Kisah Pria Sukses

Kisah Pria Sukses
Ketegangan


__ADS_3

"Kalau begitu, buktikan sekarang siapa pelaku, Fida? Bapak mau melihat dan bertanya, kenapa bisa membuat reputasi perusahaan menurun." ucap Suherman.


"Baik, Pak kalau masih bersikeras kepada saya, tapi jika bapak ingin tahu siapa pelaku di gudang itu. Maka bapak harus berjanji kepada saya." ucap Fida.


Suherman heran kepada Fida meminta persetujuan perjanjian dan ingin menjelaskan alasan itu.


"Bapak tidak boleh melakukan pemecatan kepada pelaku, tidak boleh marah kepada pelaku, tidak boleh melakukan kekerasan apapun, tidak boleh melaporkan ke pihak polisi, bapak sanggup?"


Suherman menerima perjanjian kepada Fida, tapi dia tetap ingin tahu pegawai itu adalah yang bekerja di perusahaan ini saat mendengar perkataan dia.


Fida meminjam telepon di meja direkrur untuk menghubungi Rio dan Sakti menemui mereka di ruangan direkrur sekarang.


Fida kembali duduk di hadapan direktur untuk menunggu mereka. Tak lama, Rio dan Sakti masuk kedalam ruangan direkrur dengan berdiri menghadap mereka.


Fida memulai berbicara dengan nada sopan, bahwa Rio dan Sakti harus menyampaikan perbuatan mereka kepada Suherman.


Rio dan Sakti diam dan melihat Fida dengan wajah marah karena sudah mengingkari janji untuk tutup mulut.


"Rio, Sakti bicaralah! Ini bapak Suherman mau bertanya kepada kalian." ucap Fida kepada mereka.


"Rio, Sakti, betul kalau kalian pelaku yang membuat Fida masuk rumah sakit akibat dikurung di gudang?"


Rio dan Sakti diam dan melihat Fida dengan wajah marah lalu menundukkan kepala karena takut melihat Suherman.


"Jawab dengan jujur Rio, Sakti supaya bapak bisa tahu apa alasan kamu melakukan itu." ucap Suherman.


Dia diam dan tidak melakukan hal apapun selain menunduk kepala dihadapan Suherman dan Fida pun berdiri.


"Rio, Sakti, jawab jujur! saya sudah mediasi dengan Suherman agar tidak akan pecat kalian, dan melakukan pekerjaan seperti biasa di kantor. Namun kejujuran kalian harus disampaikan. Bapak bertanya alasan kalian melakukan itu apa?"

__ADS_1


Mereka diam, Rio sebentar melihat wajah Fida dengan marah lalu menunduk kepala, melirik mata lagi ke arah dia.


Suherman terus membujuk mereka berdua untuk bicara, dengan sedikit ancaman akan melaporkan ke polisi jika tidak bicara jujur.


Fida mulai menelpon bagian kedisiplinan, petugas keamanan di meja direktur, untuk segera ke ruangan sekarang.


Rio dan Sakti masih diam berdiri dihadapan mereka berdua, tapi heran masih belum mampu menjawab perbuatan mereka.


Tak lama petugas keamanan dan kedisplinan masuk ke ruangan direkrur dan berdiri menghadap direkrur.


"Tolong, supaya mereka bisa jujur kepada kita dan membuka mulut atas perbuatan mereka." ucap Suherman kepada satpam dan kedisiplinan.


Rio dan Sakti tetap diam dan saling menatap untuk pergi meninggalkan ruangan. Namun satpam sudah keburu mengunci pintu dan berdiri didepan pintu keluar menghalangi mereka.


"Rio, Sakti tidak perlu keluar, jelaskan saja dengan baik, saya sudah mediasi kepada mereka agar kalian tetap bisa bekerja disini. Jadi tolong kerjasama kepada mereka." ucap Fida.


Seorang pegawai kedisiplinan mulai memegang pundak mereka berdua untuk duduk. Mereka pun bingung kepada pegawai Kedisplinanan, karena melakukan pendekatan aneh.


Fida mulai mendekati mereka berdua dengan berbicara baik, menyuruh mereka duduk untuk menceritakan kejadian kepada Suherman.


