KONTRAK RAHIM

KONTRAK RAHIM
BAB 016 Ucapan Selamat


__ADS_3

Deg!


Zumi merasa ada yang tidak mengenakkan dirinya, pada ucapan Ny Helena.


Zumi menundukkan kepalanya sedikit, dia tau kapan dia harus berbicara tapi sayangnya bukan untuk saat ini.


"Mungkin saja mereka masih sibuk bersiap-siap, Ma," sahut Shofie.


"Iya, Ma. Lagian kak Rido pasti direpotkan sama kak Nita, dia kan masih baru di rumah ini jadi wajar saja kan," imbuh Chaca.


Ny Helena mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bener juga katamu," sahut Ny Helena.


Rasanya Zumi benar-benar tidak sanggup mendengar percakapan keluarga Rido, mereka seperti tidak menganggap keberadaan Zumi sama sekali.


Ini semua salah Zumi, Zumi merasa dia tidak berhak marah atau ngambek. Zumi tau semua itu sudah resikonya untuk menerima semuanya karena dia juga menyuruh Rido untuk menikah lagi.


"Selamat pagi, sorry-sorry aku telat. Halo, Sayang. Apa kabarmu pagi ini?" tanya Rido yang berjalan dengan sedikit berlari.


Suaranya menggema di seluruh ruangan.


Semua mata tertuju pada kemunculan Rido yang secara tiba-tiba itu.


"Ka... kamu dari mana, Mas?" tanya Zumi.


Cup!


Pipi Zumi diciumnya dengan lembut dan penuh cinta. Saking semangatnya, kepala Zumi sampai ikut terayun.


Rido langsung duduk di samping Zumi, satu-satunya kursi di meja makan yang masih tersisa.


"Rido! Kamu dari mana? Kenapa kamu muncul dari sana? Nita mana?" tanya Ny Helena bingung dan tidak mengerti.


"Iya, Ma. Semalam aku tidur di kamar tamu, ya aku kesiangan bangun untuk pertama kalinya. Ya untung saja ada bibi tadi yang bangunin aku. Aku boleh gabung buat sarapan kan walaupun belum mandi?" tanya Rido sambil mencomot makanan di hadapannya dengan tidak sabar.


"Ayo makan, Kak, Dik." Rido menyapa kakak dan adiknya berserta para suami mereka.


Ny Helena menggelengkan kepalanya melihat sikap dan kelakuan Rido.


"Rido, dimana Nita?" lanjut pertanyaan tersebut.


Rido melahap tempe goreng yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Hmmm... enak, Sayang. Ini pasti kamu yang masak ya," puji Rido sambil terus mengunyah.


"Rido! Kau dengar mama?" tegur Ny Helena sedikit kesal. Pasalnya anak lelakinya itu terlihat seperti tidak menggubrisnya.


Ny Helena jadi kepikiran Nita.


"Apa, Ma?" tanya Rido seolah-olah seperti orang bodoh yang tidak menahu dengan pertanyaan mamanya.


"Di mana, Nita?" ulang Ny Helena.


"Selamat pagi semuanya, maaf saya telat ke bawah," kata Nita. Kembali semua orang matanya tertuju pada sumber suara tersebut. Kecuali Rido.


Rido malah menambah makanannya lalu melahapnya kembali.


Ny Helena berdiri dan tangannya menyambut kedatangan Nita.


"Ekh, Sayang. Menantu mama. Sini kita sarapan bareng," ujar Ny Helena. Senyumnya mengembang.


Nita meraih tangan Ny Helena dan mereka pun cipika cipiki.


Zumi sedikit cemburu dengan Nita yang di perlakukan dengan baik oleh Ny Helena.


Zumi juga pernah ada di posisi Nita, tapi itu dulu. Dulu sekali saat dirinya juga masih baru menjadi anggota keluarga Rido.


Tapi semua itu sudah berlalu, sejak Zumi kesulitan hamil maka sikap Ny Helena pun mulai berubah.


Perhatian Ny Helena yang dulu di berikan pada Zumi, sudah Ny Helena pindah tangankan pada Nita.


Tentu saja Zumi sangat sedih, tapi ini kenyataan yang terjadi. Keadaan yang merubahnya, apa daya Zumi juga tidak mampu berbuat apa-apa.


"Sekali lagi maaf ya, Ma. Udah buat semuanya menunggu," ujar Nita.


