
Adelia, dan Rangga mengunjungi makam Aradea. Setelah, mengurus Gaffi, dan pergi untuk terapi induksi laktasi. Adelia, meminta Rangga untuk pergi ke makam saudari kembarnya. Rangga, dengan senang hati mengantarnya. Adelia, menaburkan bunga mawar kesukaan Aradea. Dia, berdoa bersama suamiku tersebut. Meminta maaf, pada saudari kembarnya. Karena, telah menjadi istri dari Rangga, mantan suami Aradea.
" Ara, maafkanlah aku. Bukan mauku menikah dengan suamimu. Mas Rangga, sendirilah yang mengejarku. Aku, hanya kasihan pada Gaffi, atau Arga anakmu ! " batin Adelia.
Rangga, menatap wajah sang istri yang kini dipenuhi dengan air mata. Pria itu, mengusap lembut air mata yang hendak jatuh dari pelupuk mata sang istri. Lalu, dia menenangkan istrinya.
" Sudahlah, sayang aku tahu kamu pasti sedang menyalahkan dirimu sendiri bukan ? "
Adelia, menganggukan kepalanya. Entah mengapa, semenjak menikah dia gampang sekali untuk menangis. Padahal, sebelum menikah dia orang yang cuek. Hanya ketika, berhadapan dengan Devan saja dia menangis. Mungkinkah, ini adalah sebuah perasaan cinta Adelia, untuk Rangga ? Tidak, yang jelas hatinya belum bisa berpaling dari Devan. Dan, yang membuat Adelia menangis, tidak lain adalah rasa bersalahnya terhadap adiknya sendiri Aradea.
" Kita pulang yuk, Gaffi pasti menunggu kita. Cuti kita masih ada satu Minggu lagi sayang. Jadi, sangat disayangkan kalau cuma untuk menangis ! "
" Mas Rangga, bisa saja ! "
" Nah gitu dong, istriku cantik banget kalau sedang tersenyum ! "
Adelia, mencubit dada bidang suaminya. Membuat Rangga, kegelian.
" Dih, kamu mah gitu dipuji cantik tuh enggak terima aneh ! "
" Udah Mas, pulang yuk ! "
" Iya sayang, ayok ! "
Rangga, menggandeng lengan sang istri. Keduanya, nampak begitu serasi ketika berjalan bersama.
" Sayang, liburan yuk. Bulan madu gitu, kamu mau enggak ? "
" Boleh Mas , aku mau supaya relaks ! "
" Oke, kalau begitu kita siap-siap ya ! "
" Terimakasih Mas ! "
" Sama-sama sayang! "
Septi, benar-benar sendiri saat ini Suami, dan anaknya tidak ada yang mau diajak untuk diskusi. Sakit hati rasanya, diabaikan oleh orang yang sangat kita cintai. Adnan, dia memilih tinggal di apartemen miliknya bersama sang istri. Sedangkan, suaminya sedari kemarin tidak mau berbicara dengannya .
" Mas, kenapa kamu tidak mau berbicara denganku? Aku, istrimu loh ! "
" Aku kesal denganmu, mengapa kau begitu egois Septi? Aku, sudah katakan padamu, kalau Adelia anak kita. Dan, seharusnya dia juga mendapatkan kasih sayang darimu. Untungnya Adelia pemaaf, aku yang sudah mengabaikan dia bertahun-tahun dimaafkan juga olehnya. Coba kau bayangkan, jika posisimu dan dia ditukar bagaimana? Apakah kau yakin, bahwa kau tidak akan membenci kedua orang tuamu? "
Firdaus, melangkahkan kakinya menuju parkiran, dia segera menaiki mobil. Tanpa ciuman singkat untuk sang istri, ataupun sekedar pamit. Dia, sungguh, tidak ingin melihat wajah istrinya dulu. Sementara itu, Septi bergeming dia tidak tahu, harus bagaimana lagi. Suaminya, anaknya kini mengabaikan dirinya. Sementara itu, keluarga Melissa juga, sudah membatalkan pernikahan dengan Adnan. Dan, sahabatnya itu benar-benar kecewa padanya, karena telah menyakiti hati putri tunggalnya.
Sementara itu, Melissa dan putra Devan begitu akrab. Vino, menganggap Melissa itu ibunya. Karena, style mereka begitu sama .
" Mama, nanti main lagi ya ? "
__ADS_1
" Baiklah Vino, Mas Devan terimakasih ya sudah menghiburku selama beberapa hari ini! "
Devan, mengangguk sembari mengulas senyumnya.
