Kisah Pria Sukses

Kisah Pria Sukses
Teguran Keras


__ADS_3

Sampai dirumah sakit, Fida dan Rio bertanya kepada suster soal pasien dirawat disini bernama Pater.


Lalu mereka berdua dipanggil oleh satpam yang membawa Pater dalam ambulance sedang duduk di sudut belakang ruang tunggu bagian depan rumah sakit.


Mereka berdua pun menoleh ke arah satpam yang berdiri memanggil mereka, kebetulan suasana rumah sakit sedang sunyi.


Mereka berdua berjalan menghampiri satpam dan bertanya kondisi pasien bernama Pater yang sedang dirawat di ruang IGD.


Seorang satpam menjawab kepada mereka, kalau Pater masih dirawat di ruang IGD dan menyuruh mereka berdua duduk untuk menunggu.


Tak lama kemudian, dokter keluar dan mereka bertiga berdiri dari kursi tunggu, berjalan menghampiri dokter untuk bertanya kondisi Pater.


"Begini Pak, kondisi pasien saat ini baik-baik saja, hanya mengalami cedera kaki kanan saja. Namun dia harus dirawat disini tiga hari agar bisa memperoleh perawatan maksimal." ucap dokter kepada mereka bertiga.


"Baik Dok, terimakasih." ucap Rio kepada dokter.


Dokter tersenyum dan permisi pamit berjalan meninggalkan mereka bertiga.


Mereka berdiri, tapi Rio dan anggota satpam bernama Jou menatap Fida dan menyuruh untuk duduk di ruang tunggu. Lalu Rio dan Jou masuk kedalam menemui Pater melihat kondisi yang sedang berbaring diatas tempat ruang IGD dengan wajah lemas.


"Gimana, Pater apa yang sakit?" ucap Rio.


"Bagian kaki dan tubuh terasa sakit dan saya sangat lelah. Sepertinya saya tidak bisa masuk kerja lagi hari ini deh." ucap Pater kepada Rio.


Rio menyarankan kepada Pater untuk istirahat dan akan menghubungi kantor untuk meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit.


Pater menghela napas karena merasa tertolong kepada Rio dan Jou yang datang melihat dan mengantarkan kerumah sakit.


"Dimana orang itu?" ucap Pater.


"Si Fida ya Pater?" ucap Rio.

__ADS_1


"Iya dimana dia?" ucap Pater.


"Dia ada di ruang tunggu saya tidak menyuruh untuk masuk karena harus dua orang dulu untuk melihat kondisi kamu kata dokter." ucap Rio.


"Karena dia lalai dalam membersihkan lantai saya sampai jatuh. Kok bisa ada pegawai baru yang masuk kantor ini bisa membuat pegawai lain jadi masuk rumah sakit seperti saya." ucap Pater dengan nada kesal.


"Tenang Pater, kamu jangan banyak bicara dan marah dulu. Cukup kamu istirahat saja. Karena dokter akan memindahkan kamu ke ruang rawat agar bisa sembuh. Nanti saya hubungi bapak Suherman." ucap Rio kepada Pater sedang berdiri berbicara di dalam ruang IGD.


Pater menghela napas dan berbaring dengan tubuh santai, melupakan semua yang terjadi dengan menutup mata.


Rio menghubungi bapak Suherman untuk menyuruh dia kemari dan menjeguk pegawai di rumah sakit di alamat yang diberikan melalui telepon seluler.


Bapak Suherman sedang di kantor terkejut mendengar kabar buruk dengan wajah kaget melalui telepon seluler. Dia langsung menutup laptop dan menghubungi penasihat kantor bahwa dirinya akan pergi keluar kantor hari ini. Pergi meninggalkan ruangan dengan wajah panik.


Rio yang selesai memberi kabar kepada Bapak Suherman, menyuruh Jou keluar agar Fida bisa masuk kedalam melihat kondisi Pater.


Fida masuk mengetuk dengan wajah bingung dan berjalan pelan mendekati Rio sedang berdiri dan Pater sedang berbaring. Fida melihat Pater berwajah marah dan Rio sedang mengetik pesan di ponsel cukup sibuk.


"Gimana Pak, sudah baik-baik saja?" ucap Fida nada suara pelan.


