Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
SANDIWARA YANG MULUS


__ADS_3

Sesampai di kantor Natan, Nara lansung pamit kepada Natan untuk kembali bekerja di rumah sakit yang lainnya.


Natan ingin sekali mengantar Nara ketempat ia berkerja, setelah Natan membawa Aqila masuk ke dalam ruangan nya, Namun Nara menolak.


Karna Nara masih khawatir, jika Natan mengantar dia, Aqila akan terluka kembali. Natan membaringkan Aqila di sofa yang ada di dalam ruangan dia.


Natan benar-benar menjaga Aqila dengan sangat baik. Melihat keadaan Aqila yang menurutnya sedikit membaik. Natan kembali mengambil laptop nya kemudian mengerjakan kembali berkas yang sempat tertunda.


Saat Natan sedang asik mengerjakan tugas kantornya, tiba-tiba dia mendengar Aqila mengingau.


"Kakak! Aqila takut,"


"Kakak,"


"Wanita itu ingin mencelakai Aqila kembali kak, Aqila takut. Dia juga mengancam Aqila kalau dia akan melukai Vino juga kakak."


"Kakak! Kakak. Aqila takut."


Natan terkejut, lalu dia menghampiri Aqila, dia berusaha membangunkan Aqila.


"Hay! Sayang bangun." ucap Natan sambil menepuk-nepuk pipi Aqila dengan lembut.


"Sayang buka mata mu. Ini kakak ada di sini, jangan takut lagi sayang." namun Aqila belum juga membuka mata.


"Aqila! Sayang ayo buka matamu. Ini kakak ada di sini sayang." ucap Natan sambil menggoyangkan sedikit badan Aqila.


Aqila lansung tersadar, melihat ada Natan di samping nya, dia lansung bangkit lalu memeluk Natan.


Natan membalas pelukan Aqila sambil mengelus rambut Aqila. "Sayang apa yang terjadi?" tanya Natan, mengangkat wajah Aqila agar mau melihat dia.


"Tidak ada kak," jawab Aku sambil menyembunyikan kembali wajahku ke dalam dada nya.


"Apa yang kamu bicarakan tadi?" selidik Natan.


"Kakak mendengar dengan jelas, apa yang kamu ucapkan sayang." ucap nya lagi.


"Aqila tidak bicara apa-apa kak." masih setia dengan pelukannya.


Terimakasih kakak, kakak telah menyayangi aku layak nya seperti adik kandung kak sendiri. Aku berjanji jika Aqila besar Aqila akan membalas kebaikan kakak Natan.


"Tadi Aqila mimpi buruk kak," ucap Aku sambil mengangkat kepala ku lalu melihat wajah tampan Natan.


Kakak tau sayang. Kamu pasti lagi menyembunyikan sesuatu dari kami semua, kamu melakukan ini agar kami tidak terlalu khawatir.


Tapi kamu tidak bisa membohongi kakak. Cepat atau lambat kami akan mengetahui nya.


"Kamu yakin?" tanya Natan, Aku lansung mengangguk dengan cepat, berusaha tersenyum agar Natan tidak terlalu menghawatirkan aku lagi.

__ADS_1


Selama ini aku sudah terlalu banyak menyusahkan mereka, terutama kakak Natan begitu juga dengan kakak Nara.


Natan mendengar dengan begitu jelas apa yang telah Aqila ucapkan saat dia sedang tidak sadar. Tapi Natan hanya pura-pura seolah tidak tau apa yang terjadi.


"Apa perut kamu masih sakit?" tanya Natan, aku lansung mengeleng kepala.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Natan lagi, lagi-lagi aku hanya menggeleng.


Natan malah tersenyum melihat tingkah Aqila, aura tingkah manja nya sudah mau keluar kembali. Saat Natan sedang menyeka rambut yang menutupi wajah Aqila tiba-tiba ponsel Natan berdering.


Ternyata yang menelfon itu adalah Nara, Nara memberitahu kalau hari ini Zito dan Citra sedang ada di dalam perjalanan pulang.


Nara mendapat informasi itu dari Vino. Vino menelfon Nara kembali, karna tadi Nara bilang sama Vino kalau dia sudah bersama dengan Aqila dari siang tadi.


Nara melakukan itu semua agar Vino tidak terlalu khawatir dengan ke adaan Aqila, Nara dan Natan sengaja melakukan ini semua agar bisa melindungi Aqila.


"Ada apa kak?" tanya Aku sambil melepaskan pelukan kita.


"Papa sama Mama kamu sedang perjalanan pulang sayang," jawab Natan.


"Tapi satu jam lagi kakak akan Meeting sayang, Jadi kakak tidak bisa mengkensel jadwal meeting ini sayang." lanjut nya lagi. Sambil mengelus kepala Aqila.


"Papa sama mama pulang?" tanya Aku sedikit kaget, Natan mengangguk pertanda iya.


