Kisah Pria Sukses

Kisah Pria Sukses
Sudah Sembuh


__ADS_3

Sampai di kantor, mereka membicarakan lingkungan anak kost Fida tidak baik, memandang orang baru seperti itu.


Rio ingin mengganggu anak kost berwajah marah. Namun Sakti menyampaikan agar tidak perlu mengganggu anak kost itu berwajah marah, cukup si Fida saja.


Dua Minggu sudah berlalu, kini Fida sudah bisa berdiri, bersemangat, ceria di depan satpam yang duduk di kursi.


Fida mengajak satpam jaga keluar untuk makan di warung dekat kost. Sampai di warung, mereka pesan makan dan minuman dingin oleh pelayan.


Satpam bertanya kepada Fida mengenai kondisi perut. Dia menjawab kalau perut sudah pulih dan tidak sakit lagi, bersiap untuk bekerja besok.


Suherman menelpon Fida, memberitahu bersiap bekerja besok seperti biasa.


Selesai makan, mereka berdua pulang ke kamar kost, mengambil tas satpam untuk pulang hari ini karena sudah selesai jaga Fida.


Satpam pamit kepada Fida dari kamar kost, membawa tas ransel untuk pulang istirahat dirumah. Dia menutup pintu, bersiap mandi dan shalat, lalu menelpon mama, memberitahu kabar kalau dia sedang baik-baik saja begitu mama Fida juga sehat.


Saat Fida ingin rebahan, Rio dan Sakti mengunjungi kamar kost, mengintip dari jendela berwajah marah. Dia kaget, lalu menutup tirai jendela. "Besok ya, jumpa." ucap Rio mengetuk pintu kamar Fida dua kali.


Fida diam mendengar mereka dan tidak ambil pusing atas sikap dan ucapan mereka.


Rio melihat anak kost berwajah marah, perlahan mereka berdiri mendekati Sakti dan Rio berwajah marah.


Dua penghuni kost berdiri menutup pagar, menghalangi mereka berdua keluar. Mereka kaget melihat reaksi dua anak kost dengan wajah makin marah.


Dua anak kost lain mendekati mereka berdua berwajah marah. Rio dan Sakti kelihatan bersiap untuk menyerang mereka. Fida pun kaget, keluar berdiri di depan pintu, melihat mereka di dekati penghuni kost.


Ibu kost kebetulan dirumah melihat anak kost mengganggu mereka berdua. Ibu kost mengambil selang air biasa dipakai siram bunga untuk mengancam menyiram anak kost yang menghalangi Rio dan Sakti keluar. Anak kost langsung masuk dengan wajah marah ke kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Fida pun lega, ibu kost menolong mereka dari gangguan penghuni kost disini.


Rio dan Sakti merasa lega ditolong ibu kost dan berterima kasih kepada ibu kost sudah mengusir anak kost. Dia menyuruh mereka pergi dan menyampaikan tidak boleh mengganggu penghuni kost disini lagi.


Rio dan Sakti pergi meninggalkan kamar kost Fida, tidak akan kembali lagi, berjalan kaki keluar gang mengendarai sepeda motor.


Besok pagi Fida mulai berangkat bekerja seperti biasa. Sampai kantor, Fida mengambil perlengkapan kebersihan di dapur untuk melakukan kebersihan seperti biasa. Namun saat jam pegawai dimulai, Fida kelihatan aneh melihat seluruh pegawai kantor kecuali satpam dan petugas kebersihan mencibir dia. Fida kaget melihat kelakuan pegawai kantor.


Suherman mendatangi ke dapur lebih awal untuk melihat kondisi dia. Pegawai yang melihat dengan cibiran pergi masuk ke dalam kantor.


Suherman menyampaikan kalau hari ini bekerja seperti biasa dan bijaksana. Fida tersenyum kepada dia untuk melakukan pekerjaan dengan baik dalam hatinya.


Fida melakukan pekerjaan seperti biasa dengan mengepel lantai koridor lantai dua, membersihkan kamar mandi, dapur, kaca jendela lantai dua dengan baik.


Saat Fida menyiapkan teh dan cemilan untuk pegawai yang di pesan pegawai dengan sebutan raja, Rio dan Sakti menemui di dapur. "Bagaimana raja, sudah sembuh dari sakit kamu?" ucap Rio kepada Fida sedang menyiapkan teh.


