
DI KEDIAMAN ZITO DAN CITRA.
Pukul 21:00 Vino dan Aqila sudah sampai di pekarangan rumah, mereka telat datang karna terjebak macet.
Kedatangan Aqila dan Vino di sambut oleh Zito dan Citra. Awalnya mereka sepakat ingin mencari mereka jika tidak juga kunjung pulang pukul 20:00
Karna Vino sudah mengetahui sikap ke dua orang tuanya, Vino segara menghubungi Papa dan Mama. Vino bilang kalau mereka terlambat pulang karna terjebak macet.
Vino keluar mobil terlebih dahulu, dia mengitarai mobil kemudian dia membukakan pintu mobil untukku.
"Silahkan Tuan putriku," goda Vino sambil mengedipkan mata. Dan memberikan uluran tangan.
Ya bisa di sebut layaknya seorang putri mahkota benaran sih.
Zito dan Citra malah tertawa melihat tingkah laku putra dan putrinya, terutama melihat tingkah laku Vino.
Vino membuat aku merasa malu di depan Papa dan Mama, Padahal aku tau kalau Vino melakukan ini agar aku tidak merasa sedih lagi.
"Hmm,"
"Terimakasih telah membukakan pintu untukku pangerang." Jawab Aku sambil memainkan drama Vino. Vino tersenyum penuh kemenangan.
Aku berjalan masuk rumah dengan ke adaan sedikit pincang, karna rasa sakit itu tidak kunjung redah.
"Sayang, Ada apa dengan mu nak?" tanya Citra setelah melihat cara berjlan Aqila yang sedikit kurang baik.
Zito juga ikutan melirik Aqila yang di gandeng oleh Vino. "Apa lagi yang terjadi dengan Aqila Vino?" Tanya Zita sambil mengerutkan kening.
Baru aku ingin menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Papa dan Mama tapi Vino malah memotongnya terlebih dahulu.
"Ini salah Vino mama, papa,"
"Coba aja tadi aku tidak ceroboh, mungkin Aqila tidak akan disenggol orang." jawab Vino, sambil memasang wajah sedikit cemberut.
Aku melirik Vino, tapi Vino memberi aku isyarat agar mengikuti keinginan dia. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Sayang? Apa benar yang di katakan oleh Vino?" tanya Citra sambil mendekati Aqila, dan mengecek seluruh tubuh Aqila.
"Iya mama,"
"Ini salah Aqila juga, lagian Aqila juga kurang berhati-hati," jawab Aku sambil melihat wajah mama Citra yang sedikit khawatir akan diriku.
__ADS_1
"Udah nanti aja ngobrolnya di dalam, ngak baik angin malam,"
"Aja kita masuk!" Ajak Zito. Kami mengikuti kata-kata papa untuk masuk ke dalam rumah.
Seusai masuk ke dalam rumah, Zito dan Citra menyuruh Aqila dan Vino untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah itu Zito dan Cita menemani anak-anaknya untuk makan malam. Sebelum Aqila memberbersihkan diri tadi, Citra sudah menyuruh bibik untuk mengurut kaki Aqila terlebih dahulu.
"Gimana sayang? Apa masih sakit?" tanya Zito dan Citra Bersamaan.
"Eehmm, ngak kok mah, pah udah mendingan kok, sakitnya udah ngak terasa lagi." jawab Aku sambil melirik Vino yang dari tadi hanya diam.
"Syukurlah Sayang," ucap Citra.
"Lain kali hati-hati yaa nakkk." Nasehat Zito, Aqila hanya mengangguk.
Sebegitu sayang nya mama dan papa ku kepadamu Aqila. Bahkan mereka tidak mepertanyakan ke adaanku saat ini.
Kamu bukan saja mengambil hati kedua orang tua ku saja, bahkan kamu mengambil semua hati orang termasuk aku Aqila, kamu begitu istimewah.
Selesai makan malam, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk segera istrahat.
Aku masih duduk di atas kasur, jam di dinding sudah menunjukan pukul 00:00 tapi mataku belum juga bisa di ajak berkerja sama untuk istrahat.
