KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 009 Mereka Siapa?


__ADS_3

Lagi-lagi Rido hanya diam dibuatnya. Seakan dia berada di posisi sebagai wanita yang ditanyai perihal kebahagiaan.


Rido juga tidak dapat mendakwah Nita egois menanyakan kebahagiaan itu sebab kebahagiaan itu pastilah hanya di rasakan oleh Nita saja, tapi tidak dengan Rido.


Namun, semua ini semacam simbiosis mutualisme. Semua saling membutuhkan dan menguntungkan. Untung? Apa yang Rido dapatkan selain keselamatan dan memenuhi kemauan Ny Helena juga Zumi.


Rido mulai merutuki dirinya sendiri kembali, kenapa istri keduanya harus Nita? Kenapa bukan wanita lain saja? Mungkin akan beda rasanya, tidak separah ini jika Rido menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya sekalian. Tapi ini Nita, Nita yang dulu merupakan masa lalunya.


"Rido?" panggil Nita.


"Kamu gunakan tali pengamannya, kita berangkat sekarang," ucap Rido sambil mengalihkan pandangannya ke samping.


Sesaat Nita terbengong tapi kemudian Nita pun memakainya. Tali itu telah terpasang dengan sempurna.


"Kita mampir ke rumahku dulu gak papa kan, Sayang? Aku mau ambil pakaianku," ujar Nita.


"Asal jangan lama-lama," sahut Rido. Rido tidak mau jika dirinya harus ke sana kemari terlalu lama dengan Nita. Ya, hanya berdua dengan Nita. Apalagi harus duduk sedekat ini.


Lama-lama Rido jadi berfikir bagaimana nantinya jika Nita dan Zumi harus tinggal satu rumah? Rido berharap Ny Helena tidak ikut campur lagi masalah rumah tangganya.


"Ohh soal itu tenang saja, aku sudah menelfon pembantuku tadi untuk menyiapkannya jadi kita cuma ambil koper aja. Gak lama, janji," kata Nita sambil mengacungkan jari telunjuknya dan juga jari tengahnya didekat wajahnya sendiri sebagai tanda agar Rido memegang kata-katanya.


'Ish... apaan sih,' batin Rido.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, sampai akhirnya Nita benar-benar menepati janjinya bahwasanya mereka tidak akan lama mampir ke rumah Nita. Rido pun enggan turun dari mobil. Seperti tak peduli Nita membawa koper dengan susah payah lalu memasukkannya di jok belakang. Semua itu dilakukan dengan bantuan pembantunya.


"Akh, akhirnya. Ayo kita jalan lagi." Nita kembali bersiap untuk turut serta dalam perjalanannya menuju rumah Rido.


"Kamu harus ingat-ingat lagi apa-apa dan sebatas apa pernikahan kita dalam kontrak itu." Rido kini membuka suara.


Nita tertawa garing.


"Tentu saja, Sayang. Kau ingin aku melahirkan anak untukmu dan... dan setelah itu kamu mau menceraikan aku kan? Aku cuma punya waktu sebentar saja menjadi istrimu, dua tahun."


Mobil berhenti sejenak di perempatan lampu merah.


"Ya," sahut Rido singkat.

__ADS_1


"Iya aku akan ingat itu, tapi sebelum semua itu terjadi aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta lagi sama aku," ujar Nita. Rido tidak peduli dengan pernyataan Nita. Karena semua itu tidak akan pernah jadi kenyataan sebab Rido hanya mencintai Zumi seorang, untuk itu Rido memilih diam.


Rido kembali mengendarai mobilnya saat lampu hijau sudah menyala kembali.


"Itu hanya garis besarnya, yang paling penting kamu jangan pernah macam-macam sama Zumi," lanjut Rido.


Terdengar Nita menghela nafas pelan.


"Aku jadi penasaran sama istrimu, sepertinya dia adalah orang yang baling sempurna di dunia ini sampai-sampai kamu begitu mencintainya," ujar Nita.


"Sudah ku bilang, kamu jangan macam-macam. Atau aku akan sangat membencimu," ancam Rido.


Nita tersenyum.


"Tenang. Tenang, Sayang. Aku tidak akan menyentuhnya. Kau bilang seperti itu seakan-akan kau menganggap aku adalah orang paling jahat sedunia."


Mobil melaju dengan cepat, Rido tidak ingin terlibat percakapan lebih lama dengan Nita. Rido ingin segera sampai rumah dan menemui istrinya.


