
" Masyaallah, Papa sudah lancar membaca Al-Qur'an nya !"
" Ini semua, berkat kamu Ma. Terimakasih ya , sayang ! "
Selama ini, Rangga belajar mengaji kembali bersama sang istri. Malu rasanya, ketika menjadi imam untuk istrinya, hanya itu-itu saja yang dibaca. Jadi, pria tampan sedikit brewok itu meminta istrinya untuk mengajarinya mengaji. Dengan senang hati, Adelia mengajari suaminya mengaji. Dia, mengerti, Rangga adalah pria yang sangat sibuk. Jadi, mana sempat mempelajari tentang agama.
Namun, kini Rangga memilikinya sebagai istri. Jadi, tidak ada salahnya wanita mengajari suaminya. Yang terpenting, Rangga semangat dalam mempelajari ilmu agama. Dan, sebagai istri Adelia mengarahkan suaminya.
" Pa, Gaffi sudah bangun tuh. Sepertinya, dia lapar aku akan menyediakan dia makanan dulu ! "
" Baiklah, terimakasih ya Ma! "
" Sama-sama! "
Kini, panggilan mereka berganti dengan Mama dan Papa. Untuk membiasakan Gaffi menyebutkan nama mereka.
" Assalamualaikum anak Mama, sudah bangun ya pinter? "
" Ma, Nen ! " ( Gaffi, disini ingin meminum ASI Mama sambungnya)
" Baiklah, Ayo sini minum susu dulu. Supaya, menjadi anak yang Sholeh dan pintar !"
Adelia, tanpa malu menyusui anak sambungnya tersebut di depan Rangga. Karena memang sudah biasa. Sehingga, Rangga juga biasa saja. Keduanya, kini susah tidak ada kecanggungan lagi.
" Masyaallah, Nak jangan digigit sakit Mama ! "
" Papa kan bilang enggak usah disusui kan dia udah gede juga anaknya. Disapih aja, Sayang ! "
" Enggak apa-apa, nunggu 5 bulan lagi. Setelah itu, kita akan menyapihnya! "
" Baiklah sayang! "
Rangga, hanya bisa menghela napasnya. Pasalnya, kejadian Gaffi menggigit dada Adelia sudah sering sekali terjadi. Makanya, Rangga meminta Adelia untuk berhenti saja. Tapi, istrinya itu tidak mau mendengarkan ucapannya.
" Enggak kerasa ya Pa, aku menyusui Gaffi sudah satu bulan! "
" Iya Sayang terimakasih ya! "
Adelia, menganggukan kepalanya.
" Iya Pa, sama-sama! "
Gaffi, tertidur kembali padahal ini sudah pukul 14.00. Dan Gaffi, justru tertidur lagi setelah mendapatkan air susu ibu sambungnya tersebut.
" Kita juga tidur Pa, takutnya kayak semalam lagi. Gaffi rewel, jadinya kita enggak bisa tidur! "
" Baiklah sayang, ayo kita tidur! "
Adelia, dan Rangga membaringkan tubuh Gaffi. Setelah itu, merekapun berbaring di samping kanan dan kiri anak itu.
__ADS_1
Alina, sangat bahagia ketika mendapatkan kabar, jika saingannya sudah tiada. Para pembunuh bayaran yang di mintai bantuan olehnya. Sudah berhasil, membunuh kekasih baru Devan yaitu Melissa. Mobil yang dikendarai oleh Melissa, hancur karena adanya bom di dalamnya. Pembunuh itu, sudah merancang rencana sedemikian rupa. Sehingga, mereka tidak dapat diragukan lagi dalam masalah ini.
" Hahaha, akulah pemenang sejati! " ujar Alina.
Wanita itu berdiri, kemudian melompat-lompat kegirangan.
" Hahaha, Devan akan menjadi milikku lagi yey ! "
Dia, menari-nari membuat para maid heran. Sungguh, Nyonya Muda mereka akhir-akhir ini, begitu aneh.
Di temukan mobil mewah Mercedes Benz C-Class bernomor polisi B- 33ICA yang dikendarai oleh seorang wanita. Terjatuh di sungai Kali Ciliwung. Dinyatakan korban tewas di tempat, sebelum masuk dalam sungai. Warga sekitar mendengar ada bunyi ledakan.
Menonton berita di laptopnya, Devan dengan terburu-buru mematikan laptopnya, dan berlari menuju lift dia, ingin memastikan bahwa itu Melissa, tunangannya.
" Secepat itukah kau meninggalkanku, Mell ? " ujar Devan lirih.
Dia, segera ke tempat parkir, begitu sampai di rumahnya dan segera menjalankan mesinnya. Di sepanjang perjalanan, Devan menangis, air matanya tidak bisa ditahan lagi.
