
Setelah itu, mereka permisi pamit dari kursi warung makan. Suherman tetap duduk di kursi melihat mereka keluar.
Tak lama, Suherman pergi dari warung makan menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah.
Di pinggir jalan, mereka berdiskusi kalau besok pukul 03:00 pagi mencari kamar Fida di rumah sakit dengan memeriksa seluruh kamar dengan mengintip dari pintu.
Mereka pun datang masuk kedalam rumah sakit dengan penjaga keamanan yang telah berganti, sedang duduk di depan pintu masuk. Mereka menegur satpam dengan ucapan permisi.
Mereka masuk dengan berjalan santai ke dalam rumah sakit berhenti di ruang tunggu. Lalu mereka mencari kamar dengan mengintip pintu kamar rumah sakit di lantai satu dengan berpencar.
Tiap kamar mereka cari di lantai satu belum ketemu, mereka lalu naik ke lantai dua dengan berjalan bersama. Lalu berpencar memeriksa setiap kamar dengan mengintip dari pintu kamar dengan membuka sedikit.
Rio panggil Sakti, mengatakan kalau ini kamar Fida, mereka mulai mencari tempat aman untuk mematai. Dia kaget ada satpam masih didalam duduk di sofa menjaga dia.
Mereka bermaksud untuk menunggu kesempatan jika satpam keluar. Tapi satpam tetap di dalam kamar VVIP eksekutif sudah tersedia makanan dan fasilitas lengkap di antar Suherman setiap hari.
Mereka berdiskusi, cara agar satpam bisa keluar kamar, supaya bisa masuk ke dalam menemui Fida.
Rio pun punya ide, bermaksud membohongi satpam rumah sakit dengan menyuruh pria yang jaga pasien dipanggil keluar, mengambil bingkisan yang ada di parkiran mobil.
Pria itu keluar bersama satpam rumah sakit meninggalkan Fida sendirian. Mereka masuk kamar melihat sedang bermain ponsel.
Fida kaget melihat Rio dan Sakti berdiri di depan tempat tidur. "Hey, ini kami Rio dan Sakti, jangan coba bilang kepada Suherman kalau kami sudah menyekap kamu." ucap Rio dengan wajah melotot.
Fida diam karena masih lemas, Rio dan Sakti mulai memainkan infus, dengan menggenggam tabung infus dengan tangan Rio.
Fida diam, Sakti mengambil pisau, mengarahkan ke selang infus, dia terdiam melihat Rio dengan mata melotot.
Rio terus memberi ancaman agar Fida tutup mulut kepada Suherman. "Jika melapor, akan tahu akibatnya." ucap Rio memainkan pisau dan meletakkan lagi di meja.
Lalu Rio memelototi Fida sangat dekat dan pergi keluar dari kamar. Satpam yang jaga Fida kembali masuk menutup pintu. "Saya heran kok gak ada paket di parkiran ya?"
__ADS_1
Fida kaget, terdiam melihat satpam, dan berpikir kalau itu ulah Rio dan Sakti.
Satpam duduk di sofa, Suherman pun masuk ke kamar meletakkan makanan di meja pasien, kemudian duduk di kursi pasien menghadap ke halaman taman rumah sakit, melihat dari jendela kamar.
"Pak tadi saya disuruh ambil paket oleh satpam rumah sakit, tapi sampai di parkiran, tidak ada orang yang mengantarkan paket kepada saya." ucap satpam kepada Suherman.
"Loh kok bisa, siapa yang menyuruh itu? Jadi kamar Fida tadi kosong ya.?" ucap Suherman bertanya kepada satpam.
"Yang suruh ambil paket, satpam rumah sakit, jadi saya ambil dan tinggalkan Fida sendirian di kamar, Pak."
Suherman kaget mendengar informasi itu, dia menggeser kursi ke arah Fida untuk bertanya. "Tadi sejak kamu ditinggal satpam, apa yang terjadi padamu?"
"Selama saya ditinggal satpam, saya tetap sendirian dan tidak melakukan apapun, Pak?"