"Tidak apa-apa kakak, Aqila akan menunggu kakak selesai meeting." ucap Aku sambil memberi dia sedikit senyuman.


"Apa perlu kakak menghubungi Vino agar dia menjemput kamu?" Tayan Natan sambil membals senyuman ku.


"Tapi kita pulang akan sedikit telat dek." tutur Natan sambil meyakinkan aku.


"Jadi kakak tidak mengizinkan Aqila menunggu kakak? Kalau begitu ya udah. Aqila pulang sendiri saja." ucap Aku kesal dan memasang wajah yang sedikit masam. Bisa di bilang kalau aku ngambek.


"Eh.. sayang bukan itu maksud kak," ucap Natan terkekeh melihat aku.


"Kamu boleh mengunggu kak, tapi kamu tidak boleh pulang sendirian." ucap Natan.


"Sebelum kakak meeting kita cari makan dulu yuk?" ajak Natan sambil membantu aku bangkit dari sofa. Aku mengangguk.


Kami pergi mencari makanan di restoran terdekat yang ada di samping kantor. Karna mengingat waktu kalau kakak Natan akan meeting sebentar lagi.


****


Vino masih memikirkan kejadian tadi malam, dia berpikir kalau Aqila akan menceritakan apa yang telah dia lakukan kepada Papa dan mama nya.


Ditempat lain,


Aqran sedang menyuruh beberapa orang untuk mencari informasi yang telah di berikan oleh Natan.

__ADS_1


"Lihat saja nanti. Aku tidak akan biarkan kalian hidup bebas,"


"Jika aku sudah menemukan siapa kalian, maka bersiap siap lah, hidup kalain akan aku bikin hancur sehancur nya."


"Karna kalian sudah berani mengusik adikku." ucap Aqran kesal.


Aqran mengambil sebuah foto, foto yang ada di dalam laci meja kerja nya. Yaitu foto seorang wanita.


"Kau pikir aku tidak tau. Apa yang telah kau lakukan kepada keluaga ku,"


"Berlahan lahan aku akan mengetahui semua kebusukan mu." guman Aqran pelan.


"Sudah terlalu banyak teka teki kehidupan ini. Kau memainkan sandiwaramu dengan begitu mulus. Sehingga tidak ada satu orang pun yang mengetahui itu. Tapi tidak untukku." ucap Aqran kesal sambil meremas remas foto.


Saat Aqran sedang berbica sendiri dan meremas foto, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok.tok.. tok..


"Masuk!" teriak Aqran. Dia menyembunyikan foto itu kembali.


"Ada apa kau kemari?" tanya Aqran ketika sudah melihat siapa yang datang.


"Bisakah kau berbicara lembut sedikit saja?" Wanita itu malah bertanya balik.


"Saya tidak punya waktu untuk anda. Jadi katakan dengan cepat! Mau apa kau datang ke sini?" tanya Aqran, dia sudah mulai kesal. Apa lagi melihat wanita yang berpakaian seksi itu.


"Kenapa sekarang kau malah sangat menyebalkan? Kau ini laki-laki apa bukan shi Aqran?" Wanita itu mulai terbawa emosi.


"Aku tidak punya waktu untuk mu. Apa lagi berdebat dengan wanita seperti mu,"


"Jadi katakan! Apa mau mu?" tanya Aqran.


"Kau tidak mempersilahkan aku duduk dulu." ucap Wanita yang dari tadi dia hanya berdiri di depan meja kerja Aqran.


"Tidak. Aku sudah bilang, aku tidak ada waktu," jawab Aqran dengan nada datar.


Mendengus. "Kau benar menyebalkan Aqran."


Lihat saja nanti, suatu hari nanti kau akan bertekuk lutut di hadapanku. Kalau perlu aku akan menjebakmu agar kau bertanggung jawab.


Aqran melihat wanita itu sedang berpikir, mungkin wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk dirinya. Seperti sebelum nya.


Heh.. kau pikir aku ini laki-laki bodoh yang bisa kau permainkan, kau salah. Aku bukan Aqran yang kau kenal dulu lagi.


"Papa menyuruhku menyemputmu, dia mau mengajak kamu makan malam bersama keluarga besarku." ucap Wanita sambil melihat ke arah Aqran.


"Bilang sama Tuan Reja kalau aku tidak bisa datang, karna aku sudah ada janji dengan seseorang." Tolak Aqran, Wanita itu semakin kesal dengan Aqran.

__ADS_1


Sekian kesal nya, dia meninggalkan Aqran begitu saja di dalam ruangan itu. Bahkan dia menutup pintu ruangan Aqran dengan sangat kasar.


Aqran malah tertawa melihat wanita yang sering mengganggu dan menggoda dia, di tambah lagi wanita itu sedang dalam suasana hati yang kesal.


__ADS_2