Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea

Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea
Bagian 24


__ADS_3

Rangga, sedang mengobati luka pada pipi Adelia. Dia, menangis merasa gagal menjadi suami yang baik untuk sang istri. Akibat perbuatan, ibu mertuanya, Adelia mengalami luka yang cukup parah. Pipinya berdarah, dan rambutnya juga rontok akibat perbuatan ibu mertuanya. Istrinya itu, kini mengalami trauma, dia, lebih pendiam dibandingkan sebelumnya.


Adelia, setelah selesai diobati, dia hanya mengucapkan terimakasih dan pergi meninggalkan Rangga seorang diri di kamar ini. Pria itu paham jika sang istri sedang ingin menenangkan diri. Sementara itu, Gaffi, ikut bersama Adelia , dia membawa Gaffi pergi ke kamar yang ada di samping kamarnya .


" Karena wanita tua itu, istriku jadi dingin kembali padaku. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menyesal! " batin Rangga.


Pesan singkat masuk pada ponsel miliknya, yaitu dari Adnan. Sahabatnya itu memberitahukan padanya jika dia sudah menikah. Hanya selisih satu hari dia dan Adelia menikah, bisa dibilang mereka menikah berdekatan. Adnan, meminta Rangga, untuk pergi ke R.G restauran, untuk membicarakan tentang pernikahan dia dan istrinya. Tetapi, Rangga menolak, karena, Adelia sedang sakit. Sehingga, dia tidak bisa hadir makan malam bersama Kakak iparnya tersebut. Dia, segera menyusul istrinya yang berada di kamar sebelah. Dia, mengetuk pintunya, akan tetapi tidak ada jawaban dari Adelia. Yang ada, hanyalah suara isak tangis sang istri.


" Sayang! " panggilnya.


Saat ini, Adelia, tak ingin melihat Rangga. Dia, lebih memilih untuk pergi, menghindari sang suami.


" Gaffi sedang tidur, sebaiknya Mas jaga dia. Tidak usah, mempedulikan aku !"


Sebelum Adelia pergi, Rangga menggenggam erat pergelangan tangannya. Dia, menarik wanita itu dan memeluk tubuhnya.


" Tolong jangan seperti ini, kamu Istriku Del. Katakanlah semuanya padaku, aku enggak mau kita bertengkar karena masalah ini ! "


" Aku, hikss ! "


Adelia, memeluk tubuh suaminya. Rangga, menggendong tubuh sang istri ala bridal style. Mau tidak mau, Adelia mengalungkan lengannya pada leher sang suami. Dirasa Gaffi sudah aman, Rangga membawa sang istri duduk di sofa panjang kamar itu.


" Istriku, kamu wanita yang hebat. Aku sayang padamu, makanya aku memilih kamu untuk menjadi ibu sambung untuk putraku. Bahkan, aku rela mengganti nama Arga menjadi Gaffi. Itu semua, karena hatiku tergerak untuk mendekati kamu, dan memiliki kamu seutuhnya. Kamu jangan khawatir, aku akan memberikan Ibumu pelajaran! "


Adelia, menoleh menatap wajah sang suami yang sedang memangku tubuhnya.


" Terimakasih Mas! " bisik Adelia.


Rangga, merasa merinding ketika sang istri membisikan sesuatu padanya.


" Sayang, laki-laki itu ada titik sensitifnya. Kamu, jangan sembarangan berbisik pada Mas. Tapi, Mas tidak akan menyentuh kamu sebelum kamu siap kok! "


" M... maaf Mas, Adel belum siap! "


" Ya sudah, tidak apa-apa kok! "


" Kalau Adel sembuh, Adel mau melayani Mas ! "

__ADS_1


" Baiklah, sini Mas pijat kepala kamu. Mungkin, akan menghilangkan sedikit rasa pusingnya ! "


" Mas Rangga, mengapa kamu baik sekali padaku? "


" Karena, Mas sangat mencintai kamu! "


" Terimakasih Mas! "


Rangga, membaringkan tubuh sang istri di sofa panjang tersebut. Kemudian, dia memangku kepala Adelia, dan mulai memijat kepala sang istri.


" Aduh, Mas sakit ! "


Adelia, begitu kesakitan saat Rangga memijit kepalanya. Ternyata, disana ada benjolan, terang saja Adelia kesakitan.


