
Zumi masih saja berada di dapur, Zumi sibuk membantu pekerjaan pelayan.
Sebenarnya Zumi sudah berkali-kali dilarang oleh para pelayan yang sedang sibuk dengan aktivitasnya tetapi Zumi ingin melakukan pekerjaan tersebut.
Iya seperti biasanya, tanpa paksaan Zumi sudah terbiasa dengan pekerjaan itu karena memang itu adalah pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, begitulah menurut Zumi.
Mentang-mentang karena Zumi sudah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya lantas Zumi harus ongkang-ongkang saja seperti kemauan Rido, suaminya. Setidaknya Zumi harus menjadi orang yang berguna dan yang paling penting dia harus menjalankan perannya sebagai seorang istri itu mengurus suami dan juga pekerjaan rumah.
Pendidikan Zumi memang tidak tinggi seperti Nita, istri baru Rido akan tetapi sebisa mungkin Zumi berusaha untuk hidup mandiri selama ini karena memang dirinya harus berusaha keras serta berjuang mati-matian sendirian semenjak kedua orang tuanya meninggal
Tuk ... Tuk ...
Suara sepatu berhak rendah terdengar di telinga di sini suara tersebut berhenti tepat di belakang Zumi.
"Aku bicara empat mata sama kamu." Suara tersebut mirip sekali dengan suara Nita. Zumi menghentikan pekerjaannya lantas terbalik badan dan ditemuinya ternyata memang Nita tengah menatapnya dengan santai.
"Ada apa?" tanya Zumi dengan tatapan biasa, sebetulnya Zuni sedikit cemburu dengan kehadiran Mita di rumah suaminya itu.
Tidak butuh waktu lama dia sudah merebut perhatian banyak orang. Mertua perempuannya, kakak dan adik iparnya, bahkan keponakan-keponakannya pun juga sudah mulai akrab dengan Nita.
Zumi melihat keadaan sekitar, memang di dapur ada beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka memang seperti terlihat cuek dan tidak peduli dengan perbincangan Zumi maupun Nita, tapi tidak menuntut kemungkinan mereka akan mendengar obrolan mereka nanti.
"Baiklah, di mana kita mau bicara?" tanya Zumi, di sini melepaskan clemek yang tadi dia gunakan.
Tangannya yang basah akibat mencuci piring, Zumi keringkan dengan celemek tersebut.
"Tolong, Bi," ujar Zumi menyerahkan celemek tersebut pada salah satu pelayan.
"Iya, Non." Pelayan itu menerima celemek dari tangan Zumi.
"Terserah saja, yang penting tidak di sini," sahut Nita.
Zumi memilih untuk ke kolam renang saja.
"Kita ke sana saja," ucap Zumi sambil menunjuk ke arah kolam renang.
Mereka berdua berjalan hampir berjajar.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat di mana mereka hendak berbicara.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu, ini soal suami kita," kata Nita setelah dirinya duduk di kursi tepi kolam.
Zumi pun ikut duduk.
"Ada apa, Nita?"
__ADS_1
Nita terlihat begitu serius memandang Zumi, entah apa yang Nita pikirkan saat ini. Zumi tidak tahu. Namun, Zumi yakin ini amat penting. Apalagi tadi Nita sudah menyinggung soal Rido.
"Katakanlah saja Nita, aku siap mendengarkannya," lanjut Zumi.
'Aku tidak tahan ingin mengatakan bahwa aku juga ingin mengurus Rido, Zumi,' batin Nita.
"Ayo," ucap Zumi lagi.
"Sebenarnya kamu mencintai Rido gak sih? Kenapa kamu menyetujui pernikahan kami berdua?" tanya Nita, membuat Zumi menatap Nita agak lama.
Tapi setelah itu, Zumi tersenyum tipis.
"Ini semua justru karena aku sangat mencintai mas Rido, aku hanya ingin dia bahagia," terang Zumi dengan tegas.
"Kamu yakin dia bahagia dengan menikah lagi?" selidik Nita.
"Sepertinya tidak perlu aku jelaskan lagi, Nit. Aku yakin kamu paham dan aku harap dia bisa nyaman dengan kamu nantinya," sahut Zumi.
Nita tertawa kecil.
"Tentu saja semua itu akan terjadi jika kamu juga mendukungnya," jawab Nita.
"Maksud kamu? Aku pasti akan mendukung kalian, bahkan kalian menikah juga aku mendukungnya," sahut Zumi.
Nita memalingkan wajahnya ke arah air kolam.
"Tidak mungkin, bahkan beberapa hari ini dia tidur denganmu," elak Zumi tidak percaya.
Nita Kemabli menatap Zumi.
