
Selama 1 Minggu ini, Rangga Adelia, dan Gaffi atau Arga. Mereka berkeliling Bandung, mulai dari Kawah Putih, Kampung Cai Ranca Upas, Lembang Park & Zoo, dan The Great Asia Afrika. Dan, hari ini keduanya akan kembali ke Ibukota.
" Alhamdulillah, sampai juga kita di rumah ! "
" Alhamdulillah! "
" Jajajajaja akkkkh! "
Adelia, tersenyum menatap wajah ceria Gaffi yang berada dalam gendongannya.
" Kamu senang sayang? "
" Alhamdulillah Mas, aku senang ! "
Walaupun begitu, keduanya masih belum melakukan hubungan intim. Karena, memang fokus liburan, dan juga menjaga Gaffi. Akan tetapi, sesekali Rangga dan Adelia berciuman hanya sekedar mengakrabkan diri saja.
" Sayang, Kalau sudah shalat dzuhur. Kamu istirahat aja, biar aku yang jaga Gaffi! "
" Mas Rangga juga capek kan, sebaiknya kita tidurkan Gaffi dulu. Supaya, kita berdua bisa istirahat! "
" Masyaallah, kamu begitu peduli padaku. Terimakasih ya, sayang ! "
" Sama-sama Mas ! "
Septi, merasa kesepian sudah 1 Minggu ini tidak ada yang bisa diajak berbicara. Adnan yang sibuk dengan urusan rumah tangganya, suami yang tidak pernah mau mengalah dan selalu menuntutnya untuk meminta maaf pada Adelia.
" Apa istimewanya anak itu? Bukankah dia pembawa sial ? Bagaimana bisa, Adelia mempengaruhi pikiran Mas Daus dan juga Adnan. Ditambah, menantuku yang sangat berharga, Rangga justru menikahi gadis sial itu. Tidakkah dia ingat akan anakku Aradea, yang sangat mencintainya ? Aku, harus memberikan dia pelajaran ! " batin Septi.
Septi, mencari tahu tentang rumah baru Adelia. Setelah dapat, dia, dengan segera meminta supir pribadinya, Sapto untuk mengantarnya ke rumah Adelia.
Melissa, asyik bermain dengan anak dari Devan. Vino, begitu akrab dengannya, karena Melissa memiliki hati yang tulus. Dia, sangat bahagia bisa bertemu dengan Melissa. Sebenarnya, dia tahu jikalau Melissa bukanlah ibu kandungnya. Hanya saja, dia sangat menginginkan keluarga yang lengkap, dan bahagia. Bersama dengan Alina, dia tidak bahagia karena ibu kandungnya itu, kerap kali menyiksanya. Terkadang, dia akan dicubit hingga membiru di bagian perutnya jika dia rewel. Hanya saja, namanya juga anak kecil, dia masih belum bisa memberitahu Sang Ayah tentang perbuatan ibu kandungnya tersebut.
Dan, saat itu untuk pertama kalinya, dia bertemu dengan seorang wanita cantik. Dia, melihat ketulusan hati wanita cantik tersebut, dan dia langsung memanggilnya Mama. Karena, memang dia sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Sungguh, kesehatan jiwanya tidak sedang baik-baik saja saat itu. Dan beruntung, Melissa kini datang dengan sendirinya ke dalam kehidupannya bersama sang Ayah.
__ADS_1
" Semoga Papa dan Tante baik, bisa bersama Aamiin Ya Allah! " batin Vino.
" Vino, ayo makan lagi. Belum habis, makanannya, kamu kurus banget tahu . Tan... Mama mau kamu, makan yang banyak. Supaya, jadi anak yang pintar dan sehat, oke ? "
Vino, seolah paham dan menganggukkan kepalanya.
" Oke Mama ! "
Ya, Melissa mau dipanggil Mama. Jiwa keibuannya muncul, dan dia benar-benar berharap memiliki anak bersama Adnan dulu. Kini, semuanya tinggal kenangan. Dia, hanya fokus pada Vino, menjadi ibu untuk Vino. Karena dia sangat menyayangi anak kecil, yang baru dikenalnya selama 1 Minggu ini. Perasaan ini murni, dia tidak berharap apapun pada Devan. Apalagi, Devan bercerita padanya, tentang pernikahannya yang gagal dengan seorang anak konglomerat bernama Alina Putri Raharjo, dari keluarga Diningrat. Yang terkenal, dengan bisnis Showroom mobilnya.
" Pintarnya Vino, udah habis makannya, sekarang kita pulang yuk! "
Melissa , dan Vino memang makan siang di luar. Karena, Melissa tidak bisa memasak. Maklum, dia kan anak satu-satunya di keluarganya. Jadi, tidak terbiasa dengan urusan rumah tangga.
