
Kondisi tubuh Septi, semakin hari semakin membaik. Dan, hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Adelia, datang untuk menjemputnya. Walaupun, dia tahu akan mendapatkan penolakan dari sang ibu. Tapi, bagaimanapun juga ayahnya sudah memberinya amanah. Karena, saat ini ayahnya sedang berada di luar kota bersama sang Kakak yang sedang ada perjalanan bisnis.
Adelia, memasuki kamar rawat inap sang Ibu. Dilihatnya, Ibunya tengah duduk, sembari membelakangi dirinya. Jantung Adelia, berdetak begitu kencang. Dia, benar-benar takut, jika pada akhirnya akan di usir seperti dulu lagi. Di tambah, Rangga hari ini tidak ikut, karena memang dia tidak tahu . Jika, hari ini ibu mertuanya sudah diperbolehkan pulang dan harus dijemput oleh sang istri.
" Assalamualaikum, Ma ! "
Septi, membalikkan tubuhnya dia menatap wajah Adelia dengan tatapan penuh kebencian.
" Untuk apa kamu datang kemari? Untuk menghinaku? Aku, pincang tidak bisa berjalan dengan normal lagi begitu ? "
Adelia, menghela napasnya
" Tidak Ma, aku hanya ingin menjemput Mama. Karena, Papa dan Kakak mereka sedang ada perjalanan bisnis. Tolong, jangan berpikiran negatif! "
" Lalu, suami Ara kemana dia ? "
" Dia suamiku juga Ma, tolong kami sudah menikah! "
" Lancang, dia tidak mencintai kamu. Dia hanya mencintai Aradea, kamu hanyalah pengganti ingat itu ! "
" Tapi, Mas Rangga mencintaiku tuh. Sebaiknya Mama terima itu, justru Kak Rangga tidak mencintai Aradea, kalau dia tidak hamil diluar nikah! "
" Lancang, jadi kamu pikir Aradea yang menggoda duluan? "
" Ini buktinya! "
Adelia, menunjukkan rekaman suara dari Rangga yang saat itu bercerita padanya tentang bagaimana, dia dan Aradea bersatu. Memang ini jahat, tapi Adelia ingin ibunya itu menganggapnya sebagai anak. Bagaimanapun juga, dia adalah anak kandung dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini.
" Mas Rangga, maafkan aku. Ini semua, karena aku tidak tahan lagi dengan kelakuan Mama padaku! " batin Adelia.
Ya benar, saat Rangga menangis karena teringat masa lalunya. Adelia, berpikir untuk merekam setiap ucapan yang suaminya katakan. Dia, mulai merekam suara Rangga, saat dia memberikan guling untuk anak sambungnya Gaffi. Adelia, menyembunyikan ponselnya, di bawah bantalnya. Dan, sekarang Ibu kandungnya sedang mendengarkan percakapan antara dia dan juga sang suami.
Septi, sungguh tidak menyangka jika putri yang sangat dibanggakan olehnya, ternyata seorang penggoda. Ternyata, tidak bisa menjaga kehormatannya sebelum menikah. Ternyata, sudah memiliki anak sebelum menikah.
" Astaga, Ya Tuhan apa ini ?"
Septi, menjatuhkan ponsel milik putrinya, Adelia.
" Aku bukanlah ahli dalam merekayasa sesuatu. Mama, bisa nilai sendiri, jika Mama tidak percaya denganku, silakan. Asal Mama tahu, Adel juga anak Mama. Sudahlah lupakan, sekarang kita pulang. Kasihan Gaffi, dia belum meminum susu Ma ! "
__ADS_1
Dengan keadaan tubuh yang masih gemetar, dan syok berat . Akhirnya, Septi mau digandeng oleh Adelia.
" Dengan demikian, Mama sudah tahu sikap buruk putri kesayangannya tersebut. Biarkan saja aku jahat, aku tidak kuat harus terus-menerus dikucilkan oleh ibu sendiri! " batin Adelia.
Adelia, membawa Ibu kandungnya ke parkiran dan setelah menemukan mobilnya dia meminta supir untuk membukakan pintu mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Adelia meminta supir untuk mengantarnya ke rumah Ibu kandungnya. Akan tetapi, Septi menolak untuk pulang ke rumah, dia ingin pergi ke rumah Adelia bersama Rangga. Akhirnya, Adelia menuruti keinginan ibunya tersebut.
" Ma, kita sudah sampai! "
" T... terimakasih Adel ! "
Mata Adelia berkaca-kaca, dia terharu dengan ucapan sang Ibu yang saat ini memanggil namanya. Biasanya, dia akan menyebutnya si pembawa sial, yang mana itu membuatnya menjadi sangat membenci sang Ibu.
