Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea

Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea
Bagian 37


__ADS_3

Septi, merasa heran dengan Adelia. Anak itu tidak lagi datang menghampirinya, ada sedikit rasa sepi dalam dirinya. Selama dia sakit 1 Bulan lalu, Adelia setiap 2 hari sekali selalu datang untuk merawatnya. Kini, dia berada di rumah milik menantunya, alias Rangga. Tapi, Adelia justru mengabaikannya. Orang yang berada dalam pikirannya, ternyata muncul juga. Membuat Septi, berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak.


" Selama 1 Minggu ini, kamu kemana saja? Padahal, Mama ada di rumahmu dan suamimu ! ."


" Maaf, tapi sepertinya percuma saja, aku merawat Anda. Mama, selalu saja membandingkan aku dengan Aradea. Mama, tidak akan berhenti membandingkan aku dengannya. Aku lelah, terus dibanding-bandingkan dengan dia ! "


Septi, menatap nanar wajah sang anak. Dia, kehabisan kata-kata, mencoba untuk meraih tangan putri kandungnya tersebut.


" M... Maaf! "


Adelia, menoleh, dia menatap wajah Ibu kandungnya tersebut.


" Kata maaf dari Mama, apakah ini sebuah kesungguhan? "


Septi, membuang napasnya.


" Mama, tidak tahu Nak ! "


Adelia, tersenyum getir.


" Aku mengerti, karena Mama sudah sangat menyayangi Aradea kan? Jadi, Mama masih meragukan, permintaan maaf Mama. Tapi, bagaimanapun juga aku tetaplah anak kandung anda, Ma! "


Septi, menatap nanar putri kandungnya tersebut. Entah bagaimana caranya, air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia, mengusapnya kasar, membuat Adelia menjadi tidak tega melihat wajah sang Ibu.


" M...Mama minta maaf, kamu jadi menderita karena Mama ! "


" Adel, memaafkan kesalahan Mama. Tapi, apakah Mama sudah memohon ampun kepada Allah Ta'ala? Dengan apa yang Mama lakukan dulu, seperti Mama yang sangat percaya kata peramal itu? Sudahkah Mama bersujud memohon ampun padaNya? Seperti yang Papa lakukan sekarang, beliau sudah bertaubat, Ma !"


Septi, menggeleng


" Mama, belum bisa bersujud pada Tuhan. Mama, banyak sekali dosanya, Mama tidak yakin Tuhan bisa mengampuni dosa-dosa Mama ! "


" Tapi, mau sampai kapan seperti ini terus Ma? Setahu Adel, Tuhan itu maha pengampun lagi maha penyayang. DIA, akan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya walaupun sebanyak buih di lautan! "


" Sebenarnya, Mama tidak tahu caranya beribadah. Shalat saja, Mama tidak tahu, apalagi cara beribadah yang lainnya! "

__ADS_1


Septi, tampak begitu sedih, pandangannya kosong. Adelia memeluk tubuh sang ibu, memberikan sedikit ketenangan . Membuat, Septi terharu, anak yang dulu telah dizolimi olehnya masih mau memaafkan dirinya, yang sudah melakukan banyak kesalahan. Sungguh, Adelia memiliki hati yang bersih dan tidak menyimpan dendam padanya.


" Kamu begitu baik Nak, padahal Mama sudah sangat jahat padamu ! "


Adelia, melepaskan pelukannya. Dia, menatap wajah ibunya, dan menggenggam erat kedua tangannya.


" Ma, Tuhan saja maha Pengampun. Mengapa, aku yang hanya manusia biasa ini tidak bisa, memaafkan kesalahanmu. Meskipun, Mama sudah sangat menyakiti hatiku. Tapi, aku tidak mau menjadi pendendam. Sebab, itu tidak baik untuk hati dan jiwaku. Dan, hanya menjadikanku, menjadi orang jahat ! "


Septi, begitu terharu saat menatap wajah putri yang sangat tidak diinginkan olehnya. Dia, meraih pergelangan tangan Adelia, dan meminta maaf dengan sangat tulus. Dia, juga meminta pada putrinya tersebut, untuk mengajarinya shalat dan mengaji . Seperti, yang dilakukan oleh Adnan, mengajari sang Suami untuk beribadah.


Adelia, setuju akan tetapi dia meminta Septi untuk merestui hubungan antara Adnan dan Istrinya. Zainab, adalah orang yang dulu pernah ditolongnya. Saat itu, dia putus dengan sang kekasih. Lalu, dia hendak bunuh diri untungnya Adelia datang menghampirinya, yang saat itu sedang frustasi. Adelia, memeluk tubuh Zainab, dan menasihatinya. Setelah itu, satu Minggu kemudian dia dan Zainab jadi dekat, dan berteman. Kemudian, Zainab memutuskan untuk mengenakan jilbab seperti Adelia.