Setelah Adelia membuka pintu, dia begitu terkejut saat seseorang menampar pipinya. Rangga yang mendengar suara keributan dari depan dia segera berlari ke arah suara itu berasal. Tetapi, Gaffi menangis sedang mencari ibunya, dia akhirnya menghampiri Gaffi terlebih dahulu. Adelia, meringis kesakitan saat pipinya di tampar, oleh ibu kandungnya sendiri.
" Anak pembawa sial, enak sekali ya jadi kamu. Menikah dengan Rangga, yang seorang pengusaha. Kenapa kamu dulu tidak mati saja Hah? "
Septi membentak anaknya sendiri, Adelia hanya bisa diam. Karena, posisinya memang sebagai anak. Tapi, saat Septi berkata tentang masa lalunya, dia menjadi kesal.
Adelia, mencoba menahan air matanya. Rasanya sakit, diperlakukan tidak adil oleh kedua orang tua. Apalagi, dia adalah ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
" Diam, dan jangan berisik! "
Septi, menampar kedua pipi Adelia, dia juga menjambak rambut Adelia, yang masih dibalut dengan kerudungnya. Dia menarik paksa, jilbab anaknya itu hingga jarum pentul Adelia terjatuh dan kerudungnya terlepas. Adelia, hanya bisa pasrah dia tidak ingin melawan orang tuanya sendiri.
" Silakan Mama siksa Adel, sampai Mama puas dan tidak membenci Adel lagi ! "
Adelia, menahan butiran-butiran bening air matanya agar tidak terjatuh. Matanya mulai mengembun, akan tetapi gadis itu menengadah ke atas agar air matanya tidak terjatuh. Septi terus menyiksa Adelia, hingga pipi gadis itu berdarah. Rangga, segera berlari begitu melihat sang istri tersungkur di lantai sembari memeluk tubuhnya. Saat Septi, hendak menamparnya lagi, Rangga segera berlari melindungi istrinya ke depan. Dan, dialah yang akhirnya menjadi sasaran tamparan ibu mertuanya tersebut.
" Cukup Ma, tidakkah kau lihat istriku sudah tidak berdaya. Ada ya, orang tua kandung yang jahat seperti anda ? "
" Hwaaaa Maamamaam ! "
__ADS_1
Gaffi atau Arga, dia menangis saat melihat kondisi wajah Adelia yang berada dibawahnya. Wanita yang sudah dianggapnya ibu tersebut, nampak begitu acak-acakan.
" Kau lihat, bahkan cucumu sangat menyayangi anakmu. Dan aku mencintainya Ma, tolong lupakanlah Aradea. Dia sudah tiada, apa kurangnya Adelia sehingga kau sangat membencinya Ma ? "
" Rangga, tidakkah kau berpikir. Lihat baik-baik, dia tidak secantik Aradea, bahkan dia tidak bisa menjaga tubuhnya agar tetap ramping. Dia banyak lemak, kau buta ya tidak bisa membedakan mana yang cantik mana yang biasa saja ! "
" Astaghfirullah, anda benar-benar ya. Maaf, Ma kali ini aku tidak dapat menghormati anda lagi. Sekarang, anda pergilah dari sini sebelum aku menghubungi polisi atas kekerasan terhadap istriku! "
" Kau ....
" Apa? Pergi dari rumahku, atau aku akan laporkan Mama ke pihak berwajib? "
Kesabaran Rangga benar-benar habis, dia kesal dengan sikap sang mertua . Sungguh, ibu yang kejam, bagaimana bisa dia melakukan hal keji seperti itu pada anaknya sendiri.
Setelah mertuanya pergi , Rangga mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri. Adelia memeluk tubuh suaminya, sembari menangis meluapkan segala rasa sesak di dadanya.
" Menangislah, jadikan aku sebagai sandaranmu. Kamu istriku, tidak akan aku biarkan orang lain menyakitimu! "
Sementara itu, Gaffi kini memeluk tubuh ibu sambungnya. Sembari menangis, dia sangat sedih melihat Adelia dipenuhi oleh air mata tersebut.
" Mama, Hwaaaa ! "
" Anak baik, Mama enggak apa-apa kok ! "
Adelia, mencium pipi putra sambungnya tersebut.
" Mas, biarkan aku menggendongnya! "
" Tapi kamu sedang..."
" Enggak apa-apa kok, tolong ya ! "
" Baiklah, kalau begitu Mas akan mengambil kotak p3k dulu ya. Kamu, diam disini ! "
__ADS_1
Adelia menganggukan kepalanya.
Bersambung