" S... sama-sama Ma ! "
" Apakah..., Mama boleh istirahat dulu? "
Septi, bertanya dengan hati-hati. Dia takut, putrinya itu tidak mengizinkannya untuk beristirahat.
" Tentu saja, dengan senang hati Ma ! "
" Mengapa, kamu begitu baik pada Mama? "
Tidak berselang lama, Adelia dan Septi sampai di kamar untuk istirahat.
" Benar-benar rumah baru,dan tidak ada satupun yang tersisa tentang Aradea! "
" Memang sudah semestinya seperti itu Ma, karena saat ini, akulah yang menjadi istri dari Mas Rangga! "
Septi, mengerutkan keningnya, dia takut jika salah mendengar perkataan dari putri yang sudah lama tidak diperhatikan olehnya tersebut.
" Ah iya, kamu benar! "
" Karena, sebelum kami menikah. Adel, meminta Maaf Rangga untuk membuang semua tentang Aradea. Hanya photo Aradea yang berukuran kecil saja, yang Mas Rangga sisakan, karena aku yang meminta. Bagaimanapun juga, dia ibu kandungnya Gaffi! "
" Baiklah Nak, tolong Mama ingin istirahat sebentar! "
" Baik Ma ! "
Adelia, membantu merawat sang ibu . Kini, dia menyalakan AC serta meninggikan bantalnya. Kemudian, Dia membaringkan tubuh Septi.
__ADS_1
" Biarkan aku beristirahat sejenak, aku ingin merenungkan kembali. Mengapa aku, begitu jahat pada putri kandungku sendiri! " batin Septi.
Rangga, sore ini pulang ke rumahnya di bilangan Jakarta Pusat. Dia, kini memarkirkan mobilnya, dan segera setelah mematikan mesin dia turun dari mobil.
" Pak Rangga, di dalam ada Ibu mertua Anda ! "
Rangga, mengerutkan keningnya begitu dia memasuki pintu utama. Asisten rumah tangganya, mengatakan jika sang ibu mertua sedang berada di kediamannya.
" Benarkah Bibi Sofia? "
" Benar Pak, beliau sedang beristirahat di kamar atas ! "
" Baik, terimakasih! "
Ini adalah mansion Rangga yang baru, karena apartemen tidaklah luas. Sehingga, dia menjualnya dan membeli sebuah rumah mewah, di Menteng Jakarta Pusat ini . Dia pikir, karena, sebentar lagi dia akan segera memiliki momongan bersama Adelia , istri tercintanya tersebut.
" Mengapa Adelia tidak memberitahuku jika Mama ada di sini ? " batin Rangga.
Rangga, segera menaiki lift dan menekan tombol 3. Begitu dia sampai, dia memeriksa kamar sebelah, alias kamar untuk Gaffi ketika dewasa nanti. Ternyata, benar apa yang dikatakan oleh Asisten rumah tangganya. Jikalau, di dalam kamar ini ada Ibu mertuanya. Rangga, menutup pintunya kembali, lalu, dia berjalan menuju kamarnya, bersama sang istri. Saat Rangga, membuka pintu dia melihat sang istri, tengah menyusui Gaffi. Rangga, duduk di samping ranjang, sembari memperhatikan wanita cantik itu.
" Eh, Mas sudah pulang ? "
Setelah Gaffi tertidur, Adelia segera membenahi pakaiannya.
" Sayang, kok kamu enggak bilang dulu ke Mas. Kalau, Mama mau menginap di sini dan kenapa bisa beliau meminta bantuan kamu? "
Adelia, menceritakan semuanya pada sang suami. Rangga, membelalakkan matanya, dia benar-benar terkejut dengan ucapan sang istri.
" Apa? Jadi, kamu memberitahu Mama tentang Aradea? "
." Kita bicarakan di luar Mas, sebentar aku minta susnya Gaffi kemari! "
Setelah urusan Gaffi telah selesai, Adelia kembali . Lalu, Rangga membawanya ke ruang kerjanya, di lantai atas . Begitu duduk, Adelia segera mengatakan segalanya pada sang suami. Entah mengapa, Rangga tidak suka, dengan tindakan istrinya yang semena-mena itu. Padahal, dia sangat mempercayai, dan mencintai Adelia.
" Aku, terpaksa melakukan hal itu karena, aku tidak ingin terus dibandingkan dengan Aradea. Jika, Mas tidak suka sudahlah, kita cerai saja. Mumpung masih belum memiliki anak, akhiri saja ! "
Adelia, pergi meninggalkan Rangga begitu saja, sementara itu Rangga menatap kepergiannya, sembari memijat keningnya. Dia, sungguh pusing dibuatnya, sikap Adelia ini, benar-benar tidak bisa ditebak olehnya.
Bersambung
__ADS_1