" Sama-sama Melissa, kita sama patah hati karena cinta! "
" Aku pulang dulu, besok aku main lagi kesini. Kamu jangan memanggil Baby sitter. Biar, aku yang menjaga Vino, selama kamu bekerja. Tapi, untuk makan aku beli dari luar boleh tidak ? Karena, aku belum bisa memasak ! "
" B...benarkah ? "
Devan, menatap Melissa tak percaya. Karena, Melissa menawarkan diri untuk mengasuh anaknya. Padahal, dia tidak memintanya. Juga, dia baru tahu kalau Melissa adalah anak tunggal dari pengusaha makanan ringan. Bambang Susantono, dan Ibu Maria Sendangsono.
" Aku sangat menyukai anak-anak. Jadi, biarkanlah aku menjaga anakmu ! "
" Baiklah, kalau itu maumu ! "
" Terimakasih Mas ! "
" Sama-sama! "
Rangga, dan Adelia bersiap-siap untuk pergi liburan ke Bandung. Mereka, ingin menikmati beberapa tempat wisata di sana.
" Mamma ! "
" Sebentar ya sayang, Mama lagi beres-beres dulu. Kita bertiga kan mau liburan ! "
Rangga, menggendong anaknya
" Mamaaa Hwaaa, Mama ! "
" Ya udah ayok sama Mama ya. Sayang, biar Mas yang siapin barang-barangnya! "
Rangga, menyerahkan Gaffi pada Adelia .
" Kalau saja ASI ku keluar cepat, aku mau menyusui Gaffi. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri Mas ! "
" Sabar sayang, aku tahu, kamu memang pecinta anak kecil. Itulah, yang membuatku bertekad untuk mengejarmu ! "
" Aku merasa istimewa kalau begitu. Terimakasih, Mas Rangga ! "
Rangga, mengulas senyumnya.
" Sama-sama sayang! "
" Ya ampun, ternyata, dari tadi rewel tuh cuma mau tidur, Masyaallah gemes banget sih Nak! "
Adelia, mencubit pipi Gaffi gemas.
__ADS_1
" Mas, aku tidurin dia dulu ya! "
Adelia, mencium kening putra sambungnya tersebut. Sementara itu, Rangga, juga sudah selesai merapikan bawaan mereka .
" Iya sayang! "
Adelia, segera, membaringkan tubuh Gaffi. Lalu, diapun ikut berbaring di ranjang. Dia, menepuk-nepuk bokong anak itu guna untuk membuatnya tertidur.
" Tidurlah sayang, Mama disini ! "
Gaffi, mulai memejamkan matanya. Setelah Gaffi terlelap, Adelia membacakan Ayat kursi dan mengusapnya pada seluruh tubuh putra sambungnya tersebut. Membuat, Rangga sang suami menatapnya heran.
" Apa yang sedang kamu lakukan, sayang ? "
" Aku sedang membacakan Ayat kursi, supaya dia dilindungi oleh Allah Ta'ala. Karena, Gaffi kan belum bisa membaca Al-Qur'an. Jadi, sebagai orang tua, ya walaupun aku ibu sambungnya. Harus, membacakan Ayat kursi lalu, usap ke seluruh tubuhnya! "
" Masyaallah, Sayang. Jadi makin cinta deh sama kamu! "
" Berlebihan sekali ! "
" Hei, aku sungguh-sungguh Adel. Cintaku padamu ini, tulus dan Allah Ta'ala sudah membuat kita menjadi suami istri. Jadi, kamu harusnya bangga dong, dicintai olehku! "
Adelia, tertawa renyah. Sementara itu, Rangga yang gemas memeluk tubuh sang istri dari belakang.
" Mas benar-benar beruntung memiliki kamu ! "
" Aduh, berhenti menggombal Mas. Kalau mau tidur, tidurlah ! "
" Dinginnya istriku, seperti es dalam kulkas! "
" Masa bodoh, sana ih jangan dibelakang Adel. Nanti, Gaffi terbangun ! "
" Mas patah hati karena kamu, benar-benar deh. Padahal punya istri, tapi serasa tidak memiliki istri! "
Rangga, mengerucutkan bibirnya. Sementara itu, Adelia tertawa sembari menutup mulutnya. Dia takut, jika Gaffi, akan terbangun karena perbuatannya itu.
" Maaf ya Mas, fokusku untuk saat ini hanya Gaffi. Untuk Mas, nanti saja ya. Kita pacaran aja dulu, pacaran sesudah menikah itu, kata orang lebih enak dibandingkan ketika sebelum menikah! "
Rangga, mengulas senyumnya
" Baiklah, sayang. Kita tidur siang dulu yuk. Memulihkan tenaga kita, yang lelah dengan kegiatan kita pada pagi ini ! "
" Aku baru tahu, Mas Rangga cerewet seperti ini! "
" Asal kamu tahu, aku cerewet hanya padamu loh ! "
" Terimakasih! "
__ADS_1
Bersambung...