
Nita bangkit cari tempat duduknya dan langsung berdiri di tepi ranjang.
Nita berniat ingin mendekati Rido tetapi dengan cepat Rido dapat membaca jalan pikiran Nita yang hendak mendekatinya.
"Ekh, stop! Stop, kamu di situ. Jangan berani-berani mendekat," kata Rido sambil mengulurkan tangannya meminta Nita untuk berhenti.
Rido benar-benar tidak siap jika harus didekati oleh Nita di kamarnya hanya berdua saja tanpa ada yang melihat mereka.
Entah mengapa hari ini Rido jadi amat takut. Saat ini sungguh sangat terbalik, seharusnya yang terjadi pengantin wanita lah yang harusnya takut menghadapi malam pertama mereka sebagai suami-istri tetapi entah mengapa kini Rido justru yang lebih takut.
Rido takut Nita berbuat sesuatu padanya. Kekesalan Rido belum juga usai dan harus dihadapkan oleh situasi yang sungguh sangat menyebalkan seperti saat in. Rasanya Rido ingin meninggalkan dunia ini saja dengan segera. Tetapi dia tidak mungkin pergi karena bidadarinya masih tertinggal di rumahnya yaitu istrinya---Zumi.
Nita pun menghentikan langkahnya lantas menatap Rido dengan kelingan mata aneh, memandang Rido dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. Antara marah, kecewa, ingin melawan, dan juga nurut.
"Kenapa? Aku hanya ingin berada di dekatmu, Rido. Apa itu salah, sedangkan kamu adalah suamiku saat ini. Coba katakan salahku di mana?" tanya Nita.
Rido mundur beberapa langkah, Rido tidak dapat menebak lagi apa yang hendak Nita lakukan setelah ini padanya tetapi Rido benar-benar tidak ingin tahu tentang hal itu dan terlebih lagi Rido tidak mau itu terjadi.
"Kamu jangan macam-macam ya, kalau kamu masih mau mendengarkan aku sebagai suamimu maka pergilah ke tempatmu tadi dan kau harus tidur, paham!" tekan Rido.
Terpaksa Rido harus mengakui dirinya di depan Nita bahwa dirinya kini adalah suami Nita demi agar Nita mau menuruti permintaan yaitu untuk tidak mengganggu dirinya.
Sesaat terlihat Nita seperti menghela nafas dan dia pun membalikkan badannya kemudian menuju ke tempat posisi semula.
"Baiklah, aku akan tidur sekarang, mungkin lain kali kita bisa lakukan," kata Nita lalu dia pun menarik selimutnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut hingga wajahnya.
Ridho bernafas lega sesekali dia mengelus dadanya sendiri.
Tak tau mengapa Rido sangat jijik mendengar kalimat terakhir dari Nita. Rido membayangkan dirinya melakukan hal tersebut dengan Nita, lantas dirinya terkena penyakit dan menular pada Zumi.
__ADS_1
Pikiran jahat dan kotor itu muncul begitu saja menjadi sebuah kekhawatiran yang mendalam.
'Pasti banyak sudah lelaki yang tidur dengannya, secara dulu dia itu aku lihat suka gonta-ganti pacar. Apalagi kehidupan di luar negeri beberapa tahun terakhir ini, pasti membuat dia tambah rusak dan membabi buta,' batin Rido sambil bergidik ngeri.
Rido memperhatikan jam dinding yang diperkirakan saat ini mamanya---Ny Helena belum tidur. Rido sudah memiliki rencana untuk keluar dari kamar tersebut agar malam ini Rido bisa beristirahat lebih tenang karena tidak bersama dengan Zumi. Rido harap dirinya bisa tidur tanpa di temani Zumi karena biasanya Rido akan sangat kesulitan untuk tidur tanpa tangannya mendekap tubuh istrinya tercinta.
Rido pun memutuskan untuk menunggu waktu agar larut malam, baru dia akan keluar dari kamar Nita tersebut. Tujuannya agar rencananya itu berjalan dengan mulus tanpa ketahuan Ny Helena.
Rido pun menuju sofa, lantas dia menyibukkan diri dengan bermain ponselnya. Rido menyaksikan apa saja video melalui ponselnya agar dia tidak bisa menunggu waktu yang terasa berjalan amat lambat macam siput.
"Hooohhh! Capek juga." Rido menguap tanpa sadar dirinya ada di kamar Nita.
