
Saat sedang duduk santai tiba-tiba phonsel Max berdering, dia tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Maxi, mengangkat telepon yang masuk.
Dari arah jauh Raka mulai curiga dengan gerak gerik Max yang beberapa hari ini diam-diam dan menjauh jika ada telepon yang masuk.
Siapa lagi yang menghubungi om? Aku harus mendengar pembicaraan mereka. Aku sudah mulai curiga dengan om, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu lagi.
"Kami punya informasi baru bost." jawab Salah seorang pria dari seberang sana.
Max melihat daerah di sekitarnya, dia memastikan apakah dia sedang aman berbicra, Sedangkan Raka bersembunyi berusaha mendengar semua pembicaraan mereka.
"Informasi apa yang kalian dapatkan?" Tanya Max
"Bagaimana keadaan Putriku? Aku tidak bisa memantau dia selama satu Minggu ini." ucap Max, Dia mulai merasa cemas.
Max berpikir kalau Putri dia dalam bahaya lagi, dia berusaha menyembunyikan Putri nya agar musuh tidak mengetahui kalau Aqila adalah anaknya.
Raka kaget setelah mendengar kalau Max menyebut Putriku. Jadi selama ini Om sudah menemukan adikku? Tapi kenapa dia menyembunyikan dari aku. Mulai kecewa.
Raka ingin menghampirinya, namun dia mengurungkan niat, karna dia juga diam-diam mengikuti permainan Max, dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Tenang dulu bost, ini bukan soal Putri tuan." jawab Pria
"Tapi ini masalah Keponakan tuan." Lanjut Pria.
"Ada apa lagi dengan dia?" Tanya Max dengan suara agak meninggi, hingga Raka kaget mendengar suara Max yang menggema.
Apa yang terjadi, kenapa Om mulai panik dan khawatir yang sangat berlebihan? Apa adikku dalam bahaya.
Aku harus cari tau, Siapa adikku dan di mana dia sekarang. Sebelum orang jahat menemukan dirinya.
Berlahan-lahan Pria itu menjelaskan tentang Larlina Kepada Max, Max menghempas napas dalam-dalam.
Aku salut dengan keberanian mu sayang, tapi kamu sama saja menencelakan diri mu sendiri. Om tau kamu sudah dewasa, tapi Om tidak mau kalian ikut campur dalam masalah ini. Cukup Om yang menyelesaikannya.
"Baiklah, Aku mau kalian memantau dia kemana pun pergi!" Perintah Max dengan tegas.
"Jangan sampai dia dalam bahaya, Aku mau salah satu dari kalian bisa menjadi sahabat dia." Saran Max, kepada Orang suruhan dia.
"Baik Bost, Kami akan memantau pergerakan keluarga tuan." Jawab Pria, kemudian mematikan telepon.
Setelah mendengar semua pembicaraan mereka Raka kembali masuk ke dalam kamar.
KANTOR NATAN.
Di dalam Ruangan Natan terlihat sedang berpikir bagaimana cara nya untuk bisa bertemu dengan Aqila lagi.
"Agrah...." Merasa frustasi sambil membanting berkas-berkas ke atas meja.
"Sebegitu nya ancaman Vino, dan kekangan Vino terhadap Aqila,"
"Bahkan sudah satu Minggu juga Aqila tidak menemui Nara lagi." Pikiran Natan mulai melayang-layang.
Aqila sengaja menjauhi Nara dan Natan selama satu Minggu ini, karna Aqila ingin belajar dewasa dan mandiri tanpa bantuan mereka lagi. Bukan karna kekangan Vino.
__ADS_1
Vino tidak pernah melarang Aqila bertemu dengan siapa pun, yang jelas Aqila selalu berpamit dan kasih tau Vino dia kemana dan ketemu dengan siapa saja. Itu sudah cukup buat Vino.
Aku harus cari cara agar aku bisa kembali dekat dengan Aqila, walupun aku tau ini tidak akan mudah lagi.
Natan sudah menceritakan semuanya yang terjadi kepada Aqran Antara dia, Vino dan Aqila, Aqran hanya tertawa melihat tingkah laku Natan yang menurut Aqran kalah saing dengan bocah.
Tapi Natan tidak memberi tau kalau dia juga Mencintai Aqila. Tapi mungkin saja seorang kakak tau kalau ada seseorang yang menyukai Adiknya.
RUMAH VINO.
Hari ini mereka kembali di tinggal Zito dan Citra bertugas ke luar kota. Setelah urusan anak-anak dan masalah yang terjadi di sekolah tempo hari selesai.
Selama satu Minggu Aqila tidak menemui Nara begitu juga dengan Natan, Aqila kini malah sering menemui Laras di Rumah Sakit. Tanpa sepengetahuan Vino maupun para pembantu dan penjaga dia rumah.
Aqila selalu mencari alasan agar bisa menemui wanita itu, dengan pelantaran Sahabatnya Aqila.
Hari ini hari Minggu.
Vino berjalan menuruni anak tangga, menuju lantai dasar dan menuju meja makan, untuk makan siang.
Kemana Aqila? Udah satu Minggu ini dia sering keluar lama, dan dia juga bersikap biasa saja jika aku bersikap biasa. Sambil melirik di sekeliling ruangan berharap bisa menemukan Aqila.
