
Setelah selesai makan bersama, Natan lansung masuk ke ruang Meeting, sedangkan Aqila masuk ke dalam ruangan Natan.
Hari ini Natan Meeting sangat lama, Aqila mulai merasa bosan, dia ingin pulang sendirian namun dia ingat akan perkataan Natan kalau dia tidak boleh pulang sendirian.
Aqila teringat akan Aqran, Dia ingin sekali menghubungi Aqran namun dia tidak memiliki ponsel. Aqila keluar dari ruangan Natan.
Dia berjalan menuju meja Repsesionis, Aqila berniat ingin meminjam ponsel dia, agar bisa melakukan Vc dengan Aqran. Bisa di bilang kalau Aqila juga sudah dekat dengan beberapa karyawan di kantor Natan.
Saat berjalan Aqila tidak sengaja menabrak seorang Wanita. Aqila terjatuh ke lantai.
"Aww... sakit." rengak Aku. Sambil memegang kaki yang sedikit nyerih.
"Kamu punya mata ngak sih?" Tanya Wanita itu sambil membentak.
Dia bukan nya menolong aku berdiri, tapi dia malah memaki maki aku habis-habisan.
"Lagian bocah kecil seperti mu nagapain ada di kantor sebesar ini?" tanya dia, tapi Aku tidak menjawab.
Aku merasa baru kali ini melihat dia ada di kantor Kakak Natan.
"Eh.. kamu budek atau apa sih?" tanya dia lagi.
Beberapa karyawan yang melihat Aqila terjatuh ke lantai dengan cepat mereka berlari menolong Aqila.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Seorang karyawan yang membantuku berdiri.
"Kenapa kau membentak dia? Bukannya malah menolong kau malah memaki-maki dia." ucap kesal Karyawan yang lain.
Beberapa saat terjadi keributan antara Wanita itu dan beberapa Karyawan. Tak lama kemudian Natan keluar dari ruang Meeting.
"Apa-apaan ini?" tanya Natan yang melihat mereka sedang adu mulut.
"Sayang mereka memarahi ku." rengak manja Wanita itu setelah melihat Natan ada di dekat dia.
Aku sempat terkejut mendengar ucapan wanita itu memanggil kakak Natan dengan sebutan Sayang.
Natan bukannya malah mendengarkan penjelasan Karyawan terlebih dahulu tapi dia malah memarahi mereka satu persatu.
"Kenapa kalian memarahi dia?" tanya Natan, kini suaranya menggema. Aku terkejut, karna ini baru pertama aku melihat dia semarah itu.
Melihat Natan yang sudah mulai marah, Wanita itu malah tersenyum licik, dia menoleh ke arah Aku dan ke arah Karyawan.
Tanpa Aku sadari kini air mataku mengalir begitu saja. "Cukup!" Teriak Aku yang sudah kesal melihat Wanita itu, ditambah lagi kakak Natan marah tidak jelas.
"Ini bukan salah mereka tapi ini salah aku,"
__ADS_1
"Cukup kak! Cukup. Jangan marahi mereka lagi, mereka tidak salah apa-apa." ucap Aku kemudian berlari meninggalkan mereka semua.
Aku berlari dengan keadaan yang sedikit pincang, karna rasa nyerih di kaki ku sangat terasa. Namun aku berusaha menahan nya agar bisa keluar dari kantor ini.
Natan yang melihat Aqila menangis di tambah lagi dia berlari dengan keadaan pincang. Dia juga ikut berlari mengejar Aqila. Namun di tahan oleh Wanita itu.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Wanita itu sambil memengang lengan Natan.
"Aku kesini ingin bertemu dengan kamu, tapi kamu malah ingin pergi meninggalkan aku begitu saja." ucap Wanita, sambil memasang wajah cemberut.
Natan menepis tangan wanita itu dengan kasar, karna dia sudah berani menghalangi Natan untuk menggejar Aqila.
****
Zito dan Citra sudah sampai di rumah. Namun mereka tidak menemukan Putra dan Putri nya. Mereka juga sudah tau kalau Aqila sudah keluar dari rumah sakit.
"Lala, Pada kemana anak-anak?" tanya Citra kepada Lala.
Zito dan Citra juga sudah mengenal Lala, karna mereka lah yang mengutus Lala bekerja di rumah itu, untuk membantu keperluan anak-anak nya.
"Nona Aqila sudah pergi dari tadi pagi Nyonya. Sedangkan Tuan Vino baru satu jam yang lewat di pergi." jawab Lala, tapi dia tidak memberitahu kalau anak mereka lagi ribut.
"Pada Pergi kemana?" tanya Zito yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Istrinya.
"Saya kurang tau Tuan, soalnya Nona Aqila dan Tuan Vino tidak bilang apa-apa." jawab Lala, kemudian dia memintak izin untuk melanjukkan pekerjaabnya lagi.
