
PETANG HARI
Tok... Tok...
Rido dan Zumi masih saja di kamar, dokter baru saja keluar dari kamar Rido. Dokter itu mengatakan bahwa keadaan Rido akan baik-baik saja.
"Saya sudah tulis resep obatnya ya, Bu. Nanti bisa di berikan sama pak Rido," pesan dokter tadi.
"Iya, Dok. Terima kasih banyak," sahut Zumi yang menerima resep obat tersebut. Rido masih tiduran di atas ranjang karena Zumi tidak ingin Rido banyak gerak, apalagi gerak untuk menjahili Zumi seperti memeluk atau menciumnya.
"Biar cepat sembuh," katanya.
"Mas, aku keluar dulu ya. Mau nemenin dokter itu memeriksa Nita. Aku mau memastikan dia baik-baik saja, Mas ikut yuk," ujar Zumi yang sudah memegang handle pintu.
"Pergilah sendiri, aku tidak mau ke sana," sahut Rido dengan nada yang tidak suka.
"Tapi, Mas... dia kan juga sakit karena kecelakaan tadi itu. Mas harus ingat kalau dia juga istri Mas, Mas harus memperhatikan dia," balas Zumi.
"Sudahlah, Sayang. Kalau kamu mau ke sana, ya ke sana saja. Tapi aku gak mau ke sana, paham," tegas Rido. Akhirnya Zumi benar-benar pergi sendirian, meninggalkan Rido yang masih saja menggerutu.
"Mengapa Zumi malah menginginkan aku perhatian sama Nita, apa aku jujur saja ya sama Zumi tentang siapa Nita. Mungkin dengan itu, Zumi tidak akan menuntut aku memperhatikan Nita. Sama seperti saat Zumi memaksa aku menerima perjodohan ini," gumam Rido mempertimbangkan.
"Akh! Enggak, bisa-bisa nanti Zumi malah sakit hati merasa aku bohongin. Dan kalau aku kasih tau siapa Nita, pasti Zumi akan makin dekat sama Nita. Aku tau sifat Zumi kaya apa, huh!" Rido merasa tidak tenang dan merasa sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Rido kembali merasakan sakit ngilu akibat pencegatan tadi.
"Sebenarnya siapa sih mereka?" Lagi-lagi Rido tidak bisa mengingat apa-apa, seingat Rido dirinya tidak pernah memiliki musuh.
"Apa ini ada hubungannya sama Mama? Ini sangat berbahaya, gimana kalau mereka bukan hanya mengincarku? Tapi juga mengincar Zumi, atau yang lainnya?" pikir Rido.
"Aku harus keluar, aku harus ngomong sama mama tentang ini. Mungkin mama udah balik," gumam Rido. Rido pun bangkit dari tempat tidurnya lantas keluar kamarnya.
Rido mencari-cari keberadaan orang di rumahnya yang mewah, sejak tadi Rido tidak melihat batang hidung siapapun.
Kalau Zumi dan Nita jelas ada di kamar Nita dengan dokter itu tapi kalau para pelayannya kemana?
"Den?" sapa seorang pelayan dari arah belakang Rido. Rido yang sejak tadi celingukan akhirnya kaget juga.
"Iy... iya, Bi," sahut Rido sedikit latah akibat kaget.
Rido membalikkan badannya dan di dapatkan pelayan yang ada di depannya itu menatap Rido dengan bingung.
"Cari siapa, Den? Kok Den Rido gak istirahat saja di kamar? Den Rido lapar ya? Biar bibi antar saja ke kamar," ucap pelayan panjang lebar.
__ADS_1
"Enggak. Enggak, Bi. Aku belum lapar, aku cari mama. Apa mama sudah pulang?" tanya Rido mengungkapkan keperluannya itu.
"Ohh, nyonya. Bibi lihat tadi nyonya baru saja ke kolam belakang, Den," sahut pelayan sambil menunjukkan arah kolam renang dengan jari jempolnya.
Padahal tanpa di tunjukkan pun Rido juga sudah tau kalau kolam renang rumahnya di sana. Bagaimana tidak, Rido sudah di besarkan di rumah itu sejak kecil. Masa kolam renang saja tidak tau.
"Mama baru pulang ya?" tanya Rido ingin tau. Rido tidak tau kedatangan Ny Helena karena sejak tadi ada di dalam kamar terus.
"Sudah sejak setengah jam yang lalu, Den," sahutnya lagi.
Rido tampak terdiam, matanya tertuju ke arah kolam renang.