Untung saja jalanan yang Rido lewati sekarang amat sepi, jadi Rido bisa menambah kecepatan dari sebelumnya.


"Rido, bisa gak nyetirnya rada pelan sedikit? Aku takut kita kenapa-kenapa," ujar Nita yang wajahnya sedikit panik.


Tiba-tiba dari arah yang sama ada kawanan motor menyalip mobil Rido dan berhenti secara mendadak. Rido pun menginjak rem dengan mendadak pula.


Ciiittt...


Rido dan Nita sampai kewalahan mengontrol badan mereka yang terombang-ambing. Tak ayal, keduanya saling membentur pintu serta kaca di depannya.


"Nita! Kamu gak papa?" tanya Rido setelah rada tenang, saat Rido mampu menyeimbangkan badannya kembali. Dilihat Nita tampak memegangi jidatnya sendiri.


"Akh! Sakit!" ucap Nita mengaduh kesakitan.


Rido langsung menyingkirkan tangan Nita tanpa berfikir apapun, Rido sangat khawatir. Rido memeriksanya.


Bukan masalah siapa yang ada di sampingnya saat ini. Namun, siapapun yang berada dalam posisi Rido pun juga akan melakukan hal yang sama.


"Lukanya lumayan, kamu bisa tahan kan sebentar saja?" tanya Rido pada Nita. Nita mengangguk.

__ADS_1


"Iya aku gak papa," sahut Nita masih sambil meringis.


Rido merasa lega untuk sebentar, Rido jadi penasaran mengapa semua ini terjadi. Yang Rido lihat beberapa orang telah menghadangnya.


"Siapa mereka? Mau apa mereka?" gumam Rido. Rido amat geram karena perjalanan menuju rumah terganggu gara-gara mereka.


Rido hampir mengalami kecelakaan dan dengan adanya masalah ini maka itu artinya Rido juga terlambat untuk sampai ke rumahnya kemudian bertemu dengan Zumi, pun juga harus diundur.


Rido mengamati orang-orang yang secara sengit menghujam ke arah mobil Rido, Rido dapat melihatnya dengan jelas.


"Kamu tunggu sini, jangan keluar," pesan Rido. Rido pun hendak keluar dari dalam mobil tapi di cegah oleh Nita dengan cepat.


"Kamu mau kemana, Rido? Jangan keluar, kita tetap saja di sini. Mereka sepertinya mau berbuat jahat," ujar Nita.


"Kamu tenang saja, aku juga gak kenal sama mereka tapi apa salahnya aku bertanya ada masalah apa. Biar semuanya jelas, kamu di sini saja," jelas Rido yang tidak lagi menjaga image-nya di depan Nita.


Rido pun tidak lagi mendengar drama dari Nita yang menginginkan Rido tetap berada di dalam mobil.


Rido berjalan dan berhenti di depan mobilnya, memandangi satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya yang terbungkus masker hitam.


Mereka terdiri dari 3 orang, tubuhnya kekar dan berotot. Amat ngeri jika dibayangkan apa yang di balik maskernya. Apakah sesangar tubuhnya? Ngomongin wajah, Rido jadi penasaran dengan wajah mereka. Apakah Rido mengenal mereka?


"Apa sebelumnya kita pernah memiliki masalah?" tanya Rido santai.


"Ya, kau mencari gara-gara. Untuk itu kau harus bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat!" sahut salah satu dari mereka dengan lantang.


"Mencari gara-gara? Bertanggungjawab? Apa maksudnya?" tanya Rido tidak mengerti arah pembicaraan mereka pasalnya Rido merasa tidak pernah bermusuhan dengan siapapun tapi sekarang tiba-tiba ada yang menghadangnya dan melontarkan kata-kata seperti itu.


"Alah, gak usah berlagak pilon. Kau itu pria brengsek dan pria brengsek tidak berhak hidup dengan tenang!" lanjutnya lebih lantang.


Rido tertawa kecil.


"Aku benar-benar tidak tau urusan kalian, sepertinya kalian salah orang. Sudah ya, saya terburu-buru dan harus segera pulang. Selamat tinggal," ucap Rido berpamitan dan hendak kembali ke dalam mobilnya.


"Tunggu!" teriaknya menghentikan langkah Rido. Rido pun refleks berhenti.


"Kau Rido kan?" tanyanya seperti memastikan.

__ADS_1


'Ternyata benar, mereka mencariku. Ada urusan apa?' batin Rido bingung.


__ADS_2