
Aqila tidak jadi di bawah ke Rumah Sakit pakai mobil Aldi,karena mobil Aldi ada yang isengin,ban mobil Aldi kempes semua.
Aqila di bawah ke Rumah Sakit pakai mobil Vino,mereka di antar oleh Aldi,yang lain mau ikut mengantar tapi pihak sekolah tidak memberi izin,karena jam pelajaran masih berlanjut.
RUMAH SAKIT CAHAYA.
Aqila terus di gendong oleh Vino hingga masuk ke dalam rumah sakit,para suster yang melihat Vino segera membantu Vino.
"Vin apa yang terjadi dengan Aqila?" tanya dr.Nara mulai khawatir.
Dr.Nara Adinda adalah salah satu sahabat Aqran,dia Cantik,baik dan perhatian kepada semua orang.
Dia juga orang yang termasuk dekat dengan Aqila,Apartemen Aqila dan dr.Nara bersebelahan,tapi Aqran tidak pernah mengizinkan Aqila tinggal di sana,karna menurut Aqran,Aqila lebih aman bila tinggal di rumah Vino.
"Dia di bully di sekolah kak." jawab Vino sambil mengikuti Aqila dari belakang.
"Kak,cepat kak,lakukan yang terbaik untuk Aqila kak,aku ngak bisa tenang kalau melihat dia seperti ini kak." ucap Vino,kini aie mata Vino sudah menggalir.
"Vin tenang lah,aku tau kamu khawatir." ucap Aldi dia berusaha menenangkan Vino.
"Vino tenang lah dek,kakak akan lakukan yang terbaik untuk Aqila,sekarang kamu tunggu di luar dulu." perintah dr.Nara kepada Vino,karena Vino bersisi keras ingin masuk.
"Tapi kak..." protes Vino,namun suster melarang Vino untuk masuk.
"Vino gue tau lo khawatir tapi jangan seperti ini,nanti kalau kamu kayak gini terus nanti siapa yang jagain Aqila." ucap Aldi berusaha membuat Vino agar tenang,dan menuntun Vino duduk di kursi depan ruangan itu.
"Ini semua salah gue Al,coba saja gue tidak datang terlambat,dia tidak bakalan seperti ini." ucap Vino menyalahkan diri sendiri.
"Sudah lah,semua nya telah terjadi,jangan sesali lagi Vin" ucap Aldi.
"Vin gue harus balik ke sekolah,tadi ibu guru memintaku untuk balik,tidak apa-apa kan aku tinggal kamu sendirian?" tanya Aldi yang sedikit khawatir melihat Vino.
"Tidak Apa-apa Aldi,pergilah!" ucap Vino.
"Aku pinjam mobil kamu dulu ya,nanti setelah pulang sekolah,aku bakal datang ke sini lagi." ucap Aldi,Vino hanya mengangguk.
****
Di sekolah di dalam Ruang BK tampak Dara dan Wilona di ceramahin oleh guru BK dan di sana juga ada orang tua mereka.
Pihak Sekolah hanya memberikan teguran kepada mereka berdua,pihak sekolah tidak berani untuk mengskor mereka,karena ke dua orang tua mereka merupakan orang yang berperan penting dalam Pembangunan sekolah ini,bisa di bilang donatur terbesar sekolah.
__ADS_1
Di dalam kelas Dita tampak masih menangis,Farah sudah berusaha menenangkan dia begitu juga dengan Verel,Arya dan yang lainnya.
"Sudah dong Dita,jangan menagis lagi." ucap Farah sambil memeluk dita
"Aku takut kalau terjadi apa-apa sama dia far," ucap Dita dengan suara isak tangis.
"Kalau lo kayak gini,kalau Aqila tau dia bakalan sedih dit." ucap Verel.
"Sudah tenangkan saja pikiran kamu Dita,selalu berpikir positif,agar Aqila baik-baik saja." ucap Arya berusaha menyakinkan Dita.
"Nanti Sepulang sekolah kita bakalan menjenguk Aqila bersama-sama,jadi tenangkan lah pikiran kamu dulu." ucap Brayen dan Alex.
"Jangan sampai nanti Aqila melihat wajah mu sembab karena air mata." tutur Leo.
Dara dan Wilona sudah keluar dari ruang Bk,Sekarang mereka berjalan keluar menuju ke kelas,di dalam perjalanan mereka selalu di bicarakan oleh para siswa,namun mereka tidak memperdulikannya.
"Apa gue bilang Wil,mana berani pihak sekolah sama kita." ucap Dara dengan sombong.
"Kalau kita di skor,bisa jadi sekolah ini kekurangan dana besar." ucap Wilona,kemudian mereka berdua tertawa sambil berjalan.
****
"Aqila" lirik Vino sambil berjalan ke arah aku.
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Vino panik.
"Vinoo.. Tenang lah aku tidak apa-apa kok." ucap aku menyakinkan Vino agar jangan terlalu khawatir,Vino duduk di kursi samping ranjang tempat tidur ku,sambil memengang dan menggengam tangan ku.
"Maafkan aku Aqila,ini semua salah aku." ucap Vino.
