KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 013 Ancaman Luar


__ADS_3

Rido kembali melirik ke arah ponselnya yang terus saja berdering. Lagi-lagi penelpon itu menghubungi Rido tanpa henti.


Rido jadi merasa terusik, tapi Rido juga merasa penasaran sebenarnya nomor yang tidak dikenal tersebut apakah benar dari orang-orang yang ditemuinya tadi?


"Jangan-jangan bukan mereka, jangan-jangan malah soal kerjaan. Tapi masa iya jam segini, pun karyawan tidak mungkin berani menelponku jika bukan jam kerja."


Dari pada penasaran Rido memutuskan untuk menjawab telepon itu juga sebab penelpon tersebut amat pantang menyerah terus menelpon.


Klik...


Rido: Halo, selamat petang. Ini siapa?


X: Hey bodoh, kenapa baru kau angkat teleponku? Kau kemana saja? Sibuk dengan dunia barumu ya?


Sapaan kasar dari seberang membuat Rido melotot. Ponsel itu dijauhkannya dari telinga Rido. Terasa gatal karena suara celaan tersebut.


Rido: Apa maksudmu? Ini siapa?


X: Rupanya kehidupan barumu sudah membuatmu lupa segalanya, padahal baru tadi lho kita berjumpa.


Rido: Ohh, jadi kau adalah salah satu dari orang yang telah mengerjaiku tadi? Iya?


X: Kadang otakmu rada encer juga ya, bisa tepat menebak. Tapi sayangnya 'lola'.


Rido merasa orang tersebut hanya ingin mencari gara-gara lagi dengan Rido. Rido pun hendak mematikan panggilan orang tersebut.


X: Jangan coba-coba mengakhiri panggilan ini jika kamu dan istrimu ingin selamat!


Rido langsung mengurungkan niatnya itu.


Rido: Ap... apa? Jangan pernah coba-coba menyentuh istriku atau kau akan ku hajar.


Rido tidak tau apa yang bakalan terjadi pada nasib Zumi jika dirinya harus mengalami apa yang Rido alami tadi.


Zumi seorang wanita yang lemah lembut, tentu saja tidak seberapa kekuatannya. Sedangkan Rido? Seorang lelaki yang bisa bela diri saja kalah dengan mereka. Tapi masa iya mereka akan berbuat kasar pada wanita? Mungkin akan berbuat tidak senonoh.


Terdengar tawa berderai di dalam telepon.


X: Makanya jangan pernah mematikan telepon dariku. Tamat sudah riwayat istrimu nanti, istrimu cantik juga.


Kembali tawa menggelar.


Rido jadi merasa kesal sekali. Jika saja saat ini mereka berhadapan, mungkin Rido akan membungkam mulut orang tersebut sampai tidak bisa tertawa untuk selamanya.


Rido: Apa mau kamu?


X: Nah, pertanyaan ini yang ingin sekali aku dengan dari tadi.


Rido: Oke, katakan sekarang juga! Sebelum aku benar-benar marah!

__ADS_1


X: Uhhh... takut. Jadi kamu mau tau apa yang aku mau?


Nada bicaranya makin membuat Rido naik pitam.


Bagaimana tidak mengarah karena Rido tidak tau duduk perkaranya, bayangkan saja tiba-tiba ada orang asing mencari masalah padanya dan ikut urut mengancam keselamatan istrinya, istri yang amat Rido cintai.


Pastilah Rido amat sangat kesal tapi semua itu Rido tahan demi orang yang dia cintai. Rido tidak mau gegabah dan menuruti emosinya sendiri karena sampai sekarang Rido juga belum tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka.


Rido: Iya, cepat katakan!


X: Apa ya yang aku mau, sebentar aku ingat-ingat dulu. Emmm...


Gigi geraham Rido mengeluarkan suara, beradu di dalam mulutnya. Tangan satunya sudah mengepal.


X: Apa ya?


Lagi-lagi penelpon tersebut masih sibuk berfikir, Rido mencoba bersabar.


X: Aduh, aku lupa. Sepertinya aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Entahlah mengapa tiba-tiba aku jadi pelupa kaya gini, mungkin teringat bayang-bayang istrimu. Gimana kalau berada di atas ranjangku. Pasti aku akan___


Rido: Tutup mulutmu, bangsat! Buang pikiran kotormu itu. Jangan pernah berkhayal dengan istriku karena semua itu percuma saja.


X: Ohh... tenang, tenang. Santai, santai. Tidak perlu emosi seperti itu. Baiklah kalau begitu, aku akan coba ingat-ingat lagi. Semoga besok sudah menemukan jawaban apa mauku. Selamat malam, salam buat istrimu ya.


(Suaranya terdengar mendayu saat menitip salam, membuat Rido muak)


Rido: Kamu___


Rido menatap layar ponselnya. Panggilan telah berakhir tepat di menit kesepuluh.


"Sial! Kenapa malah dimatikan!" Rido jadi gemas sekali dengan ponselnya. Rido melakukan gerakan ingin membanting ponselnya. Ketik Rido sudah mengayunkan, Rido mengurungkan niatnya untuk membantingnya.


Rido berfikir tidak ada gunanya Rido menghancurkan ponselnya. Rido butuh keterangan dan juga kabar dari orang tadi.


