Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
BERTEMU CEO PERUSAHAAN


__ADS_3

Aqila keluar dari pekarangan Rumah Sakit. Dia terus berjalan menelusuri jalan, tiba-tiba perut Aqila terasa sakit kembali.


"Aaah... Sakit sekali," guman Aku pelan sambil memegang dan meremes perut dengan tangan sebelah.


Aku meraih tas selempang ku, mencari-cari sebuh benda kecil untuk segera menghubungi seseorang agar bisa membantu ku.


Dari arah jauh sudah ada yang memperhatikan Aqila saat berjalan sendirian.


Ketika Aqila mencari ponsel yang ada di dalam tas nya, tiba-tiba ada mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi.


"Ahh......." teriak Aku kaget, ternyata ada orang yang menarik Aku agar tidak tertabrak oleh mobil itu.


Sebelum mobil menghilang, Aku melihat ke arah mobil yang ingin menabrak ku dan aku juga melihat orang yang membawa nya sekilas.


Aku jatuh ke dalam pelukan Seorang Pria yang telah menyelamatkan nyawa ku.


Aku masih merintih menahan rasa sakit, "Kamu tidak apa nak?" tanya Pria sambil melihat wajah ku.


"A-ku.. tidak Apa-apa om." ucap Aku setelah melihat siapa yang sudah menolongku.


"Terimaksih Om sudah menolong ku." ucap Aku lagi.


Kemudian dia menuntun Aku untuk duduk di bangku yang ada di depan Rumah Sakit. Yaitu halte Rumah Sakit.


Aku belum juga melepaskan pelukan dia, dan dia juga belum melepaskan pelukan nya.


"Eh... Maaf Om." ucap Aku sambil melepas pelukan dia, saat aku sudah berada di halte.


"Iya nak, Lain kali hati-hati." nasehat Pria sambil melihat wajah mungil Aqila.


"Iya Om." Seulas senyuman.


"Kamu kenapa? tadi om lihat kamu jalan ngak melihat ke arah depan?" tanya Pria sambil menyeka rambut yang menutupi wajah Aqila.


"Aku lagi cari ponsel Om, perasaan tadi ada di sini tapi tiba-tiba udah tidak ada lagi." Jawab Aku sambil memperlihatkan tas yang aku bawa.


Dia tersenyum melihat kepolosan Aqila. "Pakai ini saja!" ucap Pria sambil memberikan ponsel nya kepada Aqila.

__ADS_1


"Untuk Apa Om?" tanya Aku binggung, tiba-tiba dia menyodorkan ponsel nya.


"Aduh nak.. Kamu cari benda ini untuk menghubungi seseorang bukan, jadi pakai lah ini." jawab Dia sambil tersenyum melihat tingkah laku ku.


"Atau kamu mau Om antar pulang?" tanya Pria, Aku lansung menggeleng.


Mana mungkin aku mau di antar pulang sama orang yang tidak aku kenal. Dan aku juga heran kenapa akhir-akhir ini aku sering mendekati orang yang tidak aku kenal.


Aku mengambil ponsel yang dia tawarkan, kemudian Aku menghubungi Natan, karna Kantor Natan lebih dekat dengan Rumah Sakit.


Dan Aku pikir kakak Natan akan bisa membantu aku dengan cepat, untung saja aku hapal dengan no ponsel mereka. Jadi jika aku tidak bawa ponsel atau ketinggalan Aku bisa menghubungi mereka.


No ponsel Papa, Mama, Kakak Aqran, Kakak Nara, Kakak Natan dan Vino. Aku melakukan itu untuk berjaga-jaga.


Selama aku berbicara, Om yang berada di samping aku selalu memperhatikan aku, aku terkadang merasa sedikit risih.


"Kamu sudah makan?" tanya Pria karna dari tadi dia melihat aku meremes perut sebelah, Aku hanya mengangguk kalau pertanda iya aku sudah makan.


Di tempat lain Vino sudah mengetahui keberadaan Aqila lewat Aldi, Aldin bilang ke Vino kalau dia melihat Aqila sedang bermain di Taman Kota.


Dia memberhentikan mobil tepat di depan Aqila, melihat Natan datang dan keluar dari dalam mobil, tiba-tiba Aqila bangkit, dia berlari dan lansung memeluk Natan.


Natan sempat kaget namun dia juga membalas pelukan Aqila.