"Andai saja aku tidak membentak dan memarahi kamu semua tidak akan terjadi,dan andai saja waktu itu aku tidak datang telat kamu juga tidak bakalan seperti ini." ucap Vino panjang lebar,aku hanya tersenyum mendengar tutur kata Vino.
"Vin jangan salahkan dirimu,kamu sudah melakukan yang terbaik untukku,aku juga tau kalau kamu melakukan itu karna kamu sayang kepada aku." ucap Aku,tampa sadar aku meneteskan air mata,melihat aku meneteskan air mata Vino menyeka butiran air mata di pipiku.
"Kenapa kamu menangis,apa ada yang sakit?" tanya Vino yang mulai khawatir.
"Vin tenanglah,aku baik-baik saja,tolong bantu aku mau duduk vin." ucap ku,kemudian Vino membantuku untuk duduk,sekarang Vino duduk di pinggir tempat tidurku di atas kasur.
"Terus kenapa kamu menangis?" tanya Vino sambil merapikankan rambut yang menutupi wajahku,kini wajahku dan wajah Vino sangat berdekatan.
"Aku selalu saja menyusahkan mu." ucap aku lirih sambil menunduk,kemudian Vino mengangkat wajahku berlahan ke atas agar aku kembali menatap dia.
__ADS_1
"Hey! Jangan bicara seperti itu lagi,aku tidak suka Aqila,kamu tidak menyusahan aku kok,malahan aku senang bisa selalu membantumu" ucap Vino sambil memengang ke dua pipiku.
Andai saja kita lebih dari ini Vin,mungkin rasanya tidak akan seperti ini,setiap perlakuan kamu terhadap aku,rasanya begitu sangat nyaman.
"Vin,kamu berjanjilah,jangan bilang sama Papa dan Mama begitu juga dengan kak Aqran kalau aku masuk Rumah Sakit." ucap Aku kepada Vino.
"Aku takut mereka Khawatir dan mengganggu konsentrasi kerja mereka." lanjutku lagi,lalu Vino tersenyum.
"Iya kamu tenang saja,jika itu keinginan kamu,akan aku turuti." ucap Vino sambil tersenyum dan aku membalas senyuman Vino.
Saat aku dan Vino asik ngobrol tiba-tiba suster masuk,dia memberitahu kalau Vino di panggil oleh dokter ke ruangannya.
"Aku ke sana dulu ya." ucap Vino berpamitan kepadaku,kemudian dia pergi meninggalkan aku sendirian di ruangan itu.
Saat Vino sudah pergi tiba-tiba ada seorang wanita yang tidak aku kenal masuk ke dalam ruanganku tampa mengetuk pintu terlebih dahulu,di lansung mendekati aku.
"Jadi kamu yang nama Aqila?" tanya Wanita itu,aku cuma hanya mengangguk.
"Jangan sampai kasus ini sampai ke jalur Hukum,jika ini sampai terjadi,orang-orang di sekitar kamu akan saya lukai." ancam orang itu kemudian dia pergi meninggal kan aku,setelah dia pergi aku merasa sangat takut,karena orang yang paling dekat dengan aku cuma Vino.
Tanpa aku sadari kini air mataku mengalir lagi,aku menangis tersedu-sedu,aku sangat takut jika sesuatu terjadi sama Vino aku tidak tau harus berbuat apa.
Saat aku menangis tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ingin masuk,aku kira Vino yang datang ternyata bukan,tapi seseorang wanita paruh baya yang tidak aku kenal.
Melihat aku menangis tersedu-sedu dia menghampiri aku,aku sedikit mundur karena aku sangat takut,dia juga bakalan mencelakain aku.
"Siapa kamu? jangan dekati aku!" ucap aku dengan suara tangisan lalu sedikit mundur agar dia tidak menyentuh aku.
"Tenanglah non,aku tidak akan menyakiti kamu." ucap Wanita itu,di berusaha menenangkan aku,dia saat dia menenagkan aku tiba-tiba Vino datang lalu berdiri di dekat aku,melihat Vino sudah di samping aku,aku lansung memeluk dia.
"Aqila tenaglah," ucap Vino sambil mengelus kepala ku.
"Apa yang terjadi mbak?" tanya Vino kepada wanita itu.
"Maaf Tuan,mbak lala juga tidak tau,pas mbak lala masuk,non Aqila sudah begini." ucap Mbak lala kemudian dia melihat ke arah dekap pintu,Vino yang melihat mbak lala jadi mengerti apa yang di maksud mbak lala.
Sepertinya mbak lala bukan orang biasa,sejak kapan dia memasang kamera tersembunyi di ruangan Aqila,tapi itu tidak masalah yang penting Aqila baik-baik saja.
"Aqila tenang lah,ini mbak lala,dia bakalan tinggal bersama kita,dia adalah orang pengganti bik ijah,soalnya bik ijah sudah tidak bisa kerja bersama kita lagi dia harus merawat suaminya di kampung dan ia juga bakanlan mengurus keperluan kita " ucap Vino menyelaskan semuanya kepada aku.
"Jadi tenang lah,tidak akan ada orang yang bakalan menyakiti kamu lagi,kamu sudah aman bersama kami." ucap Vino sambil mepepaskan pelukanku,aku hanya mengangguk.
__ADS_1