" Ya Allah, apakah mungkin aku sudah sangat lama tidak bersujud di hadapanMu? Sehingga, aku tidak bisa bahagia walau sedikit saja! " batin Devan.
Hari ini, Melissa bilang dia datang terlambat karena, ada kepentingan pribadi. Lalu, Devan menitipkan anaknya pada ibunya di daerah Jakarta Selatan. Tentunya, Vino dijemput oleh mobil kedua orang tuanya. Jadi, dia bisa bekerja dengan tenang. Nyatanya, dia harus mendapatkan kabar, yang sangat mengerikan tentang wanita yang sudah mulai dicintainya tersebut.
Rangga dan Adelia, beserta anaknya makan siang diluar. Mereka, menikmati kebersamaan mereka. Karena, Rangga juga sedang liburan. Pria tampan itu, tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk membahagiakan istri dan anaknya. Jadi, setelah makan bersama, mereka akan pergi ke kebun Binatang. Supaya, Gaffi, bisa mengenal nama-nama binatang.
" Apakah kamu bahagia sayang ? "
" Papa! "
Seolah tidak terima, Ayahnya dipanggil Mas, Gaffi protes pada Adelia.
" Ya ampun, iya maksudnya, Papa . Maaf ya Sayang! "
Gaffi, tersenyum bahagia, dia menggerakkan tubuhnya.
" Yayayaya, Mama Oke ! " ( Iya Mama, Oke )
" Masyaallah, anak pintar anak baik. Sudah bisa menjawab ya, anak Mama Ara memang pintar !"
" No... No... Mama Del !" ( Tidak, tidak Mama Adel)
" Sayang, bagaimanapun juga, kamu adalah anak kandungnya Mama Aradea. Jadi, kamu tidak boleh melupakan itu, paham ! "
" Ham ! " ( Paham )
Sementara itu, Rangga tersenyum bahagia melihat kebersamaan anak dan istrinya. Gaffi, semakin pintar saja dalam berbicara. Dia, mengerti apa yang Adelia, ibu sambungnya itu katakan. Gaffi juga diajari shalat, dan mengaji sejak dini. Karena, Adelia, ingin mendidik Gaffi layaknya putra kandungnya sendiri.
" Gaffi semakin pintar ya sayang? "
Adelia, menganggukan kepalanya. Sesaat kemudian, dia mencium pipi gembul putra sambungnya tersebut.
__ADS_1
" Mama nen ! "
" Nen ? Kan tadi udah . Makan dulu aja, Nen nya nanti ya sayang! "
" Oke Ham ! " ( Oke, paham )
" Kan Mas juga bilang apa, Gaffi jadinya pengen minum susu terus ! "
" Sudahlah, biarkan saja. Mas, kita kan sudah sepakat 5 bulan lagi, baru kita sapih. Jangan berdebat lagi, capek tahu ! "
" Maaf sayang ! "
" Lupakanlah, kita makan kembali! "
" Ya ampun, salah lagi deh ! " batin Rangga.
Sementara itu, Devan ingin melihat wajah calon istrinya. Tangannya gemetar, saat hendak melihat wajah yang ditutupi oleh terpal tersebut. Dia, menangis tidak kuasa menahan air matanya.
" Mas Devan ! "
" Tidak, aku pasti sedang berhalusinasi ! " batin Devan .
" Mas Devan ! "
Melissa, yang tidak tahan lagi karena calon suaminya tersebut tidak menghiraukannya. Akhirnya, dia berlari, dan memeluk tubuh sang calon suaminya dari belakang. Sehingga, membuat pria itu bergeming, dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
" Mas Devan, budek ya ? "
Devan, membalikkan tubuhnya.
" Mell, ini kamu sayang ? "
" Iya, ini aku. Sepupuku harus menjadi korban kecelakaan, dia sudah tiada. Aku, sangat sedih hiks ! "
Antara bersyukur dan sedih, Devan berusaha menenangkan calon istrinya tersebut.
" Bagaimana bisa dia memakai mobilmu? "
" Dia, meminjam mobilku. Karena, dia malas mencuci mobilnya. Jadi, aku berangkat ke Doorsmeer terdekat. Eh, tidak menyangka jika pada akhirnya akan seperti ini. Paman dan Bibiku, masih dalam perjalanan dari Amerika ke Indonesia ini! "
Melissa, mengeratkan pelukannya pada Devan. Pria itu, dengan segera membalas pelukannya.
" Kita, istirahat dulu di mobil. Supaya, pikiran kamu agak relaks! "
" Terimakasih, Mas Devan ! "
" Iya sama-sama Sayang! "
Bersambung
__ADS_1