Kisah Asmara Mahesa

Kisah Asmara Mahesa
APA MAUMU?


__ADS_3

Berlahan-lahan Aqila membuka mata,dia terkejut tiba-tiba dia sudah ada di dalam kamar,dia melirik kesana kemari untuk mencari sosok Vino.


Ternyata Vino tidur di atas kasur Aqila,Vino tidur di samping Aqila sambil melingkarkan satu tangan di perut Aqila,Aqila menoleh ke arah Vino kini wajah mereka sangat lah dekat.


Berlahan-lahan Aqila melepaskan tangan Vino dari atas perut dia,Aqila pengen duduk untuk mengambil minum tapi takut kalau Vino terbangun.


"Aku harus apa ini? Kalau Vino bangun kasihan juga,seperti nya dia sangat capek karna ulah ku" guman aku pelan.


Tampa aku sadari dan tampa aku ketahui air mata ku tiba-tiba jatuh ke pipi,aku mengingat mimpi tadi kalau aku sudah dekat dengan kedua orang tua ku.


Aku juga selalu berharap kalau itu semua akan menjadi kenyataan baik yang akan berpihak kepada aku setelah ini.


Karna aku tidah bisa menghentikan tangisan,aku memalingkan wajah dari wajah Vino,kini aku membelakangi Vino.


Vino merasa tergangu karna kasur tersa bergerak dan dia juga mendengar suara isak tangis pelan.


Berlahan-lahan Vino membuka mata sambil mengucek-ngucek,


"Aqila,kamu sudah bangun?" tanya Vino lalu bangkit dan duduk di samping Aqila,dengan cepat Aqila menghapus air mata nya.


Vino memalingkan wajah Aqila agar dia mau melihat wajah nya,Vino melihat jelas kalau Aqila habis menangis.


"Kenapa kamu menangis? Apa masih ada yang sakit?" tanya Vino,aku cuma geleng-geleng kepala kemudian aku juga ikut duduk di samping Vino.


"Kalau tidak ada,kenapa kamu menangis?" tanya Vino lagi sambil menyeka rambut yang menutupi wajah ku.


"Aku kangen papa dan mama ku" ucap Aku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Sedang apa mereka sekarang,apakah mereka juga sedang mencari aku? Apa mereka juga merasakan apa yang aku rasakan Vin?" aku bertanya kepada Vino kini air mata aku kembali jatuh ke pipi,Vino berusaha menyeka setiap butiran air mata yang jatuh.


Ternyata dari arah luar ada yang menguping pembicaraan mereka,dia merasa begitu sangat sedih melihat ke adaan Aqila.


"Suatu saat kamu pasti akan bertemu keluarga mu lagi" guman lala pelan.


"Aqila kenapa kamu bicara seperti ini?" tanya Vino karna selama ini Aqila tidak pernah bicara soal mama atau papa nya.


"Aku cuma ingin mereka Vin" ucap aku dengan suara isak tangis.


"Sudah tenang lah,mereka juga pasti sedang mencari keberadaan kamu" ucap Vino sambil menyemangati,aku hanya mengangguk.


"Kita keluar yuk?" ajak Vino lalu turu dari tempat tidur.


"Kemana? ini kan sudah pukul 22:30" jawab aku sambil melirik ke arah jarum jam.


"Ketaman Belakang!" ucap Vino sambil mengulurkan tangan ke arah aku.


"Tapi ngapain?" tanya aku bingung.


"Besok kan kita sekolah,kalau kita telat gimana?" tanya aku lagi,Vino malah tersenyum.


"Ayo ikuti saja aku,"


"Besok itu hari Minggu Aqila" dia masih berusaha mengajak aku untuk keluar,dan akhir nya aku menerima uluran tangan dia.


Di tempat lain lala sedang menghubungi seseorang.


Seperti janji dia,dia harus menghubungi seseorang itu minimal satu kali satu hari.


"Hallo Bos" ucap lala.


"Iya,ada apa kamu menelvon saya malam-malam?" tanya seorang Pria.

__ADS_1


"Target sesuai dengan ke inginan bos" ucap lala.


"Baiklah,pantau terus perkembangan dia" perintah pria.


"Baik bos" ucap lala,kemudian memutuskan panggilan.


DI TAMAN BELAKANG.


Vino menutup mata Aqila sampai ke taman belakang,dari tadi Aqila hanya menuruti perkataan Vino dan dia juga menuntun Aqila untuk berjalan agar dia tidak menabrak.


"Vin,memang nya kamu bawa aku kemana?" tanya aku binggung.


"Vin kamu jangan macam-macam ya" ucap Aku lagi,tapi Vino tidak mau bersuara.


"Vinooo...kok kamu diam saja,aku takut" lirik aku pelan.


"Sudah jangan takut lagi ada aku di sini" ucap Vino.


"Vino? Apa kak Aqran marah sama aku?" tanya aku kepada Vino,karna aku tau waktu di RS Vino menelvon sama kak Aqran.


"Marah kenapa lagi? Kamu kan adik yang paling dia sayang,jadi mana berani dia marah sama kamu" ucap Vino,aku hanya cuma mengangguk,percuma kalau ngomong sama Vino dia selalu berkata seperti itu.


"Vino aku boleh tanya sesuatu ngak?" tanya aku lagi,Vino kembali diam.


"Vinnn,"


"Vinooo...."


"Kok kamu hobi benar diamin aku" pasang wajah cemberut.


"Hmmm,iya ada apa?" tanya Vino


"Kamu kebiasaan cubit pipi aku" ucap Aku sambil menyodorkan bibir bawah,Vino malah tertawa kekeh.


"Malah tertawa,sakit tau" rengek aku,Vino mengusap pipi ku yang dia cubit tadi,aku merasa sangat senang kalau Vino mengerti dengan pesaraan ku.