"Kenapa Mama?" tanya Zita, tiba-tiba Citra memasang wajah cemberut.
"Ngak aktif Papa," jawab Citra.
"Aku coba hubungi Vino saja." kata Citra beralih menghubungi Vino.
"Gimana ma?" tanya Zito.
"Apa tidak aktif juga?" Lanjutnya lagi, Citra mengangguk pelan pertanda iya no Vino tidak aktif juga.
"Pada kemana itu anak? Kita tunggu sampai jam 20:00 saja Papa, kalau tidak pulang juga nanti baru kita cari." ucap Citra. Zitopun menyetujui perkataan Istrinya.
Karna hari ini mereka juga ada janji untuk menghadiri acara Pernikahan anak kerabatnya. Sambil menunggu kedatangan Vino dan Aqila pulang, mereka menghadiri acara itu terlebih dahulu.
*****
Aqila terus berlari keluar dari dalam kantor. Semua Karyawan yang melihat Aqila yang menangis sambil berjalan seperti menahan rasa sakit, malah membuat mereka khawatir.
Di tambah lagi tadi, saat Aqila datang, mereka melihat kalau Aqila di gendong oleh Tuannya Natan.
__ADS_1
"Jangan sok imut. Gue tidak menyuruh lo untuk menemuiku bukan?" tanya Natan kesal.
"Jadi sekarang menyingkirlah! Aku tidak ada urusan denganmu." Perintah Natan, dia menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
Kau meninggalkan aku demi bocah itu, hee.. benar menyebalkan, lihat saja nanti. Kau sudah mempermalukanku di depan Karyawanmu Natan.
"Aku kesini hanya mau bilang sesuatu!" Teriak Wanita saat dia sudah melihat Natan berlari keluar.
Dari arah jauh, Di dalam sebuah Mobil, ada seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik Aqila.
Aqila terus berlari, hingga dia tidak punya keseimbangan tubuh dan akhirnya dia terjatuh.
"Aww... Sakit.. hiks..hiks.." rengekku sambil menyeka air mata yang mengalir.
Sebelum orang yang ada di dalam mobil itu ingin menolong Aqila, Tiba-tiba ada seorang laki-laki terlebih dahulu menolong Aqila.
Dia berjongkok di hadapan Aqila. "Aqila, Kamu tidak apa-apa?" tanya Seseorang. Dia ingin membantu aku berdiri.
Suara itu sudah tidak asing lagi di telingaku, aku menogakkan wajahku melihat siapa yang datang. "Vino." guman ku sambil menangis. Vino mengangguk.
Vino membantu Aku berdiri. Ketika sudah berdiri aku lansung memeluk Vino dan menyembunyikan wajahku di depan dada Vino.
Vino membalas pelukanku dan dia juga membelai-belai rambutku. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Vino.
Belum lagi Aqila sempat menjawab tiba-tiba Natan datang dalam ke adaan berlari. "Aqila, Maafkan kakak." ucap Natan dengan suara ngos-ngosan akibat berlari.
Vino lansung menoleh ke sumber suara. "Apa yang kau lakukan pada Aqila kak?" tanya Vino. Dia melihat Natan dengan tatapan kesal.
"Ini cuma salah paham Vin, Kakak bisa jelasin semua nya." Jawab Natan memohon agar mereka mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Vin, Aku mau pulang." rengek Aku lagi. Aku tidak mau melepaskan pelukanku dari Vino dan Aku juga tidak mau lagi melihat wajah kakak Natan.
Natan merasa sedih karna tidak mendapatkan jawaban dari Aqila. Di tambah lagi Aqila tidak mau melihat dirinya lagi.
Natan bukan cuma sayang pada Aqila. Namun dia juga sudah mulai Mencintai Aqila, Natan dengan cepat menepis Perasaannya itu, karna hal itu tidak akan mungkin terjadi, mereka juga tidak akan bisa menyatu.
Andai kamu tau Aqila. kalau kakak bukan sekedar sayang saja, kakak juga mencintaimu. Rasa cinta itu ada untuk mu, dia mengalir begitu saja.
Natan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia cuma pasrah melihat Aqila mengabaikan diri nya.
"Baiklah, Tas kamu mana?" tanya Vino ketika dia tidak melihat tas Aqila.
"Tertinggal di dalam sana." jawab Aku. Vino membantu aku masuk ke dalam mobil, dan dia menyuruhku menunggu didalam. Tidak lupa Vino menyuruh aku juga untuk mengunci pintu mobil.
"Aku akan mengambil nya dulu. Jadi tetap di sini jangan kemana-mana." perintah Vino. Aku cuma mengangguk mengikuti arahan yang di berikan oleh Vino.
__ADS_1
Vino berjalan memasuki kantor, lalu di ikuti oleh Natan dari belakang, Natan tau kalau Vino juga sedang marah kepada dia.