Ancaman-ancaman itu bisa membuat Rido waspada. Jika penelpon itu menghubungi Rido berarti ada pergerakan dari mereka dan Rido harus segera bergerak pula.


Tetapi jika Rido menghancurkan ponselnya atau mengganti nomornya, bisa saja mereka tidak bisa menghubungi Rido lagi dan mungkin hal itu membuat Rido akan terlena dari sikap waspadanya sehingga bisa membahayakan dirinya dan juga istrinya ataupun keluarganya. Rido tidak mau.


"Kenapa tiba-tiba semua seperti ini? Pasti ada yang tidak beres, jangan-jangan semua ini karena___"


Rido menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Bersamaan dengan itu, Zumi keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah.


Zumi terlihat hanya mengenakan selembar handuk yang melilit tubuhnya.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Zumi.


Rido memasang wajah cerianya.


"Enggak papa kok, Sayang. Lihat, aku sudah selesai bersiap. Kamu bersiap dulu ya, baru kita keluar. Aku mau ke depan dulu, kamu nggak usah terburu buru karena masih banyak waktu," kata Rido.

__ADS_1


Zumi mengangguk tanpa rasa curiga lantas Ridho pun segera keluar dari kamarnya.


"Sampai ketemu di bawah, Sayang."


Rido menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.


Tujuan Rido sekarang adalah menemui Nita.


Rido sudah bertanya pada pelayan yang ditemuinya di dekat ruang tengah. Menanyakan perihal keberadaan Nita, ternyata Nita masih ada di kamarnya. Mau tak mau Rido harus ke sana untuk menemui Nita.


Sampai di lantai 2 dan tepat berada di depan kamar Nita, Rido langsung membuka pintu kamar nita begitu saja. Yang Rido yakini tidak akan dikunci oleh penghuninya.


Begitu membuka kamar, Rido melihat Nita sedang ngobrol dengan seseorang lewat ponselnya. Nita kaget dengan kedatangan Rido.


"Sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi."


Setelah mengucapkan hal itu, Nita menaruh ponselnya di atas meja kecil dan menghampiri Rido.


"Ekh... kamu, Siang. Bikin kaget saja, tumben kamu ke sini tanpa diminta. Kamu pasti___"


"Siapa yang barusan menelponmu?" tanya Rido memotong kata-kata Nita dengan penuh selidik.


"Ohh, itu tadi temenku. Memangnya ada apa?" Nita balik bertanya sambil tersenyum tips. Wajahnya menunjukkan kebingungan pada Rido.


Rido terdiam.


'Aku yakin ini semua ulah Nita karena Nita tadi bilang dia akan berusaha untuk membuat aku memiliki rasa lagi padanya. Dan mungkin ini bisa jadi salah satu rencananya. Jika memang benar dalang dibalik itu semua adalah Nita, aku tidak akan pernah memberikan ampun padanya. Untuk saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku perlu bukti untuk memperkuat kecurigaanku ini," batin Rido.


"Nggak papa, aku mau pergi malam ini dengan Zumi. Kami mau makan di luar. Tolong, kamu jangan berdrama di depan mama saat makan malam nanti. Apalagi memberikan keterangan buruk soal Zumi pada mama karena aku pergi bersamanya tanpa kamu," pesan Rido.


Tanpa kata lagi, Rido langsung pergi meninggalkan kamar Nita. Tidak peduli bagaimana perasaan Nita ataupun tanggapan Nita tentang permintaan Rido tadi karena Rido yakin Nita pasti akan menurut apa katanya atau jika Nita tidak menuruti kemauan Rido itu, maka Rido akan sangat marah padanya.


***


Rido tidak dapat tidur meskipun dirinya amat lelah dengan pernikahannya dan juga makan malamnya dengan Zumi di luar tadi membuat Rido benar-benar capek.


Begitu pulang langsung dihadang Ny Helena untuk tidur di kamar Nita.


Rido benar-benar pusing, kesal, marah.


Semua itu pertama karena Rido tidak berada di kamar biasanya, kedua karena Rido tidak bersama Zumi, ketiga karena ini adalah malam pertamanya yang tidak Rido inginkan, dan yang paling penting adalah Rido memikirkan telepon misterius tadi.


"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Rido pada dirinya sendiri. Rido terus mondar-mandir seperti setrikaan. Tidak perduli ada Nita yang terus memperhatikannya dengan bingung.


"Sayang, kamu gak capek ya seharian beraktivitas dan dan segini kamu masih juga melek?" tanya Nita menegur Rido.


Rido melirik ke arah Nita yang duduk bersandar pada headbad. Nita mengenakan pakaian tidur yang amat tipis, mungkin lelaki normal manapun akan memiliki nafsu melihat Nita saat ini. Tapi Rido?


"Kamu gak usah urus urusanku. Kamu tidur duluan aja, lagian aku akan tidur di sofa. Bukan di situ," sahut Rido dengan kesal.

__ADS_1


"Lho kenapa begitu? Kita kan baru aja menikah dan itu artinya kita bisa satu ranjang. Lagian kamu di kamar ini mau ngapain kalau gak melakukan itu?" tanya Nita terkesan berani.


"Ap... apa?" tanya Rido balik, rasanya Rido ingin memaki tapi apa alasannya?


__ADS_2