Kisah Pria Sukses

Kisah Pria Sukses
Kecurigaan


__ADS_3

Suherman masih janggal dengan Rio dan Sakti berada di rumah sakit. Karena penasaran, dia menemui di ruang tunggu dan berdiri di depan mereka.


"Hem. Hem." ucap Suherman suara memanggil.


Rio dan Sakti ketiduran dalam kondisi duduk, mereka mulai buka mata perlahan dan bangun dengan terkejut melihat Bapak Suherman tengah berdiri.


"Kalian ngapain disini?" ucap Suherman.


Mereka panik, bingung, mau menjawab apa ke Suherman. Mereka menjawab sedang jenguk teman yang sakit dengan wajah senyum.


Suherman melihat mereka berwajah curiga dan menemui suster administrasi untuk bertanya tentang mereka berdua.


"Sus tadi dua orang itu ada bertanya padamu." ucap Suherman.


"Ada Pak, tadi mereka berdua mencari nama Suherman dan Fida yang dirawat disini." ucap suster.


"Untung saja saya masukkan nama anak saya di daftar pasien Fida." ucap Suherman dengan mencurigai Rio dan Sakti.


Suherman bingung, mereka ingin menemui Fida di rumah sakit ini dengan alasan belum dia diketahui.


Lalu dia pergi keluar menuju parkiran mobil untuk mengambil barang yang tertinggal dan kembali lagi ke kamar Fida. Tapi sebelum itu, dia menemui satpam rumah sakit, menyuruh mengusir Rio dan Sakti keluar, dengan alasan ada yang mau menggangu anaknya sedang di rawat.


Seorang satpam berbadan tegap menerima instruksi Suherman, mendatangi Mereka berdua, mengusir dengan memegang baju belakang mereka menuju area parkiran rumah sakit.


Rio dan Sakti kebingungan dan merengek alasan diusir dari dalam rumah sakit dengan cara seperti itu. Tapi satpam tak peduli, mereka didorong dan ditinggalkan satpam disini.


Suherman lekas masuk ke kamar Fida agar Rio dan Sakti tidak mengikuti ke kamar.


Dia meletakkan barang bawaan berisi makanan dalam kotak putih dan melihat Fida masih tertidur di pasang alat bantu pernapasan.


Suherman duduk dan menyuruh satpam makan yang ada di kotak putih dalam plastik hitam.

__ADS_1


Satpam berpakaian biasa mengambil makanan dan minuman dalam plastik, mencuci tangan di kamar mandi dan duduk kembali di sofa memegang nasi kotak yang telah dibuka dan menyantap makanan lauk ayam goreng pakai tangan dan melahap makanan.


Suherman terduduk menghadap jendela melihat halaman rumah sakit penuh rumput hijau dan taman yang teduh, sekali melihat Fida dengan menggerakkan kepala ke kanan sebentar, lalu melihat ke arah taman lagi dengan wajah santai.


Rio dan Sakti pergi dari rumah sakit membuat janji kalau besok malam mereka akan kembali kesini lagi untuk mencari kamar Fida tanpa diketahui satpam rumah sakit.


Malamnya, Fida membuka mata secara perlahan melihat ke langit kamar dan menggerakkan kepala ke arah Suherman yang sedang makan. Tubuhnya mulai bisa digerakkan dengan perlahan walaupun masih lemas dan memanggil Suherman yang sedang berbicara dengan satpam sedang duduk di sofa.


Suherman mendengar dan melihat Fida yang sudah sadar, dia menekan tombol agar dokter dan suster datang mengecek pasien.


Tak lama kemudian dokter dan suster datang masuk kamar pasien dan memeriksa Fida dengan stetoskop dan menyentuh bagian tangan kanan, menaikkan baju ke atas dengan melihat bagian perut untuk ditekan perlahan dan membuka alat bantu pernapasan.


Fida sudah bisa bernapas tanpa alat bantu medis dan mulai memeriksa mata dengan senter. Lalu suster memeriksa layar monitor kontrol tekanan darah dan infusnya.