"Betul itu?"
"Iya Pak."
Fida perlahan bangkit sendiri dari tempat tidur menuju kamar mandi tapi infus masih dipegang oleh satpam dengan membangunkan dia tengah malam.
Fida pun pipis dengan meletakkan infus digantungkan khusus di dalam kamar mandi, setelah itu dia keluar dibantu oleh satpam untuk berbaring lagi ditempat tidur.
Tak lama, pintu pun terbuka sedikit, Rio mengintip Fida rebahan habis dari kamar mandi. Saat ingin berbaring ke samping kiri, dia melihat mata melotot Rio, Fida pun kaget.
Lalu gantian Sakti mengintip, Fida kaget melihat mereka, tapi harus diam dan tenang walaupun merasa terganggu. Dia berbaring badan ke kanan dengan membelakangi mereka yang mengintip.
Rio dan Sakti pun pergi menutup pintu kamar rumah sakit dengan tidak ketahuan oleh Satpam yang tertidur di sofa.
Pagi hari, Fida berbaring seperti biasa di kasur dengan mata terbuka melihat sekeliling rumah sakit, tidak melakukan sesuatu. Suster dan dokter masuk kamar, memeriksa kondisi pasien hari ini dengan mengecek bagian tubuh, perut dan mengambil stetoskop dengan menyuruh mengambil napas.
Dokter menyuruh untuk bangkit dengan duduk dan bertanya kepada pasien tentang kondisi perut Fida.
__ADS_1
Fida menjawab, kalau perasaan di perut masih sakit sedikit saat melakukan gerakan duduk dan berbaring. Dokter akan memberikan obat untuk menyembuhkan rasa sakit.
Setelah itu, dokter menjelaskan kepada Suherman yang baru masuk kamar pagi ini, kalau Fida sudah boleh pulang besok.
Suherman merasa senang mendengar kabar ini. "Dok, apakah dia akan rawat jalan? Lalu apakah sudah bisa bekerja berat?"
"Untuk saat ini, dia harus rawat jalan, sudah bisa boleh bekerja, tapi tidak boleh terlalu capek, hindari pekerjaan berat, Pak. Harus menunggu dua Minggu lagi agar kondisi tubuh sehat lagi dan rutin minum obat secara teratur." ucap dokter menjelaskan kepada Suherman.
"Baik Dok, terimakasih."
Dokter pergi meninggalkan kamar pasien dan satpam menutup pintu kamar.
Fida masih rebahan dikasur, Suherman melihat Fida dengan wajah tersenyum.
Dia menyampaikan, kalau lusa sudah bisa masuk kerja. Fida diam dan meminta maaf sudah menyusahkan bapak Suherman hingga membuat reputasi perusahaan menurun karena kejadian di lingkungan kantor.
Suherman tidak memikirkan itu dan menyuruh dia tetap bekerja seperti biasa. Namun dia akan mencari dan menemukan pelaku kejadian di kantor dengan mengucap didalam hati.
Fida sudah bisa bangkit, duduk sarapan sendiri di atas tempat tidur dengan melahap makanan dari rumah sakit.
Lalu Suherman masuk kamar menemui Fida, Dia berterima kasih sudah banyak membantu memberi pengobatan, membeli pakaian dan membawa makanan selama seminggu dirawat.
Fida tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas kebaikan selama ini. Suherman menyuruh untuk tidak ambil pusing, tetap fokus terhadap kesehatan.
Suherman sebagai bos, bertanggung jawab terhadap kejadian menimpa dia sambil tersenyum.
Fida terdiam dan senyum kepada Suherman, mendergar punya bos yang bertanggung jawab.
Fida berjanji dalam hati untuk memberikan kualitas terbaik, walaupun jabatan saat ini sebagai petugas kebersihan. Tapi akan memikirkan cara menyelesaikan persoalan tanpa merugikan siapapun, dia berbicara dalam hati.
Namun akan mencari cara agar bisa melalui proses dengan cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit hati karena kehadiran di perusahaan ini.
__ADS_1