"Tadi aku kan merasa sakit,kok sekarang kita tiba-tiba ada di rumah,memang nya apa yang terjadi?" tanya aku penasaran.


"Sudah kamu jangan bahas itu lagi" ucap Vino,aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Vino dari aku.


"Kita sudah sampai," ucap Vino sambil membuka kain penutup mata ku.


Berlahan-lahan aku membuka mata,bertapa terkejutnya aku,meliat kunang-kunang bertebaran di mana-mana setelah Vino menghadang tanaman bunga di sana.


"Wahhh...indah sekali" tabjuk aku sambil tersenyum lepas.


"Vinoo,kenapa selama ini aku tidak tau kalau ada kunang-kunang di sini?" tanya Aku sambil melihat wajah Vino.


"Kamu suka?" tanya Vino balik,aku mengangguk.


"Kita berbaring di sana yuk?" ajak Vino.


Kini aku dan Vino berbaring di atas rumput sambil melihat kunang-kunang terbang dan juga melihat bintang-bintang bertaburan di langit.


"Indah sekali malam ini," aku berguman.


"Lihat Vin,itu bintang yang paling terang di antara bintang" ucap Aku sambil menoleh ke arah Vino begitu juga dengan Vino.


"Iya,sama seperti kamu,"


"Kamu adalah gadis yang paling bercahaya dari pada gadis lain nya" seulas senyuman,aku membalas senyuman Vino.

__ADS_1


"Kamu gombalin aku?" sambil terkekeh.


"Aku tidak gombalin kamu,tapi kenyataan Aqila" ucap Vino,kini wajah Vino semakin mendekat ke wajah aku,sekian dekat nya hidung kami hampir bertabrakan.


"Vino!" ucap Aku,Vino masih juga engan untuk mundur kebelakang,Vino membuat jantungku berdetak tidak beraturan.


"Hmm.." Vino menyahut.


"Maukah kamu berjadi?" ucap Aku sambil memegang wajah Vino.


"Apa?" tanya Vino sambil mengangkat Alis nya sebelah.


"Apakah kamu masih mau seperti ini kepada aku,jika suatu saat kamu menemukan gadis lain selain diri ku?" tanya aku sambil berusaha memalingkan wajah aku,namun Vino menahan nya agar aku tetap memandangi wajah dia.


"Tidak ada gadis lain selain kamu Aqila,kamu itu segalah nya" ucap Vino sambil membelai rambutku.


Aku tidak percaya dengan ucapan Vino,aku selalu berpikir jika suatu saat Vino menemukan orang lain dia pasti akan melupakan aku begitu saja,dulu waktu kecil dia juga pernah seperti ini kepada aku.


Mendengar ucapan Vino aku hanya diam,aku juga berharap semoga saja Vino selalu seperti ini kepada aku.


"Aqila" ucap Vino dengan lembut,aku tidak menyahut,aku cuma diam saja.


"Aqilaaa..." ucap nya lagi sambil memainkan jari-jarinya di bibirku,aku sedikit terkejut dengan tingkah Vino.


"Hmm.." aku menyakut sambil berusaha memengang tangan Vino agar tidak menyentuh bibir aku lagi.


"Kenapa kamu menghentikan tanganku? aku hanya ingin merasakan bibir mu saja" ucap Vino santai.


"Kenapa otak kamu mesum sekali?"


"Jika ada yang melihat kita bagaimna?" tanya Aku lagi.


"Aku tidak mesum," protes Vino dia masih setia memainkan jemarinya.


"Tidak akan ada orang yang melihat kita di sini,ini sudah malam dan laigian kita juga jauh dari rumah" ucap Vino,kini dia semakin mendekat ke arah aku.


"Tapi Vin" ucap aku,belum lagi ucapan aku sampai Vino malah melakukan sesuatu yang tidak aku sangka.


Dengan cepat aku menghentikan apa yang telah Vino lakukan,lalu aku cepat-cepat bangun dari tidur dan lansung berdiri.


"Maaf Vin,aku bukan gadis seperti apa yang ada pikirkan kamu," ucap aku lalu pergi meninggalkan Vino.


"Apa aku salah,aku hanya mengingikan bibirmu saja?" tanya Vino sambil bangkit dan berlari mengikutiku dari arah belakang.


"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa Vin,kita cuma sebatas teman bukan?"


"Bukan kah itu yang pernah kamu ucapkan kepadaku?" ucap aku setelah menghentikan langkah ku kemudian melihat ke arah Vino.


Entah kenapa rasanya hati aku sangat sakit setelah mengingat ucapan Vino yang dulu,kini mata ku mulai berkaca-kaca namun aku berusaha menahannya.


"Jadi sekarang kamu mau apa?" tanya Vino dengan suara sedikit meninggi.


"Kamu mau hubungan kita seperti apa Aqila?" tanya Vino lagi,kini dia mulai sedikit kesal kepada aku.


"Aku sudah melakukan semua yang kamu ingin kan,aku tidak memintak lebih,kenapa kau menolak nya?" ucap Vino lagi,mendengar ucapan Vino aku sudah tidak bisa menahan tangis aku lagi.


"Jadi kau menginginkan balasan atas apa yang telah kau lakukan kepada ku?" tanya Aku sambil menangis.


"Jika kau hanya membutuhkan itu,mending kau tidak usah membantu aku,biarkan saja aku mati sendirian" bentak Aku kemudian aku berlari menuju kamar,aku mengunci pintu kamar agar Vino tidak bisa masuk.


Aku tidak menyangka kalau Vino malah seperti ini kepada aku,kata-kata Vino yang singkat namun sangat menyakitkan untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2