Akhirnya setelah beberapa lama dan Rido tau Nita sudah tidak ada tanda-tanda melek, Rido pun mengendap-endap keluar kamarnya.
Tujuannya adalah Rido ingin tidur di kamar yang lain saja. Yang terpenting tidak sekamar dengan Nita.
Rasanya Rido ingin ke kamar Zumi dan bercinta dengannya, menghabiskan malam dengan kemesraan tapi apa daya keadaan lagi tidak menentu.
"Sebenarnya siapakah mereka itu? Sepertinya dia amat mengenal semua keluargaku," gumam Rido terus menerus.
Rido menuruni anakan tangga. Rido ingin tidur di kamar tamu saja, toh semua orang sudah terlelap karena jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Rido benar-benar tersiksa dengan keadaannya. Tenaganya memang sudah pulih, tapi di rasa badannya makin terasa sakit. Mungkin efek di hajar tadi sore baru terasa.
Di bawah tangga suasana rumah sudah gelap, lampu yang besar-besar sudah di matikan hanya tinggal lampu meja dan lampu kecil-kecil yang tidak terlalu terang.
Dengan keadaan seperti saat ini, membuat Rido aman tidak ketahuan siapapun keluar dari kamar Nita.
Yang Rido takuti adalah dirinya ketahuan Ny Helena, mamanya itu pasti akan memarahinya dan juga Rido takut pada Zumi karena bisa saja Zumi juga akan marah kalau Rido keluar dari kamar Nita atau mungkin Zumi akan cemburu?
__ADS_1
Rido memperhatikan pintu kamar Zumi, rasanya Rido ingin berlari ke kamar Zumi dan tidur di sana tapi untuk saat ini Rido tidak bisa.
Kriyet!
Rido membuka pintu kamar tamu. Di sana bersih dan rapi, sudah lama tidak ada sanak saudara yang datang lalu menempati kamar tersebut.
Kamar tamu di rumah Rido, mendadak seperti tidak pernah di jamah orang. Dingin dan beku.
Ekor mata Rido menangkap remot AC lantas mematikannya Rido lebih mendingan tidak merasa kedinginan tetapi dia masih membutuhkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih kedinginan.
Setelah menutup pintu, Rido berjalan ke arah almari, berharap menemukan barang yang dia cari yaitu selimut.
Nihil, tak ada!
Rido terus mencari dan berpindah almari tapi tak ada yang dia cari.
"Gila! Ini kemana selimutnya? Biasanya ada beberapa di sini. Ohh, atau jangan-jangan baru pada di cuci. Masa bisa barengan sih." Rido pun pasrah dalam pencariannya. Rido yakin bahwa semua selimut sedang di cuci. Kalau di pakai tidak mungkin sebab tidak ada sanak saudara yang menginap di rumah Rido walaupun keluarga Rido habis menyelenggarakan pesta pernikahannya.
Rido pun tidur dengan posisi yang sama sekali dari jauh kata enak dan nyenyak.
Dia terus berguling-guling ke sana kemari seperti seseorang yang banyak memikirkan hutang.
"Hmmm, andai aja kamu di sini. Aku pasti tidak tersiksa seperti sekarang ini, Sayang," gumam Rido sambil matanya masih mencoba terpejam. Berharap Rido bakal bisa tidur nyenyak walaupun tanpa Zumi---istrinya maupun tanpa selimut.
Dinginnya malam seperti menusuk ke dalam tulangnya. Terasa nyeri akibat perpaduan cuaca dan juga rasa sakitnya dihajar oleh orang-orang yang tidak dikenalnya itu.
Sesaat Rido melek, dia memeriksa ponselnya kembali kalau-kalau ada suatu petunjuk dari orang-orang misterius itu tapi tak ada apa-apa.
Kalau di bilang penjahat, memang mereka penjahat. Seharusnya malam adalah waktu yang tepat untuk beraksi tapi nyatanya tidak ada.
__ADS_1
'Syukurlah, setidaknya aku mau tidur untuk beberapa jam ke depan tanpa harus terbayang-bayang ancaman mereka dan semoga saja malam ini mereka tidak mencari gara-gara padaku apalagi mendatangi rumahku,' batin Rido.
Rido pun terpejam karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya tidak bisa ditahan lebih lama lagi, dia pun mengabaikan rasa dinginnya yang seolah seperti berada di kutub.