Kisah Pria Sukses

Kisah Pria Sukses
Menangis


__ADS_3

Fida menangis tersedu sedu di depan gerbang arah keluar dijalan raya. Karena sudah mengecewakan Suherman, sudah lalai dalam bekerja.


Banyak orang melihat Fida menangis terduduk. Orang sekitar saling bertanya dengan membisikkan disekitar trotoar, alasan pria itu menangis di depan umum tepat dijalan raya.


Fida berdiri dengan perlahan, berjalan kaki ke dalam rumah sakit dengan menghapus air mata di wajah, lalu duduk di kursi ruang tunggu.


Dia termenung dengan kondisi hidup serba sulit dan setiap kejadian selalu menimpa dirinya dengan menghela napas.


Pater dikeluarkan dari ruang IGD menuju ruang rawat inap bersama dengan Rio dan suster sedang mendorong tempat tidur roda dengan pelan. Dia melihat Fida duduk di ruang tunggu dengan punggung bergerak seperti sedang menangis.


Rio pun mengabaikan Fida dan pergi meninggalkan ruang tunggu masuk ke kamar VIP yang sudah disediakan Suherman saat datang menjenguk Pater.


Fida masih duduk diam dengan napas habis menangis. Namun dia berpikir kehidupan ini harus dijalani dengan kuat.


Sampai didalam ruang VIP, Pater dibaringkan pada kasur rawat. Didalam ada Rio, Jou dan Fida melihat kondisi Pater dirawat oleh dokter dan suster untuk memeriksa kondisi tubuh.


Setelah dokter dan suster selesai memeriksa kondisi pasien, dia menyampaikan kalau kondisi sudah membaik, dan menyarankan untuk menjaga Pater mulai hari ini. Lalu dokter dan suster pergi meninggalkan ruangan pasien.


"Fida, pergi kamu dari kamar saya!" ucap Pater nada keras.


Fida terdiam berdiri melihat Pater dengan wajah sedih. Namun Jou dan Rio kaget sekali.


"Ayo keluar kamu dari ruangan saya!" ucap Pater menyuruh pergi.


Fida diam dan keluar dari kamar Pater dengan wajah sedih dan berdiri di dekat pintu kamar pasien dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Tak disangka kalau hidup ini memang menyedihkan, satu kantor pun ada kejadian seperti ini." ucap Fida berdiri didepan kamar Pater.


Pater merasa lega Fida pergi dari sini, dia pun menenangkan tubuh dan wajah, mengistirahatkan diri. Rio dan Jou melihat kondisi Pater, berdiri dan bertanya kondisinya.


"Saya baik-baik saja, kalau bisa jangan suruh masuk itu Fida. Suruh pergi jauh dari kamar saya." ucap Pater nada mengingatkan Rio dan Jou.


Rio dan Jou tidak menanggapi ucapan Pater dan menyuruh untuk istirahat dan jangan banyak berbicara.


Fida pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk pulang setelah mendengar pembicaraan Pater saat pintu kamar Pater sedikit terbuka.


Dia naik ojol menuju kantor untuk mengambil surat skorsing kerja. Sampai di kantor dia menuju ruang kedisplinan berdiri menghadap pegawai, mengambil gaji lebih awal disuruh Suherman dan surat skorsing kerja serta surat peringatan satu oleh perusahaan.


Fida berdiri di meja kaca dan menerima semua itu denga lapang dada. Karena selama dia bekerja selama 2 bulan disini dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


Fida pergi meninggalkan ruangan kedisplinanan sambil memegang amplop putih berjumlah tiga ditangan kanan dan menggendong tas ransel hitam, berjalan pelan dengan wajah sedih pergi menuju lift.


Di depan pintu keluar, Suherman berdiri tepat dihadapan Fida. Dia menyampaikan kalau dirinya sangat kecewa terhadap kinerja kerja sebagai petugas kebersihan.


Fida berdiri dan mendengar dengan wajah sedih sambil memegang surat ada di tangan kanan.


Mendengar ucapan Suherman, dia hanya diam dengan wajah sedih.


