
Kebahagiaan, yang aku rasakan adalah saat ini aku bersama istriku, Adelia . Kami, sudah melakukan hubungan suami-istri pada umumnya. Bahagia rasanya, memiliki istri yang shalihah seperti Adelia . Aku, yang biasa-biasa ini, harus lebih meningkatkan kualitas diri dibandingkan sebelumnya. Agar, bisa menjadi pemimpin yang baik untuk dia dan anak-anak kami nantinya. Wanita itu, sedang memandangi wajahku dia, membalikkan tubuhnya tampak begitu malu. Melihat keadaan kami, aku yang tidak mengenakan pakaian atas, sementara itu dia hanya mengenakan lingerie seksi. Karena, setelah mandi bersama cuaca begitu panas. Sehingga, kami harus berpenampilan seperti ini.
Aku, menyadari, selama ini aku tidak benar-benar mencintai Aradea. Mungkin, hanya sebatas menyayangi dia sebagai adik saja. Dulu, Aradea yang selalu mengejarku kemanapun aku pergi, bahkan dia rela meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan di Amerika, seperti yang aku lakukan. Sehingga, aku tidak tega, jika harus menolak perjodohan itu. Berbeda sekali dengan Adelia, dialah yang aku kejar, bahkan aku tidak segan-segan melamarnya, secara paksa. Padahal, saat itu dia tidak ingin bertemu denganku.
Kini, usia pernikahan kami sudah 1 bulan hampir menuju 2 bulan. Dia, akhirnya mau menyerahkan kesuciannya, hanya untukku. Bangga, itulah yang aku rasakan saat ini. Bagaimana tidak, dia yang tidak pernah mau serius denganku. Akhirnya, memberikan mahkotanya padaku. Tentu saja, itu merupakan prestasi yang membanggakan untukku, yang memang sangat menyayanginya.
" Mas, lapar ! " ujarnya.
" Kalau begitu, kamu tunggu sebentar. Mas, mau masakin buat kamu ! "
" Terimakasih, Mas ! "
" Sama-sama sayang! "
Ku kecup keningnya, dia terlihat tersenyum malu. Istriku ini, benar-benar menggemaskan. Gaffi, Papa pinjam Mama Adelia dulu ya, Papa enggak suka direcoki sama kamu. Enggak sih becanda kok, hanya saja Papa ingin agak lama bersama Mama Adelia. Kamu, dirumah Kakek dan Nenek dulu ya. Agaknya, aku seperti orang gila saja, aku tidak ingin Adelia kemesraan kami berakhir begitu saja, karena, kami baru saja mengakrabkan diri. Jadi, aku berharap Gaffi, tidak menggangu kami dulu .
Tiba-tiba saja, ponselku berbunyi. Ternyata panggilan masuk dari Ibuku. Aku, dengan terpaksa mengangkat panggilan masuk tersebut . Lalu, setelah aku mengangkat panggilan itu, ternyata Mami memintaku untuk menjemput Gaffi. Tapi, aku mengatakan jika aku dan Adelia baru berhubungan suami istri . Makanya, aku meminta beliau, untuk menjaga Gaffi terlebih dahulu. Adelia juga sudah menyiapkan ASI-nya ke dalam botol. Mengapa juga, harus meminta aku untuk menjemputnya.
__ADS_1
" Baiklah, Mami beri kamu waktu 2 Jam. Pukul 17.00 kamu sudah menjemput putramu. Kalau tidak, Mami akan bilang ke Adelia . Kalau, kamu bukanlah lelaki yang baik! "
" Mi, yang benar saja. Aku anakmu loh, mengapa anda mengancam ku seperti itu. Anda ini, ibuku bukan sih ? "
" Masa bodoh, Mami tidak mau tahu ! "
Terdengar suara di seberang sana, Mami mematikan ponselnya. Aku, hanya menghela napas kasar, baiklah untuk saat ini aku fokus dulu untuk istriku, Adelia . Setelah itu, aku segera pergi ke dapur, memasak nasi goreng untuk istriku. Begitu jadi, aku segera menaruh nasi gorengnya di atas piring. Setelah itu, aku segera membawanya, ke kamarku bersama istriku di lantai atas. Ku ketuk pintu kamar, dan Adelia tersenyum menyambut kedatanganku. Dia, berterima kasih padamu karena sudah memasakkan makanan untuknya.
