Laras, dia melepaskan pelukan.


Dia mengangkat wajah ku, kemudian menyeka rambut yang menutupi wajah ku. Dan dia juga menghapus air mata ku.


"Sayang sudah lah, Kalau kamu menagis seperti ini mama malah semakin sedih." ucap Laras dengan mata mulai berkaca-kaca.


Aku kembali berusa membujuk dia agar mau tinggal disini. "Mama sayang sama Aqila?" tanya Aku sambil melihat sorot matanya, dia mengangguk dengan cepat.


"Kalau mama sayang sama aku, mama harus tinggal di sini." ucap Aku lembut sambil menggengam tangan dia.

__ADS_1


"Tapi kenapa Sayang? Kitakan masih punya rumah." Tanya Laras.


"Mama lagi sakit, jadi mama harus berobat dulu, jika mama sudah sembuh baru boleh pulang,"


"Aqila tidak mau kalau mama di bilang orang luar sana seperti tadi lagi ma.."


"Aqila tidak suka kalau mereka menyebut mama wanita gila, Aqila tidak suka mama." ucap Aku lembut dengan suara serak.


Dia malah tersenyum mendengar ucapan ku, aku kira dia bakalan marah ternyata tidak. "Baiklah Sayang, Mama akan di sini sampai sembuh." ucap Laras, sontak membuat aku senang karna tidak ada penolakan pada dia.


"Tapi dengat satu Syarat!" ucap Laras, Dokter dan suster yang ada di sana juga merasa senang dengan perlakuan Aqila.


"Apa?" tanya Aku sambil mengangkat alis sebelah.


"Kamu harus sering temui mama disini." pinta Laras sambil tersenyum.


Aku sedikit ragu, namun aku harus mengambil tindakan cepat. "Baiklah mama. Tapi akhir ini Aqila banyak tugas dari sekolah." Memasang wajah yang sedikit lesu.


Mana mungkin aku bisa sering menemui dia di sini, yang ada Vino akan melarang aku, apalagi kak Nara juga bekerja paruh waktu di rumah sakit ini.


Dia malah terkekeh. "Iya mama tau, tapi kamu bisakan temui mama saat weeked?" tanya Laras, Aku heren ternyata dia bisa membaca pikiran aku.


Aku tersenyum, "Trimakasih Mama sudah mengerti Aqila," ucap Aku kembali memeluk dia, dan dia pun membalas pelukan ku.


"Yang seharusnya terimaksih itu Mama, bukan kamu sayang." protes Dia sambil mencium puncak kepala aku.


Setelah dia mau tinggal di sini lagi, Aku, Dokter dan para Suster mengantar dia untuk kembali ketempat dia biasa nya di rawat.


Selama perjalanan menuju Ruangan dia tidak henti-henti tersenyum dan mencium pipiku berkali-kali, Dokter dan Suster melihat tingkah laku dia merasa sangat aneh namun mereka tetap juga tersenyum ke arah aku.


Setelah mengantar dia kembali ke ruang rawat nya, aku pamit untuk kembali pulang kerumah. Setelah dia mengizinkan aku pergi.


Di tempat lain Vino mencari keberadaan Aqila, dia juga sudah menanyakan Aqila kepada Sahabat nya, namun mereka bilang kalau mereka tidak bersama Aqila.


Vino ingin menghubungi Aqila tetapi ponsel Aqila tertinggal di rumah. "Aqila kamu kemasih sih? Kenapa kau selalu membuat aku berada di situasi begini." gerurutan Ringan Vino.

__ADS_1


__ADS_2