KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 010 Babak Belur


__ADS_3

Rido kembali memandangi orang-orang tadi dengan pandangan heran.


"Kalian mengenalku?" tanya Rido memastikan kembali.


"Tentu saja, kau sudah mencari masalah dan kau harus mendapatkan pelajaran. Hajar dia!" Ketiga orang tersebut langsung menyerbu Rido.


Rido pun langsung sigap menjauh dari mobilnya, perkelahian pun tidak dapat dielakkan lagi.


Hiyat!


Hiyat!


Nafas mereka tidak beraturan, Rido sedikit kewalahan menghadapi ketiga orang berbadan kekar yang belum Rido ketahui identitas dan maksud menyerangnya tersebut.


Buuuk!


Pukulan disertai tendangan Rido berhasil mengenai salah satu lawan hingga terjatuh dan terpental ke belakang beberapa langkah.


Kedua orang itu pun berhenti.


"Boleh juga kemampuanmu, kau pikir dengan kemampuan seperti ini dapat membuat kau jadi seenaknya seperti apa yang kamu lakukan ya?"


Cuih!


Orang tersebut meludah. Rido menggelengkan kepalanya, sampai sekarang pun Rido tidak tau maksud dari pengeroyokan terhadapnya itu. Mereka terus menuduh Rido bukan-bukan.


"Sebenarnya siapa kalian dan ada masalah apa kalian sama aku?" tanya Rido sambil tetap memasang kuda-kuda.


Orang yang tumbang tadi pun kembali berdiri dan bergabung dengan kedua temannya meskipun terlihat masih meringis kesakitan, tapi kini sudah berjajar dengan kedua temannya.


"Bodoh! Kau masih belum menyadarinya juga ya? Kau pikir, kau adalah lelaki paling sempurna di dunia ini yang tidak memiliki dosa sehingga kau sampai tidak tau apa kesalahanmu?" ejeknya.


"Atau mungkin karena kesalahanmu terlalu banyak sehingga otakmu tidak mampu mengingatnya?" lanjutnya berapi-api.


Rido perhatikan sejak awal tadi hanya satu orang saja yang berbicara, yang lain hanya diam. Rido mencoba mengingat-ingat suara lawan bicaranya itu, sepertinya Rido pernah mendengarnya tapi dimana?


Sialnya sampai habis waktu setengah menit, Rido tidak menemukan jawabannya. Jika saja hal itu di dukung dengan wajah si pemilik suara, kemungkinan Rido bisa mengingatnya.


"Aku tidak tau, makanya aku bertanya," sahut Rido pada akhirnya, seolah telah menyerah dengan ingatannya sendiri.

__ADS_1


"Ohh masih saja kau tak tau salahmu ya? Baiklah, akan kami buat kamu menyadarinya." Setelah mengucapkan hal tersebut, orang itu pun memberi kode pada kedua temannya untuk kembali menyerang Rido.


Rido pun ikut maju pula karena bagi Rido percuma berhenti atau kabur, pastilah ketiga orang tersebut tidak akan membiarkan Rido begitu saja. Kecuali pertarungan mereka berakhir dengan adanya yang menang dan yang kalah.


Dan jika kabur, Rido tidak akan tau titik permasalahannya. Kesalahpahaman atau memang benar adanya bahwa Rido telah membuat kesalahan sehingga membuat mereka semarah itu.


Ketiga orang tersebut mengerubuti Rido dengan gerakan melingkar. Untuk beberapa waktu, Rido mampu menangkis seluruh serangan lawan. Namun, tak beberapa lama salah satu dari mereka berhasil mengunci pergelangan tangan Rido dan merangkul bahunya.


Rido seperti terjepit, tak bisa berbuat apa-apa. Selain karena perkelahian tidak imbang yaitu satu lawan tiga, juga karena Rido sudah teramat capek dan lelah seharian menjadi pengantin.


"Pukul orang ini, supaya dia sadar akan kesalahannya!" teriak orang memegangi Rido dari belakang.


Tanpa menunggu lagi, kedua orang lainnya memukuli Rido di wajah dan perutnya.


Rido merasa tidak berdaya tapi sebisa mungkin untuk menahan rasa sakit yang dialaminya.


"Mampus, kau! Rasakan ini!" Keduanya lagi-lagi menghujami pukulan-pukulan pada Rido.


"Hentikan! Hentikan, semuanya!" teriak seseorang. Nita telah keluar dari dalam mobil.