Aku juga mengingat kejadian aneh yang menimpa aku beberapa hari ini, dan aku juga mengingat kejadian di kantor kakak Natan. Aku juga meningat perasaanku yang semakin hari semakin dalam untuk Vino.
Tanpa aku sadari kini air mata mulai membasahi wajah Aku lagi dan lagi.
Citra mendengar suara isak tangis pelan dari arah luar. Dia mendekati pintu kamar Aqila, memastikan sumber suara isak tangis itu.
Setelah memastikan sumber suara berasal dari kamar Aqila, Citra mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Aqila.
Citra melihat Aqila menangis sambil memeluk sebuah boneka, Citra mendekati Aqila secara berlahan dan dia berusaha menenangkan Aqila.
"Sayang kamu kenapa menangis nak?" tanya Citra sambil memeluk tubuh Aqila.
"Aku kangen kakak Aqran mama," lirih aku mencari alasan yang tepat. Sambil membalas pelukan mama.
"Sayang, mama juga seorang wanita,"
"Kamu bisa berbohong kepada semua orang, tapi tidak untuk mama." ucap Citra sambil mengelus rambut Aqila.
__ADS_1
"Ayo sekarang cerikan semuanya kepada mama,"
"Apa yang terjadi? Apa Vino menyakitimu saat papa dan mama tidak ada?" tanya Citra panjang lebar.
"Tidak ma," protes Aku.
"Vino sangat baik sama aku ma, bahkan dia selalu ada untuk Aqila setiap saat." jawab Aku.
"Mama?" ucap ku sambil mengangkat wajah, dan melihat sorot mata mama Citra.
"Hmmm," saut Citra sambil membalas tatapan Aqila. Lalu tersenyum.
"Ada apa sayang?" tanya Citra.
"Apa Aqila salah mencintainya nya?" tanya Aku sambil kembali menyembunyikan wajah ku di depan dada mama Citra.
Citra tersenyum. "Tidak ada yang salah sayang, wajar saja jika tumbuh rasa cinta di antara kalian, kalian selalu bersama dalam suka dan duka selama ini." jawab Citra.
Aku seikit kaget mendengar jawaban Mama. "Mama tidak marah sama Aqila?" selidik Aku, Citra malah tersenyum lebar.
"Kenapa mama harus marah?" Dia melepaskan pelukan.
"Jika suatu saat kalian berjodoh, mama sama papa mendukung apa keinginan kalian berdua."
"Tapi jika kalian tidak berjodoh, mama harap kalian bisa selalu akur walaupun layak nya Adik dan kakak." ucap Citra, berusaha menjelaskan kepada Aqila secara perlahan.
Mendengar tutur kata mama, hatiku kembali tenang dan pada Akhirnya Aku bisa istrahat dengan tenang.
Beberapa hari kemudian, Hubungan Aku sama Vino semakin menjauh, dia berusaha menjauhi diriku secara pelan-pelan.
Setelah kejadian itu, aku berpikir kalau mama telah memberi tahu Vino tentang perasaanku. Begitulah pemikiran otak ku dan tentang hatiku ini.
Kedatangan Larlina ke Indonesia.
Satu minggu setelah memintak izin kepada Laresti, Lina kini sudah ada di Indonesia. Tujuan awal yang di lakukan di kota ini sudah di persiapkan dengan sebaik mungkin.
Larlina adalah seorang Gadis Cantik, Manis, Imut, Pintar, baik, Penolong, Pemberani dan masih banyak lagi.
Larlina betprofesi sebagai seorang Model di dunia Intertaimen, karin dan bakatnya sudah tidak di ragukan lagi.
Bahkan beberapa pesaing di dunia model sedang berusaha mempertahankan Lina agar tetap menjadi model meraka.
__ADS_1
Tujuan awal Lina datang ke Indonesia yaitu mencari tau tentang penyebab tragedi di malam itu, yang membuat mereka terpisah dengan anggota keluarga lainnya.
Lina berusaha mendekati musuh dengan berpura-pura menjadi seorang Teman yang baik sekaligus fatner kerja.