"Tak apa-apa yang terpenting kamu sudah ada di sini. Lagian semuanya gak keberatan nungguin kamu," jawab Ny Helena.


"Ya, Ma." Nita membalas senyuman Ny Helena.


"Ya udah, mendingan sekarang kamu duduk dan kita sarapan bareng-bareng. Kamu mau makan apapun ada," ujar Ny Helena. Ny Helena hendak duduk tapi diurungkan niatnya ketika melihat Nita tidak ada pergerakan.


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan menu sarapan pagi ini? Katakan saja mau sarapan apa, Sayang. Biar nanti bibi buatkan," lanjut Ny Helena.


"Enggak, enggak, Ma. Aku cuma bingung aja mau duduk di mana, soalnya sudah penuh," ungkap Nita.


Pandangan mata Ny Helena menyebar, dan berhenti pada Zumi.

__ADS_1


"Zumi, kamu bisa gak makan di belakang? Kamu kan udah sering makan di sini bareng-bareng. Biar Nita berganti duduk di situ," pinta Ny Helena.


Yang di ajak bicara sedikit linglung, mungkin efek samping kata-kata dan permintaan Ny Helena.


"Iya, Ma," sahut Zumi, suaranya hampir tidak terdengar. Rido menyadari bahwa Ny Helena sepertinya benar-benar sudah tidak menyukai Zumi, bahkan berusaha menyingkirkan Zumi.


Zumi berdiri dari kursinya.


Dan hendak pergi. Secepat kilat lengan tangannya disambar oleh Rido.


"Kamu bisa gak tidak sarapan dulu? Aku mau kamu temenin aku mencari pakaian untukku ke kantor hari ini," ujar Rido. Zumi tersenyum tipis dan mengangguk.


"Rido, kamu mau masuk ke kantor?" tanya Ny Helena tidak percaya.


"Iya, Ma. Sudah dulu ya, ini sudah siang. Rido mau siap-siap dulu," sahut Rido dan langsung enyah dari hadapan mereka.


***


PT. Karya Abadi


Rido datang dengan wajah tidak seperti biasanya. Pria berbadan tegap, kulit putih, hidung mancung itu harus menerima keadaannya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.


"Selamat pagi, Pak," sapa Putri sekretaris Rido begitu Rido hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Ya," sahut Rido singkat. Rido sebenarnya sejak tadi menyadari banyak pasang mata memperhatikan Rido, mereka menyapa tapi tatapan mereka juga tidak bisa dibilang biasa.


Semua itu karena mereka kaget dengan keadaan Rido. Padahal baru kemarin mereka melihat Rido berpenampilan tampan dan menjadi pengantin di gedung tapi pagi ini Rido berubah. Banyak memar di wajah Rido.


Tidak ada yang berani bertanya mengenai hal yang membuat mereka heran itu, mereka hanya bisa bermain-main dengan pikiran mereka sendiri sampai akhirnya mereka memilih untuk memendamnya dalam hati.


"Bapak kenapa ada di kantor hari ini? Apakah Bapak tidak___"


"Tidak," potong Rido cepat. Dilihatnya Putri menelan ludahnya sendiri, niatnya Putri ingin perhatian pada atasannya. Namun, salah.


Semua karyawan mendekat dan memberikan selamat pada Rido, Rido pun hanya mengiyakan saja tanpa mengucapkan terima terima kasih pada semua karyawannya yang memberikan selamat pada Rido. Semua itu karena memang tidak Rido inginkan.


"Semua bubar, kerjakan tugas kalian masing-masing!" perintah Rido. Semua karyawannya pun menghambur ke meja kerja mereka masing-masing.


"Dan kamu, mendingan kamu siapkan dokumen yang harus saya tanda tangani, bawa ke ruangan saya sekarang," lanjut Rido.


Putri menundukkan kepalanya.


"Ba... baik, Pak," jawab Putri pada akhirnya.

__ADS_1


Putri hanya bisa menatap Rido setelah Rido pergi menjauh darinya, Putri takut kena hukum jika dirinya cerewet pada Rido.


"Sepertinya pak Rido tertekan dan tidak bahagia dengan pernikahannya kemarin. Buktinya dia hendak menelan orang waktu di kasih selamat, hmmm... kasihan," gumam Putri.


__ADS_2