Suherman menyampaikan rasa kecewa dengan menggelengkan kepala karena kelalaian dirinya dalam bekerja dan tidak berharap lagi kepada Fida sebagai pegawai yang direkrut dulu. Dia melipat kedua tangan dan berjalan pelan melihat Fida dari samping, berwajah marah dan pergi meninggalkannya.


Fida terdiam berdiri dihadapan Suherman dengan mata berkaca dan mulut mulai membelok kebawah seakan ingin menangis karena amarah Suherman dan rasa kecewa dan ketidakpercayaan kepadanya.

__ADS_1


Beberapa pegawai melihat Fida dari jauh seakan dia adalah parasit kantor. Mereka mencibir Fida dari jauh dengan wajah benci dan tidak baik lagi kepadanya.


Namun Fida hanya diam dan pergi berjalan keluar kantor dengan wajah sedih menuju gerbang kantor. Disana ada seorang satpam juga melihat Fida dengan wajah benci juga.


Fida diam dan melihat satpam, berjalan kaki menuju kamar kost naik ojol yang sudah dipesan sejak di lantai dua.


Sampai di tempat kost, Fida berjalan kaki dengan wajah lesu, di jam 1 siang. Saat itu kondisi kamar kost sedang kosong tidak ada yang pulang penghuni kost itu.


Fida membuka pintu kamar dengan kunci, lalu masuk kedalam meletakkan tas ransel dan surat peringatan di meja. Lalu membuka pakaian untuk mandi.


Selesai mandi Fida duduk membuka surat itu satu per satu. Dan membaca dengan wajah lesu surat peringatan itu yang pertama dan surat skorsing. Lalu membuka amplop cokelat berisi uang tunai sebesar 2,7 juta rupiah dan memulai untuk menyimpan uang didalam dompet.


"Saya akan cuti dua hari, jadi saya harus bersabar menghadapi ini semua. Tapi siapa yang melakukan itu semua ya." ucap Fida sambi duduk memikirkan hal itu.


Namun Fida tetap diam dan akan melakukan pengecekan ruang CCTV besok pagi. Walaupun dia akan di skorsing tapi tetap akan ke kantor pada besok pagi hari kali untuk cek CCTV bagian kamar mandi.


Sementara itu Handoko yang berada di kantor berdiri di depan taman baru selesai menyiram tanaman, merasa sangat lelah setelah selesai bekerja. Suherman kebetulan lewat, menghampiri Handoko dan menanyakan soal posisi lantai dua.


"Handoko mulai besok pagi kamu mengisi bagian lantai dua ya selama dua hari saja." ucap Suherman.


"Baik Pak." Handoko merasa senang dengan harapan yang diraih karena ini kesempatan untuk mendapatkan posisi itu selama ini. Karena dia berpikir kalau posisi bagian halaman gedung sangat tidak enak sekali, udah panas terik, harus berbagi tempat tidur, saat jam istirahat.


Suherman pergi meninggalkan Handoko balik kedalam gedung untuk masuk keruangan kerja direkrur untuk kembali bekerja.


"Yes! Akhirnya saya bisa melakukan semua itu dengan amat baik. Bisa santai dan melakukan semua aktivitas dengan amat menyenangkan." ucap Handoko.

__ADS_1


Dia melihat ruang dapur Fida penuh fasilitas yang baik. "Senangnya punya kamar istirahat kerja sendiri. Ya ampun, kok gak dari dulu ya. Kerjanya enak, tidak keringatan dan kulit tidak hitam." ucap Hondoko sambil merenggangkan tangan masuk ruang dapur hingga membuka kamar istirahat dan berputar putar dengan tangan merenggangkan sampai tertidur di kasur istirahat kantor dengan wajah senang.


"Besok bekerja, walaupun dua hari kan enak, kalau bisa saya harus tetap di posisi ini agar bisa melakukan pekerjaan dengan mudah. Nanti saya pikirkan caranya." ucap Handoko tertawa sambil memikirkan semua hal agar semua yang di inginkan bisa tercapai, bisa menetap di ruang dapur Fida.


__ADS_2