" Sayang, lepaskan dulu jilbabmu. Mas kunci pintunya, supaya tidak ada yang melihat kamu ! "


Adelia, menganggukan kepalanya, dia melepaskan jilbabnya. Dan kini rambut lurus panjangnya, sudah terekspos. Rangga, meneguk salivanya. Tapi, dia segera berpikir jernih. Tidak boleh dia menyentuh Adelia, sementara itu sang istri masih trauma. Jadi, ya harus sabar, tidak boleh gegabah. Dengan telaten, Rangga memijat kepala sang istri. Adelia, memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan sang suami pada kepalanya.


" Terimakasih Mas, Adel sudah tidak pusing lagi ! "


" Sama-sama sayang! "


" Untuk kali ini, aku maafkan kamu Ma. Tidak akan aku beri kesempatan lagi, untukmu. Ada ya seorang ibu, membandingkan-bandingkan anaknya. Seharusnya memberikan kasih sayang, malah menganggap anaknya pembawa sial. Seandainya aku bertemu dengan Adelia terlebih dahulu, aku pasti akan jatuh cinta padanya, karena dia sungguh wanita idamanku. Berbeda dengan Ara, aku hanya menganggap dia sebagai adikku, ya walaupun aku memiliki anak bersamanya. Tapi, aku yang memang dasarnya aku tidak menyukai dia, hanya bisa pasrah ketika orang tua kami menjodohkan kami. Kalau saja, dia bukan adiknya Adnan mana bisa aku mengenalnya ? " batin Rangga.


" Baik, tetap awasi dia ya Bara ! "


" Baik Tuan Muda! "


Rangga, memutuskan sambungan teleponnya. Lalu, dia kembali ke kamar dan tidur di samping putranya.


**B**angun tidur, Rangga dan Adelia melaksanakan ibadah wajibnya. Rangga, menjadi imam untuk sang istri. Sementara itu, Gaffi duduk di *baby walker* nya . Sembari, memakan cemilan nya.


" Masyaallah, anak Mama pintar sekali! " ujar Adelia.


Begitu selesai shalat, Adelia berdzikir sejenak . Lalu, berjalan menghampiri putra sambungnya tersebut. Begitupun dengan Rangga, dia melepaskan sarung dan pecinya, dan segera menghampiri keduanya.


" Papappp , Mamama ! "

__ADS_1


" Iya Kami disini! " ujar keduanya.


Adelia, menatap sendu wajah Rangga. Pria tampan itu, yang merasa diperhatikan dia menolehkan wajahnya, dan menatap balik sang istri.


" Kenapa sayang ? "


" Aku sudah mau induksi laktasi, tapi Gaffi sebentar lagi tumbuh gigi. Apakah dia mau menyusu padaku ? "


" Sayang, kan belum dicoba. Jadi, kamu tidak akan tahu jika Gaffi tidak mau meminum ASI mu. Kamu, Jangan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Ayolah, dimana istriku yang cuek, mengapa jadi seperti ini? "


" Betul juga ya, baiklah Mas. Aku tidak akan menyerah!"


" Bagus, kamu yang terbaik ! "


Rangga, memeluk tubuh sang istri, dia menciumi wajahnya . Membuat Adelia kegelian karena tingkah laku suaminya tersebut.


" Mas, geli ih ! "


" Maaf sayang ! "


" Iya, tidak apa-apa Mas ! "


Kemudian, keduanya fokus kembali pada Gaffi. Adelia, sesekali mencium pipi gembul putra sambungnya tersebut. Dia, juga menyuapi Gaffi, agar anak itu cepat makannya. Sementara itu, Rangga kembali dengan laptopnya. Dia, bekerja dari rumah, untuk mengawasi saham perusahaan. Karena, besok sudah mulai bekerja lagi.


" Mas, aku berhenti bekerja boleh tidak. Mau fokus urusin Gaffi, dia benar-benar membutuhkan aku! "


" Baru saja Mas ingin mengatakan itu, ternyata kamu memintanya sendiri. Boleh sayang, boleh banget ! "


" Terimakasih Mas! "


" Iya sayang, sama-sama. Besok, kamu ikut Mas ke kantor ya. Mas tidak mau kejadian kemarin terulang lagi! "


Adelia, menganggukan kepalanya.


" Baiklah, kalau begitu sekalian aku mau memberikan surat pengunduran diri. Mas nanti antar aku ke restauran ya ! "


" Iya sayang!"

__ADS_1


Rangga, tersenyum bahagia, saat mendengar perkataan sang istri. Tanpa diminta, Adelia sendiri yang ingin keluar dari pekerjaannya. Dia, sungguh sangat bersyukur, karena wanita shalihah seperti Adelia, kini menjadi istrinya.


Bersambung...


__ADS_2