"Selamat Siang Tuan?" Sapa Lala sambil tersenyum.
"Iya mbak." Jawab Vino, masih melirik ke sekeliling ruangan.
Lala memperhatikan Vino yang sedang mencari sesuatu.
"Apa tuan sedang mencari Non Aqila?" Tanya Lala, Vino mengangguk pertanda iya.
"Sudah sejak kapan?" Tanya Vino sambil mengangkat alis seblah, dia merasa tidak bisanya Aqila seperti itu.
"Sejak tadi pagi tuan, abis dari sarapan Non Aqila sudah ada di taman." Ucapa Lala. Vino mengangguk.
Dari Arah jauh Aqila datang, menelusuri anak tangga, ternyata dugaan Lala kurang tepat, Aqila sudah siap bersih-bersih. Dia tidak berada di taman lagi.
Melihat Aqila turun dari tangga Vino melirik Lala, "Maaf tuan, Saya pikir Non Aqila masih di taman." Ucapa Lala. Sambil melirik Vino kemudian melirik Aqila.
Aku merasa ada yang aneh setelah mbak Lala memintak maaf kepada Vino. Dia merasa seperti orang yang merasa bersalah.
"Mbak Lala kenapa?" tanya Aku, ketika sudah berada di samping Vino.
"Ngak, mbak Lala ngak kenapa-kenapa kok." ucap Vino sambil tersenyum melihat Aqila.
Ini anak kesambet apaan sih? Makin hari aku makin heran dengan sikap dia yang tidak bisa di tebak.
"Aku lagi tanya Mbak Lala, kenapa kamu yang jawab?" ucap Aku judes sama Vino.
"Tadi kamu bertanya tidak tau alamatnya maka dari itulah aku juga ikut jawab." Ucap Vino. Hari ini aku melihat kembali sikap Vino yang ngeselin dan nyebelin.
Mbak Lala hanya tersenyum melihat kami yang mulai ribut masalah yang sepeleh, dan berdebat hal yang tidak penting.
"Masih mau ngoceh apa mau makan sih?" tanya Vino yang melihat Aku masih berdiri di samping dia yang sudah duduk di depan meja makan.
"Ish... Vino." Ucap Aku mulai kesal. Sembari duduk di samping Vino.
__ADS_1
Aku dan Vino mulai menikmati makan siang yang di sajikan mbak Lala untuk kami berdua.
"Vin," Aku mulai memecahkan keheningan yang terkesan sesaat.
"Hmm.." sahut Vino, karna mulut Vino terisi makan, Aku diam setelah mendengar sahutan Vino.
Vino memperhatikan Aqila yang mulai diam, dia tidak mau melanjutkan pembicaraan nya. Vino menggelengkan kepala melihat tingkah Aqila.
"Ada apa Aqila?" Tanya Vino yang memberhentikan makannya sesaat.
"Aku tadi cuma nyaut karna mulutku berisi makan, Memamngnya ada apa?" Tanya Vino lagi.
"Ngak jadi." jawab aku cletus. Vino malah tertawa.
Aku semakin kesal melihat Vino. "Kenapa ketawa ada yang lucu, ngak kan." ucap Aku kesal.
"Astaga.. Aqila kenapa kamu sensi benar?" tanya Vino sambil menahan tawa, karna dia sudah melihat Aqila benar-benar kesal.
"Iya aku mintak maaf," ucap Vino mengalah.
"Baiklah, Kamu mau apa?" Tanya Vino, karna Vino udah tau sikap dan gerak gerik Aqila kalau ada mau nya.
"Hari ini Minggu, Aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi, Tanpa Aku protes atau larang, aku akan menuruti semua nya" bujuk Vino, Aku malah tersenyum mendengar pertanyaan Vino.
"Kamu yakin?" Selidik Aku, Vino malah tertawa sambil mengangguk.
Dari tadi ternyata Lala memperhatikan mereka berdua selama menikmati makan siang dan sambil berbicara.
Semoga saja Kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua, dan aku juga berharap kalian bisa saling bersama sampai mau memisahkan.
"Aku akan kasih tau kita kemana jika kita sudah di perjalanan,"
"Ingat janji mu! Kamu tidak boleh perotes atau mengeluh." Ancam Aku kepada Vino sambil tertawa begitu pun juga dengan Vino yang tertawa melihat tingkah laku ku.
Vino hanya bisa menganggu, dan mereka kembali melanjutkan menghabiskan makanan yang masih tersisah.
.
.
.
.
.
.
.
. PERMINTAAN MAAF AUTHOR.
SEBELUMNYA MEYI MENGGUCAPKAN RIBUAN TERIMAKASIH KASIH UNTUK SEMUA PEMBACA YANG MASIH SETIA MENUNGGU UP CERITA MEYI,MAAF MEMBUAT LAMA MENUNGGU🤧KEMAREN" LAMA UP KARNA BEGITU BANYAK KENDALA TERMASUK KESEHATANKU🙏🙏
MEYI TIDAK ADA APA NYA TANPA DUKUNGAN DAN SEMANGAT YANG SELALU KALIAN BERIKAN😍❤️🤗
__ADS_1
TERIMAKASIH ATAS SEMUANNYA MEYI SAYANG KALIAN SEMUA❤️🤗😘😘😘