"Ada Apa sayang?" tanya Natan sambil mengelus kepalah aku.


Natan adalah Sepupu Nara, dia juga sahabat Aqran, Dia orang nya Tampan, Baik, Pengertian dan dia juga salah seorang pengusaha sukses di usia yang muda.


Aqila sudah terbisa manja kepada dia, dan Natan juga sudah menganggap Aqila seperti adik kandung nya sendiri. Apapun yang di mintak Aqila dia selalu menuruti kemauan Aqila.


"Tidak ada kak." Jawab Aku, kemudian Natan melihat ke arah orang yang duduk di samping Aqila tadi.


Sekilas dia kembali melihat ke arah Aqila, karna Aqila mengarti apa maksud dari tatapan Natan. "Dia adalah Om yang menolong Aqila tadi kak, Aqila hampir di tabrak." ucap Aku menjelaskan kepada Natan apa yang telah terjadi.


Natan mengangguk. "Adik kakak tida terlukakan?" tanya Dia sambil memutar bandan ku untuk memastikan tidak ada luka sedikitpun.


Aku terkekeh begitu juga Om yang ada di depan kami. "Kakak, Tenanglah! Aqila baik-baik saja." jawab Aku.

__ADS_1


Di berjalan menghampiri Pria itu. "Terimaksih Om, sudah menyelamatkan Adik saya." ucap Natan sambil memberikan uluran tangan kepada Pria itu.


Dia menyambut uluran tangan Natan. "Iya Nak sama-sama." jawab Pria sambil tersenyum.


"Lain kali, adik nya di jaga ya nak, Om lihat orang tadi sengaja ingin mencelaki adik mu." tutur Dia sambil melihat ke arah Natan.


Dan benar dugaan Aqila benar, orang itu adalah orang yang sama saat menghampiri dia ketika di rawat di rumah sakit.


"Baiklah Om, terimaksih nasehat nya." ucap Natan.


"Oh iya, Aku hampir lupa, Aku Natan dan ini adik aku Aqila Om." ucap Natan sambil memperkenalkan diri.


"Kalau Om berkenan mari mampir di Kantor saya, kita ngobrol sambil ngopi bersama, kebetulan Kantor saya dekat dari sini." tawar Natan, sekalian ingin mengucapkan tanda terima kasih.


Dia tersenyum. "Aku Maxsin Mahendara Mahesa." Jawab Pria sambil mempersilahkan Natan duduk di samping dia.


"Terimaksih tawarannya nak, mungkin lain kali om bisa mampir di tempat kamu." ucap Dia lagi.


Natan terpelongoh mendengar nama dia. "Jadi Om adalah CEO Perusahaan terbesar di Kota ini?" tanya Natan, Dia mengangguk sambil tersenyum, selama ini dia hanya mendengar nama nya saja, tapi tidak pernah ke temu dengan orang nya.


Walaupun mereka sama-masa bekerja di bidang bisnis tapi Natan tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Sedangkan Aqila hanya menjadi pendengar dia antara mereka.


Aqila kembali merintis. "Aaw..."guman Aku pelan sambil meremes perut.


Walaupun pelan Natan dan Max mendengar rintihan Aqila. "Kenapa sayang?" tanya Natan yang sedikit panik.


"Perut Aqila terasa sakit lagi kak," ucap Aku sambil menahan rasa sakit. Kini wajah Aqila kembali terlihat pucat.


Dia menghampiri aku yang sedang berdiri di depan mereka. Dia lansung memeluk aku, sebelum dia pamit kepada Om untuk membawa aku pergi, Tiba-tiba aku sudah tidak sadarkan diri lagi.


Melihat Aqila sudah tidak sadar, Natan memeluk Aqila dengan erat agar tidak jatuh kebawah. "Sayang bangun," ucap Natan sambil menepuk pipi Aqila pelan.


Max juga merasa sangat khawatir melihat ke adaan Aqila. Dia juga ikut membantu Natan untuk menyadarkan Aqila kembali, namun Aqila juga tidak mau membuka mata.


"Kita bawa dia kerumah sakit sekarang." ucap Max, dia merasa sangat khawatir dengan ke adaan Aqila.


Belum sempat lagi Natan menjawab, tiba-tiba Nara datang dengan keadaan berlari. Dari arah jauh ternyata tadi Nara melihat Aqila pingsan.

__ADS_1


__ADS_2