Satpam dan pegawai kedisplinanan berdiri di depan mereka. Suherman tampak melihat mereka dengan serius sambil memikirkan langkah selanjutnya.


Fida berdiri melihat mereka berdua, Rio dan Sakti diam. Namun Suherman mendekati mereka berdua dan menyuruh menjelaskan kejadian di gudang secara paksa.


Rio dan Sakti masih diam, tidak menjelaskan kepada mereka persoalan alasan di gudang itu dan menundukkan kepala.


Suherman memegang kerah baju mereka dan melihat dengan wajah marah untuk meminta menjelaskan secara paksa alasan mereka kejadian di gudang itu, untuk bicara secara paksa.


Namun Fida menyuruh direkrur sabar dan melakukan pendekatan halus supaya tidak melakukan kekerasan kepada mereka.

__ADS_1


Suherman bersabar dan menunggu penjelasan alasan mereka. Rio dan Sakti pergi meninggalkan mereka berdua dan menyuruh satpam menghindar dari pintu. Fida membiarkan mereka pergi dari ruangan direkrur.


Suherman bingung dan bertanya alasan Fida membiarkan mereka pergi keluar ruangan, yakni dia sendiri yang akan melakukan pendekatan khusus dengan mengumpulkan bukti kuat terkait masalah ini.


Suherman menerima dan memberi kepercayaan untuk kepentingan perusahaan dan Fida. Pegawai kedisplinanan juga menerima penjelasan itu karena hanya dia yang bisa mengumpulkan bukti terlebih sering diganggu oleh mereka.


"Begini Pak, kalau kita melakukan dengan paksa seperti kita lakukan bersama banyak petugas keamanan dan pimpinan disini tadi, justru mereka jadi terpojok, dan mereka tidak akan buka mulut. Walaupun Fida sudah melakukan pendekatan bicara secara halus, tapi belum efektif." ucap Hendra pegawai kedisplinanan.


Suherman menyetujui saran Hendra, pemimpin satpam Jerry juga menyetujui untuk bisa melakukan pendekatan khusus oleh Fida sendiri supaya bisa buka mulut, tapi harus memerlukan alat perekam suara dan kamera kecil untuk mempermudah mengumpulkan bukti.


Suherman menyetujui itu dan melakukan untuk kepentingan bersama.


"Namun bagaimana dengan isu yang sudah beredar di kantor dan investor?" ucap Suherman..


"Untuk investor dan isu menyebar di kantor tak perlu pusing, kalau terungkap isu akan hilang dan semua bisa dibersihkan." ucap Hendra.


Mereka semua keluar masing-masing kembali ke tempat bekerja, Fida pun kembali ke dapur seperti biasa melakukan aktivitas kebersihan.


Rio dan Sakti di jam istirahat keluar kantor mencari warung makan duduk dan memesan minuman. Rio bercerita bahwa kejadian ini sangat kaget karena semua itu terjadi akibat ulah Fida yang teriak ke direktur.


Sakti begitu sampai memasukkan kedalam ruangan direkrur sejumlah satpam agar buka mulut.


Namun Rio dan Sakti sambil makan menceritakan itu dan memulai beri pelajaran kepada Fida supaya bisa tutup mulut. Sakti juga menyetujui itu dengan menculik lagi untuk dibawa ke luar kantor ke tempat jauh tidak seorang yang mengetahui itu.


Mereka menikmati hidangan makan siang dan minum teh dingin dekat kantor. Namun sambil makan, Rio menyampaikan, kalau Fida melakukan pendekatan halus supaya bisa buka mulut tapi untuk motif apa mereka masih berpikir dan berdiskusi berdua.


Sakti menyampaikan kalau itu hanya kedok untuk bisa melakukan pendekatan halus agar bisa terbongkar kasus itu.


Fida pun keluar untuk makan siang di warung dekat kantor. Lalu dia duduk di tempat makan dan memesan nasi pakai ayam goreng dengan teh manis dingin. Lalu terlihat ada Rio dan Sakti duduk di pojok, sedang membicarakan hal serius, namun mereka tidak melihat Fida.

__ADS_1


__ADS_2