"Apa ada keperluan yang lain, Den? Biar bibi siapkan," tanya pelayan. Rido mengangkat tangannya.
"Bibi suruh istriku mandi sekarang karena petang ini aku mau ajak dia keluar," pinta Rido hendak pergi tapi langkahnya terhenti saat pelayan tersebut kembali bertanya.
"Ma... maaf, Den. Tunggu sebentar."
Rido kembali pada posisi semula.
"Ada apa, Bi?" tanya Rido tanpa curiga sedikitpun.
"Anu, Den. Cuma mau tanya, maksud Den Rido itu non Zumi atau non Nita?" tanya pelayan dengan hati-hati.
"Jadi siapa, Den?" kejar pelayan.
"Dua-duanya sama-sama istriku, Bi. Tapi sampai kapanpun, Zumi yang paling istimewa jadi bibi suruh Zumi cepat mandi karena aku mau ajak dia keluar," jawab Rido.
Pelayan itu pun manggut-manggut tanda mengerti. Rido pun akhirnya benar-benar pergi meninggalkan pelayannya yang masih berdiri di sana.
Rido mencari-cari keberadaan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Mana mama? Kata bibi ada di kolam," gumam Rido sambil celingukan.
Dilihatnya lebih teliti ternyata Ny Helena baru saja muncul dari dalam air kolam.
"Astaga, petang-petang kaya gini mama malah mandi," gumam Rido sambil berdecak.
Rido pun menghampiri kursi dan membawakan handuk untuk Ny Helena.
"Ma, sudah malam. Mama berhentilah mandi, nanti malah sakit rematik," ucap Rido.
Mendengar teguran sang anak, Ny Helena pun berenang menepi. Tubuh Ny Helena memang masih amat kencang di usianya yang sudah tidak muda lagi. Semua itu karena Ny Helena menjaga makanannya dan juga rajin berolahraga.
__ADS_1
Ny Helena menerima handuk dari Rido lalu duduk di kursi. Bikini yang Ny Helena terlihat tertutup, dalam arti tidak terlalu terbuka.
"Makasih, Sayang." Ny Helena menyedot jus alpukat yang berada di meja sampingnya. Rido ikut duduk di kursi, menghadap ke arah Ny Helena menikmati minumannya.
"Astaga, Rido. Mama baru tau lho kalau keadaan kamu kaya gini, mama pikir tidak separah ini saat mama dengar dari bibi. Makanya mama gak langsung temui kamu di kamar, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ny Helena dengan khawatir.
"Iya, Ma. Rido gak papa kok tapi Rido gak habis pikir. Sebenarnya mereka itu siapa?" kata Rido setengah bertanya.
"Maksudnya kamu... kamu gak tau siapa mereka?" tanya Ny Helena.
"Iya, Ma. Aku gak tau mereka itu siapa, makanya aku tanya sama mama sekarang," lanjut Rido.
Ny Helena meletakkan gelasnya.
"Mama juga gak tau, Rido. Mama mana kenal, mama kira mereka cuma temen kamu sekolah dulu," terang Ny Helena.
"Sekarang gimana keadaan Nita?" Tanya Ny Helena.
"Dia gak penting, Ma."
Rido lupa jika dia harus menjaga sikapnya di depan mamanya tentang Nita.
"Apa kamu bilang, Rido!" teriak Ny Helena.
Helena pun akhirnya berceramah panjang kali lebar. Rido menelan ludahnya sendiri, Rido merutuki dirinya sendiri karena salah bicara. Akhirnya Rido harus menerima semua kata-kata pedas dari Ny Helena.
***
Rido yang amat sudah pening mendengar ocehan Ny Helena pun merutuki dirinya sendiri.
"Yang benar saja malam ini aku harus tidur sekamar, gila!" maki Rido tak henti-hentinya.
Rido duduk termenung di dalam kamar, Zumi masih belum keluar dari dalam kamar mandi.
Rido pun bingung bagaimana dirinya harus bicara dengan Zumi perihal dirinya harus pisah kamar dengannya malam ini.
Kalaupun pisah, Rido tidak sanggup sekamar dengan Nita.
(Terdengar dering ponsel Rido, ada panggilan masuk)
"Nomor telepon tidak dikenal, siapa kira-kira ya?" gumam Rido setelah memeriksa ponselnya itu.
"Angkat gak ya? Aku bener-bener malas." Rido menimbang-nimbang ponselnya.
__ADS_1
Ponselnya pun dilemparkan ke atas ranjang. Rido pun duduk dengan gelisah sambil terus memikirkan nasibnya nanti.