Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea

Kisah Cintaku: Adelia Dan Aradea
Bagian 34


__ADS_3

Saat makan malam tiba, Adelia segera memasuki kamar yang di huni oleh ibunya. Dia, menyuapi Septi, yang saat ini memang belum bisa banyak bergerak. Sementara itu, Rangga baru saja, duduk , begitupun dengan baby sitter Gaffi, dan juga Gaffi.


" Adelia mana Bi ? "


" Ibu sedang berada di atas, beliau bilang ingin menyuapi Ibu Septi! "


" Apakah dia sudah makan ? "


" Sepertinya, Ibu Adelia belum makan sama sekali! "


" Baiklah, terimakasih Bi . Ah iya, kalian juga makanlah dulu! "


Rangga, menyantap makanannya, dia hanya makan beberapa sendok saja. Karena, nafsu makannya turun begitu drastis. Pemicunya adalah pertengkarannya bersama Adelia. Kini, Rangga, menyudahi makannya. Dia, kemudian meminta pada baby sitter untuk menjaga anaknya terlebih dahulu. Karena, istrinya sedang melayani ibu mertuanya. Pria tampan itu, menaiki lift, dia kemudian menyusul sang istri tepat di lantai 3. Begitu sampai, Rangga akhirnya berjalan menuju kamar sebelah. Terlihat, Adelia sedang menyuapi ibu mertuanya.


" Sebegitu bencinya Mama terhadap istriku, sehingga ketika istriku mengajaknya berbicara. Beliau tidak mau meresponnya! " batin Rangga.


" Assalamualaikum, Ma, Sayang !"


" Wa'alaikumusallam ! "


Rangga, mencoba untuk bersalaman dengan ibu mertuanya. Wajah Septi yang tadinya suram, seketika berubah menjadi sumringah.


" Nak, kamu sudah pulang? "


" Iya, saya sudah pulang Ma! "


Netra pria tampan itu, menatap nanar wajah sang istri. Adelia, sekilas hanya menatapnya, saat mereka bertemu pandang. Wanita itu, kemudian fokus kembali menyuapi ibunya.


" Ma, makanlah lagi ! "


" Mama kenyang, kamu makan gih. Mama tahu kok, kamu pasti belum makan ! "


" Sayang, menurutlah! "


Adelia, menghela napasnya, lalu, menatap wajah suaminya. Dan, pada akhirnya dia mengangguk sebagai jawaban. Wanita cantik berjilbab itu, akhirnya terpaksa harus pergi dari kamar. Sebelumnya, dia berpamitan pada Rangga, dan Ibunya.


" Rangga, Mama ingin menanyakan sesuatu! "


" Apa itu Ma ? "


" Adelia, dia menceritakan bahwa tentang kamu dan Aradea dulu. Dia juga, memberikan bukti rekaman percakapannya dengan kamu! "


Rangga, mengangguk


" Iya, Memang itu kenyataannya! "

__ADS_1


Septi, menatap tak percaya wajah sang menantu. Jadi, sungguh Aradea yang menggodanya , bukan karena Rangga sendirilah yang mencintainya.


" Lalu, bagaimana perasaan kamu pada Adelia? "


" Dia, wanita yang sangat berbeda. Jujur saja, aku mencintai dia karena keimanannya, wajah yang cantik itu bonus Ma. Yang jelas, aku mencintai Adelia, karena dia sangat berbeda dengan wanita lain apalagi Aradea. Sungguh, mereka sangat jauh berbeda, Ma ! "


Septi, membuang napasnya kasar. Dia, seolah kecewa dengan menantunya tersebut.


" Jadi begitu, tapi Rangga asal kamu tahu Mama, tidak akan pernah mau menggantikan posisi Aradea di hati Mama. Si pembawa sial itu, tidak akan pernah bisa menempati hatiku ! ".


Rangga, memasukkan kedua lengan ke dalam saku celananya. Dia, menatap wajah Ibu mertua sejenak, pria itu mengeluarkan senyum miringnya. Dia, berjalan mendekati telinga Ibu mertuanya dan berbisik pada telinga wanita paruh baya tersebut, " Mama, aku kasih tahu, yang namanya anak pembawa sial itu tidak ada. Ingat ya Ma, istriku namanya Adelia, bukan si pembawa sial. Dan, suatu saat nanti, Mama akan dimintai pertanggungjawaban oleh sang pencipta. Karena, selama ini anda sudah mengabaikan dirinya, camkan itu! "


Septi, menatap wajah mantunya itu dengan tatapan penuh kebencian.


" Bagaimana bisa, kamu mengatakan hal itu? "


" Karena aku tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Tolong Ma, hargailah Adelia. Dia, istriku jangan pernah ungkit kembali tentang Aradea, mengerti? "


Rangga, yang kesal dia segera pergi meninggalkan ibu mertuanya tersebut.


" Apa bagusnya Adelia? Mengapa semua orang sangat menyukainya? Mereka seolah melupakan Aradea, padahal anak kesayanganku itu sangatlah cantik! " batin Septi.


