
Sudah satu bulan ini , Septi tidak dikunjungi oleh Adelia. Dia akan mengira, jika Adelia ingin meminta maaf padanya dengan cara merawatnya yang sedang sakit ini. Tetapi, dugaannya salah, Adelia justru mengabaikannya. Mungkin saja, itu adalah pengaruh dari suaminya, Rangga. Yang sangat membencinya.
" Anak itu, kemana ? Tumben sekali dia tidak ingin menemuiku ?"
" Bagaimana bisa dia menemuimu? Kalau kamu saja tidak mau, bertemu dengannya? "
" Mas, bisa tidak kamu jangan memarahiku? Aku ini sedang sakit loh! "
" Sudahlah, aku lelah berdebat dengan kamu Septi ! "
Septi, merasa kesepian. Seharusnya, dia tidak seperti ini. Tapi, entah mengapa ketika Adelia tidak datang mengunjunginya lagi, dia benar-benar merasa ada yang hilang.
" Mengapa aku merasa , ada yang hilang ketika Adelia tidak mengunjungi aku kembali? " batin Septi.
Sementara itu, Adelia sedang mengajari Gaffi Huruf Hijaiyah.
" Ini yang seperti bebek, kemudian dibawahnya ada dua titik disebut Ya'. Coba Gaffi, katakan Ya' ! "
" Ya', hehehehe! "
" Coba katakan lagi ! "
" Ya'!"
" Masyaallah, pintarnya anak Papa Rangga! "
" Yey, Fi, nter ! "
" Iya, Gaffi pintar Masyaallah ! "
Gaffi tertawa riang, dia kemudian berdiri membuka sarung dan pecinya . Anak itu, melompat kegirangan, sembari bertepuk tangan. Adelia, yang melihat hal itupun dibuatnya bahagia, wanita yang sudah menganggap Gaffi seperti anaknya sendiri itupun menyunggingkan senyumnya. Dia, bahagia bisa mengajari Gaffi mengenal huruf Hijaiyah.
" Masyaallah, aku bahagia sekali. Biasa mengajari anak ini mengaji ! " batin Adelia .
Gaffi, memeluk tubuh ibu sambungnya. Seperti biasa, anak itu meminta minum susu pada Adelia .
" Ma, Nen ! "
" Iya, sebentar ya sayang! "
Gaffi, tertawa riang, dia melompat-lompat tidak sabar menunggu ibunya mengeluarkan benda favoritnya.
" Sini Nak, Nen biar jadi anak shaleh dan pintar ya ! "
Setelahnya, dia menyusu pada ibu sambungnya.
" Sudah kenyang? "
" Nyang Mama ! " ( Kenyang Mama ! )
" Alhamdulillah ! "
Adelia, membenarkan kancing bajunya kembali. Rangga, baru saja datang dia mengucapkan salam.
" Papa ! "
Gaffi, berlari menghampiri ayahnya, sementara itu Adelia masih dengan aktivitasnya membenarkan kancing bajunya.
__ADS_1
" Assalamualaikum Pa, maaf Mama tadi habis mengancingkan baju ! "
" Wa'alaikumusallam, iya Papa tahu. Kamu, baru menyusui Gaffi kan ? "
Adelia, menganggukan kepalanya.
" Terimakasih ya, Sayang! "
" Sama-sama Mas !"
Saat, Gaffi tidak mendengar percakapan mereka. Adelia dan Rangga, memanggil nama masing-masing dengan panggilan kesayangan mereka. Mas, dan Sayang tentunya.
" Mas, lapar atau haus tidak ? "
" Mas haus, tapi enggak perlu kamu ambilkan minum. Karena, Mas nanti minta bibi saja. Mas, enggak mau istri Mas kecapekan! "
Adelia, menggeleng.
" Tidak kok, aku tidak capek sama sekali. Mas tunggu disini ya, tolong jagain Gaffi ! "
" Iya, terimakasih ya sayang. Maaf merepotkan kamu ! "
" Tidak kok, sebentar ya! "
Adelia, segera turun ke lantai bawah, menuju dapur. Dia, menyiapkan air putih dan segelas teh madu untuk sang suami. Kemudian, istri Rangga tersebut, segera meminta bantuan pada maid untuk membukakan pintu lift.
" Bu, biar saya saja yang bawa! "
Adelia, menggeleng
" Tidak, saya saja ya Bi. Terimakasih! "
Setelah itu, Adelia segera menaiki lift dan naik ke atas.
Melissa dan Devan segera menikah secara sederhana yang penting keduanya sah menjadi suami istri dimata hukum dan agama. Kejadian Minggu kemarin, membuat benar-benar takut akan kehilangan calon istrinya tersebut. Polisi, masih mengusut tuntas kasus pembunuhan berencana terhadap calon istrinya tersebut. Kini, keduanya tinggal di sebuah mansion yang ketat akan penjagaannya. Yang jelas, dekat dengan tempat kerja Devan.