"Pak kondisi mulai stabil, pasien sudah bisa di ajak bicara, tapi kondisinya masih belum pulih total dan masih membutuhkan perawatan medis dan rawat inap disini." ucap dokter kepada Suherman.


"Baik dokter, terimakasih."


Dokter dan suster pergi meninggalkan kamar pasien. Lalu Suherman duduk di kursi dan satpam berdiri dari sofa, membantu menutup pintu kamarnya.


Fida melihat Suherman dengan wajah yang lemas dan berbicara bersuara pelan, kondisinya masih terasa nyeri dan sakit di bagian perut.


Fida meminta air minum, Suherman mengambil air minum dalam botol dengan cara memasukan kedalam mulut Fida melalui pipet dan meminum air dengan perlahan dengan badan bangkit miring ke samping untuk minum.


Selesai minum air, Fida rebahan dengan wajah lemas, dia ingin memakan buah dan nasi karena sedang lapar.


Suherman mengambil nasi kotak dengan menyuapi dengan sendok plastik pakai sayur dan ayam dimasukkan ke dalam mulut.


Fida melahap sendok demi sendok makanan yang disuapi oleh Suherman karena tubuhnya belum bisa bangkit untuk duduk diatas tempat tidur.


Selesai makan, Fida ditanya oleh Suherman tentang kejadian di alaminya tiga hari lalu. Dia ingin menjawab, tapi berpikir kalau dia menceritakan kejadian itu adalah Rio dan Sakti, nanti Suherman akan memasukkan mereka ke dalam penjara dan memecat secara tidak hormat.

__ADS_1


Fida ingin menceritakan kalau dia sudah sembuh agar Rio dan Sakti tidak di laporkan ke polisi.


Dia hanya diam dan memberikan alasan kalau sudah sembuh saja baru diceritakan kepadanya.


Namun Suherman ingin membantah kepada Fida, tapi melihat kondisinya sedang sakit, dia masih menahan diri untuk mengetahui siapa dalang kejadian ini.


Suherman berdiri menghadap jendela kaca yang lebar dan duduk kembali di sofa bersama satpam sedang melihat Fida berbaring.


"Si Fida ini belum ingin menceritakan siapa pelakunya, katanya tunggu sembuh dulu dari sakitnya. Padahal sudah penasaran sekali saya melihat dan membawa ke polisi. Karena ini berada di lingkungan perusahaan saya" ucap Suherman kepada satpam dengan suara berbisik dan wajah penasaran.


"Sabar Pak, kita tunggu saja si Fida menceritakan kejadian kepada Bapak, untuk saat ini bapak sabar saja dulu." ucap satpam kepada Suherman dengan suara bisik.


Suherman dan satpam melihat Fida dalam kondisi rebahan membuka mata dengan pandangan menghadap ke langit kamar.


Sekitar tengah malam, Suherman pulang ke arah parkir mobil, dia melihat Sakti dan Rio sedang mengintip rumah sakit dengan berdiri dibalik mobil lain.


Suherman mendatangi mereka berjalan ke arah mereka, dia berdiri dibelakang mereka dan memegang pundak keduanya. Mereka terkejut dan menoleh kebelakang dan kaget wajah mereka melihat Suherman sudah berdiri tanpa mereka sadari.


"Kalian gak bekerja besok?"


"Kerja Pak." ucap mereka dengan gelisah.


"Kalau begitu pulang sana!"


"Baik Pak."


Mereka pun pergi meninggalkan Suherman dengan berjalan kaki, tapi mereka melihat Suherman masih berdiri di parkiran.


Mereka pergi ke jalan raya duduk di warung makan untuk memesan minuman teh manis dingin kepada pelayan warung makan.


Suherman mengikuti mereka, mendatangi ke warung makan, dan berdiri dihadapan mereka. Mereka kaget melihat bapak Suherman.

__ADS_1


"Kalian ini masih disini, gak pulang juga, kalian mau ngapain disini?" ucap Suherman sambil mengambil kursi dan duduk ditengah meja makan dan melihat mereka berdua dengan mata melotot.


Mereka terdiam melihat Bapak Suherman duduk di kursi meja makan dengan wajah cemas.


__ADS_2