" Cobalah, masakan Mas enak tidak ?" tanyaku.
Adelia, tersenyum, kemudian dia mengangkat kedua tangan berdoa sebelum makan. Lalu, dia mengangkat jempolnya, matanya sedikit menyipit dan dia berkata jika, nasi goreng buatanku enak. Dia, kemudian menyuapiku, akhirnya kami saling menyuapi. Begitu selesai, Adelia membawa piring itu untuk dicuci. Akan tetapi, aku mencegahnya, karena aku merasa tidak tega istriku ini masih merasa kesakitan, akibat ulahku beberapa waktu lalu.
Baiklah, lupakan tentang Aradea, aku harus fokus pada istriku, Adelia . Karena, dia adalah berlian yang sesungguhnya. Dan, betapa bodohnya, Mama sudah membuang Adelia . Aku, benar-benar benci pada wanita paruh baya itu. Bagaimana bisa, dia begitu kejam pada istriku . Hingga menyuruhku untuk menceraikan Adelia. Sungguh, dia benar-benar gila, aku harap dia bertaubat karena Allah Ta'ala, masih memberikan beliau kesempatan.
" Sayang, 2 jam lagi Mas akan jemput Gaffi. Mami, tidak mengizinkan kita berlama-lama bermesraan. Padahal, aku masih ingin bersama dengan kamu ! " ujarku sembari mempoutkan bibir.
Adelia, mengulas tentang, dia mengusap lembut wajahku. Aku, memegangi tangan halusnya itu. Dia, menggapai jari-jemariku. Diciuminya tanganku, dia berkata jika aku sudah seharusnya menuruti keinginan ibu. Pasalnya, anak laki-laki sampai kapanpun milik ibunya. Jadi, walaupun sudah beristri, dia wajib menuruti keinginan ibunya. Aku, benar-benar terharu mendengar kata demi kata yang terucap dari bibirnya. Masyaallah, tidak hanya wajahnya yang cantik, melainkan hatinya juga. Aku, sungguh beruntung, intinya aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia istriku, dan aku harus menjaganya. Aku, akan berusaha membuatnya bahagia. Dan, aku, akan berbicara dengan Mama, agar beliau mau menerima Adelia kembali. Bagaimanapun juga, Adelia adalah anaknya.
__ADS_1
" Kalau begitu, Mas siap-siap saja. Habis Ashar, jemput Gaffi. Tapi, aku tidak bisa menemani kamu Mas . Rasanya, masih sakit di bagian bawahku ini. Mas tidak masalah kan ? "
Aku, menggelengkan kepala.
" Tidak sayang, kamu istirahat saja dulu. Gaffi, biar Mas yang atasi !"
" Terimakasih Mas! "
" Sama-sama !"
Selang satu jam, kami shalat ashar berjamaah. Aku, dan Adelia memanjatkan doa kepada Allah Ta'ala. Kemudian, setelah shalat Adelia seperti biasanya, dia akan membaca Al-Qur'an. Sungguh, aku sangat bersyukur, dia istriku penyejuk hatiku. Adelia Belina Firdaus, gadis yang sudah aku ambil kesuciannya itu, benar-benar memanjakan mataku. Selain cantik, ibadahnya juga bagus. Aku, tidak salah dalam memilih istri.
" Masyaallah, kenapa sih kamu rajin banget baca Al-Qur'an? "
" Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, berkata jika Firman Allah adalah obat. Dan, itu memang benar, akupun membuktikannya. Semenjak, belajar agama dari Ummi dan Abi, perlahan rasa benci aku pada Ibu dan Ayah kandungku memudar. Walaupun mereka sudah mendzalimi aku, tapi rasa benci itu sudah tidak ada. Ya walaupun, masih ada sedikit rasa kesal pada Mama dan Papa. Tapi, tidak terlalu, karena Allah Ta'ala saja Maha Pengampun, masa iya sih aku yang manusia biasa ini tidak mau memaafkan?"
Aku tersenyum memandang wajahnya, ingin rasanya aku memeluknya. Tapi, dia sedang memakai mukenah, apalagi dia masih melanjutkan kegiatannya mengaji .
__ADS_1
Bersambung