"Itu taunya kamu dan taunya orang rumah, tapi yang terjadi kami tidur sendiri. Malam tadi, akhirnya dia menyentuhku juga dan aku yakin secepatnya aku akan hamil anaknya karena kami sudah melakukan hal itu semalam," terang Nita.
Tak sanggup Zumi mendengar semua pernyataan dari mulut Nita.
Entah apa yang Zumi rasakan dalam tubuhnya, tapi terasa begitu sakit. Tepat di jantungnya.
Mungkin cemburu!
Dipaksakan untuk tersenyum dan terlihat seolah biasa saja. Zumi tidak bisa membayangkan bagaimana suaminya itu melakukan hubungan suami-istri dengan wanita selain dirinya.
Tapi itulah sebuah cara agar Nita cepat hamil, Zumi berharap semoga Nita emang benar-benar bisa hamil di tahun ini. Sebentar lagi pasti kebahagiaan akan terlihat amat lengkap seperti apa yang diinginkan oleh semua anggota keluarga dengan kehadiran anak darah daging dari Rido.
"Syukurlah jika kalian sudah melakukan hal itu karena lebih cepat lebih baik, jadi hamilnya lebih awal pula," tanggap Zuni.
Nita terlihat rahangnya sedikit tertarik.
__ADS_1
'Gila ini cewek, bodoh apa terlalu sabar atau justru malah sebaliknya, dia pura-pura santai padahal hatinya lagi hancur banget. Ya aku yakin, pasti lagi hancur banget. Secara dia sama Rido saling mencintai,' batin Nita bingung sambil memegang dahinya sendiri.
"Iya, doakan saja ya supaya kami bisa cepat memiliki anak karena anak kami itu juga akan menjadi anak kamu. Bukankah demikian?" Nita mencoba untuk meyakinkan Zumi.
Zumi mengangguk.
"Iya. Aku akan menjadi ibu dari anak itu juga," sahut Zumi.
"Dan aku mau bicarakan masalah apa yang dikatakan mama tadi, soal bekal. Biar aku besok yang antar ke kantor," ucap Nita.
Zuni tersenyum.
"Iya, aku sudah ngerti kok. Besok aku akan buatkan dan kamu yang antar," sahut Zumi akhirnya
Nita bernafas lega penuh kemenangan.
'Akhirnya, aku bisa memiliki kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Rido. Aku akan gunakan waktu sebaik-baiknya. Lihat saja kamu, Rido... akan ku pastikan kamu juga akan mencintaiku seperti kamu mencintai istrimu---Zumi,' batin Nita.
Zumi terus memperhatikan Nita yang tampak bahagia. Zumi tersadar, dia pernah ada di dalam posisi tersebut.
Seakan dunia hanya milk berdua dan semua orang seperti hanya ngontrak saja. Konyol emang.
Pernikahan itu adalah sebuah komitmen untuk hidup bersama. Apalagi jika pengantin baru seperti Rido dan Nita, Zumi sangat yakin sekali bahwa Nita tengah amat bahagia.
Zumi diam-diam mempertanyakan mengapa Nita mau dijadikan istri ke dua untuk Rido melalui Ny Helena.
Padahal Zumi melihat, Nita itu cantik dan nyaris sempurna. Bahkan suaranya pun lembut, terkesan orang baik.
Saat keduanya diam dengan pikirannya masing-masing.
"Nita," panggil Zumi pelan.
"Ya? Ada apa?" tanya Nita. Dilihatnya wajah Zumi ada keraguan.
Zumi memang sedang dilema, rasanya dia ingin tau alasan Nita mengapa mau menjadi istri kedua Rido dan Zumi juga merasa mereka sudah kenal sebelumnya. Tapi apakah itu perlu dipertanyakan?
Akh! Rasanya perlu, tapi juga tidak perlu. Zumi jadi bingung sendiri dibuatnya.
"Boleh aku tanya sesuatu, Nita?" tanya Zumi sebelum memulai pertanyaannya. Zumi ingin tau dulu apakah Nita memperbolehkan dirinya bertanya.
"Tanya soal apa? Tanya aja, kalau aku bisa jawab pasti akan aku jawab," jawab Nita.
"Ini soal kamu sama mas Rido. Apa kalian sebelumnya sudah pernah kenal?" tanya Zumi membuat Nita terdiam.
'Apa aku jujur aja ya sama Zumi kalau dulu aku pernah ada hubungan sama Rido. Bahkan hubungan itu sangatlah indah dan aku ingin mengulanginya kembali. Tapi apakah Zumi akan mendukungnya? Sulit, aku sudah menandatangani kontrak itu yang salah satunya tidak akan membocorkan rahasia hubungan kami dulu. Tapi apa salahnya jika Zumi tau?' pikir Nita.
__ADS_1
"Nita? Nit?" panggil Zumi. Yang di panggil justru seperti melamun.