Suherman kebetulan lewat di koridor lantai dua, menegur mereka. "Hem. Hem, bolos ya?" ucap Suherman.


Mereka kaget melihat Suherman dan kembali bekerja ke ruangan masing-masing.


Suherman menyuruh Fida masuk ruangan direkrur pada jam istirahat siang dan menerima perintah berwajah bingung.


Pada jam istirahat, Fida masuk ruang, duduk di depan meja. Direktur mulai pembicaraan dua mata dengan segelas teh panas. Suherman ingin menyampaikan jujur tentang kejadian tiga Minggu lalu saat dia di gudang.


Fida diam dan bingung karena dia tahu pelakunya. Tapi dia masih mencari jalan baik agar masalah ini dapat selesai, itu perkataan dalam hati.


Wajah Suherman bingung melihat ekspresi wajah Fida belum jujur. Lalu dia bertanya lagi dengan wajah serius. Fida menjawab berwajah santai. Tapi Suherman masih penasaran untuk bertanya lagi kepada dia ketiga kali. Dia tetap menyampaikan kalimat sama.

__ADS_1


Suherman menyuruh Fida pergi meninggalkan ruangan dengan nada santun. Sampai di luar ruangan direktur, Fida merasa lega karena dia percaya. Namun akan mencari jalan keluar agar tidak merugikan siapapun.


Suherman memikirkan reputasi perusahaan, memeriksa laporan di monitor laptop dan banyak kertas berserak di meja.


Seorang pemimpin petugas keamanan, masuk ke dalam ruangan menyampaikan laporan, kalau kejadian di gudang tiga Minggu lalu sudah tersebar di seluruh pegawai dengan mencibir Fida.


Suherman kaget mendengar itu, lalu seorang penasihat khusus perusahaan masuk ruangan berdiri menghadap, menyampaikan kalau nilai investor perusahaan menurun 20 persen sejak dua minggu terakhir.


Suherman kaget mendengar hal itu, lalu bertanya alasan investor menarik nilai investasi kepada penasihat khusus. Dia beranggapan kalau mereka menarik nilai investasi karena kejadian di gudang itu.


Suherman makin pusing memikirkan itu, apalagi nilai investasi menurun 20 persen, itu membuat kepercayaan perusahaan terhadap investor menurun.


Suherman menyuruh mereka keluar dari ruangan untuk menyendiri memikirkan hal ini. Mereka pun keluar ruangan, kembali bekerja.


Fida melakukan aktivitas seperti biasa menggunakan alat kebersihan. Setelah itu, istirahat di dapur dan mendengar bunyi telepon kantor. Dia mengangkat telepon dan menerima instruksi Suherman untuk masuk kedalam ruangan membicarakan masalah ini.


Fida masuk ruangan mengetuk pintu, duduk di hadapan Suherman berwajah serius. Dia menyampaikan kalau perusahaan sedang mengalami penurunan nilai investasi akibat isu kejadian di gudang.


Fida kaget dan prihatin mendengar hal itu. Lalu Suherman ingin dia jujur agar kasus ini dapat terungkap siapa pelaku kejadian itu.


"Hari ini saya belum bisa memberitahu, Pak karena saya ingin meminta waktu untuk mencari tahu pelaku." ucap Fida kepada Suherman.


Padahal dia masih memikirkan cara mediasi masalah ini kepada pelaku dan direktur supaya tidak terjadi kerugian dan bisa berdamai.


Suherman tetap bersikeras memberitahu sekarang kepada Fida, karena dia melihat ekspresi wajah sedang menyembunyikan sesuatu hal yang sudah diketahui pelaku kejadian itu.


Namun dia harus menutup mulut dan bersikap tenang kepada Suherman dengan memberikan alasan yang tepat, agar dia tidak curiga supaya tidak ketahuan.

__ADS_1


"Begini Pak, saya masih perlu waktu mencari pelaku kejadian di gudang itu. Karena wajah pelaku tidak nampak karena gudang itu dimatikan lampu jadi, masih mencari bukti kuat, kalau menuduh tanpa bukti, bisa berbahaya." ucap Fida kepada Suherman.


__ADS_2