"Hey, Nona. Berdiam diri saja di sana, biar kami memberikan pelajaran pada suami Nona," ujar salah seorang yang memukuli Rido.


Rido sudah lemas, benar-benar lemas.


"Oke, baiklah. Kita akan pergi karena kami sudah puas bermain-main dengan suami Nona. Tapi sewaktu-waktu kami akan datang kembali untuk melakukan hal yang lebih mengerikan dari ini jika suami Nona tidak menghentikan perilakunya," ujar orang yang memegangi Rido. Rido pun dilepaskan dengan sekali hentakan sehingga membuat Rido hampir tersungkur.


Rido tidak berkata apa-apa, pandangannya rada kabur. Rido benar-benar kehabisan tenaga, tapi Rido dapat menyaksikan ketiga orang tadi pergi meninggalkan tempat itu.


Rido ingin kembali ke mobil, hampir saja Rido terjatuh karena pandangannya kabur. Untung saja Nita langsung menangkap lengannya dan menuntun Rido ke mobil.


"Ya ampun, Rido. Mereka siapa? Apa kamu beneran gak kenal?" tanya Nita dengan panik.


Rido hanya diam, dia mencoba mengumpulkan tenaganya untuk tidak ambruk.


"Kamu masuk mobil, aku bisa sendiri," ucap Rido hendak menepiskan tangan Nita yang memapahnya.


"Rido, jangan. Aku aja yang menyetir, kamu lagi gak baik-baik saja. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang," ujar Nita. Rido menurut saja saat Nita menyuruh Rido duduk di samping pengemudi, meskipun masih dengan bantuan Nita tapi sejak tadi tidak ada perlawanan dari Rido.


Nita pun ikut masuk juga ke dalam mobil.

__ADS_1


"Kita pulang saja, aku tidak ingin ke rumah sakit," kata Rido pelan. Hampir-hampir tenaganya habis dan rasanya Rido ingin pingsan.


"Enggak, Rido. Kita harus ke rumah sakit karena aku tau luka kamu amat parah. Kita harus berobat sekarang juga," sahut Nita sambil sibuk memasang sabuk pengaman.


"Nanti di obati di rumah saja," terang Rido. Rido ingin lekas sampai ke rumahnya. Meskipun Rido merasa remuk badannya tapi Rido yakin hal itu akan berlalu jika Rido bertemu dengan Zumi.


Rido akan sembuh langsung setelah melihat Zumi.


"Pokoknya kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Nita lagi, Nita hendak memutar tapi kini Rido sudah tidak memiliki kesabaran lagi berbicara dengan Nita.


"Kamu budek ya? Aku mau pulang! Paham!" bentak Rido dengan sekuat tenaganya. Sesaaat Nita diam, tertunduk sebentar.


Rido menyadari perubahan mimik wajah Nita, dominan sedih. Tapi Rido tetap tidak peduli.


"Kita pulang! Sekarang!" lanjut Rido.


Nita mengangkat wajahnya.


"Baiklah, kita pulang.l sekarang," sahut Nita pada akhirnya.


Rido di sambung oleh para pelayan dengan bingung dan juga panik di pintu depan.


"Panggil non Zumi di dalam," pinta salah satu pelayan pada rekannya.


Lalu yang diutus tersebut pun langsung berlarian ke dalam.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Den?" tanya sang pelayan paling tua di rumah Rido.


"Rido di keroyok orang, Bi. Bibi tolong siapin air panas saja untuk mengobati," pinta Nita pada pelayan tersebut.


"Baik, Non. Kita bawa den Rido ke sofa dulu, Non," ajak pelayan.


Dengan susah payah Rido di tuntut ke sofa dan diarahkan untuk berbaring. Antara sadar dan tidak sadar, antara pingsan dan tidak pingsan, Rido tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti arahan Nita dan pelayannya.


"Saya tinggal ambil air dulu ya, Non," pamit pelayan.


"Iya, Bi. Tolong yang cepat ya," pesan Nita. Rido merasakan tubuhnya terasa panas dan dingin. Sakit sekali bekas tonjokan ketiga orang itu.


Ini semua salah Rido, Rido tidak begitu mampu mengalahkan ketiga orang tersebut dalam keadaan lelah seperti tadi.

__ADS_1


"Mas, kamu gak papa?" tanya Zumi dengan panik yang tiba-tiba muncul di belakang Nita, yang sedang menghadap pada Rido.


"Zumi," panggil Rido. Seperti mendapat obat, seketika Rido merasa ingin memeluk Zumi meskipun keadaannya sedang tidak menentu.


__ADS_2