Adelia, setelah makan malam dia mengajak Gaffi untuk belajar mengenal huruf-huruf Hijaiyah. Dia ingin, anak sambungnya itu bisa mengaji . Karena, metode demikian lebih efektif dibandingkan ketika si anak sudah baligh. Sehingga, dia menerapkan pola asuh seperti ini. Gaffi, saat ini sudah bisa mengucapkan huruf ا (Alif ) hingga ج (jim).


" Baiklah, sampai sini dulu ya Nak. Masyaallah, kamu pintar sekali . Mama bangga padamu Nak ! "


" Sama-sama, Gaffi ngantuk enggak ? "


Gaffi, menggeleng


" Kalau begitu, kita jalan-jalan dulu ya ! "


" Oke ! "


Adelia , mencium pipi gembul putra sambungnya. Dia, benar-benar gemas dengan tingkahnya itu. Rangga, yang baru keluar dari ruang kerjanya, dia melihat putra dan istrinya sedang menaiki lift. Akhirnya, pria itu mengikuti sang istri. Hanya saja, Rangga menggunakan tangga, jadi dia melihat istrinya sedang turun ke lantai 1.


Segera setelah Adelia keluar dari lift, dia berjalan menuju pintu utama. Dimana, dia akan pergi ke taman, dan pemandangan itu tidak terlewatkan oleh Rangga. Akhirnya, pria itu segera berlari mengejar istri dan anaknya.


" Mungkin, mereka hendak pergi ke taman ! " batinnya.


Ternyata, dugaannya benar. Jika, Adelia membawa sang putra ke taman di rumah mereka. Rangga, yang melihat istrinya sedang duduk sembari memangku tubuh anaknya. Akhirnya, diapun ikut bergabung dengan kedua orang tersebut.


" Papa... ! " panggil Gaffi.


Adelia, bergeming dia tidak ingin menyapa sang suami. Akan tetapi, Gaffi ingin dipeluk olehnya. Dengan terpaksa, Adelia, menyerahkan anak Rangga tersebut.

__ADS_1


" Kamu, masih marah sama Mas ! "


Rangga, melirik sang istri yang saat ini sedang membuang mukanya. Sayangnya, Adelia tidak ingin menanggapi ucapan Suaminya tersebut. Dia, justru bersikeras untuk tidak menjawab ucapan Suaminya.


" Maaf ! " kata Rangga sembari memelas.


Adelia, menatap wajah Rangga, pria itu menatapnya dengan nanar.


" Mas minta maaf, sungguh Adel. Hanya saja, Mas tidak mengerti mengapa kamu harus merekam percakapan kita. Kalau saja kamu mengatakan semuanya pada Mas. Maka, dengan senang hati Mas akan memberitahu pada Mama! "


Adelia, menatap sendu Suaminya, dia memeluk tubuh suaminya yang saat ini sedang memangku tubuh Gaffi.


" Aku kekanakan ya Mas? Maaf ! "


" Sudahlah, Mas senang kok akhirnya kamu tidak mendiamkan Mas lagi ! "


Adelia, tersenyum menatap wajah sang suami begitupun dengan Rangga. Sementara itu, Gaffi merasa bahagia bisa melihat ibu sambungnya dan ayah kandungnya itu berbaikan.


" Ma, Bobo ! "


" Oh kamu ngantuk ya ? "


" Ma, kita ke dalam yuk. Anak kita, mau tidur dia kelelahan! "


" Mari Pa ! "


" Alhamdulillah, akhirnya aku dan Adelia bisa berbaikan lagi ! " batin Rangga.


Rangga, dan Adelia kini sudah berada di kamar. Rangga, membaringkan tubuh Gaffi di ranjang . Setelahnya, dia menyelimuti tubuh putra kesayangannya tersebut. Lalu, dia mencium kening Gaffi, dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Adelia, dia mencium kening putra sambungnya tersebut.


" Ganti pakaian dulu gih, Mas jagain Gaffi dulu ! "


Adelia, mengangguk sembari mengulas senyumnya.


" Iya Mas ! "


Selang beberapa menit, Adelia kembali dan memakai piyama tidurnya. Dia juga, melepaskan jilbabnya karena sudah mau tidur.


" Mas kalau lihat kamu seperti ini, rasanya ingin menerkam kamu. Tapi, Gaffi masih kecil, sudahlah Mas ngalah aja ! "


" Tapi, kalau Mas ada alat pengaman boleh kita lakukan itu. Aku, enggak mau berdosa Mas ! "


" Tidak sayang , Mas masih bisa nahan kok. Ini sudah malam, tidurlah! "


" Masih jam 8 ini ! "

__ADS_1


Rangga, yang tadinya akan pergi mengganti pakaiannya. Akhirnya, dia membawa istrinya tersebut pergi ke kamar mandi. Dan ,mereka melakukan hubungan suami-istri seperti biasanya.


Bersambung


__ADS_2