"Maafkan saya ya Pak, saya bersalah atas kelalaian dalam bekerja." ucap Fida kepala menunduk.


"Kamu pikir dengan memaafkan sudah bisa menyelesaikan semuanya. Ini lihat tubuh saya lemas." ucap Pater.


Pria bernama Pater, usia 39 tahun, pangkas cepak, memakai kemeja tangan panjang, bertubuh gemuk adalah seorang pegawai kantor yang bekerja input laporan kerja masuk harus berbaring tak berdaya.


"Kamu pergi sana! Saya tak ingin melihat kamu lagi." ucap Pater menyuruh Fida pergi dari ruang IGD.


Fida menunduk kepala di depan Pater, lalu pergi meninggalkan ruangan IGD dengan wajah sedih berjalan pelan. Dia duduk di ruang tunggu, menangis mengalami kejadian tak biasa ini.


Lalu Jou melihat Fida di depan tepat di ujung kanan kursi ruang tunggu saat itu sedang sunyi.

__ADS_1


Namun Suherman sudah sampai di rumah sakit berjalan cepat, melihat Fida dan Jou duduk di ruang tunggu tanpa menegur dan masuk kedalam ruang IGD melihat Pater.


Suherman melihat kondisi Pater dan menanyakan penyebab kejadian ini berdiri dihadapan Pater dengan wajah serius.


Pater menceritakan semua kejadian itu kepada Suherman. Rio berdiri mendengar semua cerita itu disamping Suherman berwajah serius.


Suherman sudah mendengar semua cerita itu dan pergi keluar menuju meja administrasi untuk membayar rumah sakit dan rawat inap.


Fida melihat Suherman berdiri dengan wajah malu karena lalai dengan tugas sebagai petugas kebersihan.


Suherman berjalan menghampiri Fida duduk di sebelah kanan dan menyuruh Jou pergi untuk bicara berdua.


"Saya sudah mendengar semua kejadian ini. Saya marah kepada kamu karena sudah membuat Pater pegawai disegani di ruang kerja lantai dua harus masuk rumah sakit karena kamu!" ucap Suherman kepada Fida nada marah menunjuk ke wajah saat berbicara.


"Maafkan saya Pak, karena kelalaian dalam bekerja." ucap Fida wajah sedih.


"Bapak kecewa dengan hasil kerja kamu yang lalai. Padahal kamu hanya bersihkan lantai kamar mandi di lantai dua saja. Tapi kamu bisa buat kesalahan fatal. Sudah kamu tidak usah masuk besok." ucap Suherman nada tegas.


"Jangan Pak, saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup saya." ucap Fida dengan kedua tangan memohon dan menangis kepada Suherman.


Suherman diam saja, berwajah kesal, karena dalam hati sudah kecewa memasukkan pegawai buruk dalam bekerja sambil melipat kedua tangan memakai kemeja putih dan dasi biru polos.


"Saya tetap ingin bekerja besok Pak. Saya mohon. Izinkan saya tetap masuk bekerja Pak." ucap Fida terus memohon.


Suherman memberikan izin untuk tidak boleh masuk bekerja selama dua hari, dan menyuruh mengambil bagian kedisiplinan surat skorsing bekerja dan pemotongan gaji bulan ini sebesar 10 persen.


Fida mendengar itu sangat terkejut dengan wajah menangis dihadapan Suherman yang marah dengan baju kaos dan celana hitam panjang.


Dia memohon untuk memaafkan kesalahan bekerja, namun Suherman tetap marah dan berdiri pergi meninggalkan rumah sakit dengan wajah marah.


Fida malah mengejar Suherman dengan tangan memohon untuk tidak memberikan skorsing bekerja dan memohon agar besok bisa masuk bekerja seperti biasa.

__ADS_1


Suherman masuk kedalam mobil dengan banting pintu. Namun Fida tetap berwajah sedih memohon untuk memaafkan dirinya.


Tapi dia tancap gas meninggalkan area parkir rumah sakit menuju kantor lagi. Tapi Fida tetap mengejar mobil Suherman dengan wajah sedih dengan memegang mobil pada kedua tangan tapi sampai depan gerbang dia terduduk, menangis melihat mobil Suherman menjauh dari pandangan mata.


__ADS_2