Mendengar cerita tentang menantunya, akhirnya Septi sadar dan ingin meminta maaf pada sang menantu . Lagipula, Melissa mantan calon menantunya itu, sudah hidup bahagia dengan mantan kekasih Adelia, yaitu Devan. Lalu, Adelia menghubungi kakak iparnya, dan disana Septi segera meminta maaf pada menantunya tersebut. Septi, meminta setelah anak pertama Adnan dan Zainab lahir. Keduanya, harus melakukan resepsi pernikahan.


Siang berganti malam, saatnya Adelia mengajari ibunya untuk shalat Isya. Tentunya, dia sudah melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Sebelum, pada akhirnya dia memutuskan untuk mengajari ibunya. Dia, juga meminta izin pada sang suami untuk membantunya, menjaga Gaffi. Dan, dengan senang hati, suaminya tersebut mau menjaga putra tercintanya. Dia, memperhatikan sang istri dari luar sembari menggendong Gaffi.


" Pa, Mama ! " ujar Gaffi sembari menunjuk ibunya.


Rangga, tersenyum manis sembari mengusap lembut puncak kepala sang anak.


Gaffi, mengangguk, sembari mengikuti gerakan takbiratul ihram dari neneknya. Hal itu, membuat Rangga, tertawa renyah. Rangga, dengan gemasnya mencium pipi sang anak.


" Beruntungnya aku, bisa menikah dengan Adelia. Sehingga, Gaffi bisa mengenal ibadah wajibnya, sejak dini. Ya Allah, semoga aku tidak tergoda dengan wanita lainnya. Karena, sesungguhnya iblis sangat bangga ketika, sudah menghancurkan rumah tangga manusia! " batin Rangga.


" Mama ! "


" Sayang, sini sama Nenek. Belajar shalatnya udah kok ! " ujar Septi.


Adelia, tersenyum manis, kemudian menyambut kedatangan anak sambungnya tersebut. Dia, merentangkan kedua tangannya, setelah Gaffi memeluknya diapun mengangkat tubuh anaknya tinggi-tinggi kemudian menciuminya.


" Maaf Ma, Gaffi malah memelukku lagi ! "


" Tidak apa-apa sayang, Mama senang kok. Gaffi, memiliki ibu sambung seperti kamu !"


" Walaupun Gaffi bukan anak kandungnya, dia begitu menyayangi putra Aradea, adiknya. Nak, terbuat dari apa hatimu itu? Padahal kami, sudah menyakitimu sejak kecil? " batin Septi.

__ADS_1


Adelia, tersenyum manis ketika ibunya memperhatikan dirinya dan Gaffi. Dia, kemudian duduk di samping ranjang bersama sang ibu.


" Mama, mau memeluk Gaffi? "


" Boleh, sini ! "


Adelia, menyerahkan anak tersebut pada ibunya. Kemudian, Septi menyambutnya dengan baik. Gaffi, bukanlah anak yang rewel, dia mau saja di gendong oleh orang lain selain ayah ibunya. Jadi, dia tidak akan pernah menangis, meskipun orang itu tidak dikenalnya. Selama, orang itu, adalah orang baik dan hatinya lembut.


" Tumben sekali, Gaffi mau digendong oleh Mama? " tanya Septi.


" Mungkin, dia tahu Mama sudah berubah ! " celetuk Rangga.


Septi, melirik sekilas pada sang menantu.


" Aih, kau ini, maaf Mama dulu sudah melampaui batas. Sehingga, kamupun begitu membenci Mama. Karena, ramalan peramal itu, sehingga Mama begitu membanggakan Aradea. Padahal, anak Mama tidak hanya Ara, tapi Adel juga ! "


" Sudahlah Ma, tidak usah anda bahas lagi. Lagipula, itu sudah sangat lama. Kini saatnya, Mama memperbaiki semua kesalahan Mama, dan mulai menjadi ibu yang baik untuk istri, dan Kakak iparku! "


" Aih, ngomong-ngomong, dia dan kau sepantaran loh Rangga ! "


Adelia, tertawa lepas sembari mencium pipi Gaffi. Melihat Ibunya tertawa, membuat Gaffi ikut tertawa. Anak itu, tidak mengerti mengapa ibunya tertawa begitu lepas.


" Jadi, aku harus memanggil Adnan? Kakak ipar atau Adik ipar nih ? "


" Tentu saja Kakak ipar, baiklah Mama capek ketawa terus. Kamu ini, lucu sekali Nak. Terimakasih, sudah menghibur Mama ! "


" Sama-sama, Ma. Rangga juga senang, Mama mau meminta maaf pada istriku, dan membuatnya menjadi bahagia ! "


" Sama-sama, bagaimanapun juga istrimu adalah anak kandung Mama sendiri, dia juga Kakak dari Adelia. Sudah selayaknya, Mama meminta maaf atas semua perbuatan Mama di masa lalu! "


Adelia, tersenyum menatap wajah sang ibu, begitu juga dengan Septi.


" Ini hari baik, yang akan aku kenang. Selama 27 tahun aku hidup, baru kali ini aku merasakan kasih sayang dari Ibu kandungku sendiri. Terimakasih Ya Allah, hamba sangat bersyukur! " batin Adelia .


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2