" Sayang, untuk malam pertama kita, bagaimana apakah kamu sudah siap ? "
" Lalu, Vino bagaimana? "
" Vino titipkan dulu, pada Mama dan Papaku. Kita, berduaan dulu bolehkan ?"
" Baiklah, nanti aku akan membujuknya! "
Setelah itu, pasangan suami-istri tersebut. Mandi, dan segera membujuk putra mereka.
Alina, semakin hari semakin menggila. Dia, menghancurkan barang-barang yang ada dirumah. Kedua orang tuanya, bahkan sudah meminta Devan untuk kembali padanya. Sayang sekali, Devan tidak mau menerima kehadiran Alina lagi. Wanita cantik itu, kini semakin depresi, dia mengurung dirinya di kamar.
" Mengapa dia tidak mati, mengapa harus sepupunya Arrrrrrggggggh! " batinnya.
" Aku benci semua ini ! "
Alina, segera bangkit dari tidurnya setelah puas melihat kamarnya berantakan wanita itu segera keluar dari rumahnya.
" Baiklah, Devan tidak mau kembali padaku lagi. Berarti aku sudah bebas Hahaha ! "
" Nona , anda mau kemana? "
__ADS_1
" Tidak ada seorangpun yang bisa melarang ku. Sekarang, bekerjalah dengan baik. Aku pergi dulu! "
" Tapi, ini sudah larut malam. Nona, mau kemana, ibu bilang pada saya untuk menjaga anda ! "
" Pak Satpam, diam dan bekerja saja dengan baik. Aku, akan bersenang-senang! "
Alina, segera menaiki mobilnya dan berlalu pergi. Tanpa, mempedulikan teriakan penjaga rumahnya, dia mempercepat laju mobilnya.
" Devan , kamu benar-benar tidak ingin bersamaku lagi? Baiklah, aku sudah bebas sekarang! "
Dia, menghentikan laju mobilnya di sebuah club' malam. Setelah itu, dia menyerahkan kartunya, dan segera memasuki toilet agar dia bisa berganti pakaian dan berdandan cantik. Setelah berdandan cantik, dan seksi Alina segera menghilangkan rasa sedihnya dengan menari mengikuti irama musik. Sampai ada yang menyentuh pinggang rampingnya. Dia, melirik sekilas, lalu tersenyum menggoda. Alina, kemudian merangkul leher pria tersebut, hidung keduanya begitu dekat .
" Hai cantik! "
Alina tersenyum, diapun berbisik di telinga sang pria.
" Hai! "
" Apa kau mau minum denganku?,"
" Boleh, mari kita minum! "
Setelah itu, keduanya memesan red wine. Mereka meminum minuman keras tersebut, Alina yang tidak terlalu kuat meminum minuman tersebut akhirnya mabuk. Pria disampingnya tersenyum miring, dia kemudian menggendong tubuh Alina, dan segera pergi dari tempat itu.
" Kena kau cantik! " batin pria itu.
Pria tampan, berwajah sangar itu akhirnya merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia, melepaskan pakaian Alina, dan juga melepaskan pakaiannya, dan mulai mencumbui wanita cantik di depannya ini.
Beberapa Jam Kemudian
Alina, berteriak kencang, saat mengetahui dirinya sudah tanpa busana dan memeluk tubuh pria tampan berwajah bule .
" Morning honey! "
" Jangan memanggilku seperti itu, kita tidak sedekat itu ya ! "
" Hey, kamu melupakan sesuatu sayang. Bagaimana bisa, kamu melupakan percintaan kita semalam ? "
" Lalu, apa yang kau inginkan ? Uang, atau apapun aku bisa memberikannya padamu !"
Bukannya marah, pria itu justru tertawa terbahak-bahak.
" Aku tidak butuh semua itu, yang aku mau kamu menjadi pasanganku! "
" Dalam mimpi!"
" Ayolah, jangan kasar-kasar. Kamu tahu, aku sudah berumur, baiklah perkenalkan namaku Daffa, aku berusia 40 tahun ! "
" Apa ? Kau pasti bercanda!"
" Tidak, aku serius. Makanya, aku ingin kau menjadi istriku !"
" Baiklah, asal kau tahu aku janda anak satu. Mantan suamiku, membawa anakku, dan aku sendiri sekarang. Perkenalkan, aku Alina umurku 27 tahun! "
" Kau dan aku sama, aku ditinggalkan oleh istriku. Dia, lebih memilih selingkuhannya, dan sekarang dia sudah memiliki anak dari selingkuhannya tersebut. Sementara itu, jika bercinta denganku dia tidak pernah lupa menggunakan pil kontrasepsi!"
Alina, menganga lebar dia begitu terkejut saat mendengar perkataan pria itu.
__ADS_1
Bersambung